"Stt, jangan ngomong gitu. Harusnya aku nggak boleh mempermasalahkan masa lalu kamu. Aku mencintai kamu dan berniat untuk menikahi kamu, harusnya aku tutup mata dan telinga. Nggak usah pedulikan orang yang membicarakan masa lalu kamu," ucap Bian dengan lembut.
Tania tersenyum. "Yan, aku makin cinta sama kamu. Gimana ini?"
Bian terkekeh, jika Tania sudah bicara seperti itu artinya moodnya sudah kembali baik. Ini salah satu poin yang membuat Bian jatuh cinta pada gadis berambut sebahu itu, dia bukan ratu drama. Tania selalu bersikap apa adanya, tulus dan perhatian pada semua orang dengan caranya sendiri.
"Yan," rengek Tania.
"Iya, Nya. Kenapa?"
"Kamu 'kan tadi udah bikin aku nangis. Sekarang aku minta kompensasi!" Tania mengerucutkan bibirnya.
"Apa?" tanya Bian dengan wajah jahil, dia tahu apa yang ada di dalam pikiran Tania.
"Kiss me, please. Aku nggak mau kalau cuma kecupan. Harus ciuman yang panjang dan lama!"
"Kayak choki-choki?" goda Bian.
"Yaaan ...."
Bian menarik tengkuk Tania, perlahan dia mengecup bibirnya.
"Aku takut kebablasan, Nya. Kamu cantik banget malem ini," ucap Bian dengan suara serak.
"Kamu juga ganteng banget malem ini, lyanku sayang. Ya udah, kalau kamu nggak mau cium aku, biar aku yang cium kamu!"
Tania menarik tengkuk Bian dan bergerak menuju pangkuannya. Ruang yang sempit tak menyurutkan niat Tania. Sampai akhirnya Bian memundurkan jok mobil.
Tania selalu berhasil membuat Bian tergila-gila dan serasa terbang melayang.
Azka mengepalkan tangan melihat adegan di dalam mobil yang terparkir hanya berjarak beberapa meter saja dari mobilnya.
✅✅✅
Waktu berlalu begitu cepat, Bian dan Tania sibuk menyelesaikan skripsi, membuat keduanya jarang bertemu di kampus. Mereka lebih sering bertemu saat akhir pekan.
Keduanya sepakat untuk saling meluangkan waktu untuk bertemu. Jika di akhir pekan Bian sibuk latihan atau bertanding, Tania akan selalu datang untuk memberi semangat. Begitu jika Tania ada acara keluarga, Bian selalu siap mendampingi.
Setiap saat sebisa mungkin, keduanya selalu bertukar kabar. Mungkin bagi pasangan lain itu dianggap berlebihan dan kekanakan. Namun, bagi Bian dan Tania, itu adalah salah satu cara agar cinta mereka tetap tumbuh dan semakin kuat.
Tania menghubungi ponsel Bian, saat ini kekasihnya itu ada di kampus untuk mengawasi para juniornya berlatih.
Sedikit demi sedikit Bian ingin melepaskan tanggung jawabnya dari jabatan kapten klub basket. Dia kepayahan mengatur waktu antara skripsinya dan kegiatan klub. Apalagi Tania terus mendesaknya agar segera menyelesaikan skripsi agar mereka cepat menikah.
Tania menatap layar ponselnya dengan kesal, sampai dering terakhir Bian tidak menjawab panggilan teleponnya. Sekali lagi gadis itu menghubungi, dan di dering kedua suara Bian terdengar.
"Assalamu'alaikum, Nya," sapa Bian dari seberang sana.
"Wa'alaikum salam. Masih di kampus?" tanya Tania to the point.
"Iya, bentar lagi kelar, kok. Kita ketemuan di rumah Tante Irma aja, ya?"
"Kamu nggak lupa kalau hari ini mau nemenin aku arisan keluarga?" tanya Tania tak percaya Bian tidak lupa dengan janjinya.
"Iya, nggak dong. Ketemuan di sana aja ya, Nya. Aku nggak akan sempet kalau jemput kamu dulu," ujar Bian. Terdengar suara ramai di belakangnya.
"Masih lama?" tanya Tania sekali lagi.
"Bentar lagi, latihannya paling sekitar lima belas menit lagi. Tapi seperti biasa ada breifing dulu, abis itu aku mandi, jadi lumayan lama, sih," jelas Bian, suaranya sedikit teredam oleh kebisingan suara di belakangnya.
"Aku ke sana, deh. Kita berangkat bareng dari kampus. Aku udah siap otw," ucap Tania seraya menyilangkan sling bag di bahunya.
"Nggak usah, Nya. Malah repot kalau kamu bawa mobil lagi," tolak Bian.
"Aku naik ojol, Sayang. Pokoknya aku ke kampus, no debat! Bye, see you."
"Oke, hati-hati di jalan," sahut Bian.
Tania pamit kepada orang tuanya, Wulandari meledeknya habis-habisan. "Ciye, yang udah kangen sama Mas Bian, sampe disusulin sampai ke kampus."
"Ih, bukan gitu, Mi. Aku nggak mau aja nanti dinyinyirin. Kenapa datengnya sendiri-sendiri," sahut Tania.
"Alasan aja. Sejak kapan kamu peduli omongan orang, biasanya juga cuek. Bilang aja kalau udah kangen." Wulandari masih menggoda putri bungsunya yang paling cantik dibandingkan dengan anaknya yang lain.
"Udah, deh, Mi, jangan godain aku terus. Nanti aku terlambat." Tania mencium punggung tangan Wulandari dan Setno bergantian.
"Hati-hati di jalan, Nia. Kalau bisa kalian bawa buah tangan buat Tante Irma," pesan Setno. Tania melakukan gerakan hormat dan bergegas keluar rumah saat mendengar suara klakson ojol yang dipesannya.
Tania turun dari ojol, dengan wajah ceria dia menuju lapangan basket. Suasananya cukup ramai karena hari ini ada kegiatan beberapa UKM selain basket, salah satunya UKM fotografi, yang juga diikuti oleh Bian.
Mata berbulu lentik itu menjelajah mencari keberadaan kekasihnya. Dengan berdecak kesal, Tania menghampiri Bian yang dikelilingi oleh tiga perempuan.
"Yan!" panggil Tania.
Bian menoleh dan melambaikan tangan dengan wajah ceria. Satu dari tiga perempuan yang duduk di sampingnya, memasang wajah masam begitu Tania mendekat.
"Masih lama?" tanya Tania to the point.
"Udah selesai, aku di sini nunggu kamu. Ditemenin sama mereka," jawab Bian dengan senyum terkembang lebar tanpa memperhatikan wajah kesal Tania.
'Happy banget wajah kamu, Yan. Seneng dikelilingi cewek kayak gitu?' gerutu Tania di dalam hati.
"Yuk, langsung berangkat. Biar nggak telat," ketus Tania.
Barulah Bian menyadari jika kekasihnya itu kesal. Dengan cepat dia bangkit dari duduk dan menghampiri Tania, yang berdiri melipat tangan di depan d**a, berjarak satu meter darinya.
"Nggak pamit dulu sama mereka?" sindir Tania saat melihat Bian menghampirinya tanpa pamit pada ketiga perempuan yang tadi menemani.
"Ah, ngapain? Lagian mereka juga tahu kok aku nungguin kamu," sahut Bian tenang.
"Yakin? Kelihatannya ada yang kesel tuh, kamu pergi tanpa pamit." Tania melirik tajam pada gadis berambut panjang yang memakai make-up cukup tebal menyukai Bian, karena bukan sekali ini memergokinya mendekati Bian.
Tania tahu jika gadis itu menyukai Bian, karena bukan sekali ini memergokinya mendekati Bian.
Bian menoleh ke belakang, memastikan apa yang diucapkan Tania. "Siapa yang kesel? Kalian nggak marah 'kan gue balik? Cewek gue udah dateng. Makasih ya, udah temenin," ujar Bian dengan polosnya. Tangannya melambai pada ketiga gadis itu.
Tania mendesah pelan, kesal karena Bian tidak peka jika ada orang yang mencoba mendekatinya.
"Bagus, deh. Elo cukup fokus ke gue aja," gumam Tania lirih sembari menarik lengan Bian menuju mobilnya.
"Kamu ngomong apa, Nya?" tanya Bian. Tania menggeleng, lebih baik Bian tidak peka seperti ini dari pada nantinya dia malah cari perhatian perempuan lain.
Bian menarik lengan Tania saat kekasihnya itu melangkah ke arah yang salah. "Aku parkir di sebelah sana, Nya."
"Tumben."
"Tadi kebelet pipis, jadi cari yang deket sama toilet," sahut Bian sembari terkekeh. Mereka berjalan bergandengan tangan menuju mobil Bian.
"Kita bawa apa, Nya? Masa nggak bawa buah tangan?" tanya Bian seraya membukakan pintu untuk Tania.
"Buah aja. Biar nggak ribet," jawab Tania.
"Oke, langsung berangkat?" Bian menyalakan mobil dan memasang sabuk pengaman.
"Iya, lyanku Sayang." Tania mengecup pipi Bian.
"Oke."
Mereka membeli parsel buah lalu menuju rumah Irma, adik kandung Setno. Tania pikir akan terlambat, ternyata mereka datang lebih awal. Baru orang tuanya saja yang baru datang. Keluarga yang lain termasuk ketiga kakaknya belum datang.
Kedatangan Tania disambut ceramah oleh Irma. Wanita berhijab warna hitam itu mengomentari Tania yang duduk menempel di samping Bian.
"Eh, belum sah, loh. Kok, duduknya nempel kayak gitu? Kenapa nggak langsung dinikahin aja, sih, Mas?" tanya Irma pada Setno.
"Kamu 'kan tahu Lusi belum ada setahun nikah. Nggak bol...."
"Itu cuma mitos!" potong Irma.
"Yang sudah pasti di depan mata adalah kalian para orang tua ikut berdosa karena mereka mendekati zina," ketusnya.
"Tante, kok, ngomongnya sinis gitu, sih?" sahut Tania. Wulandari memberinya kode agar tak perlu menimpali. Namun, dia adalah Tania, yang tidak akan diam saja ketika dirinya diusik.
"Kenapa? Kamu nggak terima?" tanya Irma menantang.
"Coba Mas Bian tanya sama Ibu. Apa beliau nggak sedih lihat kalian mesra-mesraan kayak begini? Ibu Ningsih itu temen pengajian Tante, dia pasti tahu hukumnya seperti apa," balas Irma dengan wajah judes.
Bian mengeratkan genggaman tangan saat Tania akan membalas ucapan tantenya, memintanya untuk tetap diam. Mata Irma menatap tajam pada tangan mereka yang saling menggenggam.
"Tuh, pegangan tangan kayak gitu aja dosa itu!" tegur Irma.
Sontak Bian melepaskan genggamannya. Dia menjadi salah tingkah di depan Irma yang seperti menguliti kelakuannya dengan Tania.
"Maaf, ya, Tante. Ibu Ningsih memang tahu apa hukumnya, tapi beliau nggak nyinyir seperti Tante yang terus nyindir aku. Karena beliau tahu kami butuh bimbingan dan cara beliau itu lembut," ucap Tania.
"Pakai cara yang lembut ya nggak mempan buat anak dablek kayak kamu, Tan," balas Irma.
"Irma!" tegur Setno, dia tidak terima anaknya disebut dablek yang artinya bandel.
Irma mendengkus kasar, dia membuang muka. Sangat terlihat jika dirinya tidak terima dibentak seperti itu oleh kakaknya.
"Kamu juga, nggak usah ngebalas kalau sedang dinasehati." Tania ikut kena omel Setno.
"Pak Abimana dan Ibu Ningsih memang sudah meminta mereka untuk segera menikah, Tania juga sudah tidak sabar untuk menikah. Tetapi kami yang meminta menundanya. Mitos atau bukan, saya belum siap kehilangan dua anak perempuan dalam satu tahun. Paham kamu?" ujar Setno pada Irma.
"Ya, asal Mas tahu. Yang mau besanan sama Bu Ningsih itu banyak, loh. Rata-rata anak mereka itu gadis sholehah, menutup aurat dan menjaga pergaulan. Harusnya Mas cepat-cepat menikahkan mereka berdua, takutnya Bu Ningsih dan suaminya berubah pikiran," tutur Irma dengan mata yang mendelik tajam pada Tania yang memakai pakaian cukup ketat hari ini.
"Cukup!" bentak Setno. Tri suami Irma langsung mendekat begitu kakak iparnya membentak istrinya dengan keras.
"Ada apa, Mas?" tanya Tri, dia melirik pada istrinya yang membuang muka tak ingin melihat ke arah Setno.
"Kasih tahu istri kamu bagaimana caranya menasehati orang lain! Jangan karena dia sudah berhijrah dan memakai jilbab lebar, dia merasa paling benar!" Setno menunjuk pada adiknya yang kini menundukkan wajah.
"Bagaimana mereka mau belajar agama kalau caramu seperti itu, Irma? Kamu lebih banyak menyudutkan dan menyalahkan." Intonasi Setno lebih lembut dari sebelumnya.
"Harusnya kalau anak Mas kamu anggap belum benar, rangkul dia. Ajak dia ke kajian, biar dia mendapatkan pencerahan. Kamu harus harus belajar lebih banyak lagi agar tidak sombong dan merasa paling suci," tambahnya.
"Iya, Mas, saya minta maaf. Nanti saya akan menasehati Irma," ujar Tri.
Dia merasa tak enak hati dengan ulah Irma. Bukan sekali ini istrinya membuat ulah. Di lingkungan rumah pun Irma kurang disukai karena caranya yang frontal saat mengingatkan orang lain.
"Baiknya kalian pulang, Papi nggak mau nanti ada keributan lagi," titah Setno pada Tania dan Bian.
Mereka kompak mengangguk dan pamit pulang sebelum keluarga yang lainnya datang.
Tania mengajak Bian makan siang di cafe kesukaan mereka. Di perjalanan Tania terus mengoceh tentang Irma, adik kandung Setno yang paling cerewet dan sok paling benar itu.
Berbeda dengan Tania yang terus bicara, Bian justru lebih banyak diam. Dia merasa tertampar oleh ucapan tante dari kekasihnya itu. Apa yang disampaikan Irma itu benar, hanya saja caranya yang salah.
Setiap kali Bian akan bertemu Tania, Ningsih selalu mengingatkannya untuk menjaga pergaulan dengan mata berkaca-kaca.
Begitu juga saat Bian kembali ke rumah usai bertemu Tania, Ningsih akan bertanya, "Mas sama Tania nggak ngelakuin apa-apa 'kan? Kalian nggak melebihi batasan 'kan? Ibu nggak tenang sebelum kalian sah menikah."
Tentu saja Bian akan berbohong, tidak mungkin dia bercerita tentang apa yang sudah dia lakukan. Tentang mereka sering berciuman dan bersentuhan meski hanya dalam bentuk pelukan dan genggaman tangan. Itu sama saja dengan bunuh diri.
"Iyaan ... kenapa diem terus? Kamu dengerin aku nggak, sih?" tanya Tania saat melihat Bian yang lebih banyak diam.
Bian tersenyum, tangannya mengusap lembut puncak kepala Tania.
"Kita nikah, yuk!" cetus Bian. Tania melebarkan matanya tak percaya ucapan Bian.
"Serius?!"
"Iya, kita percepat aja. Biar tenang dan nggak ada omongan pedes kayak tadi lagi. Mau?" tanya Bian.
"Mau, Yan! Mau! Ayo, kita nikah!" seru Tania.
"Kita makan di rumah Ibu aja, yuk. Sekalian kasih tahu rencana kita," ajak Bian.
"Iya! Ibu pasti seneng banget kita mau nikah secepatnya," sahut Tania dengan wajah sumringah.
"Serius kalian mau nikah secepatnya?" tanya Ningsih dengan mata berbinar.
"Iya, Ibu. Akhirnya Mas Bian mau juga nikahin aku," jawab Tania sembari memeluk wanita yang melahirkan kekasihnya itu.
"Alhamdulillah, Ya Allah." Ningsih membalas pelukan Tania. Bian tersenyum hangat melihat interaksi keduanya yang begitu akrab tanpa rasa canggung.
✅✅✅✅
Yang mau tau kisah lengkap Saka dan Febi, baca novel dengan judul "TETANGGAKU JODOHKU"