"Dia nggak ngomong apa-apa, cuma kelihatan banget dia kecewa gitu. Ini ketakutan gue sendiri, sih. Elo 'kan tahu, gimana cemburunya Bian sama dia," ujar Tania.
"Ya, jelaslah Bian cemburu. Kalian itu dulu mesra banget, nggak ragu ciuman depan gue sama Bian. Padahal kalian nggak pacaran waktu itu," sungut Febi.
"Udah, deh, jangan bahas masa lalu. Gue pengen elo kendaliin Bian kalau dia emosi. Feeling gue si Azka bakal dateng," bisik Tania. Febi mengangguk-angguk tanda dia paham apa yang diminta oleh sahabatnya itu.
Bian dan Saka datang menghampiri tepat pembicaraan mereka selesai.
"Kita temui orang tua dulu, Nya. Mereka nyariin kamu, loh. Kamu malah ngajak Febi mojok." Bian merangkul pinggang ramping Tania.
Saka meraih lengan Febi dan menggenggamnya. "Ada masalah, Bee?"
Febi menggeleng dan tersenyum, mencoba meyakinkan suaminya bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Bian membawa Tania menemui orang tua mereka yang sedang bercakap-cakap di sudut ruangan. Di sana sengaja disediakan beberapa set sofa untuk para orang tua duduk sembari mengawasi para anak muda menikmati pesta.
Orang tua Tania membuat acara pertunangan ini dengan sangat meriah. Mereka meminta Tania dan Bian mengundang banyak teman.
"Aduh, mesra banget. Mami jadi pengen muda lagi," celetuk Wulandari.
Berbeda dengan calon besannya, celetukan Ningsih malah menyindir Bian. "Mas Bian, itu tolong tangannya yang sopan!"
Gegas Bian melepas rangkulan tangannya dari pinggang Tania. Pemuda tampan itu menggaruk pelipisnya dengan salah tingkah. Wulandari dan Setno, orang tua Tania, terkekeh kecil. Sedangkan Abimana, ayah Bian, menggeleng pelan.
"Tetep jaga batasan ya, Mas. Kalau udah nggak kuat, buru-buru dihalalkan," pesan Abimana pada anak ketiganya itu.
"Ah, iya. Saya juga sebenarnya lebih cocok kalau mereka langsung menikah. Tapi ya mau bagaimana lagi, Lusy baru saja menikah beberapa bulan yang lalu. Pak Abimana tahu 'kan bagaimana mitos orang tua jaman dulu?" tutur Setno.
"Iya, Pak. Semoga anak saya bisa menahan diri. Tania cantik sekali, saya jadi khawatir," kekeh Abimana.
Bian menggaruk tengkuknya, sedangkan Tania tersenyum malu-malu. Tidak tahu saja mereka bahwa Tania lebih agresif dibandingkan Bian.
'Pak Abimana nggak tahu apa, kalau Bian punya body yang seksi. Sixpack-nya bikin jiwa centil aku meronta-ronta.' Tania menahan tawa dengan pemikirannya sendiri.
"Jangan ngelamun jorok, Nya," bisik Bian di telinga Tania.
Sontak gadis itu menyikut perut Bian, menutupi rasa malu karena terpergok oleh kekasihnya. Bian menjerit pelan, Tania pura-pura merajuk.
"Selamat malam semuanya," sapa seseorang menarik perhatian mereka yang duduk di sana.
Mata Tania membesar, Bian reflek berdiri dari kursinya.
"Azka?" lirih Bian tidak percaya.
"Hei, Bro! Selamat, ya. Akhirnya elo yang jadi pasangan Tania. Selama ini ternyata gue cuma jagain jodoh elo doang," ucap Azka dengan suara sedikit kencang.
"Kamu siapa?" tanya Wulandari dan Ningsih bersamaan. Azka tersenyum miring, pancingannya berhasil.
"Oh, iya, sampai lupa menyapa. Kenalkan saya Azka, Tante. Saya temannya Bian juga...." Azka melirik Tania yang duduk dengan wajah pucat. Sedangkan Bian sudah mengepalkan tangannya.
"Juga teman deket Tania," sambung Azka.
"Teman dekat? Mantan pacar maksudnya?" tanya Wulandari. Tania berdiri dan langsung menjawab pertanyaan maminya sebelum Azka bicara yang aneh-aneh.
"Bukan, Mi! Dia temen satu klub basketnya Bian. Jadi sering nongkrong bareng," jawab Tania.
Gadis itu langsung berdiri di samping Bian dan memeluk lengannya yang kekar. Bian mengusap lembut jemari Tania yang menempel di lengannya. Seolah mengukuhkan kepemilikan mereka atas satu sama lainnya.
Azka mendengkus pelan melihat pemandangan di depannya yang melukai hati.
Bian mengajak Tania menghampiri teman-temannya dari klub basket, ada Azka di sana. Itu sedikit membuat Tania tidak nyaman. Melalui kerlingan mata dan suitan pelan, Tania memberi kode pada Febi agar dia mengikutinya.
"Bang, ke sana, yuk. Aku juga mau nyapa anak-anak basket," ajak Febi pada Saka.
"Ngapain? Di sana cowok semua, Bee," tolak Saka.
"Justru itu, aku mau temenin Tania. Yuk, cepet!" Febi menarik lengan suaminya agar mendekati teman-teman Bian dari klub basket itu.
Teman-teman klub basket memberikan selamat, mereka saling berhigh five seperti di dalam lapangan saat akan bertanding. Gelak tawa terdengar riang.
Tania berdiri kaku di samping Bian, suatu hal yang jarang dia rasakan. Biasanya dia selalu bisa menempati diri di berbagai situasi. Namun, tidak untuk situasi saat ini. Tatapan Azka terus menghunus padanya.
Siapa pun akan sepakat jika Tania malam ini sangat cantik dan anggun. Aura seksinya tetap terpancar meski gaun indah menutup tubuhnya.
"Sumpah! Gue nggak nyangka akhirnya kalian pacaran sampe tunangan kayak gini!" seru Farid.
"Gue pikir jodoh elo si Febi, Yan!" tambah Farid.
"Stt! Nggak boleh gitu. Nggak enak sama Bang Saka," tegur Alex saat Saka dan Febi bergabung dengan mereka.
"Ya termasuk akhirnya Febi nikah sama Bang Saka juga gue nggak nyangka! Gue pikir kalian beneran kakak adik, ternyata cuma bertetangga dari kecil, ya?" Farid masih terus berceloteh.
Saka hanya mengangguk singkat. Dia merasa canggung bergabung dengan para juniornya usai peristiwa memalukan tempo lalu.
Mereka saling bercengkerama, membahas tentang turnamen juga rencana pernikahan Bian dan Tania. Mereka ingin menjadi groomsman di pernikahan Bian nanti.
"Ka! Diem-diem bae, lo! Patah hati ya, akhirnya Tania jatuh ke pelukan Bian!" celetuk Tomy sembari menepuk pundak Azka.
Azka tersenyum miring sebentar, lalu mengibaskan tangan. "Ah, nggak juga!"
"Bukannya elo sekarang kuliah di Singapore?" tanya Febi pada Azka.
"Nggak, kok. Gue di sana cuma nenangin diri doang. Gue balik ke Indonesia lagi, tapi gue emang bakal pindah kuliah, sih ," jawab Azka.
"Emang nggak ribet apa pindah-pindah kuliah?" tanya Febi lagi.
"Ya elah, Feb. Apa aja juga gampang kalau ada duit," sahut Farid yang malam ini banyak bicara.
Tania lebih banyak diam, dan itu disadari bukan hanya oleh Bian tetapi juga mereka yang ada di sana.
"Ada Azka Tania jadi mendadak pendiem, ya?" ledek Yuda, salah satu teman dekat Azka. Azka terkekeh kecil, kemudian diakhiri dengan seringai mengejek.
Bian menoleh ke arah Tania yang salah tingkah. Bian tahu ini tidak mudah bagi kekasihnya, biar bagaimana pun mereka pernah berada di satu hubungan tanpa status yang sangat mesra.
"Are you okay?" bisik Bian, Tania mengangguk pelan. Bibirnya tersenyum manis, mengecup singkat pipi Bian.
"I'm okay, but .... Aku belum menyapa yang lain," ucap Tania. Tangannya menunjuk ke arah para sepupunya berada.
"Oh, iya. Mau aku temenin?" tawar Bian.
"Nggak usah, nggak papa. Barangkali kamu masih mau kumpul sama mereka. Aku ditemenin Febi aja," jawab Tania.
Bian mengangguk dan membiarkan Febi yang menemani kekasihnya menemui tamu yang lain. Saka, suami Febi, tetap berada di sana bersamanya.
"Jadi, Yan? Elo udah ngapain aja sama Tania? Sampai akhirnya dia nekad ngelamar elo?" tanya Azka sedikit memancing emosi Bian.
"Maksud elo?"
Azka tertawa dengan gaya yang dibuat-buat, dia melirik ke arah teman-temannya.
"Kita semua tahu 'kan gimana buasnya Tania." Azka melakukan gerakan seperti tanda petik di atas kepalanya saat mengatakan kata 'buas'.
Wajah Bian mengeras, tangannya terkepal kuat. Saka dan Alex yang ada di dekatnya mengingatkan agar tidak terpancing.
"Nggak usah marah gitu, Yan. Lagian bukan rahasia lagi kelakuan Tania yang kayak gitu. Yang gue heran, kenapa elo mau sama bekasan banyak orang?" ledek Azka.
"b******k!!" bentak Bian, dia merangsek menarik kerah kemeja Azka. Saka dan Alex mencoba menariknya, tetapi tidak berhasil melepaskan cekalan Bian.
"Elo nggak berhak ngomentarin apa pun tentang Tania! Elo siapa, hah?!" Bian berteriak di depan wajah Azka.
Teman-teman mereka yang memiliki tubuh tinggi berdiri mengelilingi keduanya, hingga keributan yang terjadi luput dari perhatian tamu yang lain dan juga dari Tania yang berada di pojok lain ruangan.
"Gue siapa? Gue salah satu yang pernah mencicipi tubuh calon istri elo, ya meski nggak sampe jebol," ucap Azka sembari menyeringai lebar.
"b*****t!!" Bian langsung menonjok wajah sombong Azka.
"Yan! Tahan! Jangan emosi!" Saka menahan Bian dengan memeluknya dari belakang.
"Gue sebagai temen kasihan sama elo. Elo cowok baik-baik, kenapa dapet cewek modelan Tania, sih? Elo nggak curiga kenapa dia buru-buru minta dinikahin?" Azka terus memprovokasi.
Azka kesal karena terlambat menyadari perasaannya pada Tania. Padahal dulu gadis itu pernah menyatakan cinta padanya. Dirinya malah memilih mengejar perempuan lain yang jauh lebih buruk dari Tania, dan hanya menawarkan hubungan tanpa status pada tunangan Bian itu.
"Jangan-jangan dia pernah tidur sama cowok lain, elo cuma dijadiin tumbal," lanjut Azka.
"Apa elo bilang?!" Febi menampar pipi Azka dengan kencang.
Sembari berkacak pinggang, Febi berdiri menantang Azka. Semua orang terkejut dengan aksi istri Saka yang dikenal lemah lembut ini.
"Ngomong sekali kayak gitu, gue tampol mulut elo pake sepatu gue!" Febi melepas high heelsnya.
"Sahabat gue nggak seburuk yang elo bilang! Yang buruk itu isi otak elo! Otak m***m!" maki Febi sembari menunjuk wajah Azka dengan high heels.
Tania yang baru mengetahui ada keributan, menghampiri Bian yang masih dipegang erat oleh Alex. Sedangkan Saka berdiri di samping Febi, berjaga jika Azka membalas perlakuan istrinya.
"Ada apa ini?" tanya Tania. Di belakangnya berdiri Raka dan Luna, istrinya.
"Nggak ada apa-apa. Cuma cecunguk satu ini mancing emosi gue!" jawab Febi sembari menunjuk wajah Azka.
"Apalagi, sih, Ka? Elo ngejelekin nama gue di depan semua orang? Kenapa? Elo nyesel ngelepasin gue demi mengejar cewek pelac*r itu?" sindir Tania tepat sasaran.
"Mendingan elo pulang, jangan bikin keributan di acara gue!" tegas Tania.
Azka tersenyum tipis, merapikan jasnya lalu berjalan menuju pintu keluar. Sekilas dia berbisik di telinga Tania.
"Lihat apa yang bakal gue lakuin suatu hari nanti. Gue yakin elo bakal balik lagi ke gue." Azka menepuk pelan pipi Tania sebelum pergi meninggalkan ruangan.
Tania melirik tajam, menatap kepergian Azka dengan tatapan benci. Bian melepaskan cekalan Alex, dan melenggang meninggalkan ruangan tanpa menoleh ke arah Tania.
Febi mendorong tubuh Tania agar mengikuti Bian yang melangkah ke pintu keluar. Begitu pun Raka, meminta Tania mengejar adiknya.
"Sana kejar! Jangan sampai mereka ribut di parkiran!" Febi mendorong lebih kencang.
"Kalau ada apa-apa, panggil kita," pesan Raka pada Tania dan meminta teman-teman Bian kembali menikmati acara.
"Yan! Tunggu!" panggil Tania, Bian terus melangkah menuju mobilnya. Suara dentingan remote terdengar nyaring di basemen yang sepi.
"Yan!" Tania mempercepat langkahnya.
"Aku butuh waktu buat nenangin diri, Nya," jawab Bian, dia masuk ke dalam mobil.
"Aku temenin," ujar Tania, bergegas dia masuk ke dalam mobil Bian.
Mereka diam dalam mobil yang mesinnya menyala. Tania memberikan waktu pada Bian untuk menenangkan diri.
"Nya ...." Bian menoleh, menatap Tania dengan sendu.
"Ada apa? Ada yang mau ditanyain? Tanya aja, aku pasti jawab jujur." Tania menakup wajah Bian dengan kedua telapak tangannya.
"Kamu undang Azka?" tanya Bian, Tania menggeleng.
"Nggak, aku nggak undang dia. Karena dia nggak penting juga," jawab Tania. Bian masih menatap wajah tunangannya dengan sendu, dia mencari kebenaran dari mata indah itu.
"Tapi kemarin dia telepon aku, Yan." Tania meneguk ludah ketika Bian mengerutkan dahi.
"Maaf, aku nggak cerita ke kamu. Dia minta aku jadi pacarnya, aku tolak dan bilang kalau kita mau tunangan. Tapi, sumpah! Aku nggak undang dia!" Tania mengangkat tangan dan membentuk simbol victory dengan kedua jarinya.
Bian menghela napas perlahan, dan menjatuhkan kepalanya di atas roda kemudi.
"Yan," panggil Tania lirih.
"Aku cemburu, Nya! Cemburu!" teriak Bian dengan wajah masih menunduk di atas roda kemudi.
Tania menggigit bibirnya, dia baru melihat Bian semarah ini. Biasanya lelaki itu selalu berhasil meredam emosinya.
"Andai kita nggak ada rencana untuk tunangan, apa kamu mau balikan sama dia, Nya? Ninggalin aku?" tanya Bian dengan suara lirih.
"Nggak akan, Yan! Aku nggak akan ninggalin kamu, apalagi demi cowok kayak si Azka!" jawab Tania dengan tegas.
"Kenapa? Bukannya kamu pernah tergila-gila sama dia? Dia bilang kamu...." Bian tidak meneruskan kalimatnya saat melihat buliran air menetes di ujung mata Tania.
"Dia bilang apa, Yan? Dia bilang udah menikmati tubuh aku?" Tania membiarkan air matanya mengalir. Hatinya nyeri saat Bian lebih percaya ucapan Azka dari pada ucapannya.
"Dan kamu percaya?" tanya Tania.
"Bukan gitu," kilah Bian, dia mulai frustrasi saat isakan Tania semakin kencang. Lebih baik dia menghadapi Tania yang agresif dan bawel dari pada yang menangis seperti ini.
"Kamu sama Febi mungkin pernah lihat gue ciuman sama Azka, tapi kami hanya sebatas itu. Aku nggak pernah membiarkan tangan dia menjelajahi tubuh aku!"
Bian menarik Tania ke dalam pelukannya.
"Maaf, Nya. Maaf aku kepancing omongan Azka. Harusnya aku lebih percaya sama kamu. Maaf ya, Sayang." Bian mengecup kening Tania.
"Maaf, Yan, aku dulu liar banget," isak Tania.
✅✅✅✅
Yang mau tau kisah lengkap Saka dan Febi, silahkan baca novel yang judulnya, "TETANGGAKU JODOHKU"