Tania melambaikan tangan saat mata Bian menangkap kehadirannya di sana. Bian berlari kecil menghampiri kekasihnya.
"Dari tadi, Nya? Katanya tadi mau nunggu di klub musik?" Bian mengambil handuk kecil dari tas untuk mengusap keringatnya.
"Ada yang bikin bete, makanya aku tunggu di sini. Masih lama nggak?" Tania berdiri dan mengambil handuk dari tangan Bian. Dengan telaten dia mengusap keringat di wajah dan leher kekasihnya itu.
"Hem! Tolong ya, jangan pamer kemesraan di sini," ledek Alex.
"Baru gini doang dibilang pamer kemesraan. Gimana kalau gue cipok Bian, bisa-bisa dibilang m***m," sahut Tania santai.
"Nya," tegur Bian. Alex tertawa kencang mendengar ucapan Tania.
"Lex, elo gantiin gue. Gue balik duluan. Tadi udah ijin sama coach Andri," ucap Bian pada Alex.
"Oke, Kapten! Gue ke lapangan dulu, deh. Have a nice day. Jangan lupa undang gue ke acara tunangan kalian." Alex melambaikan tangan.
"Siap, Bro!" seru Bian.
"Aku mandi bentar, ya. Kamu tunggu di sini. Kalau ada anak-anak godain elo, hajar aja!" ujar Bian sembari mengangkat tasnya.
"Iya, Sayang. Tapi gue yakin nggak akan ada yang berani godain gue," sahut Tania.
"Oke, tunggu, ya." Bian mengusap rambut Tania.
Keduanya kini berada dalam mobil, menuju butik milik Luna, kakak ipar Bian. Katanya, istri Raka itu akan memberi satu gaun untuk Tania sebagai hadiah.
"Yan, sebelum nikah sama Mbak Luna, Mas Raka pernah pacaran nggak?" tanya Tania.
"Pernah, tapi Ibu nggak setuju. Terus akhirnya Mas Raka dicarikan jodoh melalui ta'aruf. Ketemu deh, sama Mbak Luna. Memangnya kenapa nanya-nanya gitu?" Bian melirik sekilas dan kembali fokus pada jalanan.
"Tadi kata Bianca, sepupunya dulu pernah pacaran sama Mas Raka dan ditolak Ibu. Yang bikin kesel, dia kayak yang heran aku bisa diterima sama Ibu! Katanya lagi, sepupunya itu penampilannya lebih baik dari aku," gerutu Tania.
"Oh, jadi itu yang bikin kamu cemberut dari tadi, Nya? Ah, cuekin aja!" sahut Bian.
"Tapi aku jadi penasaran, Yan. Emang kenapa Ibu sampai nolak sepupunya Bianca?"
"Setahu aku, Ibu nggak suka karena dia terlalu banyak nuntut sama Mas Raka. Belum jadi istri tapi dia udah minta uang bulanan dan lain-lain. Dan kalau nggak salah itu yang bikin mereka putus, Mas Raka udah kesel diporotin melulu duitnya. Bukan karena restu Ibu aja," jelas Bian.
"Uh, dasar Bianca! Kelakuan sepupunya yang jelek nggak diceritain! Malah dia kayak yang ngejek aku. Katanya, kok bisa keluarga Bian mau nerima aku yang kayak gini?! Sialan!" maki Tania.
Bian tersenyum, tangannya terulur mengusap pipi Tania. "Coba, deh, nanti kamu tanya sama Ibu. Kenapa beliau setuju kita pacaran?"
"Malu, Yan." Wajah Tania tersipu. Bian terbahak melihat kekasihnya tersipu seperti itu.
"Biaan ... malah ngeledek!" rajuk Tania. Bian menarik tuas rem tangan, melepas sabuk pengamannya dan mengecup bibir Tania dengan cepat. Mobilnya berhenti di depan sebuah butik mungil di kawasan xxx.
"Yah, kok cuma kecupan doang?" protes Tania.
"Nanti ketahuan Ibu. Bisa-bisa kena marah. Ibu bilang suka pusing ngelihat tingkah laku aku kayak begini," jawab Bian.
"Kenapa? Memangnya kamu ngapain, Yan?"
"Ibu maunya aku nggak pacaran, Nya. Langsung nikah aja, tapi aku 'kan pengen ngerasain gimana rasanya pacaran. Eh, Ibu bilang 'harusnya waktu itu Ibu paksa kamu masuk pesantren!" Bian terkekeh kecil menceritakan omelan Ningsih.
"Orang tua kamu religius banget, ya? Bikin minder," cicit Tania.
"Ah, nggak juga, sih. Ayah sama Ibu itu baru aja hijrah beberapa tahun belakangan, pengen memperbaiki hidup. Maunya, kami anak-anaknya juga ikut belajar memperdalam agama. Dulu mereka hanya mewajibkan bisa salat sama ngaji doang. Tapi gimana, dong? Aku udah terlanjur bandel." Gelak tawa Bian terdengar nyaring.
"Oh, jadi gitu. Makanya Mas Raka juga pernah pacaran, karena Ayah sama Ibu hijrahnya belum lama." Tania mengangguk-angguk. Bian mengacungkan jempolnya.
"Tapi, Yan, menurut aku kamu itu nggak bandel. Kamu itu baik banget, aku sebagai perempuan merasa dihargai banget," ucap Tania tulus.
"Di mata Ibu aku ini bandel. Maunya 'kan aku nggak pacaran," sahut Bian.
"Jadi kita sekarang gimana?" cicit Tania. Bian tak menjawab, dia malah membukakan pintu di samping Tania dan meminta kekasihnya itu segera masuk ke dalam butik.
Kedua wanita paruh baya sedang asyik bercengkerama di pojok butik. Penampilan keduanya bertolak belakang. Ningsih dengan gamis dan jilbab lebarnya dan Wulandari dengan pakaian modis ala anak muda.
"Assalamu'alaikum." Bian mengucapkan salam.
"Wa'alaikum salam," jawab Ningsih.
"Eh, calon mantu Mami yang ganteng udah dateng. Kalian, kok, lama banget, sih? Hampir aja kita tinggal ya, Jeng." Wulandari berceloteh riang persis seperti Tania.
"Maaf, tadi aku ada latihan dulu, Mi," jawab Bian. Pemuda itu mencium punggung tangan Ningsih dan Wulandari bergantian.
"Duh, jarang banget loh anak muda yang sesopan Bian. Makanya begitu tahu mereka pacaran, saya langsung bilang ke Tania. Bian nggak boleh lepas!" seloroh Wulandari. Ningsih tersenyum lebar, tangannya meminta Tania duduk di sampingnya.
"Sama, Jeng. Saya juga langsung jatuh cinta sama Tania. Ini anak polos banget, jujur apa adanya. Pantes Bian tergila-gila," sahut Ningsih sembari mengusap rambut Tania.
"Tapi nggak berhijab seperti Ibu dan lainnya," ucap Tania pelan.
"Belum, Sayang. Suatu saat nanti kamu pasti tergugah untuk menutup aurat. Biar tugas Bian yang bimbing kamu. Ya meski menurut Ibu, Bian juga masih butuh bimbingan," sahut Ningsih penuh kelembutan.
"Memangnya Bian kenapa? Menurut saya dia udah sempurna," cetus Wulandari.
"Masih bandel dia itu, Jeng. Kemarin-kemarin saya mergokin ada majalah dewasa di kamarnya!" Ningsih melirik tajam ke arah Bian yang duduk cengengesan.
"Itu warisan dari Mas Raka, Bu," ucap Bian membela diri.
"Owalaah, wajar itu, Jeng. Namanya juga anak laki-laki," bela Wulandari.
"Ya, tetep aja bikin jantung saya mau copot, Jeng." Ningsih menggenggam jemari calon menantunya.
"Kamu nggak diapa-apain 'kan sama Bian? Kalau dia minta yang aneh-aneh, lapor sama Ibu. Ibu sunatin dia!" ujar Ningsih yang kemudian kembali melirik tajam pada Bian.
"Enggak, Bu. Bian itu baik banget, aku ngerasa dihargai dan dihormati sama dia," sahut Tania.
"Tuh, Ibu denger sendiri. Aku ini nggak pernah macem-macem," timpal Bian.
Ningsih mendesah pelan, kembali mengusap lembut rambut Tania. "Tapi tetep, Ibu maunya kalian buru-buru menikah."
"Aku mau, Bu!" seru Tania bersamaan dengan sahutan Bian dan Wulandari.
"Jangan dulu!"
Wulandari dan Bian saling pandang dan tertawa lepas. Tania dan Ningsih pun melakukan hal yang sama.
"Mami kok, nggak mau aku buru-buru nikah?" rajuk Tania.
"Kelarin kuliah dulu," jawab Wulandari, Bian mengangguk setuju.
"Kan, setelah nikah bisa tetep kuliah, Jeng," timpal Ningsih, diangguki oleh Tania.
Lagi-lagi mereka tertawa lepas, sepertinya masing-masing ibu sudah saling cocok dengan calon menantu.
"Maaf, Jeng Ningsih. Kakaknya Tania baru beberapa bulan yang lalu nikah. Menurut kepercayaan tempat saya berasal, di tahun yang sama jangan mengadakan pernikahan dua kali. Mohon dimengerti," tutur Wulandari.
"Iya, sama kepercayaan dari kampung saya juga begitu. Ya sudah, kita berdoa saja semoga mereka berdua bisa saling menjaga. Jangan sampai kebablasan dan bikin malu keluarga," sahut Ningsih. Dia tidak mau berdebat panjang lebar.
Meski dirinya sudah berhijrah, Ningsih tidak mau menghakimi mereka yang belum mendapatkan kesempatan untuk berubah. Dia juga belajar agar tidak merasa dirinya lebih baik dari mereka.
Tentang Tania dan keluarganya, Ningsih tidak mempermasalahkan perbedaan itu. Dia hanya berdoa dan berharap, setelah Bian menjadi bagian keluarga mereka, Bian bisa membuat keluarga Tania menjadi lebih agamis.
"Loh, Tania sama Bian sudah dateng?" tanya Luna yang baru saja keluar dari ruangannya.
"Iya, Mbak. Keasyikan ngobrol di sini," jawab Tania.
"Yuk, coba dulu gaunnya. Mudah-mudahan cocok. Kalau ada yang kurang sreg ngomong ya." Luna mengajak Tania mencoba gaun rancangannya.
Ningsih dan Wulandari tersenyum hangat melihat keakraban keduanya. Bian menunduk, mencoba menetralkan detak jantungnya. Belum apa-apa dia sudah tegang memikirkan prosesi pertunangan yang menjadi salah satu fase kehidupan yang harus dijalaninya.
Sanggupkah dia memikul tanggung jawab ini?
✅✅✅
Bian menyematkan cincin di jari manis kiri Tania. Kali ini cincin bermata berlian mungil, tetapi mampu memancarkan keindahannya, yang dibeli dari uang tabungannya sendiri. Di bagian dalam cincin itu terukir nama Tania.
Hanya ada satu cincin, Bian tidak mengenakan cincin tunangan. Katanya nanti saja jika sudah menikah, baru dia akan memakai cincin. Tidak ada perdebatan, Tania tidak mempermasalahkan hal itu.
Itu yang membuat Bian menyukai Tania, dia tidak meributkan hal sepele seperti perempuan lainnya. Hanya karena urusan cincin, perempuan lain mungkin akan membatalkan acara pertunangan.
"Kamu suka, Nya, sama cincinnya?" tanya Bian. Tania mengangguk cepat dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan nangis, nanti make up-nya luntur." Bian mengusap lembut pipi Tania
"Makasih, lyan. I love you," ucap Tania.
"I love you too, Nya. Kamu sabar nunggu sampai kita selesai skripsi 'kan?" tanya Bian. Mereka masih berada di atas panggung, berdiri berhadapan, memberi waktu pada fotografer mengambil gambar.
"Insyaa Allah, aku tunggu, Yan. Asal jangan ditunda lagi." Tania menyunggingkan senyum manisnya.
"Nggak mau nunggu aku kaya raya dulu?" goda Bian.
"Iyaan... jangan mancing aku, deh! Kalau kamu kelamaan, aku cari cowok lain!" rajuk Tania.
Bian terkekeh kecil, lalu menempelkan kedua telapak tangannya pada wajah Tania. Kemudian mengecup keningnya penuh perasaan.
"Tahan!" teriak sang fotografer.
"Oke, sip!" teriaknya lagi.
Bian membuka mata, begitu juga Tania. Keduanya saling pandang, mereka saling melempar senyum.
"Yuk, kita sapa temen-temen kita," ajak Bian.
"Padahal aku pengen banget dapet kiss hot jeletot dari kamu," bisik Tania.
"Jangan mulai deh, Nya," tegur Bian. Tania terkikik menahan tawa.
Febi yang pertama kali menyambut Tania dengan pelukan. Ibu muda itu memeluk erat tubuh Tania.
"Gue seneng banget! Akhirnya kalian bersatu juga! Inget nggak omongan gue waktu kita pertama kali ketemu? Kalian itu berjodoh!" seru Febi.
"Iya, gue inget. Gue malah muji Bang Saka," kekeh Tania.
"Iya, bikin aku senewen," sahut Bian berpura-pura kesal.
"Maaf, ya, Yan. Waktu itu pesona kamu belum sekuat sekarang, Sayang," rayu Tania.
"Cieee ... udah panggil sayang-sayangan aja, nih!" ledek Febi. Saka merangkul bahu istrinya dengan tangan kiri, lalu bergantian menyalami Bian dan Tania.
"Tania, gue titip adek gue yang satu ini, ya. Tolong dijaga, jangan dirusak. Dia masih perjaka soalnya," ledek Saka.
"Ih, apaan, sih? Kesannya gue itu tukang nyosor gitu." Tania merajuk dan memeluk tubuh Bian yang tertawa lepas.
"Emang elo tukang nyosor! Kayaknya kalau nggak gue ingetin terus-terusan kayaknya gawang elo udah dijebol dari dulu, deh! Enggak tahu sama yang mana," sindir Febi.
"Huaseem!! Mulut elo tuh, Feb! Sini elo, gue cipok juga sampai elo kehabisan napas!" Tania menarik lengan Febi menjauh dari Bian dan Saka.
"Ngapain, sih, elo tarik-tarik tangan gue? Kalian 'kan harusnya nempel terus, ini malah ngajak gue ngejauh," tanya Febi heran.
Tania memandang sendu wajah Febi, dia sedang kebingungan saat ini. Febi mengernyitkan dahi, merasa heran melihat Tania yang gundah gulana seperti ini.
"Ada masalah?" tanya Febi.
"Gue nggak tahu ini bakal jadi masalah atau nggak, tapi..."
Tania mengedarkan pandangannya, seperti sedang mencari seseorang di kerumunan tamu yang memenuhi ruang pertemuan di kantor ayahnya yang dihias sedemikian rupa agar layak menjadi tempat pesta pertunangan.
"Ada apa? Elo jangan bikin gue takut gitu, dong!" Febi mulai panik.
"Janji elo jangan cerita ke siapa pun!" Tania mengulurkan jari kelingking kanannya.
"Terutama sama Bian," tambahnya.
Febi mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Tania, dan mengangguk cepat. "Janji!"
"Kemarin Azka telepon gue, dia ngajak gue pacaran," bisik Tania.
"Terus? Karena gitu doang elo bingung kayak gini? Bian jauh lebih baik dari Azka!" ketus Febi. Istri Saka itu kesal karena Tania meragukan perasaannya pada Bian.
"Ck! Bukan itu! Lagian gue udah nggak mau main-main. Ngapain pacaran, malah gue maunya langsung nikah! Gue takut dia ke sini dan bikin kacau, Feb," lirih Tania.
"Emang dia ngancem mau ngelakuin itu?!" teriak Febi panik.
"Stt! Jangan bikin heboh! Jangan berisik!" tegur Tania.
"Terus gimana?" cicit Febi. Perempuan itu tidak menutupi kekhawatirannya.
"Dia nggak ngomong apa-apa, cuma kelihatan banget dia kecewa gitu. Ini ketakutan gue sendiri, sih. Elo 'kan tahu, gimana cemburunya Bian sama dia," ujar Tania.
"Ya, jelaslah Bian cemburu. Kalian itu dulu mesra banget, nggak ragu ciuman depan gue sama Bian. Padahal kalian nggak pacaran waktu itu," sungut Febi.
"Udah, deh, jangan bahas masa lalu. Gue pengen elo kendaliin Bian kalau dia emosi. Feeling gue si Azka bakal dateng," bisik Tania. Febi mengangguk-angguk tanda dia paham apa yang diminta oleh sahabatnya itu.
Bian dan Saka datang menghampiri tepat pembicaraan mereka selesai.
"Kita temui orang tua dulu, Nya. Mereka nyariin kamu, loh. Kamu malah ngajak Febi mojok." Bian merangkul pinggang ramping Tania.
Saka meraih lengan Febi dan menggenggamnya. "Ada masalah, Bee?"
✅✅✅✅
Jangan lupa baca kisah lengkap Saka dan Febi dengan judul "TETANGGAKU JODOHKU"