Keluarga Parasit

1015 Kata
Malam itu, beban di hati Nara terasa semakin berat, ditumpuk dengan rasa jijik terhadap dirinya sendiri karena harus menerima 'perlindungan' yang penuh kendali dari Rayyan. Ia baru saja kembali dari kantor, lelah fisik dan mental. Skandal dengan Anton membuat pandangan rekan kerja terhadapnya semakin buruk, meskipun ia telah dinyatakan tidak berbuat itu. Nara kembali ke rumah orang tuanya, sebuah rumah kecil di pinggiran kota yang terasa pengap dan dipenuhi ketegangan. Begitu Nara melangkahkan kaki ke ruang tamu, ia disambut bukan dengan kehangatan, melainkan dengan tuntutan finansial yang kejam. Bu Lastri, ibunya, duduk di kursi rotan tua, wajahnya ditekuk. Di sebelahnya, Bagas, kakak laki-lakinya yang selalu menjadi golden boy keluarga, menatap Nara dengan tatapan menuntut. “Dari mana saja kau, Nara? Kenapa baru ingat untuk pulang ke rumah? Kau lebih senang hidup bebas di kost hah!?” tanya Bu Lastri, nadanya penuh penghakiman, bukan kekhawatiran. “Aku kan bekerja, Bu. CEO baruku memberikan tugas mendadak,” jawab Nara, berusaha terdengar tenang. Ia melepas tasnya. “Bekerja? Kau tiap hari bekerja pun tak pernah mengirim uang kesini! Alasanmu basi Nara!” sembur Bu Lastri. “Kenapa kau bisa-bisanya putus dengan Dion?!” Ucap Bu Lastri tiba-tiba. Nara terdiam. Luka lama kembali menganga. “Dia selingkuh, Bu. Aku melihatnya langsung.” Bagas, yang sedari tadi diam, langsung menggebrak meja. “Selingkuh itu urusan kecil, Ra! Harusnya kau lebih pintar, pura-pura tidak tahu sampai uang dari Dion aman di tangan kita!” teriak Bagas, emosinya meledak. “Kau tahu Bagas akan menikah bulan depan! Kami sudah telanjur memesan katering, biaya gedung, semua kurang! Dion seharusnya membantu biaya itu!” Bu Lastri menambahkan, matanya menuduh Nara sebagai penyebab semua masalah. “Kau ini kenapa sih, Nara? Kenapa kamu selalu membuat masalah!” Nara mengepalkan tangannya. Ia menahan air mata. Ia sudah lelah dengan tuntutan ini. Ia sedang hamil, ia butuh ketenangan, bukan teriakan. “Aku sudah bilang, aku tidak punya uang sekarang. Tabunganku sudah terpakai untuk bayar kos dan biaya hidup,” jawab Nara, suaranya berusaha tegas. Ia bertekad, sedikit sisa uang yang ia simpan harus ia pertahankan demi janin yang ia kandung. Janin ini adalah satu-satunya miliknya. “Kau bohong! Kepala Administrasi di Dirgantara Grup pasti punya gaji besar! Kenapa kau jadi pelit begini?” Bu Lastri menyalahkan. “Kenapa, Bu? Kenapa, Bang? Kenapa cuma aku yang selalu dituntut?” tanya Nara, kelelahan mental. “Aku bekerja keras untuk diriku sendiri. Abang juga punya pekerjaan, kenapa semua biaya pernikahan harus aku yang tanggung? Kenapa selalu aku yang harus mengorbankan segalanya?” Mendengar pertanyaan Nara yang penuh keberanian itu, Bu Lastri seketika kehilangan kendali. Matanya melotot. Amarahnya meledak. Ia meraih vas bunga kecil di meja ,vas bunga yang dulu dibeli oleh Nara dari gajinya yang pertama lalu melemparnya ke lantai hingga pecah berkeping-keping. “Jaga ucapanmu, Nara! Kau ingin tahu, hah?! Kau ingin tahu kenapa?!” teriak Bu Lastri, suaranya menusuk, dipenuhi kebencian yang mendalam. “Karena kau memang tidak seharusnya ada di keluarga ini! Kehadiranmu dulunya hanya membawa sial dan memalukan bagi kami! Kau tidak seharusnya hadir di keluarga ini! Kau hanya beban!” Kata-kata itu menusuk Nara. Lebih menyakitkan daripada pengkhianatan Dion. Lebih menyakitkan daripada sindiran Rissa. Itu adalah kenyataan yang selalu ia rasakan sejak kecil. Ia adalah anak yang tidak diinginkan. Ia adalah beban. Nara terdiam, membeku di tempatnya. Matanya memanas. Ia tidak bisa mengeluarkan suara. Bagas dan Bu Lastri menatapnya dengan pandangan dingin. Nara menunduk. Ia menarik napas panjang. Ia mengangguk perlahan. “Baik, Bu. Aku mengerti,” ucap Nara, suaranya parau, nyaris tidak terdengar. “Aku mengerti. Aku akan coba pinjam uang ke teman kantor. Aku akan coba cari cara untuk biaya pernikahan Abang. Aku akan usahakan uangnya.” Nara kembali ke kamarnya. Ia mengunci pintu. Ia ambruk di lantai. Air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya tumpah ruah. Ia menangis terisak, menutupi mulutnya agar suaranya tidak terdengar oleh Bu Lastri dan Bagas. Ia memeluk lututnya, kemudian perlahan, ia meletakkan satu tangan di perutnya yang mulai membulat. Ia merasakan kehangatan yang kontras dengan dinginnya hati yang ia terima dari keluarganya. “Nak, dengarkan Mama. Kamu adalah satu-satunya milik Mama,” bisik Nara pada janinnya, air matanya menetes ke perutnya. “Mama tidak peduli siapa ayahmu. Mama tidak peduli dengan Rayyan Dirgantara yang arogan itu. Mama akan melindungi kamu. Mama janji, Mama akan melindungi kamu dari semua orang. Dari keluargaku. Dari Rayyan. Dari dunia ini. Kamu tidak akan pernah merasa tidak diinginkan seperti Mama.” Nara berjanji pada janinnya, ia akan melindungi anak ini dengan seluruh kekuatannya, menjauhkannya dari keluarga parasit yang hanya tahu menuntut dan menghakimi. Ini memberinya kekuatan yang baru. Ia harus bertahan di Dirgantara Grup, bukan karena Rayyan, tapi demi uang dan asuransi untuk janinnya. Pagi hari berikutnya. Rayyan menerima laporan baru dari Leo. Laporan itu bukan tentang Nara di kantor, tapi tentang keluarganya. Leo menjelaskan. “Tuan Rayyan, kami mengonfirmasi. Tadi malam, Nona Nara bertengkar hebat dengan keluarganya. Kakaknya akan menikah, dan ibunya menuntut uang kompensasi besar dari Nona Nara, karena ia putus dengan mantan kekasihnya.” Rayyan mendengarkan, matanya menyipit. “Tuntut? Sampai sejauh mana?” "Darimana kau tahu masalah ini?." Tambahnya. “Mereka menuntut uang besar, Tuan. Dan… ibunya mengatakan kata-kata yang sangat keras. Bahwa Nona Nara tidak seharusnya ada di keluarga itu, bahwa dia adalah beban. Saya tahu cerita ini dari Arin,” lapor Leo, dengan nada hati-hati. "Saya tadi tidak sengaja melihat Nara menangis di lorong toilet, Tuan. Dan kebetulan saya berpapasan dengan Arin yang baru berbicara dengan Nara disana." Rayyan mengepalkan tangannya di bawah meja. Amarahnya memuncak. Bukan pada Nara, tapi pada keluarga yang telah menyakiti wanita yang membawa anaknya. Ia semakin yakin. Nara tidak memiliki benteng pertahanan selain dirinya. “Leo,” panggil Rayyan, suaranya rendah dan berbahaya. “Awasi keluarganya. Jangan biarkan mereka mengganggu Nara lagi. Aku tidak mau Nara tertekan. Pewaris Dirgantara harus tumbuh dalam lingkungan yang tenang, bahkan jika ibunya harus bekerja di bawah kendaliku.” Rayyan menatap foto Nara di mejanya. Wajahnya yang pucat. Kau sudah cukup menderita, Nara. Sekarang, biarkan aku yang mengambil alih kontrol. Rayyan menggunakan kekuasaannya untuk melindungi Nara dari keluarga kandungnya sendiri, meskipun Nara tidak pernah tahu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN