Tindakan Gila

976 Kata
Nara datang ke kantor pagi itu dengan perasaan sedih yang begitu menyesakkan. Setiap langkahnya terasa berat, seolah ia membawa beban di punggungnya. Percakapan semalam dengan Ibunya, Bu Lastri, terus terngiang, kata-kata tajam yang menyebutnya 'beban'' itu menusuk jauh ke dalam harga diri dan jiwanya. Kata-kata itu jauh lebih menyakitkan daripada pengkhianatan Dion atau sindiran Rissa. Ternyata aku memang tidak pernah diinginkan. monolognya pahit. Aku memang pembawa sial. Mood Nara benar-benar tidak baik. Meskipun ia berusaha keras memasang topeng profesional saat datang namun, matanya yang sembab dan gerakan tubuhnya yang tidak bersemangat tak bisa menyembunyikan kerapuhannya. Ia berjalan menuju mejanya di lantai eksekutif. Ruangan itu terasa sunyi, berbanding terbalik dengan kegaduhan di dalam kepalanya. Nara mencoba fokus pada tumpukan berkas yang menantinya, namun pandangannya kabur karena air mata yang sudah siap tumpah. Ia tahu ia tidak bisa menahan kesedihan yang mendalam di hatinya. Nara mencoba untuk meluapkan kesedihannya. Ia segera beranjak menuju toilet, lorong sepi adalah satu-satunya tempat dimana ia bisa menangis sepuasnya. Begitu sampai di lorong yang menuju toilet wanita, ia tidak masuk ke bilik mana pun. Ia memilih berjongkok di pojok lorong, menyandarkan punggung ke dinding marmer dingin, dengan kedua tangan menutup wajahnya. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya tumpah, membasahi jari-jarinya. Ia menangis tanpa suara, terisak dalam diam, membiarkan tubuhnya gemetar di bawah tekanan emosi yang luar biasa. Arin, yang saat itu juga ingin ke toilet melihat Nara sedang berjongkok di pojok lorong. Ia terkejut, segera menghampiri sahabatnya itu. Arin mendekat, berjongkok di hadapan Nara, dan bertanya dengan suara lembut namun khawatir. “Ra? Ya ampun, ada apa? Kenapa lo di sini? Lo ada masalah? Cerita sama gue, ya.” Nara tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepala, tangisnya semakin menjadi-jadi. Arin, yang mengerti kondisi Nara itu apalagi setelah kejadian memalukan di ruangan Anton, pun berusaha menguatkannya. Ia menyentuh bahu Nara. “Engga papa, Ra. Lo boleh nangis sepuasnya tapi lo juga harus inget sama janin di perut lo, dia bisa ikut sedih.” Nara pun menceritakan semua. Tentang Bu Lastri yang memanggilnya 'beban', tentang tuntutan uang untuk pernikahan Bagas. “Mereka terus terusan meras uang gue, Rin. Gue capek.” bisik Nara, suaranya parau, menceritakan rasa sakit yang sudah ia pendam sejak kecil. Arin yang mendengar itu segera memeluknya. “Sstt... udah. Dengarin gue. Lo bukan beban. Lo adalah wanita paling kuat yang pernah gue kenal. Lo berharga, Ra. Anak lo juga berharga. Jangan dengarin mereka. Fokus sama diri lo dan janin lo aja." ucap Arin, memeluknya erat, memberikan kehangatan yang sudah lama tidak Nara rasakan. Dari kejauhan, di ujung lorong, Leo melihat adegan itu. Ia sedang berjalan menuju pantry namun terhenti melihat Arin memeluk Nara yang sedang berjongkok di lantai. Leo, yang selalu menjalankan perintah Rayyan untuk mengawasi Nara, menduga bahwa ada sesuatu yang terjadi dengan Nara. Tepat saat itu Arin membantu Nara berdiri, memapahnya untuk keluar menuju ruangan mereka. Arin melirik Leo yang sedang memperhatikan, dari kode mata itu Arin meminta Leo untuk menunggu, seolah ia ingin mengatakan, Ada masalah, tunggu aku sebentar. Setelah mengantarkan Nara kembali ke ruangan dan memberinya segelas air hangat, Arin tanpa ragu menemui Leo yang sudah menunggunya di dekat pantry. Arin langsung menceritakan semua masalah Nara. “Keluarganya memperlakukannya dengan kejam, Leo. Mereka menuntut Mara mememuhi uang untuk pernikahan kakaknya dan menyebut Nara sebagai beban. Aku takut Nara depresi. Dia sedang hamil, dia butuh ketenangan.” Arin sebetulnya tahu kalau diam-diam Rayyan memperhatikan Nara. Hal itu bisa dilihat dari perhatian berlebihan yang Leo berikan untuk Nara, seperti selalu memastikan Nara dalam keadaan baik baik saja. Tidak mungkin Leo berperilaku seperti itu tanpa ada perintah dari Rayyan. Arin percaya, hanya Rayyan yang memiliki kekuasaan untuk melindungi Nara dari keluarga kandungnya. Leo pun mengerti dan ia segera kembali ke ruangan Rayyan untuk menceritakan semua masalah Nara. Sementara itu di ruangan kerjanya, setelah Arin pergi, Nara yang frustasi kembali berpikir untuk aborsi. Walau sebelumnya ia sudah bisa menerima semua ini. janin ini adalah satu-satunya miliknya, namun melihat masalah yang tiada henti, rasanya Nara tidak sanggup lagi. Bagaimana aku bisa membesarkan anak ini di tengah kekacauan ini? Lebih baik dia tidak pernah ada daripada harus menderita bersamaku. **** Nara mengambil cuti di suatu hari. Ia bertekad untuk mengambil keputusan fatal itu. Ia mencoba untuk mendatangi beberapa Rumah Sakit (RS) besar di kota itu dengan berpura-pura check up biasa. Namun, semua menolak. RS pertama di Jakarta Pusat menolaknya dengan alasan ‘jadwal dokter penuh’. RS kedua di Jakarta Selatan menolaknya dengan alasan ‘ketersediaan ruang operasi tidak memadai’. Nara kebingungan sebab tidak biasanya RS besar dan swasta menolak tindakan medical seperti itu, walaupun ia tahu ini adalah hal gila dan ilegal. Ia tidak tahu, ternyata Leo sudah lebih dulu menjalankan perintah Rayyan. Rayyan, menggunakan koneksinya sebagai CEO Dirgantara Group, sudah memberikan peringatan rahasia kepada semua jaringan kesehatan terkemuka di Jakarta untuk tidak melayani segala permintaan medis dari Nara Elfira. Di tengah kebingungan itu, Nara kembali ke kosnya dengan perasaan hampa. Tiba-tiba ponselnya berdering. Nama yang tertera di layar adalah Bu Lastri. Nara ragu, apakah ia harus mengangkatnya atau tidak. Nara akhirnya menggeser tombol hijau, memaksakan suaranya terdengar normal. “Ya, Bu?” Telepon dari Bu Lastri itu, meminta Nara untuk datang di hari ulang tahun Bu Lastri minggu depan karena akan ada acara makan keluarga besar. “Kamu harus datang, jangan membantah.” ujar Bu Lastri, suaranya terdengar sedikit lebih lembut dari biasanya, meskipun masih ada nada ancaman. Nara sebenarnya ragu untuk mengiyakan sebab Ibunya tak pernah seperti ini sebelumnya, ulang tahun Bu Lastri biasanya dirayakan secara sederhana dan tidak melibatkan Nara sama sekali. Namun, Ia tak punya pilihan lain daripada ibunya marah besar dan mendatangi kosnya. “Baik, Bu. Aku akan datang,” jawab Nara singkat. Nara menutup telepon, bingung dengan perubahan mendadak Ibunya. Ia tidak tahu, di malam perayaan ulang tahun Bu Lastri nanti, akan ada hal mengejutkan disana yang akan mengubah dinamika hubungannya dengan Rayyan selamanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN