Hari ulang tahun Bu Lastri pun tiba. Langit sore itu tampak mendung, menambah rasa enggan di hati Nara. Namun, sebagai anak, Nara tetap mencoba menunjukkan baktinya. Ia datang tidak hanya dengan tangan kosong, walaupun ia tahu betul bahwa ibunya sering berlaku tidak adil terhadap dirinya selama ini. Nara datang dengan membawa sekotak kue ulang tahun cokelat yang ia beli dengan sisa uang terakhirnya, berharap kue itu bisa melunakkan hati ibunya.
Begitu sampai di rumahnya, Nara langsung menuju ke arah ruang makan karena keluarganya telah berkumpul di sana. Rasa hangat sedikit menembus relung hatinya mendengar keriuhan di ruang makan. Namun, langkah Nara terhenti seketika. Ia terkejut karena ada orang lain di sana, seorang pria tua berusia sekitar 50 tahun dengan pakaian necis namun tatapan mata yang membuat Nara merinding.
Nara memperlambat langkahnya, keraguan menyergap hatinya. Namun, Bu Lastri sudah lebih dulu melihatnya. Wajah ibunya langsung berubah antusias, Ibunya langsung memperkenalkan pria itu, yang ternyata bernama Tuan Tio.
"Nara kenalkan ini Tuan Tio" Ucapnya sambil tersenyum, senyum yang bahkan sangat jarang Nara lihat. Tuan Tio hanya tersenyum sumringah.
Nara melirik sekilas namun tatapannya langsung kembali pada sang ibu yang juga sedang menatapnya, melihat tatapan Nara yang dipenuhi tanda tanya, Bu Lastri menjelaskan tanpa ragu alasan Tuan Tio hadir di sini. Ternyata, acara makan malam ini bukan sekadar perayaan ulang tahun, melainkan diskusi tentang perjodohan Nara dan Tuan Tio.
Nara yang sama sekali tidak tahu akan rencana busuk ibunya itu jelas merasa marah dan kecewa. Dunianya seolah runtuh untuk kesekian kalinya. Ia merasa seperti barang dagangan yang bisa sesuka hati ditawarkan. Meski gemetar, Nara masih memberanikan diri untuk bertanya, menatap lurus ke mata ibunya, menanyakan alasan ibunya tega menjodohkan dirinya dengan pria yang jelas usianya berbeda jauh, pria yang lebih pantas menjadi ayahnya.
"Apa-apaan ini, Bu? Ibu sesuka hati menjodohkan aku dengan pria tua ini?? Beri aku alasan agar aku mau menerima perjodohan ini!." Ucap Nara seraya menujuk ke arah Tuan Tio.
Bu lastri sudah membuka mulut untuk menjawab namun Bagas lebih dulu memberikan alasan perjodohan ini, "Tuan Tio sudah banyak membantu kita, Nara! Kekurangan dari biaya pernikahanku itu dari Tuan Tio, Paham! Jangan keras kepala."
Hati Nara semakin sakit, serasa disayat sembilu, kala ia mengetahui kebenaran yang memuakkan. Ibunya telah mendapatkan uang dengan jumlah besar dari Tuan Tio untuk membiayai pernikahan mewah Bagas bulan depan.
Nara yang marah pun berkata dengan suara bergetar namun tajam, "Berapa uang yang Ibu terima sehingga Ibu tega menjodohkan aku lagi dengan orang yang seharusnya lebih cocok menjadi ayahku? Apakah aku ini bukan anak kandung Ibu?"
Bu Lastri sempat terdiam namun setelahnya ia menjawab tanpa ragu, suaranya meninggi penuh penekanan, "Satu miliar! Satu miliar uang yang telah Tuan Tio keluarkan untuk menyelamatkan muka keluarga kita! Maka dari itu, kau tak boleh menolak lagi kali ini, Nara! Ini kesempatanmu membalas budi!"
Bagas pun ikut-ikutan mengompori, ia menatap Nara dengan tatapan tajam. "Sudahlah, Ra. Terima saja. Uang itu memang akan dipakai untuk pernikahanku. Kalau perjodohan ini gagal karena tingkahmu, maka aku juga yang repot mencari pinjaman ke sana-sini. Jangan egois!"
Nara dengan berderai air mata, merasakan sesak yang luar biasa di dadanya, berkata, "Hanya satu miliar kah harga diriku di mata kalian? Kenapa tidak Ibu saja yang menikah dengan Tuan Tio?"
Bu Lastri yang mendengar hal itu pun marah besar. Matanya melotot seolah akan keluar dari rongga matanya. Tanpa peringatan, ia maju dan langsung menjambak rambut Nara dengan kasar. Nara memekik kesakitan, ia mencoba melepaskan tangan ibunya yang mencengkeram kuat kulit kepalanya.
Nara memberontak sekuat tenaga hingga akhirnya Tuan Tio, yang semula hanya duduk diam memperhatikan dengan senyum menjijikkan, pun angkat bicara. "Sudahlah, Nara. Terima saja perjodohan kita. Lagipula kau hanya akan jadi istri ketigaku. Tugasmu tidak terlalu berat, hanya sesekali melayani aku. Kau cukup menikmati saja kemewahan itu."
Nara yang mendengar hal itu pun menjadi sangat jijik. Istri ketiga? Pikirannya berputar. Ibunya benar-benar menjualnya kepada p****************g. Bu Lastri hanya mengangguk-anggukkan kepala dengan semangat kala mendengar penuturan Tuan Tio, seolah itu adalah tawaran terbaik di dunia.
Nara masih berusaha untuk lepas dari cengkraman tangan Bu Lastri di rambutnya yang semakin kencang. Dalam kepanikannya, ia teringat sesuatu. Ia ingat kalau ia menyimpan kertas hasil pemeriksaan kesehatan dari Dokter Vanya di saku blazer-nya. Itu adalah satu-satunya senjata terakhir yang ia miliki untuk menghancurkan rencana mereka.
Sontak Nara mengeluarkan kertas itu dengan tangan gemetar dan berkata dengan lantang, "Aku hamil! Aku sedang mengandung! Kalian tidak bisa seenaknya menjodohkan aku dengan siapa pun!"
Keheningan seketika menyelimuti ruangan itu. Semua orang yang ada di meja makan kaget. Terutama Bu Lastri. Hal itu pun membuat cengkraman tangannya lepas dari rambut Nara karena saking terkejutnya. Tanpa ragu, ia merebut hasil pemeriksaan itu dari tangan Nara. Matanya membulat sempurna, membaca setiap baris hasil laboratorium tersebut. Apa yang dikatakan Nara benar, putrinya memang sedang mengandung.
Bu Lastri pun semakin naik pitam, wajahnya memerah padam. "Kok bisa!!! Anak siapa yang kau kandung, Nara!! Dasar anak tidak tahu diri! Kau telah mempermalukan keluarga ini!" teriaknya histeris.
Tuan Tio yang merasa dibohongi oleh keluarga itu pun berdiri dengan geram. Ia menuntut ganti rugi segera atas uang yang telah ia keluarkan. "Kalian menipuku! Kembalikan uangku sekarang juga!"
Bagas dan Bu Lastri kebingungan, kepanikan mulai mengambil alih. Melihat kesempatan di tengah kekacauan itu, Nara pun langsung lari menuju pintu keluar. Ia ingin pergi dari rumah yang terasa seperti neraka itu selamanya. Namun, siapa sangka Bagas menyadari kalau Nara mencoba kabur. "Woi! Mau lari ke mana kau!" teriak Bagas.
Kondisi Nara yang sedang mengandung dan lemas membuatnya kepayahan berlari kencang. Napasnya tersengal-sengal. Bagas yang jauh lebih kuat akhirnya bisa menangkap dirinya di halaman depan yang remang-remang. Bagas mencengkeram lengan Nara hingga membiru.
Bu Lastri yang sudah marah besar itu datang menyusul, diikuti oleh Tuan Tio yang menatap dengan benci. Di tangan Bu Lastri kini tergenggam sebalok kayu kayu yang ia ambil dari tumpukan barang bekas di samping rumah. Tanpa ampun, balok itu dihantamkan ke tubuh Nara.
Bugh!
Nara terjatuh ke tanah yang keras. Rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya. Namun, di tengah siksaan itu, sekuat tenaga Nara menekuk tubuhnya, menjaga bagian perutnya agar tak terkena hantaman dari balok kayu ibunya. Ia merintih, melindungi nyawa kecil di dalamnya dengan sisa tenaganya.
Tanpa ia sadari, tangannya yang gemetar di dalam saku celana menyentuh layar ponselnya. kecemasan dan rasa sakit membuatnya tidak sadar bahwa ia baru saja memencet panggilan kepada satu-satunya nomor yang paling sering muncul di daftar panggilannya akhir-akhir ini: Rayyan Dirgantara.
Panggilan tersambung...
****
Di seberang sana, di sebuah kediaman mewah yang tenang. Rayyan sedang duduk di ruang keluarga yang luas, berkumpul bersama Neneknya. Neneknya, satu-satunya sosok yang paling ia hormati, sedang menyesap teh hangat sambil sesekali membicarakan masa depan Dirgantara Grup.
Di sana juga ada Leo. Leo sedang mendiskusikan beberapa jadwal besok dengan Rayyan dalam nada rendah agar tidak mengganggu sang Nenek.
"Rayyan," suara Neneknya lembut namun berwibawa. "Dirgantara butuh pewaris yang kuat. Kamu harus segera memikirkan pendamping yang tepat."
Rayyan hanya tersenyum tipis, hendak menanggapi ucapan Neneknya ketika ponsel di atas meja marmer di depannya bergetar. Layar ponselnya menyala, menampilkan nama Nara Elfira. Rayyan mengernyitkan alis. Tidak biasanya wanita itu menghubunginya lebih dulu.
Rayyan mengangkat ponselnya, hendak menyapa. Namun, saat sambungan terhubung yang terdengar hanya jeritan kesakitan Nara.
"Aakh!"
Rayyan membeku. Itu adalah suara rintihan kesakitan yang sangat ia kenali.
"Jangan Bu... ampun... jangan perutku!" suara Nara terdengar pecah, penuh ketakutan.
"Dasar anak haram! Kau sudah merusak rencana kami! Rasakan ini!" Itu suara melengking seorang wanita tua yang dipenuhi kebencian.
Wajah Rayyan seketika berubah. Senyum tipisnya hilang. Aura di ruangan itu mendadak menjadi sangat mencekam, membuat Neneknya terhenti bicara dan menatap cucunya dengan heran.
Rayyan berdiri dengan terburu buru. Matanya berkilat penuh amarah.
"Leo! Lacak lokasi Nara sekarang juga! Cepat!" perintah Rayyan dengan suara rendah namun penuh tekanan.
Leo yang melihat perubahan drastis pada tuannya langsung bergerak cepat tanpa bertanya lagi. "Baik, Tuan!"
Rayyan tidak mempedulikan tatapan bertanya-tanya dari Neneknya. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: Nara dan janin yang dikandungnya. Jika sesuatu terjadi pada mereka, Rayyan bersumpah akan meratakan rumah itu dengan tanah.
"Nara... bertahanlah," bisik Rayyan pelan, tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih, sementara ia segera melangkah keluar menuju mobilnya dengan kecepatan penuh.