Jena meninggalkan kantor Dirgantara Grup dengan langkah kaki yang dihentakkan keras. Perasaan marah, malu, dan terhina bercampur menjadi satu, menciptakan api yang membakar dadanya. Harga dirinya sebagai putri keluarga Wijaya baru saja diinjak injak oleh seorang karyawan rendahan di depan pria yang ia puja. Sementara itu, di dalam ruang tunggu tamu eksekutif yang kini jauh lebih tenang, Rayyan masih bersama Nara. Nara menatap Rayyan dengan pandangan yang sulit diartikan. "Terima kasih, Tuan Rayyan," ucap Nara dengan suara yang masih sedikit bergetar. Ia benar-benar merasa terbantu karena Rayyan telah memberinya ruang dan perlindungan untuk melawan balik Jena. Selama ini, Nara selalu menjadi pihak yang mengalah, namun hari ini, ia merasa martabatnya sedikit terangkat. Rayyan menatap Nara

