Kehangatan

590 Kata
Pagi hari tiba, mentari yang mulai mengerjakan tugasnya kini telah condong menyinari bumi dengan kehangatan. Lilis bangun dari tidurnya. Kicauan burung yang bernyanyi menyambut paginya. Udara yang sejuk membuat pernafasan terasa segar. Oouummm.. Oumm.. Berulang kali lilis menguap dan mengangkat kedua tangannya ke atas untuk melakukan ritual wajibnya saat bangun tidur. Lilis turun dan berjalan membuka jendela. Ia masih menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya itu. Pemandangan hijau memenuhi penghilatannya. Gadis itu keluar rumah dan mencari kamar mandi di sana. Kamar mandi yang berada di luar dan air bening seperti kaca membuat gadis itu ingin segera mandi. Berrrrr.. Ah dingin sekali, jika seperti ini dinginnya aku malas mandi sekarang. Gadis itu merutuk dirinya sendiri. Dengan cepat ia membilas sabun di tubuhnya dan kembali melilitkan selimut di tubuhnya. "Kenapa sipemilik rumah ini tak kunjung pulang ya. "Lilis bertanya pada diri sendiri. Gadis itu kembali masuk kedalam dan berniat meminjam baju sipemilik rumah. Dan ia mendapatkan baju daster yang setengah usang di sana. Ia memakai baju itu dan merapal doa agar si pemilik rumah tidak memarahinya karna berbuat lancang. Perut yang keroncongan dan terasa cacing terus menggelitik diperutnya meminta segera di isi. Gadis itu berjalan ke salah satu ruang di belakang yang berada di pojok kanan. Ia melihat alat memasak yang sudah lama tak terpakai, dan membuka jendela kecil di sana. "Buset dah, wahhh.. " Gadis itu terkejut dan membulatkan matanya saat melihat kebun sayuran dan buah-buahan di halaman belakang rumah. Ia pun bergegas jalan menuju ke belakang, untuk memetik buah dan sayur hijau itu. Aku tau engkau adil pada semua hamba mu Tuhan, maafkan aku yang kadang tak pernah bersyukur. Gumam lilis Gadis itu memetik berbagai sayuran hijau di sana, dan buah-buahan. Rasa takjubnya saat itu membuat ia tidak sadar sudah mengambil buah terlalu banyak. Kini ia mulai berkutat di dapur sederhana itu dan memainkan pisau seperti chef handal. "Akhirnya siap juga, saatnya untuk menikmati. " Gadis itu menyuapkan satu sendok kedalam mulutnya, dan belum sempat ia menelan mkanan itu, suara seseorang membuat ia tersedak. Uhuk.. Uhuk.. "Kamu tidak apa-apa Nak? " Tanya sosok wanita yang sudah keriput termakan usia. "Maaf Nek, aku gak apa-apa kok. "Lilis menenggak air putih di cangkirnya. "Oiya.. Apa Nenek penghuni rumah ini? " "Iya Nak. Kamu siapa, kenapa bisa tersesat sampai kesini? " Pertanyaan nenek itu membuat mata lilis berkaca-kaca. "Nama ku Lilis Nek, aku tidak punya orang tua lagi, dan aku di usir oleh tante ku. " "Yasudah! Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal di rumah ini sama nenek, dan menjadi anak nenek, tapi ada syaratnya. " "Syarat! Apa itu syaratnya nek? " "Setiap malam kamis dan jum'at keliwon, kamu jangan pulang kerumah ini, nanti nenek antarkan kamu kerumah teman nenek. " "Baiklah nek, terimakasih sudah mengijinkan lilis tinggal di sini. "Lilis tidak menaruh curiga, dan ia tidak ingin ikut campur dengan urusan orang lain, karna setiap orang memiliki privasi sendiri. Tawa nenek itu membuat lilis sedikit merinding, karna mirip dengan mbah kunti. Tapi ia menepis jauh rasa takutnya. "Nek, maaf ya lilis pinjam baju nenek, karna baju lilis basah, lilis tidak punya baju lain. Nanti setelah baju lilis kering, lilis akan ganti. " "Iya.. Tidak apa-apa Nak, pakai saja baju nenek, tapi maaf, karna baju nenek tidak cantik seperti baju jaman sekarang. Nenek hanya punya daster bolong-bolong. " "Enggak papa nek, lilis nyaman kok pakai baju ini. Oya makan yuk nek, lilis tadi metik sayur dan buah di kebun belakang. " "Ternyata kamu bisa masak ya. " "Bisa sedikit nek. "Lilis menyunggingkan senyum Mereka menikmati makan siang bersama, dan sesekali bergurau. Lilis pun menceritakan semua mengapa ia di usir. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN