PROLOG
Bruzzzzzz.. Bruzzzzz..
Hujan yang lebat dan angin kencang menyelimuti malam yang penuh air mata bagi gadis yang takberdaya saat itu.
"Pergi kamu dari sini, kamu hanya menambah beban hidup kami. "Wanita berbadan sedikit berisi itu mendorong keluar rumah gadis berusia 20 tahun.
"Tante jangan usir lilis, lilis janji akan jadi anak yang penurut, lilis akan mengerjakan semua perintah tante. "
Wanita berbadan gempal itu berdesih dan membuang wajah sesaat. "Kami sudah tidak membutuhkan mu lagi, sekarang kamu pergi dan jangan pernah menunjukan wajah jelek mu itu di depan ku. "Wanita itu kembali mendorong dan melepaskan genggaman dari tangan lilis.
Hahahaha. Gelagak tawa dari seorang gadis yang seumuran lilis. "Udah lo pergi aja sana yang jauh dari sini, itu semua nasib lo karna lo terlahir dari keluarga bernasib sial. "Mereka masuk dan mengunci pintu.
Gadis itu menangis dan ketakutan. Guntur yang menggelegar dan hujan lebat membuat ia terpaksa pergi dari rumah yang tidak terlalu mewah itu. Rumah yang sudah 5 tahun ia tempati bersama ibu nya.
Menangis dalam hujan dan hanya memakai baju tipis, ia berjalan dan terus berjalan tanpa tujuan.
Ya ALLAH, aku harus kemana, aku tidak tau kemana kaki ini ku langkah kan, aku sudah tidak punya siapa-siapa, sudah cukup cobaan yang engkau berikan.
Gadis itu jatuh terduduk dan terus menangisi nasibnya.
Kini ia kembali jalan menyusuri lorong kecil yang di impit gedung dan rumah megah di sampingnya.
Hujan yang sudah sedikit reda dan menyisakan rintik-rintik buliran air.
Entah sudah berapa ratus kilo meter ia berjalan tanpa tujuan, rasa lelah dan dingin yang menusuk tubuh hingga ketulang membuat ia tak sanggup berjalan atau pun menyeret kakinya.
Gadis itu melihat daerah di sekitarnya dengan pandangan yang sedikit buram. Entah di mana saat ini ia berada. Ia hanya melihat pepohonan besar mengelilinginya, rumput dan bunga-bunga yang menghiasi daerah itu. Ia melihat sebuah rumah kecil yang terbuat dari bambu. Hanya lilin yang menerangi rumah itu.
Lilis mengumpulkan sisa tenaganya untuk menuju rumah itu dan beristirahat sejenak di sana.
"Permisi, apa ada orang di dalam. "
"Permisi..."
Berulang kali lilis memanggil tetapi tidak ada satu pun jawaban yang ia dengar. Ia sedikit mendorong pintu itu dan ternyata rumah itu tidak terkunci.
Lilis masuk ke dalam dan kembali memanggil pemilik rumah. "Permisi, apa di sini ada orang, maaf aku hanya ingin menumpang istirahat sejenak. "
Hening dan tidak ada suara apapun yang ia dengar. Gadis itu mencoba mencari orang di dalam sana, ternyata keadaan rumah itu kosong.
Apa rumah ini tidak ada penghuninya, mengapa tidak satupun orang yang bisa ku jumpai, tapi rumah ini cukup bersih dan nyaman. Tidak mungkin tak berpenghuni, apa mungkin sipemilik sedang pergi. Sudahlah, aku hanya ingin menumpang istirahat. Gumam gadis itu.
Lilis merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang terbuat dari bambu dan beralas tikar sederhana.
Malam semakin larut, angin semilir membuat gadis itu menggigil kedinginan di tambah baju yang basah kuyup. Gadis itu berjalan menuju sebuah box coklat tua yang terbuat dari kayu dan sudah sedikit berlubang. Ia berniat meminjam baju si pemilik rumah.
Gadis itu membuka pintu box dan melihat selimut tebal tersusun rapi di sana. Ia mengambil selimut itu dan membuka seluruh bajunya. Ia menggulung tubuh mungilnya di dalam selimut agar terasa hangat.
Bersambung..