Bunyi sirene ambulans yang kencang terdengar hingga ke seluruh penjuru jalanan. Dengan sabar, Keenan selalu menemani Ingga, yang saat ini sedang terbaring di dalam ambulans seraya terus menahan sakit. Wajah cantiknya terlihat mulai memucat. Buku-buku jarinya terlihat sedikit memutih, terus memegangi tangan Keenan dengan erat seolah-olah dirinya akan terpelosok ke dalam jurang yang dalam. “Sakit, Keenan ..,” lirih Ingga. “Aku tahu, sayang,” ucap Keenan seraya mengusap perlahan peluh yang membasahi pelipis Ingga dengan sebuah tissue. Keenan beralih mencium dahi mulus Ingga sekilas, “Bertahan sedikit lagi, Ingga. Sebentar lagi kita akan segera sampai di rumah sakit. Aku tahu kamu pasti bisa.” Ingga hanya terdiam seraya terus menatapi Keenan dengan raut wajahnya yang terlihat amat nanar. K

