Bunyi pintu rumah yang dibuka dengan kasar terasa begitu mengagetkan Marina Taruni, ibu kandung Ingga. Dahi Marina langsung mengerut seketika dirinya mendapati Ingga, putri sekaligus anak semata wayangnya itu, yang wajah cantiknya nampak begitu kacau. Pipi mulus Ingga terlihat memerah, rambut panjangnya terlihat sedikit acak-cakan. Kedua matanya nampak sedikit sembab dan bengkak, persis seperti orang yang baru saja menangis tanpa henti semalaman. “Kamu kenapa, Ingga?” tanya Marina dengan raut wajahnya yang terlihat amat khawatir. Ingga hanya menggeleng seraya menatap wajah renta ibunya dengan tatapan yang terlihat begitu nanar, sebelum akhirnya berjalan masuk ke dalam kamar tidurnya dengan langkah yang terlihat begitu terburu-buru. Sesampainya di kamar tidurnya, Ingga langsung melempar

