Chapter 42 - Buah Cinta yang Manis

1985 Kata

Suara sirene ambulans yang berisik menggema hingga ke seluruh penjuru jalanan kota Swiss. Dengan raut wajahnya yang dipenuhi dengan rasa kekhawatiran, Keenan duduk di dalam mobil ambulans di samping Ingga—terus menenangkannya sambil memegangi tangan kannanya. “Bertahan sedikit lagi, Ingga,” ucapnya seraya sedikit berbisik. Keenan beranjak mencium dahi mulus Ingga, yang terlihat sedikit mengkilap karena peluh itu, setelahnya. “Aku tahu kamu bisa melakukan ini, sayang,” lanjutnya. Ingga tersenyum seraya mengangguk perlahan, wajahnya terlihat semakin pucat pasi, “Iya, kamu tak usah khawatir, Keenan, aku baik-baik saja.” Keenan hanya tersenyum tipis. Tak peduli seberapa banyak pun Ingga berkata kalau dirinya baik-baik saja, rasa khawatir itu akan tetap hinggap dalam diri seorang Keenan Lor

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN