Ingga menatap Keenan dengan raut wajahnya yang terlihat amat terkejut nan tak percaya, “Be .. benarkah?” Keenan mengangguk dengan semangat, “Iya, Ingga. Mungkin karena itu juga nafsu makanmu jadi bertambah dua kali lipat.” Sang dokter lanjut menyelamati Keenan dan Ingga. “Selamat. Saya akan memberikan resep obatnya,” ucapnya ramah sebelum akhirnya pergi meninggalkan Keenan dan Ingga sendirian. Keenan hanya tersenyum seraya mengangguk—sementara Ingga, terlihat hanya terdiam di tempatnya seraya mengelus perutnya dengan perlahan. Keenan lanjut bicara pada Ingga, “Kamu kenapa, hm?” Ingga menggeleng perlahan. “Aku hanya masih tak percaya, Keenan. Ternyata Tuhan masih mengizinkanku untuk menjadi seorang ibu,” ucapnya haru. “Bukankah aku sudah pernah bilang padamu sebelumnya, hm? Anak perta

