Aroma melati itu masih tercium kuat di ruangan ini. Menyatu bersama kenangan-kenangan lama yang pernah Dewi miliki dengan Kellan dulu. Dewi menggeleng lemah, menepis semua bayangan-bayangan familier yang mencoba merasuk ke dalam otaknya. Surat dan aroma melati itu telah ia buang sore kemarin. Ia jadikan satu bersama onggokan sampah di depan rumah dan mungkin sekarang telah dibawa oleh tukang sampah yang bertugas. Dua puluh empat jam lebih telah berlalu. Tetapi semua itu masih cukup membuat Dewi bergetar setiap kali mengingatnya. Dewi duduk di ruang tengah dengan meluruskan kaki dan membiarkan televisi menyala menayangkan acara yang entah apa. Pikirannya masih saja melayang tak menentu. Bram baru saja keluar sore tadi, katanya perlu bertemu dengan temannya yang lain untuk membicarakan mas

