Kellan duduk di kursi ruang kerja rumahnya yang berada di lantai satu. Ruangan ini memiliki sisi yang menghadap taman samping. Berharap dengan desain seperti ini, siapa pun yang memakai ruang kerja tidak merasa jenuh dan bisa mengambil manfaat dari pemandangan hijau di luar sana.
Rumah yang Kellan tempati adalah rumah dengan konsep kolam renang berada di tengah, di kelilingi oleh taman di sekitarnya dan bangunan utama. Sehingga banyak ruangan didesain memiliki pemandangan ke arah taman. Beberapa bagian dirancang dengan taman menggantung sehingga memberikan sentuhan alami. Tumbuh-tunbuhan dan beberapa jenis bunga dirawat dengan sempurna oleh tukang kebun yang Kellan pekerjakan. Kellan adalah lelaki yang sangat perfeksionis. Dia tak membiarkan satu hal pun dilakukan dengan setengah-setengah.
Biasanya, pemandangan taman bisa sedikit mengurangi kejenuhan yang Kellan rasakan. Tetapi tidak saat ini. Pikiran Kellan terus saja melayang kepada hal-hal lain. Layar komputer yang berada di hadapannya dengan penampilan tabel angka, tak ia gubris sama sekali. Sebuah musik klasik yang menjadi latar suara tak juga menenangkan diri Kellan.
Kellan menyandarkan tubuh kekarnya ke sandaran kursi. Dia melipat kakinya dengan anggun, dan menopangkan sebelah tangan ke dagunya.
Selama sebulan lebih Kellan telah merencanakan untuk membuat masalah pada suami Violin, Bram. Dia mencari tahu di mana lelaki itu bekerja dan siapa saja atasan yang bisa ia ajak kerja sama untuk memuluskan niatnya.
Ternyata hal itu tak sesulit yang ia duga. Dengan iming-iming uang, dua atasan Bram berhasil ia bujuk untuk mengeluarkan Bram dari tempat kerjanya secara tak hormat. Lelaki itu bahkan tak mengantongi pesangon dan surat keteterangan kerja. Pasti akan sulit untuknya mencari pekerjaan yang bagus. Kecuali jika lelaki itu mau memutar haluan dan menerima pekerjaan apa pun secara serabutan. Jika itu yang terjadi, Kellan harus menyiapkan rencama cadangan lagi untuk membokir setiap langkah Bram.
Violin masih juga tak menyerah. Dia tetap bertekad berada di samping Bram. Entah wanita itu bodoh, atau pun lugu. Apa untungnya berada di sisi lelaki yang akan hancur sebentar lagi. Bagi Kellan, sebuah permainan harus dilakukan secara totalitas. Jika ia sudah berniat menghancurkan seseorang, maka ia tak akan berhenti sebelum orang itu menjadi abu yang diterbangkan angin. Tak berarti apa-apa. Tak memiliki nilai apa-apa. Itulah arti dari kehancuran sesungguhnya.
Sempat terlintas di benak Kellan untuk menghadapi Bram secara tatap muka dan memberikan ancaman secara langsung. Tetapi ia menahan diri. Belum saatnya ia muncul ke permukaan. Masih ada banyak tahap untuk Bram lalui sebelum mereka akhirnya harus berhadap-hadapan. Sebuah kejutan harus berada di akhir bagian. Jika dibuka di awal, apa gunanya surprise. Saat ini, Kellan harus puas dengan melihatnya secara jauh. Menunggu jika tiba-tiba Violin berubah pikiran dan kembali bersedia datang ke padanya.
Senja mulai datang. Matahari bergulir semakin rendah ke arah barat. Membiarkan siluet-siluet jingga menampakkann diri menyambut petang. Kellan melirik ke arah jendela, menatap senja yang dulu pernah ia cintai keberadaannya. Sekarang, setiap waktu yang ia lalui terasa sama saja. Tak ada keistimewaan di setiap bagian ketika alam mulai berganti waktu. Hari-hari tetap datar. Tak ada hal yang bisa ia anggap menarik.
Kellan mengernyitkan kening saat ia mendengar ponselnya berdering nyaring. Dia membiarkan sejenak nada dering tersebut mengisi ruang kerja miliknya, bersahut-sahutan dengan musik klasik yang ia putar. Setelah cukup lama, Kellan baru meraih benda kecil tersebut yang terletak di meja.
"Ya?"
"Bro, lu di mana?" suara Reno menyapa pendengaran Kellan.
"Rumah. Ada apa?" tanya Kellan tak semangat. Suasana hati Kellan akhir-akhir ini semakin menurun.
"Keluar yuk. Si Rendi ngadain party. Lumayan buat seneng-seneng. Dia booking cewek. Bukan hanya cewek lokal. Ada yang China dan Rusia juga. Tertarik nggak?" Reno berkata dengan nada penuh semangat.
Kalau sudah urusan cewek, Reno jadi berubah seperti lelaki tua gendut yang matanya selalu ijo dan air liurnya menetes menjijikkan. Lelaki itu benar-benar b******n sejati sejauh menyangkut tentang urusan ranjang.
"Hobi lu masih belum berubah. Kayaknya lu terkutuk untuk jadi sesat selamanya." Kellan menggelengkan kepala, membayangkan wajah m***m temannya yang hobi menikmati kesenangan sesaat.
"Hei! Hei! Sesama orang sesat dilarang menjudgment, oke? Gue memiliki perhatian yang tinggi sama lu. Siapa tahu lu mau bergabung?" Reno mulai menggerutu. Dia adalah kawan yang memiliki sisi solidaritas meskipun sebagai lelaki, dia cukup b******k. Tidak salah Kellan menaruh kepercayaan pada Reno. Tetapi andai ia memiliki adik atau pun kakak perempuan, Kellan pasti tak akan rela menyerahkan saudarinya sendiri di bawah tangan Reno. Temannya itu hobi menghancurkan wanita dalam satu malam.
"Oke, gue meluncur!"
"Tunggu! Tunggu!"
"Apa?"
"Jangan lupa bawa pengaman yang banyak. Gue jamin lu pasti akan kecanduan untuk main banyak ronde. Hahaha!"
Kellan terkekeh kecil dan memutuskan sambungan. Malam ini dia perlu pelarian untuk memperbaiki suasana hatinya. Tawaran Reno merupakan air segar yang ia butuhkan. Wanita memang hanya selingan. Tapi setidaknya selingan itu bisa membuat Kellan sedikit melupakan beban pikiran dan kejenuhannya.
Tak butuh waktu lama bagi Kellan untuk bersiap-siap dan melakukan perjalanan ke rumah Rendi. Dia hanya tertahan di perjalanan. Rendi mendiami perumahan di daerah Kemayoran. Jarak tempuh yang seharusnya tak terlalu lama dari Menteng ke Kemayoran, jadi memakan waktu hampir satu jam karena lalu lintas padat.
Kellan tiba di rumah Rendi sekitar pukul setengah delapan malam. Dia memasuki area dalam rumah dan disambut dengan security yang sudah lama mengenalnya.
"Silakan masuk, Boss. Bang Reno sudah ada di dalam," sambut Pak Jon, security berbadan gembul yang wajahnya bulat dengan hidung lebar seperti Shrerk.
Kellan terkadang dipanggil Bos oleh teman-temannya. Jabatan dan identitas yang ia miliki membuat ia menyandang panggilan itu.
"Party udah dimulai?" tanya Kellan.
"Sudah, Bos! Di ruang tengah. Masuk saja!" Jon membimbing Kellan menyusuri ruang demi ruang rumah Rendi yang bak istana. Rendi, salah satu temannya yang memiliki darah campuran Medan dan Jawa. Kedua orang tuanya merupakan pengacara hebat sehingga memiliki banyak properti yang tersebar di mana-mana. Rumah ini salah satu bangunan yang Rendi dapatkan dari mereka.
Ruang tengah yang dimaksud John adalah sebuah ruang keluarga di lantai dua yang didesain dengan sangat modern. Ruangan ini kedap suara sehingga musik sekeras apa pun cukup aman diputar.
Rendi berhasil menyulap ruang seluas sembilan puluh meter persegi ini menjadi ruang party dadakan. Sebuah musik bertempo cepat mengisi ruangan, menjadikan sekelompok orang menggerakkan tubuhnya secara berirama. Ada sekitar tiga belas orang di tempat ini. delapan di antaranya merupakan kaum hawa yang memakai dress mini dengan memamerkan setiap lekukan tubuh yang menggoda.
"Bro. Sini!" pinta Rendi di tengah suara musik yang mendominasi ruangan.
Kellan mengangguk dan melewati beberapa wanita yang melirik penuh minat ke arahnya. Mereka sepertinya cukup antisias melihat lelaki berprospek dan menjanjikan setampan Kellan.
"Hari ini gue menang tender! Lu bisa seneng-seneng di sini sampe pagi. Gue bakal kasih surga buat lu malam ini!" teriak Rendi mengalahkan hingar bingar musik. Dua orang lelaki di samping mereka, Reno dan Daniel, ikut mengangguk membenarkan.
Rendi adalah salah satu teman yang mudah sekali membuat party dadakan hanya untuk merayakan hal-hal kecil. Lelaki itu memiliki jiwa hedonis sejati. Kemewahan dan kenikmatan duniawi adalah apa yang ia cari selama ini.
Kellan tersenyum kecil dan memilih duduk di kursi sudut ruangan. Dia menyesap rokonya dalam-dalam dan memilih menjadi pengamat. Satu kakinya ia silangkan dengan gaya angkuh. Mata elangnya yang tajam menatap satu demi satu kaum hawa yang tengah menari dengan menggoda. Mereka sekelompok wanita yang melenggak-lenggokkan tubuh, menggoda lelaki dengan aset mereka yang berharga.
Tak selang lama, seorang wanita muda berdarah chines mendekati Kellan. Dia memakai mini dress merah dengan belahan d**a berbentuk V. Kulitnya yang seputih s**u membuat wanita itu memiliki nilai tersendiri. Rambutnya yang pendek sebahu dicat merah, memberikan kesan menantang. Kellan tersenyum kecil menatap manik matanya yang dibingkai kelopak mata sipit.
Senyum Kellan merupakan senyum predator. Matanya menatap penuh undangan. Ada sinyal tersendiri yang ia pancarkan secara tersirat. Sinyal yang akan selalu diterima dan ditanggapi oleh lawan jenisnya dengan cepat.
Mata mereka saling mengunci dan membahasakan keinginan masing-masing.
...