"Jadi, lu yang menjadi penyebab semua ini?" Dewi bertanya dengan nada yang tercekat. Otaknya berputar dengan cepat untuk menangkap setiap informasi yang ada.
"Smart girl. Apa lu masih tetap keras kepala untuk tetap menolak tawaran gue?" Nada Kellan menajam. Menyiratkan ada makna yang dalam dari setiap kata-katanya.
Mulut Dewi bergetar. Dia membuka bibirnya tanpa bisa mengatakan satu patah kata pun. Hanya keheningan yang ada di antara mereka.
"Tidak apa-apa selama lu masih kuat berada dalam permainan yang gue ciptakan. Duduk dan tonton saja apa yang bisa gue lakukan lebih jauh lagi. Saat nanti lu menyerah kalah, lu tahu ke mana harus nemuin gue. Saat itu, pasti penyerahan lu terasa semanis madu," ucapnya memberikan kalimat terakhir.
Panggilan diputus secara sepihak. Menyisakan banyak hal yang Kellan tinggalkan untuk Dewi pikirkan seorang diri.
Kaget. Terkejut. Syok.
Itulah apa yang Dewi rasakan saat ini. Dia menatap ponsel miliknya yang sekarang tak lagi menyambungkan panggilan. Semua jari-jemarinya gemetar hebat. Ia menatap layar android yang kini hanya menampilkan warna gelap.
Matanya terasa pedih. Air bening perlahan mengalir dari sudut matanya. Menyiratkan kekalahan yang enggan ia akui. Kaki Dewi terasa lemas seketika. Beruntung dia dalam posisi duduk. Setidaknya, tubuhnya masih ditopang dengan baik oleh kursi.
Kellan mulai bertindak. Dibalik pemecatan yang terjadi untuk Bram, ada kontribusi besar dari Kellan. Lelaki itu ternyata mulai melakukan sesuai dengan apa yang ia ucapkan. Menghancurkan Bram.
Entah dari mana Kellan mampu mencari informasi sedetail itu dan entah apa yang ia lakukan kepada atasan Bram untuk mengambil keputusan dalam pemecatan suaminya.
Yang Dewi tahu, Kellan merupakan lelaki cerdas dan licik yang mampu menggali setiap hal untuk ia gunakan sesuai kemauannya. Dia bisa menyusup masuk ke sistem perusahaan lain dengan kekuatan yang ia miliki dan memanfaatkan kondisi tertentu demi kepentingannya. Dewi ingat, banyak orang yang telah Kellan bantai di masa lalu dengan cara buruk hanya karena mereka membuat kesalahan tanpa disengaja.
Sopir Kellan, pernah membocorkan rahasia tanpa sengaja tentang kehidupan probadi Kellan. Dia akhirnya dipecat secara tidak hormat dan ditemukan dalam keadaan babak belur di rumah sakit. Sekretaris Kellan, pernah membocorkan rencana perusahaan kepada pihak lain. Dua hari kemudian, setelah Kellan mengetahui kasusnya, sekretaris Kellan ditemukan kecelakaan dan tak bisa bekerja hingga waktu yang tidak ditentukan.
Banyak kejadian-kejadian serupa yang pernah Dewi dengar selama ia bersama Kellan dulu. Dewi memang tidak pernah memastikan hal ini kepada Kellan, tetapi dalam hati, ia yakin semua itu merupakan hasil dari tindakan Kellan sendiri.
Kellan adalah lelaki yang sangat pintar bertindak dan tak meninggalkan bukti sama sekali. Lelaki yang pernah mendapat julukan lintah modern. Ambisi dan keinginannya bak kaisar yang tak boleh ditolak. Seolah-olah dunia ini hanya tercipta untuknya seorang.
Dewi mengusap wajahnya dan merapikan kaos putih sederhana. Dia masih tak tahu dari mana Kellan bisa mendapatkan nomor ponselnya. Tetapi mengingat siapa Kellan, hal kecil begitu pasti mudah. Keberadaannya saja bisa ditemukan, apalagi jika hanya sekadar nomor ponsel.
Dewi berjalan dengan perasaan kebas. Apa yang bisa ia lakukan saat ini? Menyerah kepada Kellan jelas bukan pilihan utama. Dia telah berkomitmen kepada Bram untuk selalu bersama menjalani kehidupan. Hari-hari mereka cukup tenang, untuk apa Dewi harus bermain api dan meninggalkan Bram demi seorang lelaki egois seperti Kellan.
Dia akan bertahan. Dengan semua cara. Tidak mudah untuk menghadapi Kellan, tetapi kalah jelas bukan pilihan. Dewi menatap langit-langit ruangan.
Dia telah menjalani hidup dengan tenang. Apakah masalah mulai akan mengusiknya satu demi satu? Tidak bisakah kehidupan memberinya kesempatan untuk bisa damai dan bahagia? Dosa apa yang telah ia lakukan di masa lalu yang membuat Tuhan memberikan karma ini untuknya?
…
"Mau aku buatin lagi teh panas?" tawar Dewi menatap Bram yang duduk di kursi makan.
Sudah dua hari ini Bram berada di rumah tanpa melakukan aktifitas yang berarti. Dia sibuk mengoleksi koran dan media cetak untuk melihat lowongan pekerjaan yang ada. Banyak dari kertas-kertas itu dilingkari, disilang, dan dicoret-coret dengan berbagai tanda. Dewi yang melihat semua itu hanya bisa terdiam.
"Nggak usah." Bram menjawab singkat. Dia berdiri dari duduknya dan kembali membuka-buka koran terbaru yang baru saja ia dapatkan pagi ini. Rutinitas mulai berjalan seperti biasanya.
Dewi tak tahu apakah harus bersyukur atau mengeluh dengan kenyataan ini. Bram sudah mulai bisa menerima kenyataan, meskipun ia masih mengeluh sekali-dua kali tentang pemecatan yang ia terima. Dia mulai menunjukkan tanda-tanda bangkit dan memiliki semangat untuk kembali mencari pekerjaan. Hanya saja, setiap lowongan yang ada, kebanyakan dibatasi oleh umur. Yang tidak dibatasi umur, biasanya pekerjaan serabutan yang Bram tak terlalu berbakat untuk melakukannya.
"Gimana, Mas? Nemu pekerjaan yang cocok?" tanya Dewi hati-hati. Dia melihat wajah Bram semakin suram.
"Pekerjaan yang bagus kebanyakan syaratnya harus sarjana." Bram berkata dengan nada protes. "Padahal kan nggak setiap sarjana kinerjanya baik? Bisa saja kemampuan mereka kalah sama yang cuma SMK. Tapi yang SMK justru jarang dicari." Bram terdengar mulai mengeluh.
Dewi hanya bisa tersenyum kecil, memahami dengan jelas kekesalan yang dialami suaminya. Bukankah memang begitu siklus yang terjadi selama ini? Perusahaam yang bonafit selalu mencari lulusan sarjana dengan kemampuan yang mumpuni. Mereka membuka kesempatan besar kepada para lulusan kaum muda yang intelek dan cerdas. Kerja memang membutuhkan otak yang ber-IQ tinggi. Perusahaan mana yang menginginkan sebaliknya?
"Kalau Mas nggak keberatan, biar aku aja yang cari lowongan, gimana?" tawar Dewi. Dia lulusan S1 akuntansi. Siapa tahu kemungkinan Dewi lebih besar dalam mencari peruntungan di dunia kerja. Dia juga memiliki paklaring kerja, sejenis surat pengalaman kerja dari tempat sebelumnya.
"Kamu pikir aku lelaki seperti apa, Dewi? Membiarkan istri mencari pekerjaan seorang diri sementara aku berpangku tangan?"
"Bukan gitu juga, Mas. Kita perlu melihat keadaan sekarang dengan lebih objektif. Mana peluang yang memungkinkan kita untuk tetap bertahan, mana yang tidak. Aku kan pegang ijazah S1, siapa tahu ijazahku ada gunanya sekarang, Mas. Kalau salah satu dari kita ada yang tetap bekerja dan mensuplai pemasukam rumah tangga, siapa pun itu, pasti akan lebih baik, bukan?" Dewi mencoba berargumentasi.
Keadaan rumah tangga mereka sedang dihadapkan pada kenyataan sulit. Sepasang suami istri yang menganggur itu memang merupakan sebuah tragedi yang cukup besar. Angsuran bulanan mereka tetap harus dibayarkan, mau tak mau mereka harus tetap bergerak mencari tambahan dana.
Dewi mengusulkan diri karena sepertinya ia yang cukup berkompeten dilihat dari riwayat pendidikan. Bram hanya lulusan SMK, ditambah lagi dia tak memgantongi pesangon dan surat keterangan kerja sebagai bahan rekomendasi kepada calon perusahaan baru yang akan ia masuki.
Atasan Bram berkilah kinerja Bram terlalu buruk, sehingga memecatnya tanpa memberikan pesangon dam surat keterangan kerja merupakan hal yang wajar terjadi. Dewi yang mendengar penjelasan ini dari Bram hanya bisa menahan kesal.
Pernah Bram berkeinginan untuk memprotes keputusan tersebut, dia merasa pemecatan dirinya merupakan tindakan egoisme perusahaan yang tidak bisa menilai kinerja karyawan dengan baik. Tetapi Dewi menghalanginya.
Dewi tahu Kellan-lah yang berada di balik semua ini. Percuma saja melayangkan protes jika Kellan telah bertindak. Kedudukan dan status Bram tidak akan bisa mengendalikan diktator raksasa seperti Kellan. Yang setiap tahun namanya menduduki sebagai salah satu dari lima puluh besar pengusaha terkaya.
"Kamu mulai ragu sama aku, ya? Saat ini aku memang pengangguran, tapi bukan berarti aku tidak bisa mencukupi kebutuhanmu!" Bram menolak usul Dewi dengan nada tajam. Dia berdiri, memilih pergi ke ruangan lain dengan kemarahan baru. Aura ruangan ini jadi penuh dengan ketegangan.
Dengan lemah, Dewi hanya bisa menatap kepergian Bram. Bagus. Masalah pemecatan ini mulai melebar. Mempengaruhi hubungan rumah tangga mereka.
…