Dua bulan berlalu dengan cepat. Semua hal berjalan dengan baik. Rutinitas yang Dewi dan Bram lakukan tak mengalami perbedaan. Mereka masih menjalani aktifitas masing-masing. Bram dengan jobnya sebagai marketting Bank BPR dan Dewi sebagai ibu rumah tangga yang setiap sedia di rumah. Mereka berdua saling melengkapi dengan cara mereka sendiri.
Penghasilan Bram sebagai marketting tidak membuat Dewi mengeluh sekali pun. Meski pun biaya hidup di Bandung tinggi dengan sejuta t***k bengek. Angsuran rumah yang harus berjalan setiap bulan, belanja harian dan belanja bulanan yang tak sedikit, listrik, PDAM, dan kebutuhan-kebutuhan lain yang jumlahnya setiap saat semakin membengkak.
Semua itu terkadang terasa mencekik keuangan mereka. Karena itu, tak jarang Dewi memilih mengalah dan memendam semua keinginan membeli hal-hal yang tak terlalu penting, termasuk shopping dan sejenisnya. Sebenarnya, sebagai seorang wanita yang pernah memiliki gaya hidup tinggi, menahan diri tidak melakukan pembelian pada benda-benda kesukaannya membutuhkan kekuatan mental yang tak sedikit. Tetapi, lama-lama hal itu menjadi kebiasaannya. Secara alami insting Dewi bisa memilih mana yang penting dan tak penting untuk ia beli. Semuanya membutuhkan skala prioritas yang tepat.
Bram adalah satu-satunya pihak yang bekerja dan menanggung semua pengeluaran rumah tangga. Dia menjadi tulang punggung tunggal dalam keluarga ini. Dia melarang Dewi untuk bekerja demi mempermudah kehidupan wanita itu. Menurutnya, sudah selayaknya lelaki yang bekerja tanpa campur tangan perempuan. Sebuah prinsip yang menurut Dewi sangat kolot pada awalnya. Tetapi, semakin ke sini Dewi semakin menerima semua watak dan karakter Bram sehingga dia menahami cara berpikir lelaki itu. Demi Bram, ia melepaskan segalanya. Termasuk kesempatan untuk melanjutkan karir dan mendapatkan promosi yang lebih tinggi.
Karena itu, Dewi mencoba menghargai sikap Bram dan mencoba sebisanya mengatur keuangan mereka dengan sebaik-baiknya. Bagaimana pun juga, lelaki itu telah menjadi setengah hidupnya. Dia berjanji akan mengabdi dengan baik kepada suaminya. Bukankah nilai seorang wanita dilihat dari sikpanya kepada sang suami?
Bram telah bekerja selama lima tahun di tempat bekerjanya. Dia sudah menjadi karyawan tetap. Rencananya, dia akan mendaftar ikut promosi untuk kenaikan jabatan bulan depan. Siapa tahu hal itu bisa mengubah peruntungannya setelah dua kali gagal.
Sebagai istri, Dewi hanya sanggup menyemangati. Dia tak bisa berkontribusi banyak. Jadi inilah yang bisa ia lakukan saat ini. Seperti sore ini contohnya. Dia mendapati Bram, suaminya, pulang lebih awal dari pada biasanya. Lelaki itu menampilkan wajah yang suram, jauh dari biasanya.
Dewi mengernyitkan kening. Dia menyentuh lengan Bram dengan lembut dan membimbingnya masuk. Dewi tahu pasti ada hal buruk yang terjadi. Mungkinkah Bram mengalami sandungan kecil dalam pekerjaannya? Akhir-akhir ini ia mengeluhkan tentang kondisi keuangan perusahannya yang tak stabil dan mengalami penurunan dalam grafik keuntungan bulanan. Atasan Bram semakin bawel dan menekan semua anak buahnya untuk bekerja dengan lebih giat. Dia ingin keuntungan perusahaan ini stabil.
"Mas? Ada masalah kerja? Kamu kelihatan kacau." Dewi mulai membuka perbincangan. Dia membiarkan Bram duduk di kursi ruang tamu dan memperhatikan wajah suaminya yang kian menggelap.
Bram menatap Dewi sejenak, dan menundukkan kepalanya lebih dalam. Dia mengepalkan kedua tangannya dengan kekuatan penuh. Matanya terlihat memerah seperti dipenuhi amarah. Rahangnya bergetar hebat, seolah-olah semua emosinya siap tumpah kapan saja.
Dewi ingin bertanya lagi, tetapi melihat kondisi Bram yang seperti ini, ia memilih diam menahan diri. Dewi bergegas ke belakang, membuatkan satu gelas teh panas kesukaan Bram. Teh beraroma melati ini mampu mengurangi beban pikiran suaminya. Selama ini jika Bram dalam suasana hati yang kurang baik, biasanya teh inilah yang menjadi adalannya.
"Mas, minum dulu!" Dewi mengangsurkan cangkir teh beserta tatakannya di meja ruang depan. Dia masih melihat lelaki ini tak berubah air mukanya. Mungkinkah ia sedang mengalami masalah yang cukup berat? Sebuah masalah yang tak biasa untuk ia tanggung.
Dewi mencoba menempatkan diri sebagai seorang istri. Dia tak ingin memaksa Bram dengan cara yang tak lelaki itu inginkan. Dia juga tak ingin meninggalkan Bram begitu saja tanoa kepedulian. Dewi hanya bisa menunggu di sisinya, berharap Bram bisa terbuka dan memilih untuk membagi sebagian beban.
Bram menyugar rambutnya dengan serampangan. Dia memijat pelipisnya dengan gerakan lemah. Dewi beringsut, berdiri di belakang Bram dan memijat bahu suaminya dengan lembut. Menjadi lelaki memang tak mudah. Dia menanggung sebagian besar beban dalam rumah tangga dan keuangan keluarga. Sebagai seorang istri, Dewi hanya bisa mendukung Bram seçara psikis. Dia tak bisa mengurangi beban suaminya secara langsung.
"Jika ada sebuah masalah, kita akan melaluinya bersama. Bukankah dari awal pernikahan ini kita sudah berkomitmen untuk membagi semuanya dan melewati banyak ujian dengan kekuatan bersama?" Dewi mulai membujuk suaminya dengan nada yang lembut. Kata-katanya mengalir laksana air. Tenang dan menyejukkan.
Bram menoleh ke belakang, menatap istrinya dengan pandangan kalah. Dia telah bertekad akan membahagiakan wanita ini sejak awal pernikahannya, tetapi nyatanya selalu ada masalah yang datang menerpa sehingga keinginannya sering kali sulit tercapai.
Mungkinkah kehidupan telah mendendam padanya? Menahannya dari memberikan sesuatu yang sangat ia inginkan. Menjadikan dirinya seperti serpihan sampah yang terbuang dan siap dihempas dari dunia ini.
Bram memejamkan matanya, menguatkan diri saat ia menyampaikan sesuatu yang membebani hatinya.
"Hari ini aku dipecat."
Satu kalimat ringan yang keluar dari mulutnya telah membuat mereka berdua terjebak dalam keheningan yang lama. Mata mereka saling terkunci, membahasakan duka yang mulai menyeruak.
Pecat.
Fakta yang sangat menyakitkan mengingat tentang betapa sulitnya mencari pekerjaan saat ini. Ditambah usia Bram yang tak lagi muda. Tiga puluh tahun.
Dewi merasa kelu dengan kenyataan ini. Jujur, dia terkejut dan tak mengerti. Bagaimana bisa Bram dipecat semudah itu? Apakah prosedur perusahaan bisa semudah itu mempermainkan seseorang?
"Bagaimana bisa, Mas? Bukannya kamu sudah karyawan tetap?" tanya Dewi tak mengerti.
Mendengar pertanyaan itu, bukannya membuat Bram lega, justru semakin tertekan. Dia menarik nafas berat dan mengatakan penjelasan secara singkat.
"Keuntungan perusahaan menurun. Aku dianggap sebagai satu-satunya marketting yang tak bisa memenuhi target. Jadi, mereka memutuskan untuk memecatku."
"Siapa saja yang di-PHK?"
"Hanya aku."
Dewi mematung tak berdaya. Setahu Dewi, Bram adalah karyawan yang baik. Dia selalu mencoba memenuhi target meskipun beberapa kali keadaan tak memungkinkan. Dia sangat loyal dan tekun. Bagaimana bisa mendapatkan penilaian seperti itu? Ditambah lagi, Bram satu-satunya orang yang diberhentikan. Apakah kinerjanya sangat parah sehingga atasan Bram memutuskan hal sekejam itu? Tidakkah dia bisa melihat usaha suaminya selama ini?
"Mas?"
"Aku lelah, Dewi. Biar aku menyendiri sebentar!" Bram berdiri dan berlalu pergi. Meninggalkan Dewi dengan sejuta tanda tanya.
Ruang tamu sederhama yang ditempati Dewi selama sebelas bulan terakhir ini, kini terasa hampa dan kosong. Tembok-temboknya meneriakkan olok-olok untuknya dengan kejam. Dewi duduk termenung di kursi yang baru saja ditinggalkan Bram. Dewi memejamkan mata sekejap untuk kembali menilai semua situasi.
Suaminya telah dipecat. Itu adalah fakta yang tak bisa ia ingkari lagi. Bram membawa sebuah map merah bersama dirinya. Mungkin benda kecil itu merupakan surat pemberhentian kerja untuknya, yang sengaja tak diperlihatkan Bram pada Dewi. Tapi, apa artinya kertas itu jika fakta sebenarnya telah Dewi ketahui?
Kalah. Itulah yang Dewi rasakan. Pekerjaan merupakan sesuatu yang sangat krusial di kota besar seperti Bandung. Mencari kerja tidaklah mudah. Apalagi jika Bram merupakan lulusan SMK dan berusia tiga puluh tahun. Kehidupan mulai memberikan sinyal merah kepada Dewi. Sepertinya, hari-hari ke depan pasti akan berat. Ditambah lagi tabungan mereka tak seberapa. Tanpa pemasukan, mereka terancam kelaparan.
Di tengah-tengah perenungannya, suara ponsel miliknya yang nyaring membuyarkan Dewi. Wanita itu tersentak mendengarkan nada dering yang terasa memekakkan di ruangan sesepi ini. Dengan cepat, Dewi mengambil ponsel hitam di samping novel yang tadi sempat ia baca dan menatap nomor asing yang muncul di layar utama. Dahi wanita cantik itu mengerut bingung, menebak-nebak siapa orang yang menghubunginya. Dia kemudian menggeser layar ponsel ke mode menerima telepon.
"Ya? Siapa?" tanya Dewi, mulai menebak-nebak. Mungkinkah ini nomor Lisa? Temannya itu berganti nomor setiap dua bulan sekali bersamaan dia mengganti nomor paketan data.
"Violin, permainan baru saja dimulai. Bagaimana rasanya melihat suami lu pulang dan dipecat dengan tidak hormat oleh atasannya sendiri? Masih perlukah gue menghancurkan dia lebih besar lagi?"
Dewi terpaku di tempat mendengar suara yang sangat ia kenal. Mulutnya membentuk kata-kata tanpa suara.
Kellan.
…