Siang ini Dewi membuat janji temu dengan Lisa, sahabatnya. Mereka sepakat untuk makan siang bersama di sebuah tempat makan tak jauh dari tempat Lisa bekerja. Dewi hanya menbutuhkan waktu seperempat jam menuju tempat yang mereka sepakati dengan mengendarai motor matic kesayangannya.
Siang merupakan jamnya para karyawan beristirahat. Akibanya, Dewi harus rela berdesakan di antara banyaknya pengunjung rumah makan. Dewi mendesah lega saat akhirnya berhasil menemui sosok Lisa di tempat makan khusus lesehan bagian dalam.
Wanita berusia dua puluh lima tahun itu tengah menikmati segelas jus melon dengan wajah penuh rasa syukur. Perutnya yang buncit karena kehamilannya yang sudah memasuki usia delapan bulan membuat Lisa tampak lebih gendut dari pada biasanya. Sinar matanya berubah lebih cerah, seolah-olah kehamilan bisa membuatnya bahagia.
"Dewi!" Lisa melambaikan tangannya penuh semangat ketika melihat kehadiran Dewi. Lesung pipinya membuat wanita itu tampak semakin cantik.
"Kamu makin melar saja, Lis. Taruhan, pasti berat badan jadi dua kali lipat. Itu perut isinya bayi apa lemak. Lihat kamu jadi ingat sapi perah milik tetanggaku di kampung." Dewi tersenyum manis, memberi ledekan ringan pada temannya. Dia segera duduk di samping Lisa dan mengambil buku menu.
"Whoaaa sembarangan! Perbandiganmu itu lho … Ini karena hamil ya. Lihat saja besok kalo anak udah lahir. Bodyku laksana kembang kampus. Kinyis-kinyis. Nggak akan beda jauh sama perawan kalimantan." Tangan lisa membentuk gitar, menyampaikan secara tersirat dia akan memiliki tubuh sesempurna itu nantinya.
Dewi hanya berdecih kecil sembari mengibaskan tangannya sebagai isyarat agar Lisa tak terlalu sering berkhayal. Makhluk Tuhan yang satu ini sering kali lupa daratan. Kadang tidak ingat mana area nyata dan mana area mimpi.
"Yupz. Perawan Kalimantan yang umurnya satu setengah abad." Dewi tertawa lebar membayangkan leluconnya sendiri. Dengan Lisa, setiap hal yang ia lalui terasa lebih ringan. Lisa merupakan salah satu pemanis dari hidup Dewi yang gersang.
"Stop membully. Bully adalah kebiasaan yang bisa menjatuhkan mental!" Lisa menunjuk Dewi dengan ujung telunjuknya. Dia mulai berfilosofi bak filsof terkenal.
"Dari kapan dirimu berubah menjadi psikolog. Kupikir pendidikan terakhirmu di bidang management bisnis."
"Ah, sudahlah. Lupakan. Ayo cepetan pesan makanan. Kamu mau mana?" Lisa mulai memberikan beberapa rekomendasi. Sepertinya temannya ini sudah terbiasa makan di tempat ini. Buktinya, Lisa dengan mudah memesan semua makanan tanpa menbuka sedikit pun buku menu. Dewi hanya bisa mengikuti rekomendasi yang wanita itu pilihkan.
Tak berapa lama kemudian, pesanan mereka datang. Pelayanan rumah makan ini termasuk baik. Dari cara pelayanan, tempat, dan, menu yang disajikan. Untuk masalah kuliner, Dewi merupakan teman yang bisa merekomendasikan banyak hal.
"Jadi, ada apa sebenarnya? Katanya kamu ada masalah?" Lisa mulai bertanya. Dia memandang wajah Dewi yang langsung terlihat tertekan saat ia melemparkan pertanyaan ini.
Mata Dewi tampak suram. Dia mengaduk-aduk cha kangkung yang ia pesan dengan gerakan malas. Nila bakar yang dipesankan oleh Lisa hanya ia pandangi saja.
"Kellan kemarin datang ke rumahku."
Satu kalimat itu mampu membuat Lisa terbatuk dengan keras. Dia menyemburkan semua makanan yang baru saja ia masukkan ke mulut dengan sangat tidak anggun dan melotot lebar. Salah seorang pengunjung lain yang duduk berdekatan dengan meja mereka sampai melirik penuh spekulasi. Mulut orang asing itu sedikit monyong, melihat sikap Lisa yang dinilai tak pantas.
Bibir Lisa membuka dan menutup berulang kali. Dia seperti ikan koi di dalam aquarium. Dewi yang melihat respon Lisa hanya bisa meradang.
"Oh. Uh. Kamu bilang Kellan? Maksudku Kellan yang itu, bukan? Kellan … dia … dia mendatangi rumahmu?" Dewi seperti orang linglung. Sumpah. Wajahnya mirip orang yang hilang ingatan dan sedang disuguhkan dengan sesuatu yang asing.
"Memangnya ada berapa Kellan yang ada di dunia ini yang terhubung denganku?"
"Aku tahu. Fakta ini hanya sedikit mengejutkanku. Maksudku, sangat mengejutkan. Bisakah kamu jelaskan kronologisnya, Dewi?"
Lisa menyingkirkan sajian yang ada di hadapannya dan dalam waktu sejenak melupakan jus melon kesukaannya. Dia menatap Dewi dengan sorot mata serius. Topik yang Dewi angkat kali ini bukan topik sembarangan. Temannya telah membuka kembali sebagian cerita yang katanya telah ia tutup selama dua tahun ini.
"Jadi, selama dua tahun ini, dia mencariku. Egonya terluka. Harga dirinya tergores. Sehingga dia tak terima dengan caraku meninggalkan dia."
Lisa menyentuh hidungnya dan menatap ekspresi Dewi yang tersiksa. Apa yang pernah mereka takutkan benar-benar terjadi.
Lisa adalah salah satu orang yang mengenal Kellan, meskipun hubungan mereka tak dekat. Dialah teman yang menutup-nutupi keberadaan Dewi selama ini, menduķung Dewi saat wanita itu memutuskan meninggalkan Kellan dan keglamoran yang lelaki itu tawarkan. Dan dia juga yang memberi saran untuk Dewi mengubah namanya setelah sebelumnya dikenal sebagai Violin.
Hubungan Dewi dengan Kellan merupakan hubungan palsu yang hanya memiliki nilai kepuasan sesaat dan kemewahan semu. Hubungan yang tanpa arti seperti itu, akan dibawa ke mana? Seperti tembok raksasa yang hanya akan menghentikan setiap langkah seseorang. Hingga yang ada hanyalah jalan buntu tanpa arah.
"Apa yang dia inginkan kali ini?" tanya Lisa dengan suara tercekat.
Dewi memilih diam. Dia hanya bisa menatap meja makan di depannya dengan hampa. Matanya mulai meredup setiap saat, menunjukkan betapa pikirannya mulai tertekan.
"Dewi? Apa yang Kellan inginkan?" Lisa mengulangi kembali pertanyaannya. Dia menggenggam tangan temannya dengan cemas. Seolah-olah siap mendengarkan hal buruk yang bisa saja terjadi setiap saat.
"Dia ingin aku balik lagi seperti dulu. Jadi wanitanya yang hanya bisa diperalat dan digunakan sesuka hati. Bagi dia, sebuah hubungan hanya akan berakhir setelah dia bosan dan jenuh." Dewi mengangkat bahunya, tersenyum miris.
"Tapi kamu udah merried kan? Dia segila itu ya? Nggak mungkinlah Kellan serendah itu ngejar wanita masa lalu yang sudah jadi istri orang." Lisa berkata tak terima. Dia seolah-olah tidak mempercayai hal ini. Apa yang ia dengar merupakan sesuatu hal di luar moralitas umum.
"Baginya, aku hanyalah sebuah objek di masa lalu yang berani merampas ego dan melukai harga dirinya. Dia adalah lelaki dengan arogansi sejati. Tidak masalah jika lelaki lain yang datang ke hidupku lagi. Tetapi ini Kellan, Lis. Lelaki yang bisa melakukan apa pun dan memiliki kuasa."
Menjadi wanita Kellan selama dua tahun telah membawa Dewi pada semua pemahaman tentang diri Kellan. Bagaimana lelaki itu bertindak, bagaimana lelaki itu mengambil keputusan, dan sampai sebatas mana kekejaman lelaki itu.
Semuanya menuju satu kesimpulan penuh. Lelaki itu tak bisa disentuh dengan cara yang menyinggung. Dia orang dengan kepribadian pendendam dan mudah mengincar sesuatu hingga dapat. Itulah salah satu alasan dia mampu mengembangkan bisnis propertinya. Karena Kellan selalu pintar mencari celah dari setiap kesempatan, bahkan yang mustahil sekali pun.
"Menurutmu apa yang akan dilakukan Kellan selanjutnya. Kupikir dengan cara mengganti namamu, semuanya sudah cukup aman."
Dewi meringis. Tidak ada yang aman selama menyangkut tentang Kellan. Dia tak ubahnya seperti predator sejati. Setiap hari yang ia lakukan hanyalah mencari mangsa dan menghabisinya dengan kejam.
"Aku tidak tahu. Dia mengancam akan menghancurkan Mas Bram." Mata Dewi semakin nyalang. Dia menyentuh dadanya, merasa ada bagian dirinya yang terluka secara psikis.
Bram adalah lelaki baik yang hanya mengetahui sekelumit tentang masa lalunya. Lelaki itu telah menerima Dewi dengan sangat luar biasa dan menjadi separuh hidupnya. Apa jadinya jika lelaki seperti itu benar-benar akan menjadi mangsa Kellan yang selalu bertindak tanpa menggunakan hati? Hancur. Itulah satu-satunya nasib tragis yang akan Bram temui.
Dewi dan Lisa hanya saling menatap dalam. Pupil mata mereka saling mengunci dengan penuh makna. Masing-masing dari mereka tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Tapi mulut mereka kelu untuk mengucapkannya dengan gamblang. Selalu ada batas dari setiap pemikiran yang kacau untuk diungkapkan melalui kata demi kata.
"Masalahmu baru saja dimulai, Dewi." Hanya itulah kata-kata yang mampu Lisa ucapkan dengan penuh rasa simpati.
…