Malam ini Kellan memilih menghabiskan waktu duduk sendirian di atas kursi kayu di taman belakang rumah. Dia menatap langit malam yang menebarkan ratusan titik-titik sinar. Sudah dua malam ini langit Jakarta berbintang. Menyuguhi ibu kota dengan pemandangan alam yang indah di tengah padatnya aktifitas.
Sebuah rokok terselip di antara jari-jemari Kellan. Asap samar membumbung tinggi menuju langit. Di tangan satunya, sebuah botol vodka ia genggam erat. Menampilkan isinya yang tinggal dua per tiga.
Dengan malas, Kellan mengangkat botol di tangannya dan menyesap cairan itu langsung dari botolnya. Cairan ini terasa tak senikmat biasanya. Dengan asal, Kellan melempar botol tersebut di tong sampah yang tak jauh darinya. Lemparan itu menimbulkan suara krak keras dan nyaring.
Hasrat Kellan malam ini entah menguap ke mana. Malam telah menyapa lama. Bahkan mungkin ini sudah memasuki dini hari. Tapi gairah Kellan telah lenyap semenjak ia menemui Violin tadi sore.
Wanita itu membuat dirinya hilang fokus. Setelah sekian lama Kellan melakukan pencarian, dia dikejutkan dengan fakta bahwa wanita itu telah menikah. Yang benar saja. Menikah. Kellan harus menggaris bawahi fakta itu dengan sempurna.
Dari semua hal yang Kellan bayangkan tentang wanita itu, menikah merupakan sesuatu yang tak pernah ia duga. Violin dulu merupakan wanita supel dengan gaya hidup bebas dan tak suka kekakangan. Mana mungkin jiwa seliar itu bisa tunduk pada suatu ikatan yang disebut pernikahan. Hanya Tuhan yang tahu alasan apa yang mendasari wanita semacam Violin memutuskan mengikat diri sendiri dalam ikatan seserius itu.
Hal lainnya yang tak kalah mengejutkan, dia mendapati fakta bahwa Violin memilih menjadi ibu rumah tangga yang menghabiskan waktu di rumah sepenuhnya. Keahliannya sebagai accounting keuangan hanya menjadi hal yang sia-sia. Wanita itu dulu merupakan contoh wanita glamor dengan gaya hidup tinggi, memiliki karir hebat, dan ambisi setinggi langit. Violin merupakan salah satu dari sedereran wanitanya yang memiliki karakter kuat dan kualitas yang sempurna dalam semua sisi.
Bagaimana bisa wanita itu memilih tenggelam dalam kesederhanaan, hidup di rumah berukuran tujuh kali delapan meter persegi dan memilih mengabdi pada sesosok lelaki yang dari data Kellan, merupakan marketting dari bank perkreditan rakyat.
Mungkinkah ada suatu pendorong kuat bagi Violin sehingga ia sanggup meletakkan semua yang dulu menjadi identitasnya dan memilih mengarungi kehidupan monoton seperti itu? Bahkan, Violin memilih nama baru sebagai Dewi selama dua tahun ini.
Kellan masih perlu meraba semua fakta ini. Mungkinkah nama Dewi hanya merupakan langkah Violin menghindar dari pengejaran Kellan selama ini? Jika mau diakui, Kellan cukup kesulitan mencari Violin karena nama tersebut hanya menjadi formalitas tanpa benar-bebar digunakan kembali oleh wanita itu. Hanya Tuhan yang tahu alasan apa yang mendasari Violin melakukan hal ini.
Selain itu, Kellan penasaran dengan apa yang telah lelaki lain berikan sehingga Violin menyerah dalam rengkuhannya. Jika hanya rumah kecil menengah seperti itu, Kellan lebih mampu memberikannya. Jangankan rumah. Bahkan Lamborghini, tas Channel, perhiasan berkadar karat tinggi, jam Rolex, atau bahkan rumah dengan luxury modern design, lebih dari mampu untuk Kellan berikan.
Jari-jemari Kellan mengetuk-ngetuk di atas kursi kayu, merasa semakin sulit mengendalikan amarah. Apa yang telah lelaki itu berikan, yang tak bisa Kellan berikan? Apa yang lelaki itu lakukan, yang tak bisa Kellan lakukan? Apa yang lelaki itu janjikan, yang tak bisa Kellan janjikan?
Semua pertanyaan tanpa jawaban itu membuat Kellan dirundung kekesalan. Dia semakin berhasrat mengumpulkan lebih detail informasi tentang suami Violin dan mencari celah kelemahan lelaki itu.
Di dunia ini, ada rumus yang cukup kejam. Mereka yang tak memiliki kekuasaan akan dipaksa menunduk dan bersujud pada segelintir kaum yang berkuasa. Kellan ingin melihat seberapa jauh Violin dan suaminya mampu ia sudutkan sedemikian rupa. Dia memiliki kekuasaan dan kekuatan. Sebodoh apa mereka dalam menolak keinginannya. Sepertinya kali ini Violin perlu ditunjukkan siapa Kellan sebenarnya.
Kellan berdiri dan kembali menyesap rokoknya dengan penuh perasaan. Nikotin ini telah banyak menemani malamnya. Semenjak ketidakhadiran Violin melengkapi dirinya, benda kecil yang katanya dianggap sebagai perusak paru-paru justru telah menyelamatkan jiwa Kellan. Jiwa yang mulai merasakan sepi, tetapi tak pernah ia akui.
Jauh di dalam sini, di lubuk hati, ada suatu tempat kosong yang tak bisa diisi oleh siapa pun juga. Tempat kosong menganga yang semakin parah setiap waktu. Membesar dan menelan jiwa Kellan perlahan pada sesuatu yang disebut kesendirian.
Kellan berdiri dan masuk ke dalam rumah. Bangunan seluas 2.200 m² yang dibangun di atas sebidang tanah seluas 800 m² ini merupakan salah satu bangunan mewah yang berada di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Letaknya yang strategis dan segdng fasilitas yang ditawarkan membuat harganya melambung tinggi. Terdiri dari tiga lantai dan satu basement. Setiap ruangan yang ada didesain dengan gaya modern dan menyuguhkan kemewahan nomor wahid.
Tetapi, bangunan ini hanya sekadar benda mati yang tak lagi menawarkan kenyamanan. Kellan jarang berada di rumah akhir-akhir ini. Jika pun ditempati, hanya beberapa malam dalam seminggu. Dia lebih sering menempati kamar hotel dan apartemen lain yang lebih sederhana. Lama-lama, rumah ini lebih tepat disebut sebagai rumah pembantu dari pada rumahnya.
Setiap hari yang menempati tempat ini adalah sekelompok asisten rumah tangga yang dengan telaten menjaga rumah ini tetap berfungsi sebagaimana mestinya.
Bayangkan saja, bangunan luas dengan tujuh kamar tidur, dua ruang makan, dan kamar tamu di dua lantai merupakan bangunan yang terlalu besar untuknya. Kesendirian yang ia rasakan semakin menjadi-jadi setiap kali berada di rumah ini.
Seolah-olah setiap dinding yang mengungkung rumah ini mengolok-oloknya tentang kesepian yang melingkupi Kellan. Sebuah kesepian yang terus membayanginya, seperti kutukan kuat dan tak bersedia melepaskan Kellan. Sekali pun diselimuti kemewahan, sekali pun ditemani kekuasaan, sudut hatinya yang terdalam menganga mengenaskan dan meneriakkan kesendirian abadi.
Pernah sekali Kellan bermaksud menjual rumah ini. Untuk apa memiliki properti mahal jika didalamnya hanya ada kekosongan tak berdasar. Tetapi kedua orang tuanya melarang Kellan, mengatakan itu merupakan investasi besar untuk kehidupan rumah tangga Kellan kelak ketika ia menikah. Dengan adanya anak dan istri, bangunan sesepi apa pun pasti akan menghangat.
Kellan menendang tembok beton rumah ini dengan kekuatan penuh.
"Aaaaarrrggghhh!"
Kedua tangannya mengepal kuat dan meninju berkali-kali tembok rumah. Memikirkan tentang istri dan anak membuatnya semakin diliputi oleh amarah.
Dia tak butuh isti maupun anak. Untuk apa memiliki istri dan anak jika hanya berfungsi menghiasi hidupnya saja. Dia telah melihat banyak pernikahan teman-temannya hanya merupakan pernikahan formalitas.
Mencari sosok wanita dari latar belakang tinggi, berpendidikan, dan memiliki attitude layaknya dewi surga. Tapi nyatanya, setelah menikah pun mereka sama saja. Hanya sekumpulan wanira bertopeng yang menginginkan harta dan status lebih tinggi lagi. Hanya menginginkan kemapanan dan fasilitas permanen. Di balik itu semua, toh banyak pernikahan bobrok karena masing-masing pasangan bermain ranjang dengan orang lain.
Saat ini yang dibutuhkan Kellan adalah memupus rasa sepi. Bukan pikiran tentang istri, anak, maupun semacamnya. Hasratnya sedang tertuju pada Violin.
Terkadang, ada waktu-waktu di mana Kellan bertanya pada dirinya sendiri. Kenapa ambisinya pada wanita itu masih saja sama besar seperti saat pertama kali bertemu dengannya. Bahkan mungkin semakin membesar setiap kalinya.
Mungkinkah faktor Violin satu-satunya wanita yang berani mengambil langkah mundur lebih dulu darinya sehingga egonya terluka dan menuntut untuk memilikinya lagi dengan kapasitas yang lebih besar?
Jika itu masalahnya, maka Kellan harus kembali menarik wanita itu ke sisinya dan meneruskan apa yang telah mereka mulai. Dia akan menahan Viollin dalam kuasanya sampai akhirnya nanti ambisinya pudar dan hasratnya lenyap.
Mungkin setahun atau dua tahun. Mungkin bahkan hingga tiga atau empat tahun. Entah kapan hal itu terjadi, pada saatnya nanti Kellan pasti bisa melepas Violin tanpa beban. Tetapi sepertinya itu bukan saat ini.
Sekarang, fokusnya hanya mengambil kembali apa yang sebenarnya masih menjadi miliknya. Akan ia buktikan kepada Violin siapa di antara mereka yang harus tunduk kepada siapa. Wanita itu perlu diberi sedikit pelajaran.
…