Dewi menatap kepergian Kellan dengan sorot mata hampa. Dia kembali menutup pintu dan bersandar di baliknya dengan suasana hati yang tak tak karuan. Kakinya masih terasa lemah, seperti enggan menopang tubuh.
Lelaki itu telah menyapa hidupnya kembali. Bukan dengan salam sapa manis, tetapi dengan ancaman baru yang menarik semua keresahannya.
Lelaki itu bertindak laksana dewa. Semua yang ia inginkan harus tersaji di atas nampan emas dan berhak ia perlakukan sesuka hati. Seolah kehendak hanya miliknya seorang. Dengan penuh ego, Kellan memaksa setiap orang berada di batas toleransi, tak peduli banyak orang yang akan dikorbankan dalam prosesnya.
Setelah dua tahun ia mencoba menggunakan nama baru sebagai Dewi Padmadevi, Dewi kira semuanya akan baik-baik saja. Tidak akan ada badai dan masalah yang datang menerpa.
Nyatanya, perkiraannya salah. Pernikahan yang ia impikan laksana surga, kini terancam pupus.
Kehadiran Kellan merupakan sebuah pertanda bahwa hari tak akan pernah selamanya terang. Hidup tak akan pernah selamanya tenang.
Lelaki itu kini hadir, untuk menagih apa yang dulu Dewi tinggalkan di belakang. Dewi tak tahu tindakan apa yang akan Kellan ambil. Sebagai lelaki yang dianugerahi kekayaan dan kekuasaan, tangannya laksana titah raja. Seolah-olah hidup hanya sebuah aplikasi yang tinggal diklik opsi, maka semua hal bisa terwujud.
Siapa kira, kisah masa lalu kini menagih penyelesaian. Apa yang Dewi kira telah tertutup, kini terbuka kembali. Seolah-olah ingin menampar Dewi dan mengingatkannya akan segala dosa yang pernah ia buat.
Dewi meluruh ke lantai, menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Dia merasa kacau luar dalam. Hari-harinya seperti berada di penghujung senja dan kini sebentar lagi akan menyambut semua jenis kegelapan.
Kellan adalah orang yang memiliki ego tinggi dan keinginan kuat. Ketika menginginkan sesuatu, dia pasti akan bertindak dengan cara apa pun agar keinginannya terwujud. Termasuk jika harus menghalalkan segala cara.
Dewi harus mulai mengambil langkah untuk mengantisipasi. Dia hanya ingin hidupnya tenang. Dia hanya ingin segalanya baik-baik saja.
Dengan lemah, Dewi berjalan ke dapur dan mengambil air putih untuk menenangkan diri. Kekalutan tidak akan menyelesaikan masalah. Hanya akan menambah runyam segalanya. Dia perlu berpikir tenang dan mengendalikan semuamya agar tetap baik-baik saja.
Petang telah mulai menjelang. Sinar mentari dengan anggun menyelinap ke ufuk barat, menciptakan garis-garis jingga kemerah-merahan. Dewi, wanita penggila senja, hanya menatap ujung langit Bandung dengan tatapan nanar.
Petang akan selalu menyapa. Gelap akan selalu hadir. Tetapi malam ini, kegelapan malam seperti monster yang siap menyerangnya kapan saja.
Dewi tersenyum miris dan berjalan menuju kamar untuk berganti baju. Mas Bram akan pulang lebih malam dari biasanya. Dewi akan menghabiskan beberapa jam dalam penantian bersama novel terbarunya.
…
Dewi sudah terlelap di atas karpet ruang tengah saat Mas Bram pulang dari pekerjaannya. Sebuah novel tebal tergeletak tak jauh darinya. Wanita itu bahkan tak terbangun sama sekali saat ketukan pintu pertama kali terdengar. Setelah beberapa kali Bram mengulang ketukan, Dewi baru tersadar dari tidurnya dan segera bergegas menuju pintu untuk menyambut suaminya pulang.
"Hai, Mas. Sudah lama ya? Aduh, aku nggak dengar barusan." Wajah Dewi menampakkan ekspresi bersalah. Matanya masih terlihat sayu karena bangun tidur.
Di luar sana, langit malam terlihat kelam. Menampakkan sedikit bintang yang dengan enggan memamerkan diri.
"Kamu sudah ngantuk? Ayo ke kamar lanjut tidur. Aku gerah, Sayang. Harus mandi lebih dulu." Bram merengkuh bahu Dewi dan mengarahkan istrinya menuju kamar mereka. Dia menatap wajah istrinya dengan lembut dan mengusap puncak kepalanya dengan rasa sayang.
Salah satu kebiasaan Bram adalah mandi ketika pulang kerja, tak peduli jam berapa pun.
"Mas nggak apa-apa aku tinggal tidur dulu?" tanya Dewi.
"Sana tidur dulu! nanti mas nyusul. Bentar ya. Aduh, gerah banget ini." Bram segera berlalu pergi menuju kamar mandi dengan terburu-buru.
Dewi meneliti waktu dengan menatap jam dinding di ruang tengah dan menyadari waktu menjelang tengah malam. Dengan santai, ia masuk ke kamar dan membaringkan tubuh di atas ranjang berseprai silver.
Saat ia telah membaringkan diri, kantuk itu justru menghilang dengan cepat. Matanya nyalang menatap langit-langit ruangan. Perlahan, sudut mata Dewi melirik ke tempat tidur di sisi kanannya. Sebuah tempat yang digunakan untuk tidur suaminya.
Ujung jemari Dewi mengusap seprai di sisinya dengan lembut. Dia jadi memikirkan tentang sosok lelaki yang telah menemaninya selama sebelas bulan terakhir ini.
Bram adalah lelaki baik. Sinar matanya selalu menghangat dan impiannya sangat tinggi. Dia lelaki yang dengan sabar mendampingi Dewi dengan semua karakternya yang masih penuh kekurangan. Tidak ada sesuatu pun yang Bram lakukan yang tidak diperuntukkan bagi Dewi.
Gaji bulanan, curahan hatinya, rencana-rencana masa depannya, semuanya, ia bagi untuk Dewi. Hingga terkadang Dewi merasa lelaki itu seperti buku terbuka baginya yang mudah ia baca dan ia lihat halaman demi halaman.
Dewi berharap semoga kehidupannya bersama Bram bisa berlangsung lama. Saling berbagi banyak hal dan melengkapi satu sama lain. Tak ada orang yang sempurna di dunia ini. Ternasuk Dewi. Dia memiliki cacat dalam masa lalunya. Meski begitu, ia berharap hal itu tidak akan menjadi penghalang.
"Kok belum tidur?" Bram masuk ke kamar dengan handuk yang meliliti tubuh bidangnya. Untuk seukuran lelaki berusia tiga puluh tahun, tubuh Bram termasuk bagus. Dia rajin melatih fisiknya di pusat kebugaran setiap satu pekan sekali.
"Nah itu, maunya tidur. Tapi kantuk ini lenyap tak berbekas." Dewi tersenyum kecil, merangkai kata-kata sekenanya.
"Bilang aja nungguin apu." Bram membuka lemari di ujung kamar dan mengambil setelan piyama hitam.
"Hahaha. Gimana lemburnya? Lancar?" Dewi bertanya penuh perhatian.
Bram menoleh ke arah istrinya sesaat, mengernyitkan kening, dan sedikit mengerucutkan bibir.
"Atasan cerewet, temen kerja bawel, manager minta ini itu, dan bla bla bla. Khas keluhan karyawan pada umumnya."
"Oh, kasihan."
"Hahaha. Sudahlah, masalah kerja biar saja jadi masalah kerja. Nggak boleh dibahas di kamar." Bram berjalan ke sisi tempat tidur dan ikut merebahkan diri di sisi Dewi. Kedua netra gelap Bram menatap istrinya dengan penuh kasih. Dia membelai rambut Dewi dan berkata dengan lembut.
"Selelah apa pun, selama aku masih bisa pulang dan melihat kamu, itu sudah lebih dari cukup. Saat ini kita berjuang bersama-sama biar nanti ke depan hidup kita lebih mapan. Saat nanti kita punya anak, ekonomi keluarga kita lebih baik lagi. Kamu yang sabar ya kalau aku sering tinggal lembur."
Dewi tersenyum penuh pengertian. Dadanya menghangat mendengar apa yang disampaikan Bram. Suaminya adalah sosok yang tak pernah lelah berjuang memberikan apa pun yang terbaik untuk Dewi. Padahal Dewi tak pernah menuntut apa pun selama menjadi istrinya.
Mendapatkan lelaki sebaik ini, menimbulkan rasa syukur yang murni dari dalam diri Dewi. Dia memeluk Bram dan membisikkan kata-kata balasan.
"Kita akan berjalan bersama, Mas. Apa pun yang terjadi," lirihnya dengan mata terpejam.
Semoga saja apa yang dikatakan Dewi bisa terwujud. Semoga saja ancaman yang diberikan oleh Kellan untuknya hanyalah sesumbar sesaat. Karena bagi Dewi, Bram telah menjadi pasangannya secara utuh. Sekali pun perasaannya tidak menggebu-gebu, sekali pun hasratnya tidak membara-bara, tetapi lelaki itu telah menjadi sumber ketenangan bagi Dewi.
Bukankah api yang terlalu besar akan cepat padam? Bukankah gairah yang terlalu berlebihan akan cepat pudar?
Hidup tak perlu berlebihan. Selama kita menemukan orang yang baik dan bisa menerima kita apa adanya, itu lebih dari cukup. Bram merupakan perwujudan dari semua itu.
"Aku tahu. Aku mencintaimu, Dewi." Bram mengecup puncak kepala Dewi dan menyelimuti mereka berdua dengan selimut tebal bermotif polkadot.
Perlahan, tangan Bram mulai menggapai pinggang Dewi, membuat gerakan-gerakan menggoda dan mendesahkan nama istrinya dengan penuh pemujaan. Dewi memberikan apa yang Bram inginkan. Mereka saling memadu kasih di sebuah kamar rumah sederhana yang mereka tempati.
Langit mulai kehilangan sinar bintang. Bulan pun enggan menampakkan diri. Angin hanya berdesir pelan. Seolah-olah ikut malu menyaksikan aktifitas mereka berdua. Tetapi, di balik semua ini, tanpa seorang pun ketahui, Dewi merasa hampa. Ada kekosongan yang mulai tercipta di sudut kecil hatinya.
…