Menyelesaikan apa yang belum selesai di antara kita.
Kata-kata itu terngiang tajam di indera pendengaran Dewi. Tenaga wanita itu seolah tersedot ke udara dalam hitungan detik. Sangat sulit baginya untuk sekadar menarik nafas ke paru-paru. Seperti ada beban berat yang diletakkan persis di dadanya, menyumbat semua fungsi organ vital yang ia miliki.
Jadi, di dalam pikiran lelaki itu, apa yang ada di antara mereka dulu merupakan permainan. Hanya sekadar permainan yang tombol on-off berada di tangan Kellan. Permainan yang ketika lelaki itu mau, bisa diakhiri sewaktu-waktu. Tetapi ketika tak mau, maka sang wanita tak berhak meninggalkannya. Demi alasan apa pun.
Hanya Kellan-lah pusat dari semuanya. Menjadi pemandu sekaligus pemegang keputusan.
Memang tak mengherankan. Dewi pernah memperkirakan hal ini sebelumnya. Di mata Kellan, setiap wanita hanya memiliki nilai rendah untuk diperlakukan semaunya sendiri. Itulah alasan utama Dewi memilih pergi dan meninggalkan Kellan. Karena tak ada apa pun yang bisa ia raih bersama lelaki tersebut. Seperti kenikmatan hampa yang akan kosong sewaktu-waktu. Layaknya wanita putus asa yang menunggu dibuang kapan pun Kellan mau.
Dewi menguatkan kakinya untuk tetap berdiri tegak. Dia tak boleh lemah saat ini. Meskipun tengah menghadapi fakta yang sulit untuk ia terima.
Dari semua hal yang ada di dunia ini, dikejar oleh Kellan di depan rumah suaminya merupakan daftar pertama yang tak pernah ia duga dan ia harapkan sebelumnya.
Nyatanya, semua hal bisa berbalik tiba-tiba. Apa yang kita anggap mustahil mampu terjadi dan membuat kita kalang kabut karena tak melakukan persiapan sama sekali. Memangnya, siapa yang siap dibantai di rumah suaminya sendiri oleh lelaki masa lalu yang coba ia tinggalkan dua tahun lamanya?
"Gue udah merried, Kellan."
Hanya kalimat itulah yang mampu Dewi berikan dengan suara tercekat. Mata mereka saling bersirobok lama, menatap masing-masing netra dan membuka kembali ingatan lama.
Dulu, pernah ada waktu di mana mereka saling menatap satu sama lain dengan pandangan yang lebih intens. Pandangan yang hanya mampu mereka artikan sendiri. Pandangan yang mereka bagi dalam malam-malam hening, di mana dunia menjadi saksi bisu bagi keduanya.
Sementara itu, Kellan hanya termenung dalam. Dia sudah mengetahui fakta ini bersamaan dengan setumpuk informasi yang bawahannya berikan untuknya. Fakta yang terangkum di dalam map khusus tentang semua seluk beluk wanita tersebut hingga detik ini. Termasuk pernikahan dan kehidupan mapan yang dijalani Dewi.
Tetapi, nyatanya mendengar hal itu langsung dari mulut Dewi membuat Kellan merasakan kemarahan tersendiri yang menggelegak. Ada rasa tak terima yang menyala secara kuat di lubuk hatinya, membakar emosinya dengan kecepatan tinggi tanpa pernah ia duga.
"Oh ya? Tapi gue nggak terlalu percaya dengan yang namanya lembaga perkawinan mana pun. Selama gue belum bilang permainan kita usai, itu artinya lu harus kembali ke sisi gue. Begitulah aturannya!" sahut Kellan kejam. Kedua netra gelapnya menyiratkan kesungguhan.
Kellan adalah pribadi dominan dan selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Seolah-olah dunia seperti sebuah hamparan karpet emas yang siap sedia menyuguhkan nampan emas untuknya, memberikan apa pun yang ia titahkan.
Kellan tak bisa menerima kata tidak. Baginya, apa yang ia mau harus takluk di bawah kendalinya. Jika tak bisa takluk, maka akan lebih baik dihancurkan saja, tanpa menyisakan satu pun serpihan yang bisa dikenang. Untuk apa dibiarkan ada jika tak memiliki nilai guna? Bukankah lebih baik dibinasakan saja? Begitulah fungsi kekuatan yang ia miliki di tangannya.
"Siapa yang membuat peraturan? Di setiap hubungan yang sehat, dua individu memiliki peran dan berhak mengarahkan ke arah mana hubungan itu akan berjalan. Tanpa partisipasi dari salah satu pihak, hubungan itu tidak akan pernah terbentuk." Dewi mencengkeram daun pintu dengan kekuatan yang menyakitkan. Dia tak akan heran andai ada bekas kuku di sisi pintu itu nantinya.
Kellan hanya terkekeh kecil. Lelaki tersebut masih berdiri di posisinya sejak sepuluh menit yang lalu tanpa bergeser sedikit pun. Mereka seperti dua orang yang tengah mempertahankan wilayah mereka masing-masing. Seolah berada dalam pertempuran yang butuh batasan nyata di antara keduanya.
"Gue yang menciptakan hubungan itu, gue juga yang berhak mengatur ke mana hubungan itu berlanjut. Selama gue masih bisa meminta lu secara baik-baik, kembalilah, Violin! Tinggalkan lelaki yang lu sebut sebagai suami itu. Percayalah, gue bisa memberikan surga buat lu selama lu mau mengikuti cara yang gue terapkan!" Kellan berkata dengan serius. Kedua netra gelapnya menatap penuh perhitungan pada sosok wanita di depannya.
Selama dua tahun mereka menjalin hubungan, Kellan tak pernah tahu ternyata wanita itu menyimpan kekeraskepalaan yang tinggi. Pandangan wanita tersebut menyiratkan penolakan secara tersirat.
"Gue nggak tertarik dengan tawaran lu. Kehidupan gue cukup sempurna saat ini. Jangan hancurkan pernikahan gue. Semua hal yang bisa lu tawarkan, sudah kehilangan artinya bagi gue."
Dewi menjawab dengan serius. Kali ini, perdebatan mereka cukup menajam. Dulu, sewaktu hubungan mereka berlangsung, tidak ada salah satu di antara mereka yang menyebut sapaan 'lu-gue', dalam keadaan marah sekali pun. Sepertinya kali ini keadaan telah banyak berubah. Mereka saling menyerang, tanpa sungkan menggunakan sapaan kasar yang dulu pernah mereka sepakati untuk tidak digunakan.
"Oh ya? Kalau gitu, mari kita lihat." Ujung bibir Kellan tertarik dengan perlahan, menghasilkan senyuman kecil yang penuh makna. Senyuman itu membuktikan seolah kalimat tersebut memiliki arti tersendiri secara khusus.
"Apa maksud lu?" Dewi bertanya dengan khawatir. Dua tahun kebersamaan mereka telah membuat Dewi mengenal dengan baik setiap sikap yang Kellan ambil. Saat ini, apa yang ia tangkap dari diri Kellan merupakan ancaman terselubung.
"Gue bisa menawarkan surga bagi lu selama lu bisa mengikuti setiap rule yang ada. Sebaliknya, gue juga bisa menciptakan neraka bagi lu jika apa yang gue mau nggak bisa gue dapatkan!" Kellan mundur satu langkah, menampilkan senyumnya yang semakin lebar. Sayangnya, senyum itu tak sampai pada kedua matanya.
"Kellan!" Dewi memegang dadanya dengan erat. Ketakutan baru mulai menyeruak memenuhi dadanya dengan cara yang sangat luar biasa. Wajah wanita itu mulai memucat.
Kellan terkenal bisa mengambil alih banyak properti dengan beragam cara. Salah satunya adalah cara kejam seperti intimidasi, ancaman, dan sejenisnya. Kini, Dewi merasa menjadi bagian dari orang yang propertinya akan terenggut secara mengenaskan. Tangan Kellan telah mengetuk palu, membuat keputusan dan menjadikan Dewi sebagai objek selanjutnya.
"Sekarang lu menolak demi suami lu. Mari kita lihat keputusan itu akan bertahan berapa lama andai gue mulai hancurin suami lu secara perlahan."
"Kellan!"
"Gue akan membuat permainan ini semenarik mungkin, Violin! Oh, ataukah gue harus panggil Dewi? Dewi terkesan tak cocok bagi wanita seperti lu. Bagi gue, lu tetep seorang Violin."
Dewi membeku dengan mulut yang bergetar hebat. Dia merasa kosong. Tak tahu lagi harus berbuat apa. Tak mudah untuk menghadapi Kellan. Lelaki itu seperti mesin yang bekerja sistematis dan tak mengenal perasaan. Jiwanya adalah jiwa robot sejati.
"Jangan bermain-main dengan ikatan pernikahan orang lain," kata Dewi kebas. Giginya bergemeletuk menahan ketakutan yang menjalar hingga ke ujung kaki.
"Selamat tinggal, Vio. Jika di tengah jalan lu ingin menyerah dan kembali sama gue, pintu selalu terbuka bagi kita untuk melakukan kompromi. Siapa tahu nanti akal sehat lu berfungsi lebih baik dan menyadari bahwa melawan kemauan gue hanya merupakan tindakan sia-sia."
Kellan tak membiarkan Dewi membalas peringatan terakhirnya. Dia hanya diijinkan menatap punggung Kellan yang mulai menjauh dengan cepat dan masuk ke sebuah mobil hitam yang terparkir tak jauh di jalan utama komplek perumahan.
Matahari sore masih bersinar di bulan november, memberikan kehangatan yang saat ini sama sekali tak dirasakan oleh Dewi.
Seluruh tubuh wanita itu kebas. Membeku di tempat tanpa sanggup menggerakkan setiap sendi yang ia miliki. Seolah-olah kehadiran lelaki itu telah mengambil setiap daya yang ia punya. Membiarkan Dewi bersama serpihan asa yang mulai terkoyak mengenaskan.
…