Lisa memandang langit sore. Di pangkuannya, ada seorang balita berusia sembilan bulan yang tengah bermain dengan mainan gigitan bayi yang lembut. Pipinya gembul, matanya sedikit sipit, seperti ayahnya. Mata Lisa menatap sang anak dengan perasaan sayang. Dia membelai lembut wajah bayi tersebut dan menyenandungkan lagu dengan nada minor. Tampak kesedihan di raut muka Lisa. Dua hari ini Herman tak pulang. Entah dia kembali ke rumah mana. Mungkin, wanitanya yang lain. Atau mungkin, mengunjungi putranya yang lain. Ya. Lisa tahu ada bayi lain yang memanggil Herman sebagai Papa. Bayi yang sama menggemaskannya dengan putra yang kini ia timang. Menyakitkan, memang. Tetapi Lisa pun juga tak bisa berbuat apa-apa. Sudah hal yang biasa mengetahui Herman tak pulang kembali ke rumah mereka. Membiar

