11. Pesakitan Paling Disengaja

1705 Kata

“Jalan saja sama Lucan, soal lukisan ini biar Papa yang urus.” Damian tersenyum kecil, menyiratkan restu tanpa kata. Dia tahu, putrinya butuh ruang untuk mengenal seseorang lagi. Terlebih setelah mengetahui bahwa Chiara dan Lucan ternyata sudah saling mengenal sebelumnya. Chiara langsung menunduk, gugup bukan main. “Pa, nggak, ah. Aku pulang bareng Papa aja.” Wajahnya cemberut, namun sorot matanya menyiratkan kebingungan. Dalam hati, dia tidak tahu harus merespons seperti apa. Apalagi saat menyadari Lucan tengah menatapnya—tajam, dalam, seolah mencoba membaca isi hatinya sampai tuntas. Chiara menelan ludah. Dia akui, Lucan memang tampan, terlalu tampan malah. Tapi justru karena itu, Chiara takut perasaannya benar-benar oleng jika terlalu dekat. Dia belum selesai membereskan luka di hatin

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN