8. Peran Orang Tua

1102 Kata
Ratih melangkah masuk ke ruang kerja dan menghampiri Damian. Dia menatap pria itu beberapa saat, lalu memeluknya dengan hangat, mencoba menenangkan. Ratih tahu, suaminya sedang dipenuhi amarah yang nyaris meledak—namun masih dia tahan. Sebab kali ini, lawan yang harus dihadapi bukan orang lain, melainkan putri mereka sendiri. "Apa yang bisa aku bantu, Mas?" bisik Ratih lembut, tangannya mengusap punggung Damian dengan penuh sayang. Dia tahu betul beratnya beban di d**a suaminya saat ini. Rasa sedih yang tadinya hanya samar kini menjalar ke hatinya, ikut membebani. Ratih mengusap air matanya diam-diam, tak ingin tangisnya memperkeruh suasana. Dia ingin menjadi tempat pulang paling nyaman, bukan malah menambah luka. "Aku di sini, Mas," lanjutnya pelan. "Kita lewati ini bareng-bareng lagi, ya. Sekalipun yang kita hadapi sekarang adalah anak kita sendiri ... aku yakin, Mas pasti bisa memilih jalan yang terbaik untuk mereka." Ya, lagi—untuk kedua kalinya. Beberapa tahun lalu, Zionathan pernah memilih jalan yang salah saat memperjuangkan Pelangi sebagai istrinya. Kini, masalah besar kembali datang, dan lagi-lagi muncul dari anak mereka sendiri. "Maafin aku, Ra. Mungkin ini balasan dari Tuhan atas dosa-dosa yang pernah aku lakukan di masa lalu. Maaf karena waktu itu sudah menyakitimu begitu dalam. Maaf juga untuk masa laluku yang buruk, sebelum aku bersama kamu. Jujur ... aku sekarang takut. Takut semuanya hancur karena kesalahan yang aku buat. Dan pada akhirnya, aku menyakiti kamu lagi melalui anak-anak kita. Maaf sudah gagal menjadi suami yang baik dan papa yang hebat seperti doa kamu sepanjang pernikahan kita." Air mata Damian jatuh tanpa suara. Dia benar-benar menangis dalam diam, sembari menggenggam tangan Ratih dan mengecupnya penuh rasa bersalah. Ratih terkejut melihat sosok setegar Damian luluh begitu dalam. Tatapan suaminya tampak kosong namun sarat luka. Bukan sekadar sedih—ada kekecewaan yang dalam, yang sudah lama dipendam. Mata Damian memerah, mungkin telah menahan tangis sejak tadi. "Mas, ini bukan salah kamu. Kamu sudah melakukan yang terbaik," ucap Ratih lembut, sambil mengusap air mata di wajah Damian, lalu mengecup pipinya dengan penuh kasih. "Hal yang paling aku syukuri dalam hidupku adalah memiliki kamu. Kamu suami yang baik, papa yang luar biasa. Aku tahu betapa kerasnya kamu berusaha berubah dan memperbaiki semuanya. Aku melihat itu, setiap hari." Suara Ratih bergetar pelan, matanya berkaca-kaca. "Aku bahagia bersama kamu, Mas. Jadi, tolong ... jangan menyerah seperti ini. Aku menyayangi kamu, lebih dari apa pun." Damian memeluk Ratih erat, seakan tak ingin melepaskannya. Dalam pelukan itu, Damian tenggelam bersama satu-satunya wanita yang mampu meredakan badai dalam dirinya—wanita yang selalu menjadi rumah, tempat paling tenang di tengah ributnya dunia. "Aku mencintai kamu, Ra," bisik Damian lirih, suaranya nyaris pecah. "Terima kasih ... karena kamu tidak pernah lelah bertahan di sampingku. Terima kasih karena kamu selalu jadi cahaya, bahkan saat aku tenggelam dalam gelapku sendiri." Ratih mengangguk pelan, senyum haru merekah di wajahnya saat mendengar ucapan Damian. Lihatlah, betapa beruntungnya dia memiliki pria seperti ini. Semua yang mereka hadapi hanyalah ujian kehidupan, bumbu dalam perjalanan panjang mereka. Bukan untuk memecah belah, tapi justru untuk menguatkan keluarga mereka. *** Abella duduk menunggu di kamarnya, menanti kedatangan Ratih yang akan membawakannya makan malam. Sejak tadi siang, Damian mengurungnya, bahkan melarang Abella pergi hingga waktu yang belum ditentukan. Pengawasan di sekeliling rumah begitu ketat. Bahkan dari balik jendela balkon, Abella bisa melihat beberapa pengawal berjaga, memperhatikan setiap gerak-geriknya seolah dia tahanan, bukan putri dari rumah ini. Sialnya, Kieran sama sekali tidak berusaha mengabari Abella. Lelaki itu hilang lagi, nomornya pun tidak dapat dihubungi sama sekali. Abella cemas Kieran kenapa-kenapa. Bagaimana jika Damian menyakiti Kieran lebih dari yang Abella kira? "Mama nggak masuk?" tanya Abella sendu. "Aku mau ngomong sebentar," lanjutnya, mempersilakan Ratih masuk ke dalam kamar. Di tengah situasi yang penuh tekanan dan penghakiman dari semua arah, hanya Ratih yang masih bisa Abella jadikan tempat berlindung, satu-satunya yang terasa aman dan tak mungkin membiarkannya sendirian. Sebenarnya Damian sudah berpesan, jangan termakan omongan Abella, meski gadis itu merayu dengan tangis dan permohonan maaf. "Sebentar saja ya, Sayang." "Ma, sampai segitunya sama aku? Ini aku, Ma—Abella, anak Mama. Bukan orang asing yang pantas Mama cuekin," ucap Abella lirih, suaranya mengandung kesedihan. Ratih membuang muka, tak sanggup menatap mata putrinya. Tatapan sedih itu adalah kelemahan Ratih. Dia tahu, tak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang ibu selain melihat anaknya terluka. Hati Ratih rapuh, jauh lebih lunak dari yang bisa dibayangkan siapa pun. "Sayang, yang dibilang Papa bener. Mama—" "Mama juga membela Papa? Apa yang kalian tahu soal perasaan aku? Papa sok tau. Kieran itu baik sama aku!" seru Abella, suaranya naik, penuh amarah dan luka. Ratih mendekat, menyibak lembut rambut Abella ke samping, pandangannya tertuju pada bekas kemerahan di leher sang putri. "Lelaki baik mana yang tega merusak anak gadis orang, Abella?" tanyanya pelan, tapi tegas, menyimpan kecewa yang dalam. "Dari kemarin Mama diam, bukan berarti Mama setuju sama pilihan kamu. Tapi karena Mama masih berusaha menahan kecewa dan mencoba memaafkan kamu. Jangan keterlaluan, Nak. Kamu bahkan bukan seperti Abella yang Mama kenal." Bibir Abella bergetar, menahan tangis. Dia menoleh ke arah lain, kemudian menutup wajah dan tidak lama terdengar isak tangis darinya. "Aku mencintai Kieran, Ma. Aku nyaris gilaa mikirin kalau hidup tanpa dia. Aku nggak bisa.” Ratih menghela napas panjang, berusaha menenangkan gejolak di dadanya agar tidak hanyut dalam emosi. Tak bisa dipungkiri, hatinya begitu sedih. Ratih tahu, putrinya sedang terluka—terjebak dalam perasaan sendiri, merasa tak seorang pun berpihak padanya. Dan sebagai ibu, itu menghantam perasaan Ratih juga. "Nak, coba kenali lagi perasaan kamu dan seperti apa sebenarnya hubungan yang kalian jalani," ucap Ratih lembut sambil mengusap rambut Abella, mencoba menenangkan putrinya yang sedang kalut. "Papa tahu segalanya, Sayang, bahkan katanya kamu sering dibuat nangis oleh lelaki nggak bertanggung jawab itu, kan? Dia hanya memikirkan dirinya sendiri dan menginginkan kesenangan sementara, bukan berniat hidup bersama kamu." “Cuma aku yang tahu kebaikan dia, Ma, karena aku yang selalu ada di samping Kieran,” ucap Abella membela, suaranya bergetar pilu. Ratih menatap putrinya dalam-dalam, mencoba menahan kekhawatiran yang menyesakkan d**a. “Sampai kapan kamu mau perasaan kamu ditarik-ulur begini, Nak?” tanyanya penuh kasih, berusaha menyentuh hati Abella. “Kamu cuma buang-buang waktu dan pada akhirnya, yang paling tersakiti tetap kamu sendiri.” Ratih menarik napas, lalu melanjutkan penuh kehati-hatian, “Nggak ada orang tua yang ingin anaknya salah langkah, Sayang. Jadi, Mama minta tolong, pikirkan semuanya sekali lagi dengan hati yang tenang, jangan pakai perasaan saja.” Ratih mengecup lembut puncak kepala Abella, seolah menitipkan ketenangan dalam sentuhan singkat itu. Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi, dia beranjak pergi untuk memberi waktu dan ruang agar Abella bisa sendiri, guna merenungi semuanya dalam keheningan yang dibutuhkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN