Abella muntah di toilet, mengeluarkan isi perutnya sambil terus menangis meluapkan emosi. Dia benar-benar merasa dibuang, perasaannya selalu ditarik-ulur oleh sang kekasih—Kieran Ezrepaty. Hari ini Kieran menunjukkan jika dirinya menyayangi dan membutuhkan Abella, namun di hari yang lain lelaki itu bisa berubah lagi. Tidak sekali dua kali hal ini terjadi, tetapi sudah keseringan.
Hubungan cinta mereka memang tidak selama Chiara, namun waktu setahun bukanlah ukuran sebentar bagi Abella. Ada ribuan tawa dan berbagai macam cerita yang sudah mereka bagi, meski disela-selanya selalu ada tangis dan kesepian. Abella punya kekasih, tetapi rasanya seperti tak punya.
Abella diinginkan, namun ada masanya tidak dihiraukan sama sekali. Kieran juga sosok manipulatif, bersikap seolah dialah yang tersakiti. Misal, menuduh Abella yang tidak berusaha mencari dirinya, padahal Kieran yang selalu menghilang tanpa sebab, bahkan tidak menyisakan jejak apa pun. Kadang bisa juga mengupload sesuatu di media sosial miliknya, tetapi tidak membalas pesan Abella sama sekali hingga berhari-hari. Lelaki itu membuka ponselnya, hanya saja memilih tidak mengabari Abella. Ketika mood Kieran sudah membaik, dia akan kembali seolah tidak terjadi apa-apa. Tidak ada maaf, tidak juga berniat membahas kesalahannya.
Kekecewaan ini sebenarnya terus berulang, cuman maaf yang Abella punya seluas samudera. Dia selalu menerima Kieran lagi dengan tangan terbuka, bahkan memeluk erat lelaki yang sebenarnya tak pernah memprioritaskan dirinya.
Katanya, Abella bisa belajar memahami dan menerima semua kekurangan Kieran, karena di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Bilang saja Abella naif, karena dia takut kehilangan. Dalam hubungan ini, memang cinta Abella yang paling besar. Jika kata Kieran A, maka tidak ada perlawanan dari Abella. Dia menurut sekali, berpikir dengan cara seperti itulah dirinya bisa mendapatkan perhatian dan kasih sayang Kieran.
Miris.
Demi cinta, Abella rela menelan pil kekecewaan. Tidak tahu berujung seperti apa, pil itu bisa saja menjadi racun untuk Abella jika sudah overdosis.
"Sayang, ngapain di sini?" Kieran muncul setelah mengecek satu persatu bilik toilet, berdebat dengan beberapa wanita juga yang tak segan menyumpahinya karena Kieran dianggap seperti orang gila dan dituduh ingin melakukan pelecehan.
Kieran merapikan helaian rambut Abella agar tidak terkena muntahan, memijat tengkuk dan punggung kekasihnya.
"Aku bilang di unit aja malam ini. Ngapain nekat ke club sampai mabuk begini?"
Setelah puluhan kali Kieran tak berhasil menghubungi Abella, lelaki itu punya insting kuat jika Abella berada di club yang biasa mereka kunjungi untuk bersenang-senang. Bahkan motor besarnya, belum sempat Kieran parkir dengan benar.
"Biarin aku dicuri orang. Kamu mau aku hilang dari hidup kamu, kan?" Abella menatap Kieran, menangis sambil memukul d**a lelaki itu sebal.
"Ayo, kita pulang sekarang."
Abella melepaskan cekalan Kieran, merajuk. "Nggak. Kamu pergi aja, aku nggak mau ikut kamu. Kita putus aja," racaunya di sisa-sisa kesadaran.
"Jalan sendiri atau mau digendong?"
"Nggak!" Abella beranjak dari sana, Kieran membersihkan bekas muntahannya, lalu mengejar Abella yang lebih dulu melangkah sambil berpegangan pada dinding. Dia sempoyongan, pandangan berlapis-lapis, dan kepala pun kian berat. "Kieran. Kamu ada tiga." Gelak tawa terdengar, berusaha meraih bayangan Kieran.
Tanpa banyak bicara, Kieran membopong Abella. "Diam. Omongan kamu nggak ada yang jelas." Memukul bokongg Abella gemas, membuat sang empunya memekik tidak suka dengan perlakuan seperti itu.
"Aku haus." Setibanya di parkiran, Abella menatap Kieran, bibirnya cemberut manja. "Haus, Kie, kasih aku air." Bibirnya mengicap beberapa kali, mulai terisak sedih.
"Air ludah mau?"
"Jorok."
Kieran tersenyum singkat, kemudian meminta air pada seorang penjaga keamanan yang dia kenali di sana, lalu menyuruh Abella minum.
"Kamu masih sayang aku?"
"Menurut kamu, gimana?" Mengusap dagu Abella yang basah kena air, merapikan belaian rambutnya juga agar tidak berantakan menutupi wajah.
"Udah nggak sayang." Abella mendesis putus asa, menggeleng lesu. Dia tidak berhenti menatap Kieran, mengusap rahang lelaki itu beberapa saat sebelum mengambil ciuman. Tadi air ludah katanya jorok, tapi lihat yang Abella lakukan sekarang. "Tuh, kamu beneran berubah."
Kening Kieran mengerut, meladeni saja drama gadis itu ketika mabuk sebagai pelarian sakit hatinya. "Apa lagi?"
"Kamu nggak balas ciuman aku. Kamu udah bosan sama aku? Udah nggak cinta?"
"Ini ludah. Jorok, kan?"
"Siapa bilang? Aku suka, bibir kamu." Menoel-noel bibir Kieran yang kemerahan, kemudian mengusapnya sensual.
"Naik. Kita pulang." Kieran menunggangi motor besarnya, menyuruh Abella naik dengan tenang, penurut, dan berhenti membuat lelucon omong kosong.
"Bilang dulu, kamu sayang aku atau enggak."
"Naik, Sayang." Ketika nada bicara Kieran melembut, hati Abella menghangat.
Senyum Abella langsung merekah, dia mengangguk riang dengan perasaan berbunga-bunga. "Aku mau pingsan, Sayang, kepala aku sakit. Ini rasanya mau meledak, mual juga."
Kieran dengan sabar mengikat tubuh Abella ke punggungnya menggunakan jaket, lalu melajukan motor meninggalkan area parkiran club dengan kecepatan di bawah rata-rata. Sepanjang perjalanan, Kieran memegangi lengan Abella yang sedang memeluk, dan menyandarkan pipi pada bahunya.
"Kamu tahu aku nggak suka kamu begini."
Abella tidak mendengarkan, rasanya begitu nyaman dan menenangkan saat berada di sisi Kieran. Hidupnya sekacau ini jika Kieran pergi, lelaki itu pun tahu, tetapi tetap saja tidak mau berubah. Harus bagaimana lagi Abella menunjukkan cintanya?
Setibanya di basement, Kieran memarkirkan motor dia seperti biasa, kemudian menggendong Abella ala bridal style. Bukan ke unit Abella, melainkan unit Kieran. Mereka sengaja tidak tinggal di gedung yang sama, menghindari kecurigaan Damian yang terang-terangan menentang hubungan mereka.
"Kieran. Kamu menyakiti aku." Abella mengigau, mengusap pipi Kieran dengan helaan berat, dia sempat menatap beberapa detik, sebelum melanjutkan tidurnya.
"Maafin aku."
Kieran mengecup kening Abella, bantu mengganti pakaian dan membersihkan tubuh Abella dari aroma alkohol bercampur muntah yang lumayan menyengat.
Jangan heran karena Kieran sendiri yang melakukannya, hubungan mereka memang sudah sejauh itu—sering tinggal bersama, meski belum ke tahap inti. Abella belum mau dimiliki dengan alasan takut, padahal sudah beberapa kali Kieran merayu.
Usai semuanya, Kieran juga sudah bebersih, dia bergabung bersama Abella dalam selimut yang sama. Lelaki itu mendekap Abella, mengendus daerah ceruk leher, memberi beberapa kecupan, kemudian memejam mencari kantuknya.
"Kie, kamu?"
"Tidur, Sayang. Udah hampir subuh."
Abella menyamping menghadap Kieran, memeluk sambil mengusap-usap punggung Kieran. Dalam keadaan begini pun, Abella tahu jika tidur Kieran akan semakin nyenyak dengan elusan darinya.
"Jangan banyak gerak, Sayang. Nanti ada yang bangun, kamu nggak tanggung jawab."
"Dia bangun?" Jahil, Abella memasukkan tangannya ke dalam selimut, mencari sesuatu yang begitu sensitif dan memang sudah sedikit tegang. "Dia murahann banget sih."
Kieran menatap Abella, tidak terima juniornya dibilang murahann. "Barang sebagus ini kamu hina?" Abella terkikik, memutar bola matanya. "Mau main dulu, Sayang? Pemanasan dikit."
Obrolan semacam ini sudah jadi hal biasa, Kieran memang sebegitu gilanya pada Abella. Hanya saja, cara dia bersikap dalam menyampaikan rasa sering salah.
"Nggak. Aku pusing."
Tidak menghiraukan, Kieran mengubah posisi mereka, menindih Abella. Kieran mengecupi leher dan dadaa Abella. Beberapa tanda kepemilikan dia sematkan di kulit putihnya. "Pegang sebentar, Sayang." Senyum jahil dari lelaki itu terulas, Abella dengan malas menuruti. Jika nolak pun, Kieran punya seribu cara licik agar Abella iba padanya.
Jangan lupa, Kieran manipulatif.
"Mau mencobanya lagi, nggak sesakit itu kok. Aku bakal pelan-pelan."
"Kalau aku kesakitan, kamu mau berhenti?"
"Iya. Nanti kalau nggak berhasil, kita pakai cara kayak biasanya aja."
Bagi Keiran, sebelum Abella menyerahkan diri menjadi miliknya, dia selalu meragukan cinta gadis itu.