2. Kantor Baru

1355 Kata
Menjadi pusat perhatian sudah biasa dalam hari-hari Audy, walaupun popularitasnya kian terlihat saat memasuki perguruan tinggi bergengsi di negeri ini. Menjadi mahasiswi fakultas ekonomi dan bisnis merupakan sebuah pencapain yang patut dia banggakan. Siapa yang tidak tau seorang Audi Rahmadi gadis yang di anugerahi wajah yang cantik, pintar, menawan dengan rambut hitam panjang alami yang lembut, eh udah kayak iklan shampoo aja. Tinggi 166 cm dengan kulit putih bersih, tanpa noda sedikitpun, kaki jenjang dan mulus, jangan lupa dua lesung pipi yang menambah kesan manis saat tersenyum. Sejak memasuki masa pengenalan kampus atau istilahnya ospek, Audy sudah mencuri perhatian orang di sekitarnya, saat sang gadis lewat, sudah dipastikan hampir semua mata tertuju padanya. Citra yang melekat pada dirinya sebagai gadis yang cantik, manis, ditunjang dengan tubuh yang proposional serta otak yang mumpuni alias pintar semakin menambah nilai plus seorang Audy. Tidak heran kalau banyak para lelaki yang berusaha mendekatinya, mulai dari yang berteman biasa, modus menjadi pacar atau mau menjadikannya friends with benefit. Namun dengan lantang Audy akan menolak semua ajakan itu, dia hanya ingin menjalani hidup dengan bebas tanpa terikat hubungan yang menurutnya rumit, belum lagi jika nanti pasangannya posesif ataupun toxic, bisa double kill. Ada juga yang bertanya, kenapa Audy tidak menjadi seorang model saja? Biar ku jelaskan pertama Audy tidak suka berada di keramaian walaupun dia bukan seorang introvert, kedua Audy juga malas kalau harus bekerja lagi sedangkan saat ini masih kuliah dengan jadwal yang cukup padat. Dan yang paling penting, kenapa dia harus susah-susah jadi model atau bekerja keras?? kalau dengan senyuman dan sedikit rayuan saja, Audy sudah bisa mendapatkan segalanya, begitu pikirnya! Menjadi kaya tanpa harus bekerja adalah salah satu cita-cita Audy yang paling mulia. Namun ada satu prinsip yang ia pegang teguh sampai sekarang yaitu no s*x before merriage. Mungkin bagi sebagian besar orang tidak akan percaya, bahwa Audy masih menjunjung tinggi prinsip yang katanya 'kuno' itu, mengingat kehidupannya di Jakarta yang cukup 'liar' dan juga pergaulan Audy yang tak luput dari yang namanya lelaki. Meski kerap kali dia terlihat jalan dengan beberapa pria mulai dari teman kosnya maupun teman di kampus, keluar masuk night club juga bukan hal yang asing lagi, tapi dia tetap bisa menjaga dan memegang prinsip tersebut. Audy tidak pernah menganggap serius setiap hubungannya dengan para lelaki, dia memang tidak suka, apalagi tertarik dengan yang namanya cinta dan lebih memilih menghindari hubungan, jika sudah menjurus ke arah sana. Dia menjalani hubungan hanya sekedar having fun saja dan itu sudah dia sampaikan di awal hubungan jika ada lelaki yang mendekatinya. Kalau tidak keberatan dengan syarat tersebut, ya Audy ayo aja di ajak jalan dan menemani 'teman kencan'nya, tetapi tentu dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Pastinya lelaki yang jadi teman kencannya harus yang cakep, tidak pelit, kaya raya dan pastinya tidak menuntut lebih, dia paling malas jika berurusan dengan lelaki yang posesif apalagi suka mengatur. Dia juga tidak mau jalan dengan lelaki yang memiliki hubungan dengan perempuan lain atau om-om, yang ada nanti dia di kira jadi ani-ani atau di kira pelakor, big no. Audy tidak mau berurusan dengan hal-hal yang merusak citra dan menguras emosi seperti itu, lebih baik cari lelaki lain saja, toh tinggal nunjuk juga mudah dapat nya, hehehe. Jadi apapun yang di berikan para lelaki untuknya termasuk barang branded mulai dari tas, sepatu, baju, makan enak setiap hari, itu murni tanpa paksaan atau imbalan apapun, toh dia tidak minta apalagi sampai harus merendahkan diri untuk itu, begitu pikirnya, sesimpel itu. Audy hanya memiliki dua sahabat yaitu Devina yang jadi sahabatnya sejak SMP dan seorang lelaki setengah matang yaitu Aprilliansyah atau lebih senang di panggil Prilly. Sejak kelas 12, orang tua Audy di pindah tugaskan ke Surabaya, karena saat itu dia sudah kelas 12 dan tidak mungkin ikut pindah, jadinya dia kos disebelah rumah Devina dan di titipkan dan di bawah pengawasan keluarga Devina karena keluarga mereka sudah saling kenal sedari kecil. *** Saat ini usia Audy genap 25 tahun, hari ini adalah hari pertamanya kerja di perusahaan konstruksi di Jakarta Selatan setelah sebelumnya mengalami insiden tak menyenangkan yang membuat Audy 'kabur' dan meninggalkan kemewahan yang didapat dari salah seorang gebetannya Gala Mahendra, karena sifat posesifnya dan gelap mata membuat Gala hampir saja menodai Audy. Untung saja dia berhasil lari, walaupun dia harus meninggalkan semua kemewahan dan tempat tinggal yang selama ini di berikan oleh Gala. Audy tidak mau lagi berhubungan dan bertemu lagi dengannya, bahkan nomor telphon dan semua akses media sosialnya sudah dia block. Belum sempat Audy bernafas lega setelah kejadiaan tersebut, hal buruk lain pun menyapa, sepertinya semesta sedang mempermainkan takdir Audy. Di tengah kemeluk pelariannya, Audy harus bertemu dengan seseorang yang dia kira 'malaikat penyelamat', seorang lelaki yang menolongnya, namun ternyata ketampannya tidak berbanding lurus dengan perbuatannya, dengan alasan balas budi atas pertolongan Abian, ya lelaki yang menolongnya adalah Abian Pradana. Audy harus rela menjalani kesepakatan dengan lelaki tersebut, dan ini adalah salah satu kesepakatannya, Audy bekerja di perusahaannya dan membantu Abian untuk lepas dari perjodohan kedua orang tuanya. Kenapa nasibnya seperti serial drama yang sering dia tonton saja. "Audy, habis ini kita ke ruangan Pak Malik ya, untuk berkenalan dan koordinasi terkait jobdesk kamu disini seperti apa, nanti langsung di jelaskan oleh Pak Malik," ajak Mbak Ria. "Baik mbak, mari..." aku mengekor Mbak Ria menuju ruangan kaca yang telah di isi oleh Pak Malik, entah kapan masuknya beliau, apa aku yang terlalu fokus mengamati ruangan ini dan tidak memperhatikan kapan beliau masuk. Baiklah Audy kamu pasti bisa, kesampingkan dulu pikiran tentang nasib hidup yang penuh drama itu, sekarang waktunya bekerja!! kita lihat seberapa pintar seorang Audy Rahmadi menghadapi pekerjaan barunya, walaupun sebenarnya dia sudah tidak asing dengan jobdesk ini karena di perusahaan sebelumnya memiliki jobdesk yang kurang lebih sama. "Baik pak, saya mengerti, kalau begitu saya kembali ke meja saya dan mulai mengerjakan tugas saya. Terima kasih banyak dan mohon bantuannya," jawab Audy setelah menerima arahan dari Pak Malik. "Dengan senang hati Audy, nanti kamu juga bisa bertanya pada Mbak Ria jika mengalami kesulitan ya." "Baik pak," aku dan Mbak Ria kembali ke meja masing-masing untuk bekerja. Setelah keluar dari ruangan Pak Malik, mbak Ria juga sedikit menjelaskan tentang laporan kebutuhan barang dan beberapa form untuk pengajuan PO. "Formatnya seperti ini, bisa kan Dy?" "Oke, paham mbak, noted," jawab Audy "Ya udah, kerjakan dulu nanti sebelum makan siang kirim ke email mbak ya, kalau ada yang kurang paham, langsung aja tanya ke aku," terang Mbak Ria sekali lagi. *** "Eh Vin, lo kan sudah lama kerja disinikan, udah hampir satu tahun kan?" tanya Audy kepada Devina di saat istirahat makan siang, mereka hanya makan berdua di kantin kantor, sebenarnya Devina sangat penasaran dengan nasib sahabatnya selama ini, kenapa dia menghilang dan kemana dia selama ini. "Hmm... gak usah mengalihkan pembicaraan deh, gue cuma butuh penjelasan lo!" jawab Devina, karena dia sebenarnya masih marah karena Audy belum menceritakan kemana dia selama ini. "Ntar deh kalau ada waktu luang kita keluar sama Prilly sekalian, gue bakalan cerita semuanya, gue janji. Tapi ini ada yang nggak kalah penting sih Vin, selama lo kerja disini, lo pernah nggak ketemu kak Aldi?" tanya Audy "Kak Aldi siapa? Reinaldi cinta mati lo itu?" tanya Vina sarkas dan Audy hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Ya nggak lah! ngapain juga dia kesini, selama gue kerja disini, gue gak pernah tuh ketemu Kak Aldi. Lagian kan kita semua udah 6 tahun nggak ketemu dia, kabarnya pun gak ada yang tau. Emang kenapa? jangan bilang lo kangen inget Gala Au!" "Gue tadi lihat Kak Aldi masuk lift." "Halu, kali lo Au." "Gak mungkin gue salah ngenalin orang Vin, gue yakin 1000% kalau itu Kak Aldi. Orang tadi dia pas masuk lift, sempat tatapan sama gue dan gue lihat Kak Aldi juga sama kagetnya." "Haaa? boleh nggak sih gue tetap gak percaya sama lo, kok kayak terlalu mustahil cerita lo buat gue percaya atau kalau memang itu benar, kenapa juga dia ada disini? nggak mungkin kan dia sengaja buat ketemu atau nyari lo?" Audy hanya mengedikkan bahunya sebagai jawaban, karena dia juga tidak tau kenapa Kak Aldi bisa-bisa ada di kantor ini, apa masih ada hubungan dengan Abian atau memang ini murni ketidak sengajaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN