6. Gala Mahendra

1202 Kata
Nasi sudah menjadi bubur, tinggal kita tambahkan kacang, ikan teri dan ayam jadi deh bubur ayam, jangan lupa, kita tambahin bumbu biar jadi lebih enak. Apa yang telah terjadi sudah tidak bisa di sesali, tinggal di perbaiki dan di nikmati aja, minimal tidak menyisakan penyesalan. Begitulah yang di jalani Audy, menutup masa lalunya dengan Kak Aldi, dan acara pensi tersebut menjadi pertemuan trakhirnya, dia tidak membenci ataupun melupakan, hanya menjauh dan tidak ingin tahu ataupun mencari tahu kabarnya, sudah cukup perjuangannya selama ini. *** Kejadian itu juga menjadi pelajaran dan awal baru untuk seorang Audy Rahmadi, dimana saat dia sudah menjadi seorang mahasiswi di salah satu kampus ternama negeri ini, Ilmu Ekonomi Bisnis menjadi salah satu fakultas yang memang sudah di incarnya sedari dulu. Berbeda dengan saat SMA dulu yang membatasi pergaulannya saat ini Audy hadir dengan pesona barunya, menjadi gadis yang lebih ramah, tetap cantik dan menawan serta di imbangi dengan kepandaian yang dimiliki. Cara pandang tentang cinta juga mengubah seorang Audy, dia tidak lagi mempercayai yang namanya cinta, dia hanya menjadikan laki-laki yang tertarik dengan nya hanya sebatas teman kencan atau bisa di bilang Audy hanya mau menjalani hubungan tanpa status, tentunya tanpa melibahkan unsur sexulitas. Dia hanya memanfaatkan keramahan pria-pria yang dekat dengannya untuk membiayai kehidupannya, dia tentu saja menargetkan cowok kaya dan yang pasti juga good looking, dia tidak mau jika berhubungan dengan lelaki tidak sesuai standar nya, walaupun hanya dia manfaatkan uangnya saja. Tapi tetap syarat good looking juga menjadi point utama bisa jalan dengannya, biar nggak malu-maluin kalau di ajak jalan, apalagi sampai ada yang bilang dia menjadi sugar baby om-om, itu menjadi pantangan bagi Audy. Dia tidak mau seperti ani-ani yang memanfaatkan om-om hidung belang, dia masih pada prinsip nya yaitu no s*x before marrige, karena lelaki yang mau membiayain kehidupannya harus atas dasar cinta dan suka rela bukan dengan imbalan apa yang ada di dirinya, big no. Kedengarannya memang mustahil mengingat zaman sekarang mana ada lelaki yang suka rela membiayai hidup wanita yang tidak memiliki status apapun dengannya apalagi tanpa hubungan s*x, tapi pasti ada uang mau melakukan itu walaupun persentasenya hanya 1 : 1000. Awalnya Audy tidak terpikirkan untuk melakukan hal gila itu, semua berawal saat kedekatannya dengan pemuda bernama Gala, seorang anak pengusaha kaya-raya yang secara terang- terangan menyukai dirinya, awalnya ini hanya cara Audy membuat jera Gala dengan memoroti uangnya. Audy sebenarnya sudah kenal dengan Gala selama 3 tahun lebih, semenjak awal ia memasuki perguruan tinggi hingga saat ini, dia memasuki masa akhir perkuliahan. Citra Gala sebagai lelaki buaya serta karena Audy tidak ingin terlibat yang namanya cinta, jadi dia menganggap Gala sebagai angin lalu. "Gue nggak mau terikat dengan siapapun, sorry Gal, gue lebih suka menjalani kehidupan kayak gini, gue masih mau hidup bebas," jawab Audy, ketika Gala mengajaknya berpacaran. "Aku nggak akan membatasi pergaulan kamu Audy, aku benar- benar suka sama kamu, sejak kita satu kelas dari semester 1, aku sudah selalu merhatiin kamu, apa kamu nggak pernah merasa kalau aku selalu berusaha dekat sama kamu, aku selalu mencari perhatian kamu, ya walaupun dengan cara gangguin kamu, bikin kamu kesal trus sampai aku selalu nyontek sama kamu. Semua itu aku lakuin biar bisa selalu sama kamu," terang Gala "Sebenarnya gue udah tahu, tapi karena gue nggak mau terikat, gue nggak mau pacaran dan pada akhirnya berakhir dengan perpisahan, jadi sorry gue cuma nganggep lo temen aja," ucap Audy dengan berat hati. "Kalau aku jadi temen deket kamu tanpa status pacaran boleh kan? aku janji nggak akan menghalangi kebebasan kamu, kamu mau apa aja aku turutin, kamu mau ke club aku temenin, kamu minta apa aja aku rela asal sama kamu terus," Jawab Gala tidak mau kalah, karena memang dia sudah sangat cinta Audy atau istilahnya Bucin. Audy hanya diam tampak berpikir. "Aku nggak akan minta apa-apa dari kamu, cukup kamu selalu ada di sampingku dan tidak menolak ku saat dekat dengan kamu." Ucap Gala kembali meyakinkan Audy. "Tapi dengan satu syarat, no s*x, karena aku menganut no s*x before merrige, dan kamu janji tidak akan melarangku dan mau membiayai hidupku?" "Apapun itu Audy, asalkan aku bisa selalu sama kamu, jadi kamu mau kan jadi pacar aku," tanya Gala "No Gal, kita nggak pacaran." "Apapun itu, tapi aku akan menganggap kamu pacarku ya sayang?" "Terserah lo aja!!" ucap Audy cepat. Dia sebenarnya malas jika harus terikat hubungan yang membatasi ruang geraknya. "Terima kasih sayang, aku seneng banget, aku nggak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, I love you Audy Rahmadi. Sekarang aku antar kamu pulang ke kosan ya?" "Heem," jawab Audy. Ya Audy saat ini tinggal di kos yang cukup mewah di dekat kampusnya, dia sudah tinggal terpisah dengan orang tuanya sejak SMA, selain terbiasa tinggal sendiri, dia juga bisa bebas membawa siapa saja temannya ke kos tersebut. "Ingat ya Gal, no s*x" tegas Audy saat mereka memasuki mobil dan menuju kos tempat tinggal Audy. "Iya sayang, aku ingat, kenapa sih kamu bahas itu terus? kamu takut ya??" goda Gala. "Gue cuma menjaga diri aja dari buaya kayak lo, jangan sampai masa depan gue terenggut cuma gara-gara kenikmatan s*x sesaat saja. Bisa-bisa di coret dari KK sama ayah gue," jawab Audy dengan nada tegas. "Jadi menurut kamu aku buaya? Astaga sayang aku itu cowok setia apalagi sama kamu," jawab Gala dengan mengenggam tangan Audy. "Halah gombal banget, semua orang juga tau kali kalau lo itu buaya, suka tebar pesona kanan, kiri, depan, belakang semua kena rayuan maut lo, siapa yang terakhir jadi korban lo, ohh si Vien! Gue lihat dia sampai nangis-nangis di kamar mandi habis lo putusin di depan umum. Gila lo! tega banget jadi cowok, main lembut kek, makanya gue nggak mau jalan sama lo, gue bukan cewek yang mudah lo sakitin asal lo tau. Dan satu lagi, gue nggak percaya sama yang namanya cinta, makanya gue cuma bisa nawarin hubungan tanpa status aja. Kalau mau sih kita cuma 'teman kencan' aja, karena gue males banget tiap hari elo gangguin, elo ikutin gue kemana-mana, apalagi kalau ketemu si Vien, rasanya kayak gue pelakor aja, bawaan nya pengen nyakar gue", kesal Audy "Maaf sayang, aku nglakuin itu semua cuma buat menarik perhatian kamu kok, aku nggak bener-bener sayang sama mereka," jawab Gala semakin mengeratkan genggaman tangan mereka. "Dan sekarang aku yang nggak bener- bener sayang sama kamu, gimana dong?" "Gak papa, aku akan buktikan kalau aku benar- benar sayang kamu, baru kali ini aku terang- terangan di tolak cewek, biasanya juga aku yang nolakin mereka, hahaha," jawab Gala. "Karma kali," jawab Audy cuek walau tanpa melepas genggaman tangan mereka sepanjang perjalanan. "Aku turun di depan pagar aja ya, biar gue naik sendiri," pinta Audy saat mereka memasuki area kos tempat tinggalnya. "Mana bisa begitu, enggak pokoknya aku anterin kamu masuk, kalau perlu aku temenin kamu tidur setiap hari," goda Gala sambil memarkirkan mobilnya di parkiran dalam kos Audy, bodo amat kalau Audy tidak mau di antar naik, dia akan tetap mengantar 'pacar' sepihaknya, selamat sampai tujuan. Gapapa nggak diakui pacar sama Audy, setidaknya statusnya meningkat menjadi lebih dari teman dan dia bisa selalu di dekat Audy. Nanti juga dia mengakui aku sebagai pacar, kalau masih ngotot bisa pakai 'cara pemaksaan', begitu pikir Gala sambil berjalan mengikuti Audy ke lantai 2, dimana kamar Audy saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN