Bell jam istirahatpun berbunyi,
"Kuyy Au, ke kantin, gue laper banget nih! cacing dalam perut udah pada demo," ajak Devina sambil menarik Audy berdiri dari kursinya.
"Iya, iya, bentar, sabar napa woyy."
Kegiatan saling menghindar atau lebih tepatnya Audy yang mencoba menghindar saat berpapasan dengan Aldi, dia mati-matian agar tidak sampai menatap atau menegurnya dan sejauh ini berhasil.
Bagi Audy cukup hanya sekedar memandang sang pujaan hati dari kejauhan, yang penting Kak Aldi tidak semakin membenci dirinya.
"Oyy Au... mingkem Au, netes nih liur lo!" terdengar suara gemulai yang tanpa menolehpun sudah dia hafal, di tambah lagi bau parfum bunga-bunga yang semerbak, satu lagi sahabat Audy, Apriliansyah tapi semua temannya memanggil Prilly.
"Ellahh Pril! kenapa sih ganggu aja, gue lagi mengagumi ciptaan Tuhan nih. Kenapa yaa kak Aldi itu cakep banget? biuhh senyumnya Prill... bikin jantung adek jumpalitan."
"Aman tuh jantung, ngeri amat sampek jumpalitan segala, untung aja nggak sampai kaget trus dia berhenti bentaran.
Jangan sampai deh ada berita 'cewek cantik di temukan henti jantung di kantin sekolahan karena efek terkaget-kaget melihat pujaan hatinya' biar aja sekalian lo sampai viral hahahaha," sambar Vina sambil menaruh makananya dan mulai makan.
Audy tidak ambil pusing dengan ejekan sahabatnya, dia tetap memandangi kakak kelasnya yang sedang bermain basket dengan teman-temannya.
"Pengen gue lari ke lapangan deh gaes, nganterin minum sambil ngelap keringetnya, biuhhh makin keren banget sih Kak Aldi, apalagi pas berkeringat, bikin adek basah dehh."
"Chin, temen lo kayaknya kerasukan setan lapangan deh, lo nggak ada kenalan dukun Vin?" tanya Prilly dengan nada kemayu.
"Enak aja temen gue, temen lo kali. Temen gue kan sehat-sehat, sehat jasmani dan rohani, hahahaha.
Kalau tanya dukun nohh ada! emak-emak deket rumah gue, dukun beranak tapi," jawab Devina sambil memutar bola matanya.
"Ehh ngatain gue gak sehat lo, gue mah sehat walafiat, sehat luar dalam, jasmani dan rohani, beib," jawab Prilly tidak terima dengan jawaban Vina.
Haahaha,, tawa mereka memenuhi kantin dan membuat beberapa orang di kantin memperhatikan mereka. Ada yang membicarakan mereka ada juga yang bodo amat.
Hampir semua orang di sekolah mengenal mereka bertiga terutama Audy yang menurut mereka merupakan salah satu murid yang cantik, pandai, manis dan tak pernah terdengar citra jelek tentangnya. Prilly pun sebenarnya tak kalah terkenal, selain dia termasuk anak yang mudah sekali bergaul walaupun setiap perkataan yang keluar dari mulutnya lebih ke julid sih ya, namun Prilly masih termasuk anak yang asik bergaul dengan siapapun, teman-temannya banyak dari berbagai angkatan, di tambah lagi dia sebagai anggota Osis.
Audy, Devi dan Prilly pun tertawa bersama, percayalah memang seabsurd itu pertemanan mereka, biarpun saling mengejek tapi mereka saling menyayangi, mereka bersahabat sudah mulai dari SMP.
"Mau lo Au gue panggilin dukun beranak biar bisa move on lo dari Kak Aldi?" tanya Vina menggoda Audy.
"Noh! si Prilly yang butuh dukun beranak, biar peranakannya dia normal, tulangnya nggak belok lagi hahhaa," ejek Audy.
"Enak aja lo berdua ngatain gue, tapi... sebenernya emang bener sih beib, kuy anter gue ke dukun beranak," jawab Prilly sambil beranjak dari kantin, yang membuat mereka berdua tertawa. Kalau sudah ada Prilly, semua jadi tertawa.
"Tenang gue bakalan move on, kalau Kak Aldi sudah punya pacar, namun kalau selama hilalnya belum terlihat, berarti masih ada dong kesempatan adek, biarpun sebagai secret admirer doang, sudah cukup kok."
"Kisah lo tragis banget deh Au, cintaku belum mekar sudah di paksa layu atau lebih tepatnya cintaku bertepuk sebelah tangan," ejek Vina.
"Biarin, setidaknya gue punya cerita di SMA, dari pada lo berdua, jombo forever, jomblo kok bangga! ntar nggak punya cerita nyesel deh lo. Buruanlah cari pacar mumpung masih kelas 11, ntar kalau udah kelas 12 repot nggak bisa pacaran".
"Eh Vin, sok-sokan ngatain kita, nih si o***g! seolah situ udah pro player aja, ngomongnya seolah dia ahli cinta.
Padahal dianya aja di tolak mentah-mentah sama si Aldi," julid Prilly dengan nada ketus yang di buat-buat.
"Hahahah, pelet serigala betina kali ini tidak bekerja nih Prill.
Makanya Au move on lo sama Kak Aldi, tuh tengok si Reno yang beneran dan terang-terangan suka sama lo.
Giliran ada yang siap sedia di depan mata, lo abaikan.
Giliran yang tak terjangkau, lo kejar-kejar, nggak normal nih anak."
"Sejak kapan emang gue normal?
terus kalau si Reno gue nggak ada felling,
nggak suka gue, jadi jangan lo-lo pada sodor sodorin tu si Reno, makasih."
"Kalau gue jadi elo sih, mendingan gue sama Reno, biarpun dia nggak secakep Kak Aldi, tapi dia baik kok.
Udah gitu jago nyanyi, jago maen gitar, kalau natap tuh teduhh banget rasanya," tambah Vina
"Ya udah sana elo aja yang ngegebet si Reno, gue mah tetap pada pendirian gue, Kak Aldi forever."
"Andai cinta itu bisa semudah itu kita atur ya gaes, nggak akan ada tuh yang namanya sakit hati, kali ya," ucap Vina.
"Helehh sok puitis lo Vin, ngomong sok bijak, sok dalam, seolah paling tersakiti, lupa lo kalau status lo jomblo akut," ejek Prilly
"Kayak lo laku aja," jawab Vina tak kalah julid.
"Ehh Au, tuh kak Aldi jalan ke arah kita, jangan-jangan pelet lo mulai bekerja nih," terang Prilly mengabaikan ejekan Vina.
"Huuwa, wajah gue udah cantik belum, penampilan gue gimana?" tanya Audy pada mereka berdua dengan heboh, sambil menatap doi yang berjalan ke arah mereka.
Aldi sudah semakin dekat dengan mereka bertiga yang duduk di depan kelasnya sembari menunggu jam masuk.
"Ehh kok terus aja kak Aldi, nggak nengok apalagi negur elo Au? wahh salah nihh! jangan-jangan pelet lo salah sasaran," julid Prilly sambil berbisik ke Audy.
Audy tidak merespon, dia hanya diam dan dalam hati sedikit kecewa, padahal harusnya dia tau akan seperti ini jadinya. Tapi ada hal lain yang membuat hari pertamanya semakin mendung dan bagai disambar gledek di siang hari.
"Sayanggg..." panggil Laluna, yang juga kakak kelasnya, yang juga satu kelas dengan Aldi.
Aldi menghampiri Laluna dan jalan berdua menuju kelasnya.
"Jadi, sekarang Kak Aldi udah resmi jadian sama Kak Luna ya?" entah lah itu sebuah pertanyaan atau sebuah pernyataan yang keluar dari mulut Audy. Kedua teman-temannya hanya bisa prihatin melihat wajah muram Audy.
"Sabar ya Audy," respon Vina,
"Lo pasti bisa," kali ini Prilly komentar tanpa bercanda.
"Oke I'm fine gaes, Audy! waktunya move on, gue tunjukkan pada mereka, siapa gue sebenarnya, kita lihat saja nanti," gumam Audy pada dirinya sendiri dengan senyum getir di wajahnya, tapi masih bisa di dengar oleh Vina dan Prilly.
Kita lihat saja nanti...