13

1063 Kata
"Bagaimana mungkin kau tak bisa membawa Laksmi ke sini, ke rumah ini?" Gayatri terlihat kecewa saat lepas Maghrib Bram baru sampai rumah tanpa membawa Laksmi. "Dia bukan anak kecil yang bisa aku paksa, bagaimana mungkin aku bisa menyeretnya ke sini jika dia sedang asik berdua dengan laki-laki lain." Jawaban Bram benar-benar mengagetkan Gayatri, dia menatap tajam wajah Bram. "Jika kau ingin menggagalkan pernikahanmu bukan begini caranya Bram, ingat seminggu lagi." Suara Gayatri terdengar bergetar karena menahan marah. Bram menghentikan langkah dan berbalik, menatap wajah ibu dan kakaknya bergantian. "Apa selama menjadi anak ibu aku pernah berbohong? Tanyakan pada Kak Berta juga, dia tahu siapa laki-laki itu, ok aku terima jika ini yang ibu inginkan, menikahkanku dengan wanita yang tidak jelas dia berhubungan dengan siapa, itu Kak Berta ada, silakan tanya, Siapa itu Steve atau Steven, terima kasih jika Ibu dan Kakak ingin aku hancur." Bram melangkah pelan ke kamarnya, ia tahu istrinya pasti belum pulang, karena tadi sempat menelponnya, akan menjenguk ibunya lagi. Setelah Bram menjauh, Gayatri menatap Berta mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. "Jelaskan padaku Berta siapa Steve yang dimaksud Bram?" Berta menghela napas berkali-kali, ia bingung harus dari mana menjelaskan pada ibunya, jika tidak dijelaskan khawatir ibunya akan terus mendesaknya. "Aku juga nggak tahu siapa dia Ibu, lebih jelasnya nggak pasti, aku pernah memergoki mereka berdua di ruang kerja Laksmi, pintu ruangannya sampai dikunci jelas aku curiga, ada apa? Waktu aku tanya penjelasan Laksmi dia sedang rapat berdua karena laki-laki itu wakil direktur di rumah sakit milik keluarga Laksmi, aku merasa ada yang janggal Ibu, rasanya aneh kan? Masa sampai harus dikunci? Dan aku dapat info dari informanku, ada laki-laki yang menginap di apartemen Laksmi karena masuk pada malam hari dan keluar saat pagi-pagi sekali, belum jelas apa laki-laki yang sama atau berbeda." "Aku tak percaya, tak akan pernah percaya, Laksmi wanita terhormat, dia dibesarkan dalam keluarga yang tahu aturan sama seperti kita, dia tak akan mempertaruhkan kehormatan keluarganya hanya demi laki-laki tak jelas, aku jamin dia tak akan mempermalukan kita." Suara Gayatri bergetar menahan emosi. "Aku tahu Bram hanya berusaha agar ia tak menikah dengan Laksmi, tapi aku yang akan memegang kendali, ia tetap akan menikah dengan Laksmi." "Iya Ibu, iyaaa hanya aku ingin benar-benar memastikan jika Bram tak salah pilih lagi, makanya kita pilihkan yang benar." "Aku yakin Berta, pilihanku tak akan pernah salah." Meli yang baru saja sampai, diam saja di tempatnya, hatinya serasa diiris-iris, terkadang ia berpikir untuk apa ia bertahan, jika hanya cinta yang ia junjung tinggi ternyata Bram juga tidak banyak bertindak. Ia berada pada posisi lemah tak ada yang membelanya. Akhirnya Meli melangkah melewati ibu mertua dan kakak iparnya, mengucap salam dan melanjutkan langkahnya. "Lihat saja gayanya Berta, berlagak bak Cinderella yang tak tahu diri." "Heh, aku nggak pernah menganggap ia ada Ibu." Percakapan mereka terdengar oleh Meli, ia memejamkan matanya, menahan kesabaran dan akan segera memutuskan langkah ia harus bagaimana. Meli membuka pintu kamar, mendapati Bram yang tengah melamun, menatap langit-langit kamar, berbantal lengannya dan kaget saat melihat Meli datang. "Kau pulang, Sayang? Ibu gimana?" "Alhamdulillah semakin baik dan sehat, aku mandi dulu Mas." Setelah mandi, Meli membaringkan badan di sebelah suaminya, berusaha memejamkan matanya, meski ia belum ngantuk. Sampai akhirnya Meli merasakan lengan Bram yang memeluk pinggangnya dan menciumi pelipisnya. "Mungkin kita lebih baik berpisah Mas." Ucapan Meli bagai petir yang tiba-tiba menghantamnya, Bram mengguncang tubuh Meli. "Tidak Mel, tidak, aku mencintaimu, sangat mencintaimu." "Tapi kau membuat aku menderita, aku masih berusaha bertahan dari cibiran kakakmu dan cemooh ibumu, tapi saat ada wanita hadir diantara kita itu sudah tidak benar, mungkin sehari dua hari aku kuat bertahan tapi jika beberapa bulan ke depan aku tak bisa menjamin Mas aku bisa berbagi, aku bukan wanita yang bisa ikhlas berbagi, mungkin sebelum kita saling menyakiti lebih baik kita akhiri baik-baik." "Tidak, tidak Sayang jangan pernah berkata seperti ini lagi." Bram memeluk erat tubuh istrinya. "Aku tak mungkin bisa Mas, bisa Mas bayangkan setelah pernikahan Mas dan Laksmi pasti nanti sarapan kita bersama, kau dan dua orang istrimu, dan yang aku cemaskan sindiran Ibu dan kakakmu, aku ingin bahagia Mas, aku ingin lepas dari semua ini." Suara Meli terdengar datar, mungkin keputusannya akan sangat menyakitkan bagi Bram dan dirinya tapi itu lebih baik, ia merasa bahwa ia telah salah sejak awal, salah memprediksi seperti apa keluarga Bram, ia tak mengira bahwa mertua dan kakak iparnya akan setega itu padanya. "Mari kita akhiri dengan baik-baik Mas karena kita bertemu dengan cara baik-baik pula." Bram memejamkan matanya, ia tak tahu harus memilih siapa, ibunya yang semakin tua, atau Meli yang telah ia cintai sejak lama. Bram sadar dirinya hanya laki-laki lemah tapi menentang ibunya tidak pernah ada dalam kamusnya. Semua perjuangan ibunya seolah tergambar jelas di depan matanya. Ia yang kini menjadi salah satu orang ternama dengan kekayaaan lebih adalah perjuangan ibu juga andil kakaknya. "Tak bisakah kau bertahan di sampingku Mel? Bukankah aku berjanji tak akan pernah menyentuhnya? Hanya kau satu-satunya wanita yang aku cintai." "Tapi bisakah Mas menjamin itu? Jika aku tak kunjung hamil atau bahkan tak pernah hamil bagaimana?" Bram diam tak menjawab, pertanyaan Meli sulit ia jawab, karena jika itu terjadi maka mau tak mau ia harus memiliki anak dengan Laksmi. Mengingat Laksmi perasaan Bram menjadi tak enak lagi, ia yakin ada hubungan terselubung antara Laksmi dan laki-laki gagah itu. "Iya kan Mas? Jika aku tak bisa hamil maka kau pasti akan menyentuhnya kan?" Meli menoleh pada suaminya dan Bram hanya diam saja. "Maka ijinkan aku, ijinkan aku bahagia, mungkin kita memang saling mencinta tapi kita takkan bisa saling membahagiakan, jika Mas mengijinkan aku pergi maka setidaknya Mas tak menambah lukaku, karena setelah Mas menikah nanti akan banyak kejadian-kejadian yang semakin merendahkanku, jika Mas memang mencintaiku, maka lepaskan aku." Mata Bram mengabur, ia tak mengira jika perjuangannya membawa Meli ke rumahnya akan semenyakitkan ini bagi Meli dan dirinya. Ia tak bisa membayangkan jika harus berpisah dari Meli, tapi jika Meli tetap di dekatnya maka sama saja ia semakin menyakiti dan menyiksa Meli. "Mas konsentrasi saja pada pernikahan Mas yang tinggal seminggu, kita urus perceraian setelahnya, Mas punya pengacara pribadi yang hebat yang aku yakin proses perceraian akan cepat selesai hanya dengan mengedipkan mata, proses akan semakin cepat jika Mas yang menceraikan aku." "Tak adakah cara lain agar kita tetap bersama Mel?" "Tak ada Mas, hanya sedikit laki-laki bisa adil dan sedikit keluarga bisa aman-aman saja saat ada dua istri di dalamnya."  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN