12

1071 Kata
Semakin mendekati hari pernikahannya dengan Laksmi, Bram semakin gelisah, yang ia pikir adalah perasaan Meli, meski ia tak kan pernah se kamar dengan Laksmi tapi hadirnya Laksmi di rumah itu nanti pasti akan menimbulkan hal yang tidak nyaman pada Meli. Meli yang sudah kembali ke rumah mertuanya berusaha tidak ambil pusing dengan segala keriuhan yang mulai terlihat. Tampak beberapa orang membenahi sebuah kamar yang tak jauh dari kamarnya. Ia yakin kamar itulah yang akan di tempati Laksmi. Berusaha menegarkan hati Melu melakukan kegiatan seperti biasanya. Pagi hari saat akan berangkat kerja dia melihat ibu mertua dan kakak iparnya duduk di ruang makan. Meli pamit dan Bram tampak mengekor di belakang Meli. "Kalian tak sarapan dulu?" tanya Gayatri menatap bergantian Meli dan Bram. "Maaf ibu, saya mau melanjutkan pekerjaan yang sempat terbengkalai karena saya tinggal cuti, dan Mas Bram berencana mau mengantar saya ke kantor," sahut Meli. "Bukankah kalian punya mobil sendiri-sendiri, bukankah lebih baik jika kalian berangkat sendiri-sendiri kalo kayak gini, Bram mau makan di mana nanti?" "Banyak cara agar aku bisa sarapan Ibu, bisa nyuru sekretarisku, atau beli saat perjalanan dari sini." Bram terlihat malas menjawab pertanyaan ibunya. "Maaf kami berangkat Bu, ayo Sayang." Bram menarik lengan Meli dan keduanya berlalu dari hadapan Gayatri juga Berta. "Aku benci Bram yang sekarang Berta, Bram yang dengan mudah menentangku, dulu sebelum wanita itu masuk, Bram adalah anak penurut, tapi sejak wanita itu ada di sini Bram jadi saaaangat, sangat berani padaku, bahkan aku belum selesai bicara ia potong, juga berlalu begitu saja, aku merasa tidak dihargai sebagai seorang ibu." "Sabar Bu, takkan lama lagi wanita itu pergi dari sini, dia takkan betah juga melihat suaminya satu kamar dengan wanita lain, makanya aku sengaja menempatkan Laksmi tak jauh dari kamar mereka, biar dia dengar pas suaminya b******a dengan wanita lain." Berta tersenyum sinis dan Gayatri mengangguk, wajahnya terlihat puas. "Yah, aturlah gimana caranya agar dia segera angkat kaki, aku ingin masa tuaku tenang, tak ada sampah tak berguna di rumah ini." Keduanya melanjutkan sarapan yang sempat terputus karen Bram dan Meli pamit tadi. . . . Selama perjalanan ke kantor Meli diam saja, matanya menatap lurus pada jalanan yang ada di depannya. Pikirannya hanya pada ibunya yang telah kembali ke rumah dan dalam masa pemulihan. "Kau pasti melamunkan aku yang akan segera ... " "Ah nggak, aku sudah berusaha ikhlas, memang jalannya begini, aku yakin Mas nggak akan menduakan aku, hanya di sisi hatiku yang paling dalam sering bicara sendiri, apa iya Mas akan betah dengan wanita secantik dan seseksi Laksmi?" Meli tetap tak mengalihkan tatapannya dari jalan yang telah mulai penuh dengan kendaraan yang berseliweran. "Kalo aku tertarik sudah sejak dulu aku nikahi dia, aku terkam dia, buktinya kan aku tetap nggak ada apa-apa sama dia." Jawaban Bram hanya dijawab dengan tawa hambar oleh Meli. "Itu kan dulu, beda dengan kondisi setelah dia dinikahi Mas nanti, Mas bukan laki-laki yang terbiasa berhubungan tanpa ikatan, aku hanya yakin saja, suatu saat akan terjadi juga, tinggal menunggu waktu, apa lagi sampai saat ini tak ada tanda-tanda kehamilan padaku, akan jadi senjata ampuh untuk menyingkirkanku nanti saat kalian berhubungan dan Laksmi hamil." "Kau seperti mendoakanku agar itu terjadi, bicaralah yang baik-baik, agar hubungan kita juga tetap baik." Bram benar-benar terlihat resah. "Aku selalu berdoa agar kita mendapatkan jawaban terbaik, aku akan berusaha menerima apapun resikonya, memang takdirku harus begini dan aku takkan menyalahkan siapapun." Tak lama akhirnya sampai di kantor Meli, Bram mencium kening istrinya dan Meli mencium punggung tangan Bram. Bram baru melanjutkan perjalanannya saat Meli telah hilang dari pandangan matanya. . . . Laksmi meraih ponselnya saat ada notifikasi masuk, ia melihat pesan singkat dari Steve yang akan mengajaknya pulang bersama sore nanti. Laksmi hanya tersenyum dan menjawab pesan singkat dari Steve. Tak bisa Laksmi pungkiri bahwa hatinya dilanda kebimbangan yang amat sangat. Perlahan dan pasti ia mulai terikat degan Steve, perasaan yang tak  pernah ia duga sebelumnya. Sedang dengan Bram ia menyukai kelembutan dan kesabarannya. Tak lama berkelebat wajah almarhum suaminya. Mata Laksmi mulai berkaca-kaca, masa manis yang sempat ia teguk sesaat membuatnya masih sering membuatnya bersedih. Tapi tuntutan lain dalam dirinya yang sering meledak-ledak hanya bisa dipuaskan oleh Steve. Tak lama Laksmi dikagetkan oleh suara panggilan di ponselnya saat ia lihat ternyata dari ibunda Bram. Ya Ibu Ah bahagianya aku mendengar kau memanggilku ibu dan bukan Tante lagi, bisa nanti sore ke rumah Laksmi, aku mau menunjukkan kamarmu yang indah di sini Wah maaf, nanti sore ada meeting Ibu Oh gitu ya, gimana kalau malam ke sini? Saya juga ada janji dengan teman Ibu, gimana kalo besok sore saja? Ok, Ibu tunggu di sini, sampai ketemu besok Iya ibu terima kasih Laksmi menatap ponselnya, rasanya ia tak mungkin menggagalkan janjinya pada Steve, ia juga ingin kembali merasakan sentuhan Steve yang memabukkan, dan membuatnya selalu menginginkan lagi dan lagi. . . . Sore hari dengan wajah kesal Bram melajukan mobilnya menuju rumah sakit keluarga Laksmi. Ibunya berkali-kali meneleponnya hanya agar mengajak Laksmi ke rumahnya untuk memperlihatkan kamar yang telah siap untuk Laksmi, karena ibunya yakin jika Bram yang mengajak Laksmi pasti mau. Baru saja ia hendak melajukan mobilnya masuk ke area rumah sakit, Bram melihat sebuah mobil keluar dan Laksmi bersama Steve di dalam mobil itu. Bram segera memutar arah dan mengikuti mobil itu. Ia menjaga jarak agar tak terlihat oleh Laksmi dan Steve. Hingga sampai di sebuah apartemen mewah, mobil itu masuk dan Bram hanya melihat dari jauh, yang ia tahu ini bukan apartemen Laksmi. Bram hanya bisa menghela napas, dan yakin bahwa ini adalah apartemen Steve. Ia melajukan mobilnya dan akan mencari alasan yang tepat pada ibunya karena Laksmi ternyata lebih memilih bersama Steve sore itu. . . . Steve menarik lengan Laksmi, menutup pintu unitnya dengan kakinya. Dan melemparkan tas Laksmi ke lantai, mendorong tubuh Laksmi ke tembok, meraup bibir wanita yang rasanya telah tak sabar untuk ia nikmati. Tangan keduanyapun saling membuka pakaian dengan cepat dan erangan serta desahan mulai terdengar saat keduanya mulai menyatu. Sore yang panas mengantarkan keduanya menuju lembah kenikmatan, berulang dan berulang di setiap sudut apartemen itu. Sekali lagi Steve seolah tanpa lelah menjelajah setiap jengkal tubuh Laksmi, meraup kasar dadar besar itu sambil tak henti menggerakkan pinggulnya dengan keras, tubuh keduanya telah basah oleh keringat tapi sepertinya kepuasan belum mereka reguk, hingga kembali berlajut di sofa, saling menindih dengan gerakan kasar, teriakan dan erangan keduanya terus terdengar, aroma percintaan yang terciumpun sudah sangat tajam, berkali-kali sampai tak juga membuat aktivitas panas itu berakhir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN