Aku duduk melamun di teras rumah sambil sesekali memeriksa akun sosial mediaku. Sesekali aku melongok ke balik pagar, jikalau seseorang yang kutunggu sejak tadi akan menampakkan batang hidungnya. Sudah 20 menit aku menunggu di teras ditemani nyamuk-nyamuk malam yang terbang bising disekitarku. Huh, mana anak yang bernama Revi itu? Apakah dia tersesat? Mbak Tantri sudah mengirimiku pesan teks yang mengatakan bahwa Revi akan datang sendiri ke rumahku menggunakan taksi sebab ia dan suaminya harus segera pulang ke Tangerang. Kurasa Mbak Tantri cukup berani membiarkan anaknya naik taksi seorang diri pada malam hari.
Baru saja aku hendak menghubungi Mbak Tantri untuk menanyakan perihal anaknya yang bernama Revi, sebuah taksi berhenti tepat di depan pagar rumahku. Itu pasti Revi! Sontak aku berdiri dari dudukku dan berlari kecil untuk membukakan pagar untuknya. Sebagai tuan rumah, sudah seharusnya aku menyambut tamu dengan baik. Ketika aku menggeser pagar rumahku sedikit, seseorang turun dari taksi lalu tersenyum kikuk menatapku. Rev? Potongan rambutnya yang tadi sempat diikat kebelakang kini dibiarkannya tergerai bebas melewati dahinya.
"Uhm, Mbak Tantri tadi bilang kalau dia sudah kabarin kamu kalau aku bakal menginap disini." Rev berbicara padaku dengan suara samar. Mungkin ia menyadari keterkejutan di wajahku.
"Revi?"
"Iya? A.. Ada apa?" tanyanya terlihat semakin gugup.
Aku dengan cepat menggeleng. Bodohnya aku. Kupikir Revi yang dimaksud Mbak Tantri adalah salah satu dari anaknya. Aku tidak tahu jika Revi adalah Rev dan Rev adalah Revi. Dia memang tidak sempat memberitahukan nama lengkapnya padaku tadi.
"Uhh.. Bo.. Boleh aku masuk?"
Oh astaga! Sepertinya aku sudah bersikap tidak sopan pada tamuku. Aku membiarkannya menunggu cukup lama diluar. Kulirik sebuah tas olahraga yang dijinjingnya. Apakah hanya itu pakaian yang ia bawa? Belum sempat aku melanjutkan berbagai macam pertanyaan yang berkecamuk dipikiranku, Rev sudah menatapku dengan wajah yang semakin bingung dan gugup.
"Apakah aku mengganggu? Aku bisa menginap di.."
"Oh enggak.. Enggak! Aku pikir tadi yang mau menginap disini anaknya Mbak Tantri," jelasku cepat. Aku tidak ingin Rev merasa tersinggung atas sikapku yang terlihat kurang ajar. "Ayo masuk."
Rev menyampirkan tas olahraganya di bahu kemudian berjalan menyusulku. Dia terlihat semakin tidak nyaman begitu aku membawanya masuk ke dalam rumah. Dia sempat mengusap rambutnya sebentar kemudian melirikku sekilas lalu kembali berjalan mengikutiku sambil menunduk memandangi lantai.
"Maaa.. Mamaaa.." Aku berseru memanggil Mama yang berada di kamarnya di lantai atas.
"Tamunya sudah datang Jess?" Mama menatapku dari balik jeruji-jeruji besi yang memisahkan tangga dengan ruangan di lantai atas. "Lho, Revian? Mama kira tadi anaknya Tantri."
"Iya Ma, aku salah info." Aku nyengir lebar pada Mama. Jadi namanya Revian, pikirku dalam hati.
"Kalau begitu jangan bawa ke kamar tamu dong Jess. Kamu tunjukin aja kamar yang bakal kakakmu tempatin nanti."
"Tapi kan kamar itu belum selesai diberesin Ma."
"Gak apa-apa. Kan cuma belum diisi perabotan aja. Masa kamu tega nyuruh kakak kamu tidur di kamar tamu yang gak ada AC nya."
"Oh iya!" Aku hampir saja lupa kalau kamar tamu dirumah kami memang tidak dilengkapi dengan fasilitas mesin pendingin. Aku berbalik menatap Rev yang masih berdiri dibelakangku dengan wajah semakin tidak nyaman. "Yuk, ikut aku Kak. Kamar Kakak di lantai atas." Aku berjalan menaiki tangga dengan hati-hati.
Saat tiba diakhir anak tangga, Mama sudah menghampiri kami. Ia lalu memeluk Rev dan memberinya kecupan di pipi. "Mama senang Revian mau menginap disini. Toh nanti kan kamu akan menempati rumah ini juga. Hitung-hitung gladi bersih."
"Ih Mama. Udah kayak pementasan aja pake gladi bersih," celetukku padanya. Mama memang terkenal suka asal memberikan istilah-istilah aneh. Meskipun kreatif tapi terkadang tidak pada tempatnya. Kulihat Rev hanya tersenyum kecil menanggapi perkataan Mama barusan.
"Sudah, kamu antarkan ke kamarnya sana."
Aku menoleh ke arah Rev kemudian menunjuk ke salah satu pintu yang berada tepat berhadapan dengan pintu kamarku. "Kak, itu kamarnya. Ayo."
Rev masih diam. Ia hanya berjalan mengikuti ketika aku membuka pintu kamarnya lebar-lebar. Mama memang sudah menyiapkan dua kamar untuk sepasang saudara kembarku itu. Kamar Rek berada tepat disamping kamar Rev. Meskipun mereka bersaudara, kamar keduanya ditata dengan gaya yang berbeda. Menurut Mama dari yang diceritakan Om Andre padanya, Rek lebih menyukai nuansa biru dan putih. Jadi dia menata kamar Rek dengan warna-warna sederhana namun tetap terkesan maskulin. Sedangkan kamar Rev ditatanya dengan warna gelap seperti hitam dan merah marun sehingga lebih terkesan elegan. Sepertinya Rev tidak terlalu menyukai warna-warna terang. Sesuai dengan kepribadiannya yang pendiam.
Aku bisa merasakan Rev memperhatikan kamarnya dengan sedikit terkejut. Mungkin dia tidak mengira bahwa Mama tahu seleranya. Semua perabotan di kamar Rev di isi dengan furniture yang sederhana namun tidak meninggalkan kesan mewah. Mama sudah bekerja mati-matian untuk menyiapkan kamar ini untuknya, kupikir memang sudah sewajarnya jika Rev merasa terkesima dibuatnya.
"Nice room," gumamnya singkat.
"Mama yang ngatur semua perabotan disini, wallpaper dindingnya juga Mama yang pilih."
"Seharusnya Tante.. Uhm.. Maksudku Mama, gak perlu serepot itu. Aku bisa desain kamarku sendiri."
"Mama memang begitu Kak. Dia mau semuanya dikerjain oleh tangannya sendiri." Aku berjalan menuju lemari pakaian kemudian membukanya lebar-lebar. "Barang-barangnya taruh disini aja Kak."
"Aku jadi semakin ngerasa gak enak." Rev berbicara sambil sibuk memperhatikan kamarnya.
"Kan kita akan jadi kel.."
"Jess?" Ucapanku terputus begitu aku mendengar suara Mama memanggilku. "Jess, ada tamu yang nyariin kamu tuh." Tahu-tahu Mama sudah berada di ambang pintu kamar Rev.
"Siapa Ma?"
"Mama gak tahu. Sepertinya teman kuliah kamu. Laki-laki."
Laki-laki? Tumben sekali ada teman laki-laki yang kerumahku semalam ini. Aku memang sering mendapat tamu dari para penggemarku. Tapi biasanya mereka akan berkordinasi terlebih dahulu dengan managerku sebelum datang berkunjung. Aku berbalik menatap Rev dengan wajah sedikit meringis. "Maaf Kak, sepertinya aku ada tamu. Aku tinggal sebentar ya." Tanpa menunggu jawaban darinya, aku bergegas turun ke lantai bawah.
Tamu laki-laki yang dimaksud Mama ternyata adalah Keito. Teman sekelasku di kampus. Cowok blasteran Jepang itu memang baru kali ini mengunjungi rumahku. Aku bahkan tidak habis pikir dari mana ia tahu alamat rumahku. Begitu melihatku muncul di ruang tamu, Kei langsung tersenyum menyapaku.
"Hai."
"Ada apa?" Aku duduk di salah satu kursi yang berhadapan dengannya. Kulirik Bude yang baru saja datang dari arah dapur menyuguhkan teh hangat padanya.
Setelah mengucapkan terima kasih pada Bude, Kei kini menatapku. "Aku cuma mau tanya keputusan kamu mengenai tawaranku di kampus tadi."
"Maksud kamu?"
"Apa kamu lupa? Tadi siang aku ngajak kamu untuk ikut daftar jadi anggota BEM."
Aku langsung teringat lembaran formulir yang tadi siang memang sempat diserahkannya padaku. Aku bahkan lupa dimana aku menyimpannya karena saat itu aku sedang terburu-buru. Mungkin masih di dalam tas ku. "Sorry, aku lupa."
Kei terlihat sedikit kecewa. "Jadi gimana? Apa kamu mau bergabung?"
Ini bukan pertama kalinya seseorang mengajakku untuk mengikuti kegiatan ini itu. Sebagian dari mereka biasanya mengajakku karena memang melihat potensi dan bakat yang kumiliki, sebagian lagi mengajakku hanya sebagai alasan untuk bisa lebih dekat denganku. Dan Kei adalah salah satunya. Sudah banyak teman laki-laki di kampusku yang berusaha mendekatiku dengan berbagai macam alasan klise. Mulai dari belajar bersama, ikut kegiatan kampus, sampai mengundangku ke acara-acara tertentu.
"Sepertinya aku gak bisa."
"Kenapa?" Wajah Kei semakin terlihat kecewa. "Aku jamin ini gak akan nyita waktu kamu. Kamu masih bisa syuting atau ikut pemotretan."
"Bukan karena itu." Kuakui waktuku memang sedikit renggang dibandingkan aktris lain. Aku memang sengaja hanya menerima pekerjaan untuk pemotretan sesekali dan beberapa proyek film. Aku tidak pernah menerima tawaran syuting sinetron kejar tayang atau reality show yang tayang setiap hari. Selain karena aku lebih memfokuskan diri untuk menyelesaikan kuliahku, aku juga tidak ingin waktu bersantai bersama keluargaku jadi berkurang.
"Kamu punya bakat untuk memimpin. Kamu punya karisma." Kei masih berusaha untuk menyakinkanku.
Aku menggeleng. "Aku gak tertarik."
Kei terlihat masih ingin mencoba untuk memintaku. Ia terlihat tidak puas dengan jawabanku barusan. Jari-jari tangannya bergerak dengan gelisah, memikirkan alasan lain untuk kembali menyakinkanku.
"Aku gak bermaksud mengusir, tapi aku sedang sibuk. Ada seseorang yang nunggu aku di atas."
Wajah Kei yang semula menunjukkan raut kecewa lantas terlihat penasaran. "Seseorang? Siapa?"
Belum sempat aku menjawab, tiba-tiba saja Rev sudah menghampiriku. Wajah kakakku itu terlihat sama tidak nyamannya seperti saat kemunculannya di depan gerbang rumahku tadi.
"Kenapa Kak?" tanyaku begitu kulihat tidak ada tanda-tanda darinya untuk mengatakan sesuatu.
"Ini, seseorang yang nungguin kamu?" Kei memperhatikan penampilan Rev dari atas hingga ke bawah dengan sangat cermat.
"Aku minta maaf kalau ganggu kamu. Tapi.." Ucapan Rev terhenti. Raut wajahnya yang semula terlihat tidak nyaman berubah menjadi dingin begitu disadarinya Kei melihatnya dengan penuh perhatian.
"Pacar kamu?" tebak Kei seolah tidak menggubris raut dingin yang diberikan Rev padanya. "Atau keluarga kamu? Aku gak pernah denger kalau kamu punya saudara."
Melihat sikap Kei yang menurutku sedikit tidak sopan pada Rev, rasanya wajar jika Rev menunjukkan wajah tidak bersahabat padanya. Aku turut merasa tidak enak melihat Kei yang memperhatikan Rev seolah memperhatikan barang langka hasil penemuan ilmuan kelas dunia. Biar bagaimanapun Kei adalah tamuku. Aku harus segera memperingatkannya agar tidak bersikap kurang ajar pada calon kakakku.
"Satou Keito?" Diluar dugaan, ternyata Rev mengenal sosok Kei. Rev bahkan menyebut nama lengkap Kei dengan sangat baik.
Sama halnya denganku, Kei juga tampak cukup terkejut. Ia kembali mencermati wajah Rev lalu mengerjapkan matanya. "Apa kita saling kenal?"
Rev menggeleng. "Ini pertama kalinya kita ketemu."
"Terus kok lo bisa.."
"Gue kenal sama cewek lo, Fina."
Begitu mendengar Rev menyebutkan nama Fina, wajah Kei langsung berubah tegang. Aku bisa merasakan Kei melirikku sekilas. Aku baru tahu kalau cowok ini punya pacar. Apakah Rev dan Fina ini sangat dekat? Pantas saja wajah Rev mendadak dingin ketika melihat Kei. Ia pasti berpikir bahwa Kei sedang mencoba untuk merayuku dan ingin menduakan Fina, seseorang yang Rev kenal.
"Mungkin lo salah orang." Kei akhirnya bisa mengubah raut wajahnya agar kembali tenang.
"Apakah gue harus telpon Fina sekarang untuk memastikan?"
Nice step my brother. Aku bisa melihat wajah Kei semakin gusar. Menurutku cowok yang sudah memiliki kekasih tapi masih mencoba untuk mendekati cewek lain itu bukan tipikal pria yang layak untuk mendapatkan perhatianku. Apalagi Kei masih berusaha untuk mengelak.
Rev bergerak mengeluarkan smartphone dari balik saku celananya. Aku bisa melihat keseriusan di wajahnya ketika tangannya bergerak di layar.
"Tunggu!" Kei mendadak bangkit berdiri. Salah satu tangannya tahu-tahu sudah menahan tangan Rev. "Gue memang Satou Keito yang lo maksud."
Rev menatap Kei sesaat sebelum akhirnya kembali memasukkan smartphonenya ke dalam saku. "I see.."
Kei kembali duduk dengan gusar. "Jadi..," ucapnya. "Dari mana lo bisa kenal Fina? Gue gak pernah dengar Fina cerita mengenai lo."
"Lo bisa tanya Fina," jawab Rev kalem. Matanya kemudian kembali menatapku dengan ragu. "A.. Apa di kamarku gak disediain bantal guling?"
Astaga! Aku hampir saja lupa. Kemarin aku memang sempat mengambil bantal serta guling dari kamarnya sebab Vera dan Rana menginap di kamarku. Aku lupa mengembalikan bantal dan guling tersebut ketempatnya semula. Kupikir kamarnya masih lama digunakan sehingga aku cuek saja meminjam barang-barang yang masih baru itu. Apa reaksinya jika aku beritahu bahwa bantal dan guling miliknya telah kupakai tanpa izin? Mati aku!
"Lo tinggal disini?" Kei yang masih duduk di ruang tamuku memandang kami bergantian dengan bingung.
"Iya, dia.." Aku hampir saja memberitahu Kei bahwa Rev adalah calon kakakku ketika sebuah ide cemerlang melintas di kepalaku. "Dia tunanganku."
"Apa?" tanya Kei dengan wajah cukup terkejut.
Aku melihat ekspresi Rev sama terkejutnya. Namun tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Reaksinya cukup tenang mengingat aku baru saja memberitahu Kei mengenai statusnya sebagai tunanganku tanpa persetujuan lebih dulu dari dirinya. Sepertinya Rev cukup bisa mengendalikan emosi dan pikirannya. Benar-benar tipikal pria dewasa yang sudah matang di usia 25-an.
"Aku gak pernah dengar berita kalau kamu sudah punya tunangan."
"Karena aku merahasiakannya dari media. Aku harap kamu gak memberitahu siapapun. Apalagi wartawan."
"Jadi, tunangan kamu tinggal dirumah ini? Kalian, satu atap?"
Aku bisa menebak kemana arah pertanyaan Kei barusan. Aku benar-benar tidak tahan menghadapi sikapnya. Sejak kami satu kelas, Kei selalu mencoba untuk mendekatiku dengan berbagai cara. Aku sengaja memberitahunya bahwa aku sudah memiliki tunangan karena aku berharap dengan ini dia akan berhenti untuk menggangguku. Terlebih lagi, Rev baru saja membuka kartunya di depanku. Kei sudah punya kekasih. Aku tidak ingin dianggap sebagai perebut kekasih orang. "Dia mau menginap malam ini karena hotel yang sudah dia booking mendadak penuh." Baik, setidaknya aku tidak berbohong mengenai alasan Rev menginap dirumahku. Aku hanya berbohong mengenai statusnya sebagai tunanganku. "Sorry Kei, seperti yang kamu lihat. Aku sibuk karena tunanganku mau menginap disini. Aku harus menyiapkan kamar untuknya. Sebaiknya kamu pulang. Ini sudah malam."
Kei mengangguk mengerti. "Baik. Maaf kalau aku ganggu waktu kalian. Permisi." Kei bangkit kemudian berjalan menuju pintu. Setelah melemparkan senyum kecil padaku, ia bergerak menaiki motornya yang terparkir tepat di samping teras rumahku.
Setelah mengantarkan kepergian Kei, aku kembali ke ruang tamu dan mendapati Rev masih menungguku disana. Ekspresinya kembali terlihat tidak nyaman.
"Sorry. Tadi aku bilang ke Kei kalau Kakak.."
"Gak apa," sahutnya tanpa menunggu ucapanku selesai.
Oke, sepertinya calon kakak tiriku ini sungguh pengertian dan tidak suka banyak bertanya. Bagus. Setidaknya aku tidak akan memiliki kakak yang akan merecokiku setiap saat. Tapi, tunggu dulu. Bagaimana dengan Rek? Dibandingkan dengan Revian, Rekas terlihat lebih banyak bicara.
"Jadi, bantal gulingku?"
Ya ampun. Aku hampir melupakan nasib bantal gulingnya. "Uh.. Sebenarnya kemarin aku sempat meminjamnya karena teman-temanku menginap dirumah. Kupikir.. Kakak belum mau menggunakannya." Aku berusaha menjelaskan padanya sembari berjalan menaiki tangga. "Aku lupa untuk bersihin dan ngembaliinnya lagi ke kamar Kakak. Jadi, apakah gak apa-apa?" Aku berbalik menatap sosok yang mengikuti dibelakangku itu.
"Gak masalah. Itu justru lebih baik."
Aku menautkan kedua alisku mendengar tanggapannya. "Lebih baik?" Apa yang dimaksud Rev dengan lebih baik? Aku hendak melanjutkan pertanyaanku ketika dia dengan cepat mengoreksi perkataannya.
"Setidaknya bantal gulingku gak akan sekeras seperti saat beli baru."
Oke, aku tahu dia hanya mencoba untuk bersikap baik padaku. Kuhargai usahanya. Namun sikapnya justru membuatku semakin tidak enak hati. Siapa yang suka perabotan pribadinya dipakai oleh orang lain? Ya meskipun orang lain itu adalah calon adik tirimu sendiri. Kalau aku jadi dia, aku mungkin akan merasa jijik mendapati bantal gulingku mungkin terdapat bekas air liur seseorang.
Kami tiba di depan pintu kamarku. Aku berdiam diri sejenak. Meskipun Rev calon kakak tiriku, aku masih sedikit risih jika harus menunjukkan kamarku padanya. Dia laki-laki! Aku tidak pernah membiarkan laki-laki manapun masuk kamarku. Hanya Mama dan teman-teman terdekatku yang kuizinkan untuk leluasa keluar masuk. Rev sepertinya menyadari apa yang kupikirkan. Ia mundur selangkah lalu menyandarkan tubuhnya di dinding, mencoba menghindari pandangan dari apa yang akan dilihatnya kelak dari balik pintu. Dia sengaja mengatur posisi dan membiarkanku untuk membuka pintu kamarku dengan nyaman. Nilai plus lagi untuknya. Dia menghargai privasiku.
Setelah mengambil bantal gulingnya yang terletak sembarang di atas kasurku, aku keluar dari kamar dan melihatnya masih bersandar di dinding, menungguku. Dia menoleh begitu aku selesai menutup kembali pintu kamarku. Tangannya bergerak hendak meraih bantal guling yang kubawa.
Aku dengan cepat menghindarkan bantal guling itu dari jangkauan tangannya. "Aku akan ganti dulu alasnya. Kakak pasti.."
"Gak perlu."
"Tapi ini bekas aku pake."
"Gak apa-apa." Dia tersenyum kecil padaku lalu kembali berusaha meraih perlengkapan tidurnya dari tanganku. Ketika dia hendak membuka pintu kamarnya, gerakannya mendadak terhenti. "Good night, Jessica."
Ugh, well.. Harus kuakui ucapannya barusan membuatku sedikit ge er. Ini kali pertama dia memanggil namaku dengan senyum tulus seperti itu. Seolah mengisyaratkan bahwa ia memang menginginkan aku benar-benar mendapatkan malam yang menyenangkan. Tidak sekedar berbasa-basi. Kurasa memiliki kakak tidaklah buruk. Setidaknya aku tidak akan merasa kesepian setiap kali berada dirumah. Dan jika aku beruntung, aku bisa merasakan kasih sayang tulus dari keluarga baruku nanti. Yah, aku kan anak tunggal dan selama lebih dari 10 tahun, aku hanya hidup berdua dengan Mama. Rumahku terlalu besar untuk ditempati bertiga dengan Bude. Tapi sepertinya situasi ini akan berubah dengan kehadiran Papa dan kedua kakak tiriku. Aku tidak sabar untuk menanti hari dimana rumahku ramai oleh suara-suara candaan kami. Papaku di surga pasti akan bahagia melihatnya.
***
Aku baru saja keluar dari pintu ketika kulihat pagi ini Rev sedang melakukan pemanasan di halaman depan rumah. Ini baru pukul 5 lebih sedikit, tapi Rev sudah berdiri di depanku dengan kaus tanpa lengan dan celana selutut. Aku bisa melihat dengan jelas tatto di lengan kanannya. Kemarin saat bertemu dengannya, Rev mengenakan kemeja lengan panjang yang menutupi lengannya sehingga aku tidak mengetahui bahwa ia memiliki tatto yang cukup keren di kedua lengannya. Kupikir, selain menindik telinganya dan memakaikannya dengan anting-anting berwarna hitam, tidak ada yang spesial lagi dari penampilan 'nyentrik' kakakku itu.
Rev menghentikan aktivitasnya begitu menyadari kehadiranku. Sepertinya dia juga cukup terkejut melihat aku sudah bangun sepagi ini. Setelah menyapaku dengan sebuah senyuman, Rev kembali melanjutkan kegiatannya. Ia kini sit up di atas rumput-rumput jepang yang masih berembun.
Aku berdiri disampingnya dan ikut memulai pemanasan. Aku memang tidak terlalu rutin berolahraga pagi. Tapi karena pagi ini aku harus bertemu dengan Dekan di kampus dan tidak ingin terlambat, aku sengaja tidak kembali memejamkan mataku ketika mendadak terbangun subuh tadi. Sambil menunggu waktu untuk mandi dan bersiap-siap ke kampus, aku dengan sengaja menyempatkan diri untuk jogging sebentar. Aku tidak mengira jika Rev sudah lebih dulu mencuri start dariku.
"Kakak selalu rutin olahraga pagi?" Aku bertanya padanya setelah meregangkan otot-otot leherku.
"Ya, selalu," jawabnya di sela-sela melakukan sit up. Tidak lama kemudian, tubuhnya berputar dan kini melakukan push up.
"Kakak mau jogging bareng aku?" Aku menatapnya setelah selesai melakukan pemanasan. Kulihat kali ini ia melakukan back up. Pantas saja tubuhnya cukup bagus. Sepertinya dia selalu rutin melakukan hal ini setiap hari. Biar kutebak, di rumahnya yang di Bandung, pasti setidaknya ada barbel seberat 8 kilogram untuk melatih otot-otot bisepnya itu.
"Kamu mau jogging?" tanyanya setelah menyelesaikan back up nya. Ia bangkit berdiri dengan nafas sedikit memburu.
"Memangnya kenapa lagi aku bangun sepagi ini dengan pakaian seperti ini," kulirik tubuhku yang kini hanya mengenakan kaos olahraga tanpa lengan berwarna biru dan celana pendek sebatas paha.
"Kupikir mau aerobik atau yoga."
"Aku lagi pengen jogging Kak. Sekalian aku ajak muter-muterin komplek. Biar Kakak hapal daerah sini."
"Ya udah, jawabnya setelah berpikir sejenak. Ia lalu bergerak membukakan pintu pagar untukku kemudian kembali menutupnya setelah kami berada di luar. Aku bisa melihat dengan jelas otot-otot lengannya setiap kali ia menggeser pagar rumahku yang cukup tebal itu. Oke, lagi-lagi satu nilai plus untuknya. Rev sungguh punya manner yang amat baik!
Selama jogging, Rev hanya berlari disisiku dalam diam. Sesekali kami berpapasan dengan para tetangga yang cukup mengenalku dengan baik. Aku juga sesekali memberitahunya beberapa lokasi mini market terdekat dan susunan blok-blok di komplek rumahku yang memang sedikit agak rumit. Selama aku berbicara, Rev hanya merespon dengan menganggukkan wajahnya atau berkata 'oh' saja.
Aku membawa Rev lari pagi mengelilingi taman di dekat komplek. Saat weekend, taman ini biasanya cukup ramai dengan para penghuni komplek yang melakukan senam bersama atau bersepeda. Di hari-hari kerja hanya ada beberapa saja yang jogging di sekitar taman. Setelah lari-lari kecil memutari taman, aku mengajak Rev kembali ke rumah. Sudah jam 6. Aku harus bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Tapi baru saja beberapa meter meninggalkan taman, Rev sudah berputar arah dan berlari memasuki sebuah warung kecil. Tidak lama, dia kembali sambil membawa sebotol air mineral.
"Ini, buat kamu." Diserahkannya botol minuman itu padaku.
Aku menerimanya dengan sedikit ragu. Ketika tanganku hendak membuka tutupnya, ia kembali meraih botol tersebut kemudian membukakan tutup botolnya untukku. Oke, lagi-lagi harus kuakui bahwa perhatian-perhatian kecilnya ini cukup membuat aku tersanjung. Rev menungguku menenggak minuman tersebut hingga tersisa setengahnya kemudian kembali meraih botol itu dari tanganku lalu menghabiskan isinya tanpa sisa. Tanpa mempedulikan reaksiku, matanya berkeliling mencari tong sampah terdekat dan melemparkan botol minuman yang kini kosong itu dengan sempurna ke dalamnya.
Meskipun perhatian, ternyata Rev memiliki kepekaan yang sangat minim. Kami baru saja melakukan indirect kiss tapi wajahnya terlihat biasa saja. Dia pasti sering melakukan hal ini dengan teman-teman perempuannya. Hal tersebut tidak berlaku bagiku. Maksudku, aku hanya berbagi saliva dengan orang-orang terdekatku saja. Misalnya Mama serta kedua sahabatku, Vera dan Rana.
Aku masih memikirkan indirect kiss yang dilakukannya, ralat, dicurinya di taman ketika tanpa sadar kami sudah tiba di depan rumah. Rev kembali bergerak menggeser pagar rumahku agar sedikit terbuka lalu membiarkanku masuk lebih dulu. Aroma tubuhnya yang penuh keringat sempat hinggap dihidungku ketika aku berjalan melewatinya. Tidak buruk dan sangat maskulin. Aku bahkan sempat mengira-ngira parfum apa yang tadi ia semprotkan ketubuhnya sebelum kami berangkat jogging. Jadi seperti ini rasanya punya kakak laki-laki. Rasanya cukup aneh namun tetap menyenangkan. Aku merasa aman dan terlindungi ketika bersamanya.
***
"Jadi, gimana pertemuan keluarga lo kemarin? Seperti apa kakak-kakak lo itu?" Rana langsung memberiku pertanyaan ketika kami menghabiskan makan siang di kantin kampus.
"Lancar. Ternyata mereka benar-benar kembar identik. Gue sampe bingung bedainnya," jawabku setelah menelan habis potongan lontong yang tadi berada di dalam mulutku.
"Cewek atau cowok?"
"Dua-duanya cowok. Blasteran. Yah, kebule-bulean gitu lah. Mungkin turunan dari nyokapnya." Aku kembali memasukkan potongan lontong ke dalam mulutku.
"Pasti cakep," celetuk Vera. Dia mengaduk-ngaduk kuah sop di depannya sambil sesekali membetulkan posisi kacamatanya.
"Banget," tekanku.
"Serius? Kenalin dong ke gue Jess!" Rana langsung menarik-narik lenganku dengan antusias. Rana memang sudah lebih dulu menuntaskan makan siangnya. Bagi Rana yang sedikit pemalas itu, hanya dua hal yang bisa ia tanggapi dengan cepat. Pertama makan, kedua ya masalah cowok.
"Ke rumah gue aja. Ada satu yang semalam nginap di rumah gue tuh."
"Menginap? Ya Allah Jess! Ada cowok bule yang nginep di rumah lo semalam dan elo gak ngabarin gue? Tega! Tau gitu gue langsung capcus kerumah lo kemarin malam."
"Haish.. Lebay lo Ran, hari ini kan masih bisa." Vera menatap Rana dengan wajah gemas. Aku sendiri tidak habis pikir mengapa Vera yang sedikit pendiam itu bisa tahan berada di dekat Rana. Selain suka usil, Rana itu juga agak cerewet.
"Nanti malam itu bule masih stand by di rumah lo kan? Gimana kalau nanti malam, gue sama Vera nginap lagi di rumah lo?" Wajah Rana terlihat penuh suka cita dan pengharapan.
"Gue gak bisa Ran, mau ngerjain tugas. Kalian lupa kalau tadi kita dikasih tugas sama Pak Syopian?"
Rana yang sedari tadi menatapku, kini berbalik memandang Vera. "Ve, tugas itu kan masih lama dikumpulnya. Masih minggu depan. Please deh.."
Vera menggeleng. "Gue tetap gak bisa. Kalian tahu kan, bukan sifat gue untuk ninggalin tugas lama-lama."
"Gak apa-apa kalau lo gak bisa. Gue sendirian aja. Boleh kan Jess?" Rana kembali memandangiku.
Aku hanya mengangguk menanggapi pertanyaannya sambil menikmati lontong sayurku yang kini hampir habis. Meskipun Rana selalu antusias terhadap hal yang berbau cowok, tapi sahabatku itu masih bisa mengontrol dirinya jika berhadapan langsung dengan para kaum adam itu. Dia selalu jaim dan berubah menjadi sangat manis. Jadi kupikir tidak apa-apa jika malam ini dia menginap dirumah. Toh Rev tidak akan merasa terganggu dengan kehadirannya.
"Thank you Jess!" serunya seraya memeluk bahuku dengan gembira. Hampir saja aku tersedak lontong sayur akibat perbuatannya barusan.
***