Jessica sudah berangkat kuliah ketika aku turun untuk sarapan. Aku sempat melihat Bude masih sibuk di dapur ketika aku menyelesaikan sarapanku. Bude menoleh sekilas begitu mendengar langkah kakiku mendekatinya.
"Sudah selesai sarapannya Mas?" tanya Bude begitu melihat aku bergerak ke wastafel untuk mencuci piring dan sendok bekas sarapanku. "Mau kemana Mas? Ganteng tenan dandanannya." Aku baru sadar bahwa kini Bude sedang memperhatikan penampilanku.
Aku melirik sekilas pada pakaianku kemudian tersenyum menanggapi komentarnya. "Mau jalan-jalan sama Mama Papa, Bude.."
"Bude kira mau jalan sama pacarnya." Bude terdiam sejenak. "Mas iki pacarnya wedok opo lanang tho?" tanyanya akhirnya. Wajahnya yang bingung mulai memandangiku menunggu jawaban dari pertanyaannya barusan. Tangannya yang tadi sibuk membersihkan bercak-bercak bumbu nasi goreng di dekat kompor langsung berhenti.
"Menurut Bude apa?" Aku balik bertanya.
"Dandanannya begini, ya pasti pacarnya Mas Revi perempuan," jawab Bude dengan polosnya. Lagi-lagi aku hanya tersenyum mendengarnya.
"Aku gak punya pacar Bude. Tapi kalau ada, ya pasti perempuan juga."
Bude mengangguk mendengar jawabanku. Mulutnya tidak banyak berkomentar tapi aku bisa melihat pikirannya menerawang memikirkan sesuatu. Dia pasti bingung dan merasa aneh melihat kondisiku. Mendapati Bude tidak ikut-ikutan mencibirku dan mau menerimaku saja sudah membuat aku cukup senang. Aku tidak menginginkan ia untuk mengerti bagaimana dan apa yang kurasakan serta yang kualami untuk bisa menjadi seperti ini.
"Bude, aku ke depan ya. Mau nungguin Papa sama Reka. Mereka bilang lagi di jalan mau kesini."
"Ke depan mana Mas?" Pertanyaan Bude membuatku menahan langkahku yang hampir saja bergerak.
"Ke depan teras Bude. Sekaligus lihat-lihat yang lewat."
"Walah, sekalian cuci mata ya Mas? Itu anak tetangga blok sebelah ada yang cantik Mas. Terkenal sekomplek. Eh.." Bude mendadak berhenti berbicara.
"Kenapa Bude?"
"Maaf Bude salah. Non Jess jauh lebih cantik Mas." Bude mengangkat kedua jempolnya seolah memberikan penilaian. "Kalau anaknya tetangga blok sebelah cuma segini." Bude kini hanya mengangkat salah satu jempolnya.
"Wah, masa aku ngecengin anak tetangga yang cantiknya segini," jawabku sambil mengacungkan salah satu jempolku kearahnya. "Padahal aku punya adik yang cantiknya segini," kuangkat salah satu jempolku yang lain seperti yang Bude lakukan tadi.
"Iya juga yah Mas. Harusnya Mas Revi cari yang cantiknya minimal bisa menyaingi Non Jess. Kalau bisa lebih cantik," katanya menyetujui ucapanku. "Apalagi Mas Revi ganteng. Pasti banyak yang mau."
"Kalau Bude, mau gak sama aku?"
Bude yang kini telah melanjutkan pekerjaannya menjawab tanpa menoleh menatapku. "Kalau Bude masih muda, ya Bude pasti mau lah Mas. Siapa yang ndak suka. Biar begini, dulu waktu masih gadis, Bude ini kembang desa lho Mas."
"Meskipun aku ini perempuan?"
Mendengar pertanyaanku, Bude mendadak diam seketika. "Wah gimana ya Mas. Susah. Kalau dari luar sih, semua perempuan juga gak akan nolak dideketin sama Mas Revi. Tapi kalau untuk lebih serius dan sampai menikah.. Rasanya sulit Mas. Maaf ya Mas. Bukannya Bude bermaksud untuk ngejelekin penampilannya Mas Revi. Tapi dimana-mana yang asli lebih mantap Mas." Bude berbalik kemudian menatapku dengan wajah tidak enak. "Maksud Bude, yang dibawah itu lho Mas." Bude kemudian melirik ke bagian bawah perutku, di antara s**********n. "Perempuan normal pasti maunya yang batangan Mas kalau di ranjang."
Aku kontan tertawa melihat ekspresi dan jawaban Bude yang blak-blakan itu. Aku belum pernah bertemu dengan seseorang yang berani dengan terang-terangan menyuarakan pendapatnya mengenai diriku di hadapanku sendiri. Baru kali ini ada seseorang yang mengatakan hal demikian di depanku tanpa merasa sungkan atau takut akan reaksiku nantinya.
Aku masih ingin berbincang-bincang dengan Bude ketika suara klakson mobil terdengar dari halaman depan. Aku dan Bude langsung menoleh ke sumber suara.
"Itu pasti Papa sama Reka, Bude. Aku lihat dulu ya." Setelah mendapat anggukan dari Bude, aku bergegas menuju ke teras. Benar dugaanku, mobil Papa sudah terparkir dengan manis di halaman. Aku bisa melihat Papa turun dari kursi penumpang kemudian tersenyum begitu melihat kehadiranku.
"Gimana malam pertama kamu di rumah baru kita Rev?" tanya Papa dengan ekspresi jenaka. Setelah mencium dahiku, ditepuknya pundakku lalu mengajakku untuk masuk ke dalam rumah. Aku sempat melirik Reka yang turun dari kursi kemudi dan menyapaku dengan cengiran khasnya.
"Mas, Rekas.. Kalian sudah datang?" Mama keluar dari kamar dengan khaftan serba birunya.Dia terlihat manis dengan pakaian itu. Aku sempat melihat Papa terpana sejenak memandanginya. Setelah memberi pelukan hangat pada Reka, Mama kembali berkata, "kalian sudah sarapan? Sarapan dulu yuk sebelum berangkat." Mama lalu menggiring kedua laki-laki itu menuju meja makan.
Aku sengaja membiarkan ketiganya mengobrol di meja makan sementara aku menghabiskan waktuku menonton berita di ruang santai. Sesekali aku membuka website kantorku dan melihat komentar-komentar yang masuk di buku tamu. Sudah seharusnya aku mengurus keperluan kepindahanku dari kantor sejak dini. Agency model tempatku bekerja kebetulan memiliki kantor pusat di Jakarta. Meskipun sedikit sulit, sepertinya aku bisa membujuk atasanku untuk merekomendasikanku pindah ke kantor pusat.
Setelah membuka website kantor, aku iseng mengecek beberapa akun sosialku seperti i********: dan path. Aku sempat terkejut melihat permintaan pertemanan dari Jessica di kedua akun tersebut. Aku memang sengaja memproteksi akun-akun sosialku. Alasannya sederhana. Aku tidak ingin banyak spammer dan haters bertebaran disana. Setelah mengkonfirmasi permintaan pertemanan dan following dari kedua akun itu, aku membuka twitterku. Aku sudah lama tidak menggunakannya. Aku hanya sesekali membukanya untuk mengecek tweet-tweet yang muncul dari akun-akun idolaku. Tidak hanya i********: dan path, ternyata Jessica juga mengikutiku di twitter. Aku tidak tahu sejak kapan adikku itu melakukannya. Namun hatiku sangat berbunga-bunga melihat responnya yang baik atas kehadiranku.
Aku akhirnya disibukkan dengan membaca tweet-tweet di akunnya Jessica. Tidak puas hanya membuka akun twitternya, aku juga iseng membuka akun path nya. Sepertinya Jessica cukup jarang membuat moment di path nya. Namun aku bisa melihat ratusan teman-teman path nya yang kebanyakan dari kalangan entertainment. Apakah semua orang-orang ini benar-benar temannya? Aku cukup sangsi melihat bagaimana Jessica ketika dirumah. Ia terlihat seperti gadis biasa.
"Oi!" sebuah hentakan yang cukup keras mendarat di kedua bahuku. Aku menoleh kaget lalu melotot kesal begitu melihat Reka sudah berdiri di belakang kursiku dengan senyum jahilnya. "Serius banget mainin hapenya," celetuknya lalu duduk dengan santai disampingku.
"Udah selesai sarapannya? Udah mau berangkat?"
Reka mengangguk mengiyakan. "Iya sebentar lagi. Mama lagi siapain bekal makan siang buat kita nanti disana."
"Kita kan bisa beli buat makan siang."
Reka mengangkat bahu menanggapi komentarku. "Gue juga udah bilang begitu. Tapi Mama mau masak sendiri buat kita. Sekalian piknik katanya."
"Piknik di ragunan?" ulangku.
"Memangnya kenapa kalau di ragunan?" Tahu-tahu Papa sudah berdiri di belakang kami dengan alis berkerut. Ia kemudian ikut duduk bersamaku dan Reka. "Kenapa kalau di ragunan?" tanyanya lagi.
"Errr.. Gak apa-apa." Aku sedikit tersudut di kursiku. Ya, memang tidak ada salahnya piknik di ragunan. Tapi aku sudah 26 tahun. Manusia dewasa mana yang menghabiskan liburannya dengan piknik bersama keluarga di kebun binatang. Meskipun kekanakan dan terdengar cukup menyenangkan tapi tetap saja aku sedikit malu. Aku melirik jengkel Reka yang kini melihatku dengan geli.
"Mas, yuk berangkat." Mama sudah menghampiri kami dengan menjinjing kotak bekal makanan. Ya ya ya, sepertinya rencana piknik ini benar-benar serius dan tidak bercanda. Aku bisa menebak pasti Papa yang mengusulkan ide untuk berkunjung ke kebun binatang. Sejak dulu Papa selalu terobsesi dengan tempat itu. Aku tidak tahu hal menarik apa yang membuat Papa selalu ingin kesana. Aku bukanlah seorang pecinta binatang layaknya Papa dan Reka.
Aku bangkit berdiri kemudian meraih bekal makanan yang dibawa Mama. "Biar aku yang bawa Ma," kataku setelah melihat Mama menatapku dengan wajah bingung. Mama akhirnya membiarkan saja ketika tanganku sudah mengambil alih persediaan makan siang kami dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Setelah berpamitan pada Bude dan Abang Bonar, tukang kebun yang baru saja datang, Mama dan Papa akhirnya mengajakku dan Reka untuk segera berangkat. Reka sengaja menawarkan dirinya untuk mengemudi sementara aku duduk menemaninya di samping. Selama di perjalanan, Mama banyak bertanya mengenai aku dan Reka. Pekerjaan kami, kehidupan masa kecil kami, apa-apa yang kami sukai sampai pandangan kami mengenai masa depan yang akan kami jalani. Aku sempat bingung menjawab masa depan apa yang akan kujalani nanti. Aku hanya ingin menjalani hidupku tanpa harus terikat pada sebuah pernikahan. Lagipula, mengingat kondisiku, aku tidak mungkin menikah. Aku mungkin akan hidup bersama dengan seseorang yang kucintai dan mencintaiku hingga ajal menjemput kami tanpa terikat dalam suatu ikatan pernikahan. Mungkin sesuatu yang sederhana seperti itu.
Kami tiba di ragunan terlalu pagi. Suasana masih cukup sepi sehingga kami bisa dengan leluasa berkeliling tanpa gangguan dari pengunjung lainnya. Aku bisa merasakan Papa dan Reka sangat bersemangat begitu melihat binatang-binatang penghuni ragunan. Reka bahkan memberanikan diri untuk menyentuh seekor ular yang panjangnya hampir dua kali dari tinggi tubuhnya. Dia bahkan membiarkan saja ular itu melilit tubuhnya. Aku hanya bisa bergidik melihat wajah Reka yang justru terlihat senang. Reka sempat menawariku untuk mencobanya yang segera kutolak mentah-mentah. Bukannya aku takut. Aku hanya sedikit jijik jika harus bersentuhan dengan binatang-binatang itu. Rasanya aneh ketika tanganku merasakan bulu-bulu halus atau kulit licin mengkilap hewan-hewan itu.
Jika ada yang bertanya binatang apa yang paling menarik perhatianku, mungkin aku akan cukup sulit menjawabnya. Aku tidak menyukai salah satu di antara mereka meskipun ada beberapa teman kuliahku dulu yang sempat memelihara kucing dan anjing. Reka bahkan pernah memelihara sepasang hamster yang akhirnya mati di gigit kucing tetangga karena ia lupa mengunci kandang hamsternya. Papa juga pernah memelihara beberapa ekor burung yang selalu berbunyi nyaring di rumah kami di Bandung. Pada akhirnya burung-burung itu pun kabur dari sangkarnya karena kurangnya pengawasan Papa setiap kali ia hendak memberi mereka makan atau memandikannya.
Reka masih sibuk menikmati usapannya pada tubuh sang ular ketika tiba-tiba saja ada seekor orang utan muncul dari balik dahan pohon dan dengan isengnya mengambil kacamata hitam milik Reka yang bertengger dengan manis di atas hidungnya.
"Oaaahhh!!" Reka berseru kaget sambil melihat sang orang utan yang kini sudah berlari menjauh darinya. Tubuhnya hampir saja tersungkur jika seorang pawang ular tidak cepat menahannya dan mengingatkannya bahwa ia bisa saja membuat takut ular yang masih melilit ditubuhnya itu.
Sejak kecil Reka memang paling takut dengan binatang satu itu. Dibandingkan dengan ular berbisa yang melilit tubuhnya dan bisa menggigitnya setiap saat, Reka lebih takut pada si orang utan yang baru saja dengan nakalnya merampas kacamatanya.
"Wah kacamata kesayangan saya tuh Mas!" seru Reka pada si pawang.
"Tenang saja Mas. Pasti nanti dibalikin. Dewi cuma ingin ngajak Mas main aja. Dia memang begitu sama pengunjung. Suka cari perhatian," jawab si pawang menyebut si orang utan dengan nama Dewi.
Papa yang melihat Reka masih dengan wajah ketakutan hanya bisa tertawa di samping Mama.
"Kapan dibalikinnya Mas? Gak bakal dia jilat-jilat kan kacamata saya?"
Si pawang yang rupanya menyadari ketakutan di wajah Reka kembali menjawab, "enggak Mas. Paling cuma di cium-ciumin aja sama dipakai."
Reka semakin menunjukkan ekspresi ngeri bercampur cemas. Setelah melepaskan tubuhnya dari lilitan sang ular, Reka kembali menghampiri pawang tersebut. "Mas, tolong minta baik-baik dong dengan si Dewi. Itu kacamata kesayangan saya Mas."
"Wah gak bisa Mas. Harus Mas nya sendiri yang minta sama si Dewi. Dia termasuk bandel Mas. Dia maunya diajak main dulu baru mau balikin barang yang diambilnya." Pawang tersebut tersenyum melihat wajah Reka yang semakin memucat mendengar jawaban darinya. Sementara Papa makin meledak tawanya. Aku dan Papa memang jarang sekali melihat ekspresi ketakutan di wajah Reka. Ia selalu menghias wajahnya dengan cengiran iseng yang menjengkelkan kami. Sepertinya kali ini Reka kena batunya.
"Kamu ajak main dulu tuh Rek Dewinya. Mungkin setelah itu dia bakal naksir sama kamu," saran Papa sambil menahan tawanya.
Ucapan Papa semakin membuat Reka bergidik ngeri. "Aku gak mau! Papa aja yang ajak dia main terus ambilin kacamata aku."
"Dia maunya main sama kamu lho Rek." Papa semakin menggodanya. Papa kemudian berpaling menatap si pawang. "Mas, tolong Dewinya di panggil."
"Aku gak mau." Reka perlahan mundur dari tempatnya berdiri. Aku bisa melihat tubuhnya gemetar ketakutan. Aku jadi kasihan melihatnya dikerjai seperti itu.
"Itu si Dewi," tunjuk sang pawang ke suatu arah sehingga mau tidak mau membuat Reka terlonjak dan langsung berlari ke balik punggungku. "Rev! Usir Rev orang utannya! Usir!! Cepet!" teriaknya ketakutan dari balik punggungku. Kepalanya ditundukkan kebalik punggungku seolah tidak ingin melihat wajah sang orang utan itu dari dekat.
"Gak ada orang utannya Rek. Lo cuma dikerjain sama Papa dan Mas pawang ini," beritahuku sambil berusaha melepaskan diri darinya.
"Lo pasti bohong. Lo mau buat gue teriak-teriak ketakutan kan?" jawabnya dari balik punggungku. "Cepetan usir! Lo tau kan gue anti banget sama orang utan!"
Aku mendesah frustasi melihat tingkahnya yang mulai kekanakan dan manja ini. "Bukan gue yang bohong. Lo intip aja kalau gak percaya."
Dengan takut-takut, Reka mengintip dari balik punggungku.
"Gak ada kan?" kataku jengkel.
Aku bisa merasakan Reka menghela nafas dari balik punggungku. Seolah tersadar, dia kembali memperbaiki sikapnya seperti biasa. "Mas, kacamata saya tolong nanti dikembalikan ya," katanya kepada sang pawang lalu melenggang pergi menjauhi kami seolah tidak terjadi apa-apa barusan. Papa dan pawang itu hanya tersenyum geli melihat kelakuan kembaranku. Aku tahu Reka merasa malu karena tidak bisa menguasai rasa takutnya sehingga ia berpura-pura seolah tidak ada hal yang terjadi.
Matahari sudah tepat berada di atas kepala ketika kami akhirnya mengakhiri tur mengelilingi kebun binatang. Papa akhirnya mengajak kami untuk mencari lokasi yang nyaman untuk menikmati bekal makanan yang kami bawa dari rumah. Setelah menemukan tempat yang teduh di dekat kandang Jerapah, aku dan Reka akhirnya menggelar alas untuk tempat duduk yang memang sudah kami bawa dari rumah. Sementara Mama masih sibuk membuka-buka beberapa kotak berisi makanan yang disiapkannya tadi pagi.
Mungkin karena suasana yang teduh dan benar-benar terkesan alami, aku cukup lahap menikmati makan siang yang sudah disiapkan Mama. Rasanya sungguh nikmat bisa piknik di alam terbuka bersama keluarga. Ini pengalaman pertama bagiku. Biasanya aku lebih sering piknik di pantai bersama keluarga besar Papa. Tentu saja suasananya cukup berbeda. Lauk pauk yang kusantap terasa semakin nikmat saat aku mengunyahnya. Mungkin karena atmosfer yang diberikan oleh alam di sekelilingku membuat aku sedikit rileks dalam menikmati makan siangku.
Seusai makan siang, kami duduk-duduk sembari melanjutkan obrolan di mobil tadi. Mama banyak bertanya padaku dan Reka. Mungkin karena ia ingin mengenal lebih dekat sosok kedua anak tirinya. Karena seringnya mengobrol, lama kelamaan sikap kikukku padanya mulai mencair. Pada dasarnya Mama adalah wanita modern yang sangat hangat. Tidak sulit baginya untuk mengambil hatiku dan Reka. Reka bahkan berulangkali memujinya karena pembawaannya yang tenang.
"Sudah hampir sore. Kita pulang sekarang ya. Papa gak mau Jess nunggu kita dengan kesal." Papa berbicara setelah melirik jam tangannya. Reka dan Mama yang saat itu masih sibuk mengobrol langsung berhenti. Mereka sama-sama ikut memperhatikan arlojinya masing-masing.
Tanpa disuruh, tanganku sudah bergerak membereskan sisa makan siang kami. Mama ikut membantuku membereskan piring dan gelas yang masih kotor dan memasukkannya kembali ke dalam kantong plastik. Setelah membereskan tempat piknik kami, kami kembali ke parkiran sambil menenteng sisa makan siang dan alas duduk. Aku sempat memelototi Reka yang dengan cueknya melemparkan senyum ke para gadis yang melirik kami. Saudara kembarku itu memang bukanlah seorang perayu perempuan, tapi sikapnya yang kelewat ramah membuatnya terlihat seperti seorang playboy. Aku sempat memukul punggungnya dengan kesal ketika ia hampir saja melepaskan gulungan karpet yang dibawanya.
Selama di perjalanan pulang, Reka tidak henti-hentinya mengulas kembali kenangannya bersama ular yang tadi sempat melilit tubuhnya. Reka bahkan memberi ular tersebut nama khusus. Reksa. Kuharap saudara kembarku itu sedang tidak kehilangan sisi warasnya. Papa bahkan menanggapi ucapannya dengan cukup serius. Untungnya Mama tidak ikut sama anehnya dengan kedua laki-laki itu. Jika ya, maka aku akan menceburkan diriku ke rawa-rawa mengikuti kemana Hayati pergi.
"Harusnya lo senang karena gue akhirnya ambil cuti hari ini untuk bisa piknik seperti ini sama lo Rev." Reka yang menyadari kejengkelanku akhirnya berkomentar. "Kerjaan gue banyak lho di kantor."
"Kalian berdua itu sama aja. Kalau gak dipaksa gak bakal mau ninggalin kerjaan," celetuk Papa dari bangku belakang. "Kalian harus sering-sering luangin waktu seperti ini. Papa gak mau setiap weekend nanti kalian sibuk kerja."
"Siap Bos!" sahut Reka sambil mengemudi.
"Kamu juga Rev. Jangan keseringan ke luar negeri terus. Dalam satu bulan bisa dua sampai tiga kali. Passport kamu lebih penuh daripada passport Papa. Sudah kaya anak pejabat aja kamu." Papa kini menasehatiku dengan suara pelan.
"Pa, aku kan kesana buat kerja," bantahku halus.
Reka terkekeh geli dari kursi kemudi. "Papa iri sama lo tuh Rev. Karena lo lebih sering travelling ke luar negeri dibandingin dia."
"Papa gak iri," elaknya. Ia kemudian tidak berkata-kata kembali. Hanya saja matanya menatapku dari spion tengah.
Setelah hampir satu jam, mobil yang dikemudikan Reka akhirnya tiba dirumah. Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, Reka membantuku untuk membawa turun barang-barang sisa piknik kami dari dalam bagasi. Abang Bonar sempat ikut membantu kami membawa barang-barang itu ke dalam rumah. Aku sempat melihat Mama hendak membantu kami. Namun tanganku dengan cepat mencegahnya dan menyuruhnya untuk beristirahat saja di dalam rumah.
"Mama seperti punya dua orang anak laki-laki." begitulah yang diucapkannya ketika aku memintanya untuk tidak membantuku dan Reka. Mungkin karena terbiasa hidup berdua saja dengan Jessica, Mama jadi terbiasa melakukan pekerjaan-pekerjaan sendiri. Meskipun kehadiran Abang Bonar cukup membantu, namun sepertinya tenaga Abang Bonar sendiri tidaklah cukup untuk mengurus semua pekerjaan di rumah ini. Sementara Papa memang bukanlah tipe orang yang mau bersusah payah mengeluarkan keringat untuk pekerjaan-pekerjaan berat seperti ini. Jika dilihatnya aku dan Reka cukup bisa untuk mengatasinya, maka Papa tidak akan turun tangan.
Sesungguhnya aku bukanlah tipe orang yang cukup bertanggung jawab dengan berbagai pekerjaan semacam ini. Sama seperti Papa, jika ada orang yang bisa melakukannya, maka aku enggan untuk membuang tenagaku untuk ikut membantu. Namun, di situasi seperti ini dimana tidak ada laki-laki yang bisa diandalkan kecuali Reka dan Abang Bonar, tentu saja tenagaku cukup diperlukan. Aku tidak suka jika harus membiarkan pekerjaan berlama-lama dan hanya melihat tanpa melakukan apapun.
Setelah membereskan beberapa piring serta kotak sisa makan siang kami, aku berjalan menuju ruang santai dimana Papa dan Mama sudah menunggu. Aku melihat Reka juga sudah menyimpan kembali karpet yang dibawanya dan ikut bergabung bersama kami. Ia dengan sengaja duduk di sampingku lalu merangkul bahuku.
"Jadi, mana Jessica? Aku gak lihat dia." Reka menatap Mama dengan mata menyelidik. Aku tahu Reka sudah tidak sabar untuk menggoda adik tiri kami itu.
"Dia belum pulang. Mungkin sebentar lagi," jawab Mama yang seolah mengerti akan rasa penasaran Reka.
"Uhm.. Jadi mengenai pernikahan kalian.. Kapan dilaksanakan?" Aku akhirnya bertanya setelah sejak pagi tadi keduanya seakan tidak ingin membahas masalah itu.
Papa menoleh menatap Mama seolah meminta persetujuan darinya untuk memberitahuku dan Reka. Setelah mendapat anggukan kecil dari Mama, Papa kemudian menatapku dan Reka bergantian. "Sebenarnya acara itu sebentar lagi. Minggu depan."
Mungkin Papa mengira akan mendapatkan reaksi kaget dariku maupun Reka. Namun di luar dugaan, aku dan Reka hanya mengangguk mendengarnya.
"Jadi, cuma akad nikah aja?" Reka kini ganti bertanya.
"Ya, cuma keluarga kita yang akan di undang dan beberapa tetangga." Kali ini Mama yang menjawab. "Kami gak perlu resepsi yang mewah. Toh kita sudah sama-sama tua. Lebih baik uangnya di tabung untuk resepsi kalian nanti."
"Waaah, kalau aku sih masih lama nikahnya Ma." Reka nyengir dengan lebar sambil mengusap kepalanya yang berambut cepak. "Pacar aku belum siap kalau diajak nikah sekarang."
"Memangnya kamu sudah punya pacar? Kok gak cerita sama Mama. Siapa?"
Reka hanya tersipu mendengar pertanyaan Mama. "Namanya Jill Ma. Sekarang dia masih lanjutin S2 nya di Australi."
Aku memang pernah bertemu beberapa kali dengan Jill. Nama lengkapnya cukup keren. Allodia Jill Casseva. Sama seperti aku dan Reka, Jill juga memiliki darah Inggris dari ayahnya. Wajah Jill sangat cantik dengan paduan Indonesia-Inggris yang sempurna. Selain wajahnya, Jill juga memiliki kepribadian yang menarik. Wajar saja jika Reka sangat tertarik padanya. Aku sempat mendengar perjuangan Reka yang jatuh bangun demi mendapatkan hati gadis pujaannya itu. Dan meskipun sikap Reka terlihat seperti laki-laki b******k, sesungguhnya dia sangat setia pada Jill. Reka selalu menolak gadis-gadis yang mendekatinya. Ia hanya menganggap gadis-gadis itu sebagai teman biasa yang bisa ia ajak bercanda setiap kali sifat usilnya kumat.
"Kalau pacar kamu siapa Rev?" Pertanyaan Mama membuat jantungku mendadak mencelos. Papa yang duduk disampingnya melirikku sambil berusaha untuk tetap bersikap tenang.
"Kalau aku gak punya Ma," jawabku singkat.
Mama menatapku seolah mengerti apa yang tiba-tiba merisaukan hatiku. "Mama gak akan kaget kalau suatu hari nanti kamu bawa perempuan kesini dan kamu kenalkan sebagai pacar kamu Rev."
Ucapan Mama bagaikan angin segar untukku. Aku menatap matanya dalam-dalam seolah mencari kegurauan disana. Namun mata itu memberi isyarat bahwa ucapannya benar-benar serius. Sepanjang perjalanan asmaraku, tidak pernah satu kali pun aku mengenalkan pacarku kepada keluargaku. Aku tahu reaksi macam apa yang akan aku dapatkan nantinya. Tapi perkataan Mama barusan seolah memberi isyarat padaku bahwa ia tidak masalah dengan siapapun pilihanku. Papa yang biasanya terlihat gusar setiap kali membahas hal ini justru menunjukkan sikap biasa saja. Tidak membantah ucapan Mama.
Saat kami tengah berbincang hangat, tiba-tiba saja terdengar sapaan dari arah ruang tamu. "Sore Om, Tante.."
Aku menoleh kaget ke asal suara dan mendapati Jessica tengah berdiri tak jauh dari kami bersama kedua gadis asing yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Seorang diantaranya memiliki postur tubuh layaknya seorang model dengan rambut yang lurus panjang berwarna kecoklatan. Aku memperhatikan kehadirannya pertama kali sebab gadis ini memancarkan aura dingin yang aneh. Wajahnya sangat cantik namun itu tidak cukup membuat hatiku bergetar seperti saat pertama kali bertemu dengan Jessica. Gadis kedua sedikit lebih pendek dengan rambut hitam bergelombang. Matanya yang bulat dan bibirnya yang tipis seolah mengisyaratkan bahwa ia lebih sering berbicara daripada berpikir. Wajahnya juga tidak kalah cantik.
"Hello little sister!" Reka menyapa Jessica dengan suara tidak kalah nyaring dari suara sapaan yang kami dengar tadi. Aku tahu Reka cukup senang melihat kemunculan adik tiri kami. Terlebih lagi Jessica membawa kedua orang teman perempuannya yang cantik.
"Sudah pulang Jess?" Mama langsung berdiri menyambut kehadiran Jessica. Setelah memberi pelukan singkat pada Jessica dan kedua temannya, Mama menyapa salah satu temannya Jessica yang lebih pendek dari lainnya seolah sudah lama saling mengenal.
"Rana betah di rumah kita Ma." Aku bisa mendengar Jessica menimpali sapaan dari Mama dengan sebuah sindiran halus pada salah satu temannya itu.
"Kalau ini siapa? Rasanya Mama baru pertama kali melihat dia. Cantiknya.. Kamu teman kuliah Jess juga?" sapa Mama ke salah satu gadis yang lainnya.
Aku tidak bisa dengan jelas mendengar ucapan mereka sebab Reka kini mulai berbisik ditelingaku. Mengganggu konsentrasi. "Cewek yang kaya model itu dari tadi ngelihatin kita dengan aneh. Lo ngerasa gak?" bisik Reka.
Tidak ada gunanya mengingkari. Sebagai saudara kembar, perasaanku dan perasaan Reka seolah terhubung. Firasat kami hampir selalu sama jika menilai seseorang. Dan dugaan Reka kali ini tidak jauh berbeda dengan apa yang kurasakan tadi. Aura dingin yang dipancarkan gadis itu cukup membuat nyaliku sedikit ciut.
"Hemm," kujawab pertanyaan Reka dengan gumaman singkat.
"Mas Andre, Rev, Rek. Sini sebentar.. Ada teman-temannya Jess yang datang ke rumah," panggil Mama kepada kami bertiga. Aku bisa mendengar Reka bersiul kecil sebelum akhirnya bangkit lebih dulu.
"Kenalin, ini teman-temanku. Rana dan Jani." Jessica menunjuk ke kedua temannya yang lebih pendek kemudian yang seperti model itu bergantian.
Papa maju lebih dulu kemudian mengulurkan tangannya mengajak keduanya untuk bersalaman. "Apa kabar? Saya Andrean Ivandra, calon Papanya Jessica," sapa Papa kepada kedua tamu adik tiriku itu. "Om tidak mengira kalau Jess punya teman yang cantik-cantik. Rekas pasti betah di rumah kalau setiap hari kalian main kesini." Ucapan Papa tentu saja membuat kembaranku itu jengah. Reka memang terkenal suka menggoda anak perempuan sejak kecil.
"Ah Papa berisik nih. Ntar mereka jadi takut sama aku," celetuk Reka. Benar kan dugaanku. Kembaranku pasti tidak terima disudutkan di depan kedua gadis cantik ini. "Gue Rekas Ivandra. Rek for short." Reka lalu mengulurkan tangannya untuk menyalami kedua gadis itu secara bergantian. "Kalau yang ini kembaran gue, Revian Ivandra." Reka memukul punggungku membuatku hampir saja tersungkur ke depan. Kupandangi ia dengan tatapan jengkel.
Aku tersenyum menatap kedua gadis itu kemudian mengulurkan tanganku pada gadis yang bernama Rana. "Hei, gue Rev." Aku bisa merasakan tangan Rana sedikit bergetar menyambut uluran tanganku. Mungkinkah gadis ini sama groginya denganku? Aku membuang jauh-jauh pikiran tersebut kemudian kembali mengulurkan tanganku untuk bersalaman dengan Jani. "Hei, gue Rev." Berbeda dengan Rana, sentuhan tangan Jani sedikit lebih rileks dan sedikit mantap. Sepertinya ia sudah sering bersalaman dengan orang-orang baru sehingga terlihat cukup percaya diri.
Suasana sempat hening beberapa detik sebelum akhirnya Jessica memecah kesunyian yang melanda. "Gimana tadi jalan-jalannya? Apa ada kejadian yang menarik?"
Aku melirik Papa yang kini tersenyum lebar. "Kalau kamu tadi ikut, kamu pasti ikut ketawa ngelihatnya." Papa sepertinya hendak menceritakan kejadian konyol siang tadi antara Reka dan Dewi. "Tadi Reka.."
Reka serta merta memukul lengan Papa dengan ujung sikunya. "Cerita begitu jangan dikasih tahu ke cewek-cewek ini dong Pa. Aku kan malu."
Papa hanya terkekeh geli melihatnya. "Habis kamu seperti perempuan. Masa kalah sama Revi."
"Sudah ah. Kalian ribut terus. Rana sama Jani pasti kecapekan dari tadi belum kita persilahkan duduk." Akhirnya Mama menengahi kedua laki-laki ajaib itu lalu menarik lengan Papa untuk kembali duduk di sofa. Aku melihat wajah Mama sudah memberikan isyarat pada Papa untuk segera menyudahi sindirannya pada Reka. Jika Papa melanjutkannya, aku yakin kedua teman Jessica tidak akan bisa duduk dengan tenang selama 30 menit ke depan.
Sepeninggal Papa dan Mama, Reka bergerak semakin mendekati kedua gadis itu dan menampilkan senyum menggodanya. "Jangan dengerin apa kata bokap gue. Dia memang suka begitu."
"Iya gak apa-apa." Gadis yang bernama Rana merespon ucapannya. "Oh iya.. Ini ada sedikit bingkisan." Gadis itu lalu menyerahkan bungkusan plastik yang sedari tadi dibawanya.
"Buat gue?" tanya Reka antusias. Ia lalu memeriksa isi bungkusan itu kemudian langsung terbelalak melihat isinya. Kue tart dengan taburan keju kesukaannya serta di beli dari toko kue favoritnya.
"Bukaan. Buat calon mertua." Rana menjawab dengan spontan. Matanya yang bulat sibuk memperhatikan reaksi Reka dengan seksama ketika menerima kue darinya.
Reka tertawa mendengar jawaban Rana barusan. Aku baru tahu jika ada tipe perempuan seperti ini di dunia. Perkiraanku tidak meleset. Dia lebih banyak menggunakan bibirnya daripada otaknya.
"Calon mertua?" tanya Reka menggoda.
"Ah!" Gadis itu sepertinya tersadar bahwa ia sudah salah bicara. "Maksud gue buat Tante!" serunya dengan wajah memerah. Aku sempat melihat Jessica menghela nafas melihat kelakuan temannya. Aku cukup penasaran bagaimana Jessica bisa berteman dengan gadis unik seperti Rana.
"Jadi kalian berdua ini saudaranya Jessica?" Tiba-tiba saja Jani sudah menunjukku dan Reka dengan salah satu jarinya. Matanya menatap tajam aku dan Reka secara bergantian.
Reka menatap Jani dengan sorot aneh. Aku tahu apa yang dipikirkan Reka. Kami kembar. Dan kami sama-sama merasa tidak nyaman dengan tatapan mata itu. "Iya.." Kulihat Reka berusaha bersikap biasa saja di depan Jani. "Lebih tepatnya calon kakak tirinya Jess."
"Kalian.. Kembar?" tanya gadis itu lagi. Kali ini dia memandangiku dan Reka bergantian.
"Yap." Reka lalu merangkul bahuku dengan lengannya yang berotot. Dengan sekali gerakan, ia menarik bahuku kearahnya. "What do you think? Siapa yang paling cakep di antara kami berdua?"
Aku bisa melihat Jani memperhatikan wajah kami sekali lagi sebelum akhirnya menjawab. "Menurut gue, elo." Kukira akan membutuhkan waktu cukup lama baginya untuk berpikir mengingat wajahku dan Reka sama. Kami kembar identik. Tentu saja sulit menentukan siapa yang lebih tampan. Tapi pilihannya justru jatuh pada Reka.
"Enggak. Rev lebih punya.." Tiba-tiba saja Rana, yang selalu menggunakan bibirnya lebih dulu daripada otaknya ikut memberikan penilaian. Kutatap wajah gadis itu mencoba untuk melihat apakah kali ini ia menggunakan otaknya lebih dulu daripada bibirnya.
Aku bisa merasakan Reka melirikku sambil tersenyum. "Wah. Kita satu sama nih Rev. Jawaban dari Jess penentu kemenangannya." Reka lalu berpaling menatap adik tiri kami yang kini mulai terlihat bingung. "Jadi menurut lo siapa yang lebih cakep di antara kami berdua Jess?"
Wajah Jessica semakin terlihat bingung. Berkali-kali matanya bergantian memandangiku dan Reka. Namun dari sudut manapun ia melihatnya, aku tahu ia tidak akan menemukan secuil pun perbedaan di antara kami sehingga membuat sosok kami terlihat lebih tampan dari yang lainnya. Jessica semakin ragu. Apalagi kedua temannya seakan memintanya untuk mengikuti jawaban mereka masing-masing. Sebenarnya aku sedikit penasaran juga dengan jawaban yang akan diberikan Jessica. Setidaknya aku akan tahu seperti apa posisiku dalam pikirannya.
"Uhm.." Kulihat Jessica mulai bersuara. "Karena kemarin gue seharian sama Rev terus, jadi.."
Aku hampir saja tidak dapat menahan bibirku untuk menyunggingkan senyum penuh kebahagian di depan ketiga gadis ini. Jessica lebih memilihku. Meskipun alasannya hanya karena ia lebih mengenalku daripada Reka namun itu cukup membuat poinku sedikit lebih banyak daripada poin Reka. Aku bisa merasakan Reka yang berdiri disisiku sedikit jengkel mendengar jawaban Jessica.
"Wah, adik kita curang nih Rev." Reka sudah lebih dulu memotong ucapan Jessica. Wajahnya langsung berubah sedih. "Masa karena lo nginap dirumahnya dia jadi lebih milih lo daripada gue."
"Maksudku bukan begitu Kak." Jessica mulai terlihat tidak enak.
"Sayang banget malam ini gue harus balik ke kosan. Gue pasti dengan senang hati temenin kalian ngobrol sampai pagi dan penilaian kalian tentang gue pasti akan berubah."
Yang benar saja! Aku menautkan kedua alisku mendengar ucapan Reka barusan. Jika ketiga gadis ini berada lebih lama bersama Reka, aku bisa menjamin bahwa ketiganya akan bergidik ngeri melihat tingkah Reka yang aneh-aneh. "Lo justru akan buat mereka semakin takut," kataku akhirnya.
Reka langsung mengalungkan lengannya dileherku. "Bilang aja kalau lo senang karena gue gak ada. Iya kan?" Reka mengencangkan lengannya dileherku dan menjepitnya sehingga membuatku kesulitan bernafas. "Lo bisa dengan bebas ngobrol sama cewek-cewek ini." Reka kembali mengencangkan kunciannya.
Saudaraku itu memang suka bercanda seperti ini padaku. Biasanya jika ia sudah mulai mencekik leherku dengan otot lengannya, aku langsung mengeluarkan salah satu gerakan karate ku dan langsung membantingnya. Tapi aku sedikit tidak enak jika harus membuat Reka terlihat menyedihkan di depan para gadis ini.
"Lepas.." Kucengkeram lengan Reka berusaha untuk memintanya melepaskan secara baik-baik. Reka terlihat masih tidak ingin melepaskan lengannya dariku. "Lepas kalau gak elo gue banting di depan cewek-cewek ini." Aku mulai kesal padanya.
Ancamanku barusan langsung membuatnya tersadar. Meskipun tubuhnya sedikit lebih besar dariku, namun Reka tidak pernah bisa berkelit dari bantinganku. Reka langsung melepaskan lengannya dari leherku. Kuusap leherku sejenak berusaha menghilangkan rasa sakit akibat gesekan lengannya. Kutatap Reka yang kini hanya tersenyum melihatku dengan sorot marah. Kembaranku itu hanya mengacungkan kedua jarinya membentuk simbol peace. Awas saja dia nanti. Pasti akan kubalas.
"Kalau begitu aku ke kamar sebentar ya." Jessica tiba-tiba meminta izin pada kami. "Mau ganti baju," beritahunya ketika dilihatnya aku dan Reka menatapnya dengan pandangan penuh bertanya.
Berbeda denganku yang masih diam, Reka justru langsung menanggapi ucapan Jessica dengan anggukan. "Jangan lama-lama Jess. Setelah itu turun dan ngobrol sama kita disini. Rana sama Jani juga boleh ikut."
Setelah membalas ucapan Reka dengan anggukan yang sama, Jessica lantas bergerak menuju tangga meninggalkan kedua temannya bersama aku dan Reka. Aku sempat melihat Rana melirikku sekilas kemudian tersenyum kecil begitu dilihatnya aku menyadari lirikannya barusan.
"Kalian ikut duduk sama kita yuk sambil nungguin Jess selesai." Reka mengajak kedua tamu adik tiri kami itu untuk bergabung bersama Papa dan Mama.
"Umm.. Tapi apa kami gak mengganggu acara keluarganya?" Rana yang kupikir jarang menggunakan otaknya kali ini bisa berbicara sesuai dengan akal sehatnya.
"Gak apa-apa. Cuma ngobrol santai kok. Ayo." Tanpa menunggu persetujuannya, Reka sudah menarik lengan Rana menuju sofa. Jani akhirnya berjalan mengikutinya di belakang. Aku bisa merasakan tatapan Jani semakin tajam diarahkan pada Reka. Aku tidak tahu apa masalah gadis itu tapi sepertinya dia tidak suka pada kembaranku dan aku.
"Kalian sudah lama kenal sama Jess?" Itu pertanyaan pertama yang dilontarkan Papa ketika kedua gadis itu bergabung bersama kami.
"Kalau aku kenal Jess sejak SMP Om," jawab Rana sopan. Ia tampak kikuk ketika berada di depan Papa. Berbeda ketika berbicara dengan Mama, sikapnya cukup santai.
"Kalau Jani gimana?"
"Semenjak kuliah." Jani menjawab pertanyaan Papa dengan singkat sembari tersenyum. Matanya yang tadi menatap Reka dengan tajam berganti bersinar dengan lembut.
"Oh iya Ma, tadi Rana bawain kue buat Mama." Seolah tersadar, Reka lantas meletakkan bingkisan kue tersebut ke atas meja. "Kita makan bareng-bareng ya. Tapi bagianku harus yang paling banyak," candanya dengan sorot jenaka.
"Wah tart keju toh? Ini sih kesukaannya Reka," komentar Papa begitu membuka isinya. Ia lalu membiarkan Mama mengiris kue itu dengan potongan-potongan persegi.
Mama lalu memanggil Bude yang berada di dapur dan memintanya untuk membuatkan minuman untuk kami. Sejujurnya aku ingin sekali ikut beranjak ke dapur membantu Bude sambil mengobrol. Namun aku merasa tidak enak jika harus meninggalkan kedua tamu Jessica. Tidak sopan rasanya. Akhirnya aku hanya duduk memperhatikan punggung Bude yang berlalu menuju dapur.
Jessica bergabung bersama kami tidak lama setelahnya. Reka bahkan dengan isengnya sempat mempersilahkan adik kami untuk duduk dengan gaya bak seorang bawahan kepada tuan putrinya. Tingkahnya ini justru membuat Jessica terlihat salah tingkah di depan kedua temannya.
Reka sempat memandangi wajah Jessica cukup lama sebelum akhirnya berkomentar. "Lo lebih cantik tanpa riasan Jess." Dari nada bicaranya, aku tahu bahwa Reka benar-benar tulus memujinya. "Akhirnya gue punya saudara cewek yang benar-benar cewek deh!"
Aku kini merasakan Reka melirikku dengan sorot nakal. Baik, kali ini saudaraku itu menggodaku secara terang-terangan. Apa maksudnya! Jadi menurutnya aku bukan benar-benar seorang perempuan? Begitukah? Kupandangi Reka dengan wajah penuh emosi.
"Rek memang suka bercanda Jess. Kamu harus maklum sama sikapnya. Dia jarang serius kecuali kalau lagi kepepet." Perkataan Papa seolah menyadarkanku dari emosi yang tiba-tiba muncul. Ya, memang sudah tabiat Reka seperti itu. Suka bercanda. Aku tahu dia tidak bermaksud jahat di balik kata-katanya. "Kamu memang selalu cantik kok. Seperti Mama kamu." Kali ini Papa memuji Jessica sambil menatap Mama yang tersenyum malu mendengar ucapannya. Pintar sekali ayahku ini. Sekali berbicara, dua hati berhasil diraih.
"Bisaan aja nih Papa ngerayunya. Pake ngebantalin aku." Reka berbicara sambil memonyongkan sedikit bibirnya. Lihat kan? Sifat kekanakannya kembali muncul. "Hati-hati Ma. Tiap hari bisa keracunan dengerin gombalan Papa."
Aku tidak mendengar dengan jelas apa yang diucapkan Papa ketika mataku tidak sengaja bertemu dengan mata Jani. Gadis itu mendadak melihatku dengan matanya yang tajam. Membuatku seakan sedang ditelanjangi bulat-bulat. Aku tahu Reka juga menyadarinya tapi kembaranku itu selalu bisa mengendalikan ekspresi wajahnya sehingga terlihat tidak tahu apa-apa.
Aku mengalihkan tatapan dari Jani ke Jessica. Kulihat adikku itu tersenyum mendengar candaan Papa. Matanya berbinar setiap kali ia melihat Mama tersenyum atau tertawa senang. Baik, aku tidak ingin merusak suasana ini dengan membuatnya runyam hanya karena sebuah tatapan dari Jani. Aku akhirnya membiarkan saja Jani menatapku dengan aneh. Aku tidak ingin mempedulikannya. Saat ini aku hanya ingin membuat mata Jessica semakin bersinar terang. Hanya itu.
***