Like father, like son

5012 Kata
Aku sulit sekali konsentrasi dengan apa yang sedang dijelaskan oleh dosen di depanku akibat ulah Rana. Sejak makan siang tadi, cewek itu terus menerus memaksaku untuk menceritakan secara spesifik mengenai saudara tiriku, Rev. Rana bahkan tidak membiarkanku untuk mengambil nafas barang satu detik! Oke, kuakui kalimatku ini sedikit berlebihan. Tapi siapa yang suka jika terus menerus diganggu seperti ini. Aku sudah berulang kali mengatakan padanya bahwa ia akan segera bertemu dengan Rev sehingga aku tidak perlu menggambarkan secara detil bagaimana rupa dari salah satu kakak kembarku itu. Maksudku, aku baru bertemu dengannya kemarin. Aku bahkan tidak tahu dengan pasti berapa usianya dan apa pekerjaannya. Kami belum mengenal satu sama lain hingga sedekat itu. Namun Rana seakan tidak peduli. Dia terus mencecarku dengan berbagai macam pertanyaan yang bingung untukku jawab. Vera bahkan sudah berulang kali mengingatkannya untuk menyimpan rasa penasarannya. Sialnya, bukan hanya Rana yang mencoba untuk menggangguku selama jam kuliah berlangsung. Kei yang juga satu kelas denganku berkali-kali mencoba mengajakku berbicara dengan cara melempariku gumpalan-gumpalan kertas dari tempatnya duduk yang kutebak pasti berisi pertanyaan seputar Rev. Aku sengaja tidak melirik apalagi menyentuh kertas-kertas yang dilemparkannya kearahku itu. Aku malas untuk meladeninya. Tidak hanya Rana dan Kei yang membuat pikiranku pusing. Tepat di depan kursiku, di depan mataku, sepasang pasangan gay yang kemarin menawariku untuk ikut klub debat kampus sedang duduk sambil menggenggam tangan pasangannya masing-masing. Aku tidak tahu jika mereka ternyata mengambil mata kuliah yang sama denganku. Sesekali mereka saling mencubit lengan. Sesekali mereka meletakkan telapak tangannya di paha pasangannya masing-masing. Sesekali juga mereka beradu kerlingan menggoda. Oh astaga.. Astagaaa.. Kurasa ambang batas mualku hampir mencapai puncaknya. Tidak bisakah mereka mencari tempat lain untuk bermesraan? Tidakkah mereka menyadari bahwa ada seseorang disini yang memiliki homophobia stadium akut? Aku berkali-kali harus menarik nafas menahan rasa mualku yang terasa ingin meledak setiap saat. Aku melirik jam di pergelangan tanganku. Masih ada satu jam lagi tersisa hingga kuliah ini berakhir. Aku tidak yakin aku sanggup melewati satu jam yang tersisa ini dengan sukses. Pilihanku hanya dua. Keluar dari kelas lebih dulu atau menegur orang-orang yang menggangguku ini. Pilihan pertama memang terkesan lebih mudah dan simple. Tapi aku tidak ingin membuang waktu belajarku dengan sia-sia hanya karena orang-orang menjengkelkan ini. Oke, sepertinya aku harus mengambil pilihan nomor dua. Tapi bukan tabiatku untuk menyatakan rasa tidak sukaku secara terang-terangan begini. Aku lebih nyaman dengan menggunakan sindiran halus. Yah, seperti makhluk halus rasanya jika harus menyindir seseorang secara halus dan tidak kasat mata. "Jess.." Mungkin ini keseratus kalinya Rana merengek memanggil namaku. Aku menatapnya dengan wajah yang dibuat sekesal mungkin. Jika sudah begini, biasanya Rana akan menyadari bahwa aku memang sedang tidak ingin diganggu. Dengan wajah yang ditekuk, Rana berpaling dariku dan kembali menekuni bukunya. Matanya sesekali melirikku dengan diam-diam. Bukannya aku tidak menyadarinya. Hanya saja aku benar-benar sedang tidak ingin diganggu. Jadi aku hanya berpura-pura cuek dan tidak tahu. Satu masalah selesai, masalah kedua menghampiri. Kei masih tekun melempariku dengan berbagai gumpalan kertas dari bangkunya. Aku bahkan tidak bisa menghitung sudah berapa puluhan gumpalan kertas yang kini berserakan di sekitar kursiku. Kesal, aku akhirnya menuliskan sebuah ancaman padanya dan dengan cara yang sama seperti yang ia lakukan padaku, kulempar gulungan kertas berisi ancaman itu ke kursinya. Pada awalnya Kei terlihat senang karena akhirnya mendapat respon dariku. Setelah ia mengambil kertas yang kulemparkan itu dan membaca isinya, aku bisa melihat warna wajahnya berubah pucat pasi. Aku memang terlihat seperti seseorang yang kalem dan cukup pendiam. Namun jika aku sedang dongkol, aku bisa berubah menjadi sedikit ganas. Hanya sedikit. Aku tidak ingin membahas apa yang kutuliskan di kertas ancaman itu. Cukup aku, Kei dan Tuhan yang tahu. Yang pasti ancaman itu ada kaitannya dengan Fina, pacarnya. Masalah kedua selesai. Kini tinggal masalah ketiga. Pasangan gay yang duduk di depanku itu masih saja mengumbar kemesraan. Haruskah aku pindah duduk dari kursiku dan menjaga jarak aman dari keduanya? Rasanya mustahil mengingat tidak ada bangku yang kosong. Aku melirik beberapa bangku terjauh sambil berusaha mengira-ngira kira-kira siapa diantara penghuni bangku itu yang mau bertukar tempat denganku. Ada si jutek Glea. Mustahil meminta cewek itu. Hubunganku dan Glea tidak begitu baik. Glea sempat membenciku karena mantan pacarnya memutuskannya hanya karena ingin dekat denganku. Lalu ada si gendut Fahmi. Aku selalu ingin menghindar dari tukang makan itu. Dia pasti akan memintaku untuk mentraktirnya makan di kantin kampus. Sebenarnya aku tidak akan keberatan jika saja dia tidak memborong seluruh isi kantin dan memasukkannya semua ke dalam perutnya. Uang sakuku bisa habis dalam sekejap. Lalu ada si kutu buku Sari. Aku tidak terlalu mengenal Sari, tapi aku sering melihat Vera mengerjakan tugas kuliah bersama cewek itu. Ya, sepertinya Sari adalah pilihan yang tepat untukku saat ini. Aku akhirnya menyuruh salah seorang temanku untuk memanggil Sari agar cewek itu menoleh menatapku. Anggara, teman yang kusuruh itu akhirnya menyampaikan pesannya secara berantai ke seseorang yang duduk di depannya. Begitu seterusnya hingga orang yang terdekat dengan Sari, Jani, menepuk bahu cewek itu dan membisikkan sesuatu padanya. Aku bisa melihat Sari menoleh heran padaku begitu mendapat panggilan dari Jani barusan. Karena jarak yang cukup jauh dengan Sari, aku akhirnya hanya menggerakkan mulutku dan berharap dia mengerti dan bisa membaca gerak bibirku. Aku menggerakkan bibirku mengulang kalimat 'tuker tempat' berkali-kali pada Sari yang disambutnya dengan wajah semakin kebingungan. Astaga, apakah dia tidak mengerti apa yang aku maksudkan? Jani yang sempat melihatku kesusahan menyampaikan keinginanku pada Sari akhirnya membisikkan sesuatu di dekat telinga cewek kutu buku itu. Setelah itu responnya hanya mengangguk kemudian membereskan buku-buku di atas kursinya. Aku sepertinya harus mengucapkan terima kasih pada Jani nanti karena sudah membantu menterjemahkan bahasa isyaratku ke Sari. Dengan gerakan yang tidak secepat kilat, maksudku, gerakan macam apa yang bisa membuatku berpindah posisi dengan secepat kilat jika aku bukan manusia super? Jadi, dengan hati-hati dan tanpa menimbulkan suara, aku membawa buku-buku dan tas kuliahku ke tempat Sari duduk tadi. Sama hal nya denganku, Sari ikut membawa tas punggungnya yang terlihat berat itu ke tempat dimana aku duduk tadi. Untungnya dosen yang sedang mengajar sedang fokus membuat sebuah bagan dengan tulisan cakar ayamnya di whiteboard sehingga tidak menyadari perbuatan kami. Setelah mendaratkan pantatku dengan sukses, Jani yang kini duduk tepat dibelakangku lantas menepuk bahuku perlahan. Tentu saja aku menoleh padanya. Mungkin ia ingin aku mengucapkan terima kasih padanya. "Thanks atas bantuan lo tadi.." "Kamu ada acara setelah selesai kuliah nanti?" Jani mengabaikan ucapan terima kasihku dan justru bertanya. Bukannya bermaksud menyombongkan diri, Jani termasuk cewek populer di kampus sama sepertiku. Aku tidak akan terlalu terkejut jika ia berusaha untuk berteman denganku. "Sepertinya ada. Gue ada janji dengan Rana untuk langsung pulang ke rumah." "Apa Rana mau menginap di rumah kamu lagi?" Jani menatap mataku sambil melontarkan pertanyaannya. Dari mana ia tahu jika Rana sering menginap dirumahku? "Ya..," jawabku dengan nada tak yakin. Jani menyunggingkan sebuah senyuman kemudian mencondongkan tubuhnya semakin mendekatiku. "Apa aku juga bisa ikut menginap dirumah kamu?" Well, aku tidak mungkin menolak permintaannya. Itu sama saja aku mengatakan padanya secara tidak langsung kalau aku terganggu atas kehadirannya. Sesungguhnya aku memang sedikit terganggu. Aku dan Jani tidak pernah berbicara sebelumnya. Kami hanya sesekali bertukar senyum atau sapa jika kebetulan berpapasan di luar kelas. Sampai detik ini pun aku bahkan tidak tahu apa-apa mengenainya. Yang kutahu hanyalah namanya adalah Anjani Gladysta, kakak tingkat yang terkadang mengambil jadwal mata kuliah yang sama denganku. "Gi.. Gimana ya.. Gue harus tanya Rana dulu." Jani mengangguk. "Biar aku yang tanya Rana." Setelah berkata demikian, Jani menoleh ke kursi Rana. Sama yang seperti kulakukan tadi, bibir Jani bergerak-gerak berusaha mengatakan sesuatu pada Rana. Tapi memang dasar sahabatku satu itu yang kurang peka, wajahnya hanya melongo bingung, tidak mengerti apa yang Jani isyaratkan. Pada akhirnya Jani akhirnya bersuara. "Gimana? Oke?" tanyanya dengan volume nyaris tak terdengar. Aku bisa melihat Rana hanya mengangguk dengan bingung. Bodoh sekali. Apa dia tahu apa yang baru saja dia lakukan dengan anggukannya itu! Kulirik Jani yang kini berbalik menatapku dengan senyum yang sangat lebar. "See? Rana sudah oke tuh." Aku baru mengetahui jika cewek di depanku ini sungguh licik. Ia sengaja bertanya pada Rana di saat kuliah berlangsung sehingga sahabatku yang cerewet itu tidak begitu memahami pertanyaannya dan hanya mengangguk mengiyakan. Baik, mungkin bukan licik tapi sedikit cerdas. Aku semakin tidak berani memprediksi alasannya untuk menginap dirumahku. Maksudku, kami bahkan bukan teman. Kami tidak pernah mengobrol lebih dari hari ini. Dan Jani memiliki banyak teman yang bisa dia datangi setiap kali dia ingin menginap. Tiba-tiba saja perasaanku diliputi rasa cemas dan tidak nyaman. Apakah akan terjadi peribahasa ada udang di balik batu antara aku dan Jani ini? Pasti dia memiliki tujuan tersembunyi. Otak detektifku langsung bekerja. Pasti ada sesuatu yang diinginkan Jani dariku. Tapi apa? Apa murni hanya ingin berteman saja? Pasti tidak. Seperti yang sudah aku duga sebelumnya, aku tidak bisa menghindar dari Jani saat kelas usai. Rana yang langsung menghampiriku cukup kaget melihat keberadaan Jani yang mengekoriku. "Elo ngajak dia juga?" Rana melirik Jani sekilas sebelum akhirnya bertanya padaku. "Bukannya elo yang udah kasih izin dia buat ikut," jawabku sambil melotot kesal padanya. Rana menatapku dan Jani bergantian dengan bingung. "Apa? Kapaaan?" Wajahnya benar-benar terlihat tanpa dosa. "Kan tadi elo sendiri yang bilang OKE," jawabku gemas. Baru saja aku hendak kembali mencibirnya, Vera tahu-tahu sudah menghampiriku dan langsung menarikku menjauhi Jani dan Rana yang masih terlihat bingung. "Apaan sih Ve, kaget tau.." Aku menoyor lengannya perlahan. Tidak biasanya Vera suka grasak grusuk seperti itu. Dibandingkan Rana, Vera jauh lebih bisa mengontrol emosinya dan tidak blak-blakkan. Meskipun kutu buku seperti Sari, penampilan Vera tidaklah seperti anak-anak kutu buku lainnya. Dia cukup fashionable dan trendy. "Jess, sejak kapan elo deket sama cewek itu?" tanya Vera sedikit berbisik. Matanya memandang Jani yang kini tengah memperhatikan kami dari kejauhan. "Lo gak tau dia siapa?" "Dia Anjani Gladysta kan?" "Iye blo'on. Gue juga tau nama lengkapnya. Maksud gue, apa lo tau desas desus tentang dia?" Aku mendelik jengkel mendengar Vera memanggilku demikian. "Desas desus apaan? Tumben banget lo update soal desas desusan." Setahuku, Vera memang paling anti dengan yang namanya gosip. "Jadi lo gak tau? Pantas aja lo santai dekat-dekat dia." Vera bergidik ngeri sambil memandang Jani seolah Jani adalah makhluk langka dari planet lain. "Sebenarnya, itu bukan desas desus lagi. Udah fakta. Satu fakultas udah pada tau." "Fakta apaan sih?" Kutatap Vera dengan tidak sabar. Sejak tadi dia hanya berkata desas desus ini desas desus itu tanpa memberitahuku sedikitpun mengenai apa desas desusnya. "Jess! Ve! Udahan belum sih ngobrolnya?" Rana yang sedari tadi berdiri tidak sabar menunggu kami berteriak memanggil. "Iya sebentar!" jawabku tidak kalah berseru. Aku kembali menatap Vera yang kini juga menatapku dengan mata makin terbelalak. "Elo ngajakin Jani untuk nginap dirumah lo juga?" tanyanya kaget. Aku menggeleng. "Bukan gue yang ngajak. Dia yang mau ikutan. Masa gue larang. Rana juga sih dengan bodohnya nge-oke-in aja permintaan dia." Mata Vera semakin terbelalak kaget. "Dia yang minta?? Sebelumnya lo memang beneran gak ada hubungan apa-apa sama dia kan?" "Astaga Veraaa.. Selama ini kan gue selalu sama kalian berdua. Sejak kapan gue bergaul sama kakak tingkat." Aku sedikit jengkel melihat Vera meragukan kesetiaan persahabatan kami. Vera mengangguk. Salah satu tangannya lalu diletakkannya di atas pundakku. "Jess, lo harus hati-hati sama Jani. Sebenarnya dia itu.." Aku hampir saja menahan nafas mendengar penuturan Vera ketika Rana dan Jani sudah menghampiri kami. Vera langsung terdiam dan tidak melanjutkan kalimatnya. Dia hanya melirik Jani sekilas kemudian memberikan senyum yang seolah dipaksakan. "Kalian lama banget ngobrolnya. Ngomongin apaan sih? Keburu sore nih." Rana menggerutu padaku dan Vera sambil sesekali melihat ke arlojinya. "Yuk Jess langsung balik." Rana meraih lenganku dan menarikku dari hadapan Vera. "Tapi gue sama Ve belum selesai ngomong.." "Gak apa-apa. Nanti gue telpon Jess." Vera yang mengerti rasa penasaranku lantas berkata sambil memberikan isyarat lewat matanya agar aku tidak menceritakan apa yang baru saja diucapkannya pada Rana. Rana itu selain cerewet dan bawel juga ember. Dia sulit sekali menyaring bicaranya. Aku tidak akan kaget jika Vera tidak ingin memberitahu Rana dulu mengenai apa yang kami bicarakan tadi. Rana bisa saja kelepasan bicara mengenai hal itu dihadapan Jani. Setelah berkata demikian, Vera meninggalkan aku, Rana dan Jani lebih dulu menuju mobilnya yang terparkir tepat di parkiran yang berada di seberang kelas. Setelah melambaikan tangannya pada kami dari kejauhan, Vera masuk ke dalam Honda Jazz nya yang berwarna silver dan mengemudikan mobilnya keluar dari gerbang fakultas. Berbeda dengan universitas swasta lainnya yang membedakan tiap-tiap fakultas berdasarkan lantai dalam gedung, universitasku memiliki bangunan tersendiri untuk tiap-tiap fakultas. Lahan yang digunakan oleh yayasan universitasku cukup luas sehingga pada masa pembangunannya, universitas ini tidak dibangun bertingkat-tingkat. Hal ini juga yang membuat biaya kuliah di Universitas Persada Pertiwi dua kali lebih mahal dibandingkan universitas swasta lainnya di Jakarta. Setelah mobil Vera hilang dari pandangan, Rana langsung menarik lenganku dan mengajakku untuk segera masuk ke mobilnya. "Rana, gue bawa mobil. Tar mobil gue gimana nasibnya kalau gue ikut elo." Aku melepaskan tanganku darinya. "Oh iya gue lupa Jess. Ya udah, elo buruan ke mobil lo sana. Biar kita cepet sampe!" "Iya baweel..," jawabku kesal. Aku kemudian menoleh menatap Jani yang kehadirannya hampir saja kulupakan. "Elo bawa kendaraan? Mau ikut gue atau Rana?" Sebenarnya aku hanya berbasa-basi saja padanya. Cewek sepopuler Jani tidak mungkin menggunakan transjakarta untuk ke kampus. "Aku ikut mobil kamu aja." Jani menjawab sambil tersenyum padaku. Aku jadi semakin penasaran tentang apa yang ingin disampaikan Vera padaku tadi. Jani tidak membawa kendaraan selama ke kampus. Jadi selama ini dia naik apa? Apakah Jani adalah simpanan om-om? Aku sering melihat dia di antar jemput menggunakan mobil mewah setiap ke kampus. Selama diperjalanan menuju rumahku, kami saling diam. Sebenarnya Jani berusaha untuk mengajakku berbicara. Tapi aku malas menanggapinya. Jadi aku hanya menaggapi seperlunya saja setiap kali ia bertanya. Aku sengaja mengemudikan mobilku sedikit lebih cepat daripada biasanya. Aku merasa tidak nyaman jika harus satu mobil berduaan saja dengan orang asing. Berbeda dengan Rev yang meskipun aku baru bertemu dengannya, tapi keberadaannya membuatku cukup merasa tenang dan tidak kaku seperti saat aku bersama Jani. Mungkin karena aku tahu Rev akan menjadi bagian dari keluargaku sehingga otakku dengan cepat memproses informasi ke dalam emosiku bahwa Rev bukanlah orang asing. Dia keluarga. Memikirkan Rev, aku jadi membayangkan bagaimana rekreasi kecilnya bersama Mama, kembarannya Rekas dan Om Andre, ralat, maksudku Papa. Aku harus mulai membiasakan diriku memanggilnya dengan sebutan Papa. Sama seperti Rev yang berusaha membiasakan dirinya memanggil Mama dengan sebutan Mama. Pasti sangat menyenangkan bisa berjalan-jalan bersama mereka ke ragunan, melihat binatang-binatang yang ada disana. Oke, aku tahu rekreasi ke ragunan cukup kekanakan sekali bagi gadis seusiaku. Tapi jika datang bersama keluarga, menurutku itu tidak akan terlalu membosankan. Apalagi jika itu calon keluarga baruku. Rekas, aku lebih suka memanggilnya dengan panggilan Rek, tampaknya cukup hangat dan humoris. Sama seperti Om.. maksudku Papa. Dan Rev, meskipun sedikit kaku dan pendiam, dia cukup memiliki sikap yang baik. Hal ini sudah kurasakan sejak kemarin dan jogging pagi tadi. Oh, astaga. Begitu menyebut jogging, aku kembali mengingat indirect kiss ku dengannya. Tanpa sadar, kusentuh bibirku lagi. Jika indirect kiss dengannya saja membuatku kacau seperti ini, bagaimana jika direct kiss? Urgh! Apa yang kau pikirkan Jessica Arshella? Bagaimana mungkin kau berkhayal melakukan ciuman dengan kakak tirimu sendiri! Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat mencoba untuk mengusir pikiran aneh yang tadi sempat hinggap. Aku bisa merasakan Jani yang duduk disampingku melihatku dengan sedikit heran. Tidak terasa, perjalanan kami sudah tiba di depan mulut komplek rumahku. Aku menurunkan kecepatanku disini. Aku tidak ingin mengganggu penghuni komplek dengan suara deru mesin mobilku. Ini perumahan. Sudah selayaknya mengurangi kecepatan ketika berada dalam komplek perumahan. Saat tiba di depan pagar rumahku, aku tidak melihat mobil Rana dimanapun. Sahabatku itu belum tiba rupanya. Aku menekan klakson mobilku agar tukang kebun sekaligus penjaga rumahku membukakan pagar untukku. Ya, selain Bude, Mama juga memperkerjakan tukang kebun yang kupanggil dengan Abang Bonar. Abang Bonar ini keturunan Batak dan tinggal tidak jauh dari komplek rumahku. Usianya sudah kepala 4 namun dia tidak suka jika aku memanggilnya dengan sebutan Amang apalagi Om. Dia lebih suka jika aku dan Mama memanggilnya dengan julukan Abang. Abang Bonar bekerja dari jam 8 pagi hingga jam 8 malam. Dia sudah lama bekerja untuk keluargaku. Dan sepertinya Mama cukup senang padanya karena ia termasuk disiplin dalam bekerja. Aku punya panggilan khusus untuknya, Bang Bon. Maksudku agar lebih singkat dan enak didengar. Pintu pagar terbuka. Aku bisa melihat Bang Bonar berdiri di sisi pagar menunggu mobilku untuk masuk. Kuturunkan kaca mobilku dan menyapanya dengan senyuman. "Eh Non Jess bawa temannya lagi?" Abang Bonar melirik Jani yang duduk di sampingku. "Beda lagi temannya? Abang baru lihat kalau yang ini." "Iya Bang Bon. Nanti pagarnya jangan ditutup dulu ya. Temanku yang Rana itu juga mau kesini," beritahuku padanya. "Baik Non." Abang Bonar mengangguk dan memberi hormat padaku. Membuatku teringat pada sebuah film yang berjudul Nagabonar yang dulu pernah tayang di bioskop. Jani langsung turun begitu aku selesai memarkirkan mobilku ke dalam garasi. Aku sempat melihat mobil Om Andre, maksudku Papa, terparkir dengan manis di dalam garasi rumahku yang memang cukup luas. Mungkinkah rekreasi mereka ke kebun binatang ragunan sudah selesai? Cepat sekali. Aku melongok mencari Abang Bonar begitu turun dari kursi kemudi. "Bang Bon!" kupanggil laki-laki itu ketika kulihat ia hendak kembali masuk ke dalam rumah. Abang Bonar menoleh kaget lalu segera menghampiriku dengan berlari kecil. "Ada apa Non Jess?" "Mama sama Om.. Uh, Papa.. Sudah pulang?" tanyaku padanya. Aku sengaja mengecilkan suaraku agar tidak terdengar oleh Jani. "Iya Non Jess, baruuuu saja," jawab Abang Bonar dengan suara yang ikut dikecilkan. Ia lalu melirik Jani yang kini memperhatikan kami penuh ingin tahu. "Si kembar juga.." "Ada Non. Kembar bule itu kan?" Seolah tahu apa yang akan kutanyakan, Abang Bonar memberitahu tanpa menungguku menyelesaikan pertanyaanku. "Jess, kita gak masuk?" Jani yang sedari tadi tidak sabar menunggu langsung menginterupsi. "Kita nungguin Rana aja dulu. Bentar lagi pasti dia nongol," jawabku mencoba menghilangkan rasa tidak sabarannya. Sejujurnya aku enggan untuk menjawab pertanyaannya. Jani hanya mengangguk mengikuti ucapanku. Tidak sampai satu menit, mobil Rana sudah muncul di depan pagar rumahku. Cewek itu nyengir lebar begitu aku menatapnya dengan wajah kesal. Masih dengan memasang wajah innocent nya, Rana menghampiriku dan langsung mencubit salah satu pipiku. "Sorry Jess, gue tadi mampir dulu beli oleh-oleh buat calon mertua." Rana mengangkat sekantong plastik berisi kotak kue kehadapanku. "Sejak kapan nyokap gue jadi calon mertua lo?" Aku melotot kesal padanya. "Jess, kalau kita jadi ipar kan setidaknya lo gak perlu repot-repot kenalan lagi dengan orang baru. Kita makin bisa sering ketemu, shopping, belanja belinji, cuci mata, ngafe.." "Gue gak mau ya punya ipar kaya lo.." "Bukannya Jessica anak tunggal ya? Sejak kapan lo punya saudara?" Jani yang tadi diam saja mendengar pembicaraanku dan Rana akhirnya ikut nimbrung. "Memang belum go public kok. Calon saudara sih. Tapi bentar lagi juga jadi saudara." Rana menggantikanku untuk menjawab. Dengan santainya, ia lalu menggandeng lenganku dan menarikku untuk masuk ke dalam rumahku sendiri. Aku bisa melihat antusiasme yang tinggi lewat kedua matanya. Benar-benar deh! Kulirik Jani yang hanya diam memandangi aku dan Rana dengan wajah iri. Aku memang tidak pernah melihat cewek itu memiliki teman yang cukup dekat. Temannya selalu berganti-ganti setiap hari. Kadang bersama si A, B, lalu C. Dibandingkan diriku yang memang juga tidak memiliki banyak teman, tampaknya kondisi Jani jauh lebih buruk. Aku setidaknya masih memiliki Vera dan Rana yang mau tetap bersamaku dan mengerti akan tabiatku yang kurang suka bergaul di dunia luar. "Sore Om, Tante.." Tanpa malu-malu, Rana sudah menyapa kedua orangtua ku yang saat ini tengah duduk di ruang santai sambil menonton televisi. Rev dan Rek juga duduk tak jauh dari keduanya. Keempat orang yang tengah duduk bercengkrama itu mendadak menoleh serempak kearah kami. Suara Rana yang cukup cempreng ternyata mampu membuat keempatnya menghentikan pembicaraan mereka sejenak. Berbeda dengan 3 orang lainnya, Rek justru tersenyum dan balas melambaikan tangannya ke arah kami. "Hello little sister!" Aku bisa merasakan tangan Rana yang masih menggenggam lenganku berkeringat seketika. Aku tidak bisa membayangkan jika kedua saudara kembarku itu bergerak bersalaman dengannya. Rana pasti akan segera dilarikan ke rumah sakit terdekat karena kejang-kejang mendadak. "Sudah pulang Jess?" Mama berdiri menghampiriku lalu merangkul tubuhku sekilas. Dia lalu melakukan hal yang sama pada Rana dan Jani. "Apa kabar Rana? Menginap lagi?" sapa Mama membuat wajah Rana sedikit merah karena malu. "Rana betah di rumah kita Ma," sindirku yang langsung mendapat sikutan dari cewek itu. "Kalau ini.. Siapa? Rasanya Mama baru pertama kali lihat dia." Mata Mama mulai meneliti wajah Jani secara seksama. "Cantiknya.. Kamu teman kuliah Jess juga?" Jani tersenyum mendengar pujian dari Mama. Ugh, ya harus kuakui wajah Jani memang cukup menarik. Dia salah satu cewek yang sangat populer di kampus. Dan ini yang membuatku bingung, cewek populer seperti Jani ingin berteman denganku. Aku memang berasal dari kalangan artis, namun jika di kampus, aku merasa diriku tidaklah sepopuler itu. Aku berubah menjadi mahasiswa biasa yang harus menghadapi kerasnya masa kuliah. Meskipun menurut Vera, namaku cukup terkenal di kalangan para mahasiswa dan dosen seluruh kampus. "Namaku Jani, Tante. Kebetulan aku satu jurusan sama Jessica. Cuma beda tingkat aja." Jani memperkenalkan dirinya sendiri pada Mama. Aku bisa melihat Mama cukup terkesan dengannya. "Pantas saja Tante gak pernah lihat. Jani harus sering-sering main kesini ya. Tante senang kalau teman-teman Jess main ke rumah. Rumah ini jadi ramai." Duh Mamaku ini. Kenapa harus bicara seperti itu pada cewek ini. Sepertinya Mama tidak bisa melihat bahwa anak kesayangannya ini kurang nyaman oleh keberadaan Jani. "Mas, Rev, Rek. Sini sebentar.. Ada teman-temannya Jess yang datang kerumah." Mama menoleh ke arah ketiga orang yang masih memandangi kami sejak tadi. Rek orang pertama yang bangkit berdiri baru disusul oleh Papa dan Rek. Ketiga laki-laki itu satu persatu bergerak mendekat. Mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi Jani terlihat tidak suka melihat keberadaan ketiga laki-laki itu dirumahku. "Kenalin, ini teman-temanku, Rana dan Jani." Aku akhirnya memperkenalkan mereka pada ketiga laki-laki yang akan hidup satu atap denganku itu. "Apa kabar? Saya Andrean Ivandra. Calon papanya Jessica." Papa bergantian menyalami Rana dan Jani. "Om tidak mengira kalau Jess punya teman-teman yang cantik. Rekas pasti betah di rumah kalau setiap hari kalian main kesini," candanya membuat Rana tersipu malu dan Jani tersenyum kecil. "Ah Papa berisik nih. Ntar mereka jadi takut sama aku." Rek yang merasa namanya disebut-sebut terlihat merasa tidak nyaman. "Gue Rekas Ivandra. Rek for short." Rek kemudian menyalami keduanya dengan senyum yang sama ketika pertama kali bertemu denganku. "Kalau yang ini kembaran gue, Revian Ivandra." Rek lalu menepuk punggung Rev dengan santai. Membuat Rev tersurut maju ke depan. Rev hanya tersenyum kikuk memandangi Rana dan Jani bergantian. Dengan ragu, diulurkannya tangannya ke arah Rana. "Hei, gue Rev." Ia kemudian mengulangi hal yang sama kepada Jani. "Hei, gue Rev." "Gimana tadi jalan-jalannya?" Aku bertanya untuk memecah kekakuan yang melanda. Mendengar pertanyaanku, Papa hanya tersenyum lebar menampilkan lesung pipinya yang manis. Matanya melirik Rek dengan jenaka. "Apa ada kejadian menarik?" "Kalau kamu tadi ikut, kamu pasti ikut ketawa ngelihatnya. Tadi Reka.." ucapan Papa terputus. Rek telah lebih dulu memukul lengannya. "Cerita begitu jangan dikasih tahu ke cewek-cewek ini dong Pa. Aku kan malu." Papa hanya terkekeh mendengar teguran Rek. Kacamatanya ikut merosot turun dari hidungnya yang mancung. "Habis kamu seperti perempuan. Masa kalah sama Revi." "Sudah ah kalian berdua ribut terus. Rana sama Jani pasti kecapekan dari tadi belum kita persilahkan duduk." Mama menengahi keduanya. Ia lalu menarik Papa untuk kembali duduk di ruang santai. Papa terlihat masih ingin menggoda Rek di depan kedua temanku. Namun niat itu diurungkannya begitu ia melihat wajah Mama sudah memberikan isyarat untuk segera menyudahi. "Jangan dengerin apa kata bokap gue. Dia memang suka begitu." Rek menatap Rana dan Jani bergantian masih dengan senyumnya yang kupikir cukup wow. Rev pasti memiliki senyum yang sama seperti ini jika saja ia tidak terlalu bersikap kikuk. "Iya gak apa-apa." Rana akhirnya bersuara setelah terdiam cukup lama. Pertemuannya dengan si kembar ternyata membuatnya lupa untuk menyerahkan oleh-oleh yang sedari tadi dijinjingnya. "Oh iya, ini.. Ada sedikit bingkisan," ucapnya lalu menyerahkan kotak kue itu pada Rek. "Buat gue?" Rek memeriksa isi bungkusan itu sekilas. Matanya langsung berkilat begitu melihat isinya. "Bukaaan. Buat calon mertua," jawab Rana dengan polos. Rek tentu saja tertawa mendengar jawabannya. "Calon mertua?" ulangnya dengan ekpresi menggoda. "Ah! Maksud gue buat Tante!" seru Rana tersadar bahwa tadi dia sudah salah bicara. Wajahnya kontan memerah seketika. Aku hanya bisa menghela nafas melihat sikapnya yang seperti orang bodoh itu. "Jadi kalian berdua ini saudaranya Jessica?" Jari Jani bergerak menunjuk keduanya mengabaikan sikap Rana yang kini sudah salah tingkah. Rek yang tadi memandangi wajah Rana yang memerah kini ganti menatap Jani. "Iya. Tepatnya calon kakak tirinya Jess." "Kalian.. Kembar?" tanya Jani lagi memandangi si kembar bergantian. "Yap." Rek lalu merangkul pundak Rev dengan salah satu lengannya. Ia menarik bahu Rev untuk lebih dekat padanya. "What do you think? Siapa yang paling cakep di antara kami berdua?" Rek meletakkan tangannya yang lain ke bawah dagunya. Jika wajah keduanya sama, tentu akan sulit menentukan siapa yang lebih tampan. Namun Rek sepertinya membutuhkan jawaban. Ia masih menunggu Jani ataupun Rana memberikan jawaban mereka. "Menurut gue.. Elo?" Jani akhirnya menunjuk Rek sebagai seseorang yang menurutnya lebih keren. "Enggak. Rev lebih punya.." Rana tanpa sadar ikut memberikan komentarnya. Ucapannya terhenti begitu dilihatnya Rev kini menatapnya dengan sorot aneh. Baik. Mungkin kedua cewek ini memiliki seleranya masing-masing. Jani yang populer, mungkin lebih menyukai sosok Rek yang ramah dan penuh semangat. Sedangkan Rana yang cerewet dan selalu berisik mungkin merasa sosok Rev yang pendiam lebih menarik perhatiannya. "Wah kita satu sama nih Rev." Rek melirik saudara kembarnya dengan senyum nakal. "Jawaban dari Jess penentu kemenangannya." Rek kini berbalik menatapku. "Jadi.. Menurut lo siapa yang lebih cakep di antara kami berdua Jess?" Aku bisa merasakan semuanya menatapku penuh rasa ingin tahu. Menunggu jawaban dariku. Mata Jani seolah memintaku untuk menyamakan jawaban dengannya namun tangan Rana yang kini meremas lenganku seolah memaksaku untuk mengiyakan jawabannya. Aku semakin serba salah dibuatnya. Aku terjepit di antara kedua cewek yang masing-masing memintaku untuk mendukung jawaban mereka. Aku menatap Rev dan Rek bergantian. Sulit sekali menentukannya. Andai saja keduanya tidak memiliki wajah yang sama, tentu akan jadi lebih mudah bagiku. Melihat dari kepribadian keduanya, mereka sama-sama punya sisi yang menonjol. Hanya saja, aku belum begitu mengenal Rek lebih lama dibandingkan Rev yang telah lebih dulu menginap dirumah. "Uhm.. Karena kemarin gue seharian sama Rev terus jadi.." "Wah, adik kita curang nih Rev. Masa karena lo nginap di rumahnya dia jadi lebih milih lo daripada gue." Rek berpura-pura memasang wajah sedih. Rev hanya tersenyum simpul menanggapinya. "Maksudku bukan begitu Kak." Aku hendak memberikannya alasan. "Sayang banget malam ini gue harus balik ke kosan. Gue pasti dengan senang hati temenin kalian ngobrol sampai pagi dan penilaian kalian tentang gue pasti akan berubah." "Lo justru akan buat mereka semakin takut," tukas Rev pelan. Nada bicaranya sangat berbeda ketika berbicara denganku. Rev terdengar lebih santai di depan kembarannya. "Bilang aja kalau lo senang karena gue gak ada. Iya kan? Lo bisa dengan bebas ngobrol sama cewek-cewek ini." Rek mengalungkan lengannya di leher Rev kemudian menekannya dengan kuat. Membuat Rev sedikit kesulitan untuk bernafas. "Lepas.." Rev mencengkram lengan kokoh itu dengan kuat. "Lepas kalau gak elo gue banting di depan cewek-cewek ini." Mendengar ancaman dari kakak kembarnya, Rek serta merta melepaskan kuncian lengannya. Dengan wajah masih senyum-senyum, Rek membuat tanda peace dengan kedua jarinya. Aku cukup kaget melihat Rek yang bertubuh lebih besar itu justru memiliki sikap lebih kekanakkan dan sangat patuh pada Rev. Mungkinkan karena Rev adalah kakaknya meskipun ia lahir sedikit lebih dulu? Rasanya bukan hanya karena itu. "Kalau begitu.. Aku ke kamar sebentar ya. Mau ganti baju dulu." Aku menatap keduanya meminta persetujuan. Rasanya tidak sopan jika aku langsung masuk ke kamarku begitu saja sementara keluargaku berada di lantai bawah. Rek mengangguk kemudian berkata, "jangan lama-lama Jess. Setelah itu turun dan ngobrol-ngobrol sama kita disini. Rana sama Jani juga boleh ikut." Aku mengiyakan ucapan Rek dengan sebuah anggukan. Tanpa menunggu lebih lama, aku langsung ke lantai atas. Aku sengaja meninggalkan Rana dan Jani di lantai bawah. Bukannya apa-apa. Aku masih tidak nyaman jika Jani masuk ke kamarku. Kurasa Rana sudah mengerti ketika melihat isyarat yang kuberikan padanya. Aku dan Rana sudah bersahabat cukup lama. Sejak SMP. Aku mengganti pakaianku dengan tergesa-gesa. Setelah membasuh wajah sebentar, aku keluar dari kamar dan langsung berjalan menuruni tangga. Aku berharap kedua saudara kembar itu, terutama Rek, tidak menganggu Rana dan Jani dengan tingkahnya yang sedikit aneh. Begitu sampai di ruang santai, aku bisa melihat kedua tamuku itu sudah duduk di sofa kesayangan Mama sambil sesekali menanggapi ucapan Mama dan Papa. Ketika aku datang, Rek dengan wajah jahilnya langsung berdiri dan dengan gerakan seperti seorang prajurit kepada tuan putrinya, ia mempersilahkan aku untuk duduk. Benar-benar! "Lo lebih cantik tanpa riasan Jess," pujinya setelah memandangi wajahku cukup lama. "Akhirnya gue punya saudara cewek yang benar-benar cewek deh." Sambil berkata demikian Rek melirik Rev yang balas menatapnya dengan tatapan ingin membunuh. "Rek memang suka bercanda Jess. Kamu harus maklum sama sikapnya. Dia jarang serius kecuali kalau lagi kepepet," beritahu Papa memulai kembali aksinya yang sempat terhenti tadi. "Kamu memang selalu cantik kok. Seperti Mama kamu." "Bisaan aja nih Papa ngerayunya. Pake ngebantalin aku." Rek memonyongkan bibirnya membuatnya semakin terlihat seperti anak SD di usia 25-an. "Hati-hati Ma. Tiap hari bisa keracunan dengerin gombalan Papa." "Gak digombalin juga Mama kamu udah mangap-mangap kaya ikan Koi yang kejedut dinding akuarium kalau Papa udah kasih kedipan maut Rek," balas Papa tidak mau kalah. Astaga! Kedua manusia ini benar-benar cocok jika dipertemukan. Sifat suka bercanda mereka benar-benar mirip. Like father like son. Aku cukup senang Rev tidak ikut-ikutan error seperti Papa dan Rek. Mama yang kini jadi bahan bercandaan mereka hanya bisa mencubit lengan Papa sambil tersenyum-senyum. Aku sudah lama tidak melihat Mama sebahagia ini. Sepertinya keputusanku untuk menerima kehadiran Papa dan kedua saudara tiriku adalah keputusan yang tepat. Mama yang selalu serius bekerja siang malam dan jarang terlihat rileks kini bisa menikmati hangatnya pembicaraan ringan seperti ini. Aku juga bisa merasakan Rana dan Jani cukup nyaman berada di tengah keluarga baruku. Mereka ikut tersenyum mendengar gurauan-gurauan yang dilontarkan Papa dan Rek. Rana bahkan kini ikut menimpali dengan menambahkan bumbu di sana sini. Bukan hanya Mama yang menjadi korban candaan mereka, tapi Rev yang pendiam ikut kena getahnya. Matanya yang selalu melotot setiap kali diledek membuat Rek semakin semangat untuk menggodanya. Benar-benar sepasang kembar yang unik. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN