Namanya Jani

5236 Kata
Aku duduk di meja makan sambil mendengarkan celotehan Mama dan Papa yang sejak tadi sibuk bercerita mengenai pekerjaan mereka masing-masing. Kedua teman Jessica turut makan malam bersama kami dan sesekali ikut bergabung dalam pembicaraan. Karena sibuknya berbincang, kupikir orang-orang ini mulai melupakan kehadiranku. Namun sepertinya dugaanku meleset ketika tiba-tiba saja Mama berbicara pada Jessica sambil menyebut namaku. Aku tidak begitu jelas mendengar apa yang dibicarakannya tapi sepertinya menyangkut dengan sifat memamahbiak karnivoraku. "Kalau Papa masih mendingan. Dia masih makan timun sama tomat. Pindang ikan sama gulai ayam juga masih diembat," beritahu Reka pada Jessica. "Tapi kalau Rev.. Semua jenis ikan kecuali ikan lele sama ikan laut gak dimakan. Pokoknya yang namanya daun-daunan dan berkuah itu dia juga gak bakal doyan." Reka berkata seolah-olah aku tipe orang yang pemilih sekali dalam hal makanan. Sejujurnya memang benar, tapi menurutku aku tidaklah sepemilih itu. "Rendang masih gue embat kok." Aku segera membantah ucapannya. Aku juga masih menikmati beberapa kuah santan. Ya, hanya kuahnya saja. "Rendang itu bukan sayur," balas Rek sambil menunjuk kearahku dengan ujung sendoknya. "Rendang bukan sayur. Gak berkuah." "Rendang termasuk sayur." Aku tetap ngotot mempertahankan argumentasiku. Bukankah rendang juga terbuat dari santan? "Bukan. Keras kepala banget lo di kasih tau." Reka kini mulai memelototiku. Sudah mulai berani dia rupanya. Aku masih hendak membalas bantahannya ketika tiba-tiba Papa sudah berdeham memberikan isyarat pada kami untuk segera diam. Jika sudah demikian, itu artinya Papa tidak ingin mendengar aku dan Reka melanjutkan perdebatan kecil kami. Jika sudah berdebat, kami bahkan tidak akan berhenti hingga setengah jam ke depan. Tidak ada salah satu yang ingin kalah. Jika sudah demikian, biasanya aku sebagai kakak yang lahir lebih dulu akhirnya mengalah dan mendiamkan saja perkataannya. Aku memang selalu punya prinsip kuno. Mengalah bukan berarti kalah. Mengalah adalah kemenangan yang tertunda dan bukti kebesaran hati seseorang. "Jadi sebelum kehadiran Om, Rev sama Rek, kamu cuma tinggal berdua sama nyokap Jess?" Aku mendengar Jani kembali melanjutkan sesi tanya jawabnya pada Jessica. Sebenarnya tidak bisa dibilang sesi tanya jawab. Sebab tidak ada jawaban yang dibalas oleh Jessica kecuali hanya senyuman dan anggukan. "Memangnya bokap kamu kemana?" Jani kembali bertanya setelah hanya mendapat anggukan tidak jelas dari adikku itu. Aku bisa melihat Jessica mulai jengah terus-terusan mendapat pertanyaan darinya. Jessica terlihat tidak ingin menjawab. Ia hanya menggerakkan tangannya memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya. Rana yang duduk disampingnya terlihat sama tidak pedulinya. Gadis itu justru sibuk menghabiskan beberapa potong cumi yang terhidang di depan matanya. Padahal sejak beberapa saat yang lalu, aku sudah memfokuskan cumi tersebut untuk menjadi target santapanku selanjutnya. Perhatianku kemudian beralih ke Papa dan Mama yang kembali sibuk mengobrol. Sesekali Reka ikut menimpali pembicaraan keduanya. Ketiganya terlibat dalam obrolan yang kupikir cukup menarik. Hanya saja aku sedang tidak ingin mencampuri pembicaraan mereka. Entah mengapa, aku masih ingin memperhatikan Jessica. Jari-jemarinya yang panjang dan lentik ketika memegang sendok dan garpu cukup menyita perhatianku. Poni sampingnya yang bergoyang setiap kali ia menunduk, bulu-bulu matanya yang lentik dan panjang,  hidungnya bahkan bentuk bibirnya tidak luput dari perhatianku. Aku mulai membayangkan bagaimana rasanya jika jari-jari dan tangan itu kusentuh dan kugenggam. Aku membayangkan bagaimana rasanya mengusap lembut rambutnya yang berkilau. Aku juga membayangkan bagaimana rasanya menyentuh hidung dan bibir gadis itu. Pasti akan sangat menyenangkan jika aku bisa melakukannya. Mataku lalu mulai beralih ke lehernya yang jenjang kemudian turun memperhatikan bentuk tubuhnya. Aku bisa merasakan kemulusan kulitnya di balik pakaian yang dikenakannya. Aku bahkan pernah secara sengaja mencuri pandang pada kedua paha dan kakinya yang indah setiap kali ia mengenakan hot pants di rumah. Semua terlihat sempurna. Laki-laki bodoh mana yang membiarkan seorang dewi secantik Jessica Arshella tetap sendiri di usianya yang akan menginjak 22 tahun. Jika aku laki-laki, aku pasti sudah mendekatinya tidak peduli statusku yang sebagai calon kakak tirinya. Ketika tengah asik memandanginya, Jessica sepertinya mulai menyadari perbuatanku itu. Matanya secara tidak sengaja memergoki mataku yang terus menatapnya. Untuk sepersekian detik, kami saling memandang. Kali ini aku sengaja tidak membuang tatapanku seperti yang kulakukan di hari pertama pertemuanku dengannya. Jessica sepertinya tidak terlihat jengah dan justru melemparkanku senyuman yang sangat manis. Setelah itu dia kembali sibuk dengan makanan di hadapannya. Andai saja gadis itu menyadari bahwa kini di depannya ada hati yang baru saja menjerit frustasi ingin segera memeluknya karena senyumannya tadi, ia pasti akan merasa menyesal telah memberiku senyuman itu. Aku mulai berpikir, apakah setiap orang yang memandangnya berlama-lama seperti apa yang kulakukan barusan selalu dihadiahinya senyuman yang sama? Membayangkan Jessica memberikan senyumnya pada orang lain saja membuat hatiku sedikit tidak rela. Wake up Rev! She's your stepsister. Aku melihat Jessica akhirnya menyudahi makan malamnya kemudian mengajak Rana dan Jani yang sudah lebih dulu selesai untuk naik ke lantai atas. Setelah pamit pada Papa dan Mama, aku serta Reka, Jessica bangkit dari meja makan dan dengan langkah santai berjalan menuju tangga. Aku hanya bisa memandangi punggung gadis itu menghilang tanpa bisa berkata apa-apa. Sesungguhnya aku ingin sekali bergabung bersama mereka. Berada di dekat-dekat Jessica membuat hatiku bahagia meskipun banyak terjadi pergolakan dan pertumpahan darah di dalamnya. "Lo naksir dia?" Aku menoleh kaget kearah Reka yang baru saja berbisik tepat di dekat daun telingaku. Wajah kembaranku itu senyam-senyum penuh arti melihatku. "Enggak," elakku lalu pura-pura melanjutkan kembali makan malamku. "Aw.. Lo lupa kalau kita kembar?" Aku mendesah mendengar pertanyaan Reka yang terkesan seperti pernyataan itu. Tidak ada gunanya berbohong padanya. Reka selalu tahu dan bisa merasakan apa yang kurasakan. Dari janin, dia selalu bersama denganku. Tidak mudah untuk menutupi apapun darinya. "Dia lurus lho. Jangan lo tularin penyakit lo. Bahaya. Papa sama Mama bisa.." "Gue tau," potongku cepat. Aku tidak ingin mendengar Reka meneruskan kalimatnya. Setiap kali kami membahas mengenai hal ini, aku selalu menjadi yang dipojokkan. Sungguh tidak nyaman rasanya jika keluargaku sendiri memandang rendah diriku hanya karena kelainan seksual yang kumiliki. "Tapi gue gak bakal komplain kalau dari dianya yang duluan naksir sama lo." Reka masih berbicara sambil berbisik. "Dia tau kan kalau lo doyan cewek?" "Huh," dengusku jengkel. "Pasti tau. Papa atau Mama pasti udah kasih tau dia mengenai gue. Apalagi dandanan gue yang begini. Orang sinting mana yang mikir cewek dengan dandanan cowok kaya gue gini masih doyan pisang?" Reka terkekeh pelan disampingku. "Gabung sama mereka ke atas yuk." Reka menepuk bahuku lantas berdiri dari duduknya. Melihat Reka bangkit, Papa dan Mama serta merta menghentikan pembicaran mereka. Papa bahkan menatap Reka dengan sedikit bingung dari balik kacamata minusnya. "Sudah selesai makannya?" Reka tersenyum menatap kedua orang tua yang tengah dimabuk asmara itu dengan tenang. "Aku sama Revi mau ke atas. Mau ikutan cewek-cewek ngobrol. Kami gak mau ganggu Papa sama Mama pacaran disini." Reka mengerlingkan matanya menggoda, membuat Mama langsung tersipu malu. Setelah memberiku isyarat lewat ekor matanya, Reka berjalan meninggalkan meja makan. Aku dengan buru-buru mengelap mulutku dengan serbet dan langsung menyusulnya setelah berpamitan pada Papa dan Mama. Begitu sudah berada disisinya, Reka langsung merangkul leherku dan berjalan bersisian denganku menaiki tangga yang cukup lebar bagi tubuh kami berdua. Saat hampir mendekati anak tangga terakhir, aku mulai mendengar pembicaraan Jessica dengan kedua temannya dari ruang santai di atas. Pada awalnya aku masih belum mengerti apa yang sedang gadis-gadis itu bicarakan. Tapi aku sempat mendengar mereka menyebut namaku dan Reka. "Revi mungkin kerja kantoran. Pekerjaan monoton yang menurut gue membosankan. Kalau Reka mungkin lebih banyak turun ke lapangan. Mungkin pekerjaannya di bidang marketing, advertising atau semacam itu." Suara Jani mulai terdengar jelas ditelingaku. Aku bisa melihat Reka tersenyum sendiri disampingku. Pasti ucapan Jani cukup ironi baginya. Bagaimana tidak? Ucapan Jani justru sebaliknya. Reka lah yang melakukan pekerjaan membosankan dengan duduk dibelakang meja, sementara aku yang sering berada di lapangan. "Tebakan lo salah." Reka akhirnya tidak bisa mengendalikan mulutnya untuk meralat. Ketiga gadis itu menoleh kaget kearahku dan Reka yang kini sudah berdiri tak jauh dari mereka. Reka tersenyum menatap ketiga gadis yang tampak terkejut itu kemudian bergerak mendekati ketiganya. Reka kemudian duduk di atas karpet tepat di depan televisi yang tengah menyala. Mau tidak mau aku akhirnya ikut duduk disampingnya dengan perasaan tidak nyaman. Tidak sopan rasanya jika tanpa diundang kami mengganggu obrolan ketiga gadis itu. Namun Reka tampak santai-santai saja. Ia bahkan terlihat tidak peduli meskipun ketiga gadis itu ketahuan baru saja membicarakannya. "Yang kerja kantoran justru gue." Reka akhirnya bersuara setelah beberapa detik yang cukup menegangkan. Matanya yang menatap layar televisi tidak berpaling sedikit pun kepada ketiga gadis itu. "Gue kerja sebagai engineer di PT Sapta Construction Management." "PT itu kan sering ngerjain proyek-proyek gede," celetuk Jani yang duduk berselonjor di atas sofa. "Pasti dompet lo tebel." Aku refleks mengerutkan keningku begitu mendengar komentar Jani barusan. Kulirik Reka yang masih terlihat tenang-tenang saja disampingku. Komentar Jani barusan tidak membuat matanya bahkan berkedip sedikit pun. Meskipun demikian, lirikan matanya kearahku dan tawa kecilnya membuatku tersadar bahwa apa yang dipikirkannya tidak jauh berbeda dengan apa yang kupikirkan saat ini. Jani benar-benar menyebalkan. Bagaimana mungkin gadis itu membahas urusan dompet dengan santai tanpa merasa malu sedikit pun? Dasar gadis matrealistis. "Iya lo bener. Lumayan cukup kalau buat biayain hidup seorang cewek seperti lo." Reka berbicara setenang mungkin tanpa menghilangkan sindirannya pada Jani. Memang sudah tabiat saudara kembarku itu untuk tidak terlalu menanggapi olokan atau sindiran yang diterimanya. Dia lebih suka menyindir balik mereka secara halus seperti yang baru saja dilakukannya pada Jani. "Err.." Mendadak Rana memecah suasana kaku yang mulai melanda. "Kalau pekerjaan Revi apa?" "Gue kerja di Indo Inter Management Models." Aku sengaja menjawab sambil berpura-pura fokus menatap layar televisi di depanku yang saat ini tengah menampilkan program talk show. Aku yakin sebentar lagi Jani akan mengomentari pekerjaanku. Mungkin bahkan mencelanya. "Lo model?" Aku bisa merasakan tatapan Jani mengarah padaku meskipun aku sedang duduk membelakanginya. Dari pertanyaan yang diajukannya, aku bisa merasakan bahwa dia sedang menduga-duga seberapa tebal dompetku dibandingkan dompet Reka. Kutatap Jani sejenak. Mencoba untuk melihat ekspresi wajahnya. Sisa kejengkelan masih sedikit terlihat diwajahnya akibat ucapan Reka tadi. Matanya yang selalu menatapku dengan tajam masih terlihat sama seperti sebelumnya. "Bukan. Gue di bagian perencanaan." "Maksud lo manager?" Pertanyaan yang dilontarkannya kini bernada mencemooh. "Ya," jawabku sesingkat mungkin. Aku tahu, sebentar lagi gadis ini pasti akan melontarkan komentar pedasnya mengenai keuanganku. "Oh, cuma manager artis toh,"komentarnya dengan nada meremehkan. Aku sedikit kesal mendengarnya menganggap rendah pekerjaan yang sudah cukup lama kugeluti itu. "Udah bisa beli apa aja?" "Apartemen," jawabku lagi. Sesingkat mungkin. Aku memang memiliki sebuah apartemen yang kubeli dengan uang hasil keringatku sendiri selama bekerja. Selain apartemen, aku masih memiliki usaha sampingan kedai kopi yang kubangun bersama-sama dengan Reka. "Gak mungkin. Gue tahu banget penghasilan seorang manager artis." Dari perkataannya, sepertinya Jani sudah salah mengira mengenai pekerjaanku. Pekerjaanku bukanlah seperti manager artis yang dipikirkan dan yang sering dilihat olehnya pada para selebritis di infotainment. Aku punya ruangan tersendiri di kantor meskipun aku jarang berada disana. Aku bekerja mengurusi hampir semua model. Tidak hanya itu, aku juga yang mengatur serta menjaga hubungan baik dengan klien, investor dan sponsor untuk setiap event yang dilakukan. Jika ditugaskan untuk menemani model-model ke luar negeri, aku bisa mendapatkan komisi mencapai 100 US dollars setiap kali tugasku selesai. Meskipun terdengar sepele, namun agency modelku memiliki tarif yang cukup tinggi dalam setiap pekerjaan yang ditawarkan. Dalam satu bulan, aku bisa 3-4 kali menemani para model itu bekerja di berbagai negara di Asia. Kebanyakan di China, Korea, Taiwan, Jepang, dan beberapa negara di Asia Tenggara. "Maksud lo apa?" Tanpa kuketahui, Jessica yang kupikir tidak mempedulikan tanya jawabku dengan Jani tahu-tahu sudah bersuara. "Aku gak bermaksud apa-apa." Aku mendengar Jani membalas jawabannya masih dengan nada tenang yang sama. Aku cukup heran mengapa Jani ber 'aku-kamu' setiap kali berbicara dengan Jessica tapi menggunakan 'gue-elo' kepada Rana, aku dan Reka. "Lo sengaja ngomong kaya gitu?" Meskipun ucapan Jessica bernada pelan, aku bisa merasakan sorot kemarahan dalam setiap kata-katanya. Rupanya Jessica tidak terima jika kedua saudara tirinya dihina seperti tadi. Aku jadi merasa tersanjung atas kepeduliannya padaku. Meskipun tindakannya itu hanya didasarkan rasa perhatiannya pada seorang kakak. "Lepasin Ran." Suara Jessica terdengar semakin gusar. Sepertinya Rana tengah berusaha untuk menenangkan adik tiriku itu. "Jess, udah. Jangan lo masukin ke hati omongannya." Suara Rana terdengar cemas. Sepertinya ia juga memang tidak menginginkan adanya perang yang terjadi antara Jessica dan Jani. Reka yang duduk disampingku masih terlihat santai menonton acara televisi. Ia hanya menyunggingkan senyum simpul ketika mataku meliriknya. Aku mendengar Jani bangkit dari duduknya. "Aku gak tahu kalau kamu bakal marah dengan ucapanku. Aku gak bermaksud apa-apa. Aku minta maaf." "Bukan gue yang butuh maaf dari lo, tapi.." "Jessica Arshella." Akhirnya aku segera memotong ucapan Jessica yang kupikir jika terus dibiarkan tidak akan selesai hingga pagi menjelang. "Gak perlu lo perpanjang." Reka yang tadi sempat tersenyum simpul padaku akhirnya memalingkan wajahnya menatap Jessica. Kembaranku itu lantas berdiri menghampiri Jessica dan menepuk bahunya pelan. "Gue ataupun Revi gak masalah dengan apapun komentar dari temen lo." Aku tahu Reka masih ingin melanjutkan sindirannya pada Jani. Sebentar lagi, dia pasti.. "Kita maklum kok mengenai keadaan temen lo yang masih labil." Nah, benar kan dugaanku. Reka kembali memicu api. "Labil?" ulang Jani penuh dengan penekanan. Sebentar lagi gadis itu pasti akan mengamuk di depan kami semua. Namun sudah menjadi keahlian Reka untuk tarik ulur memainkan emosi lawan-lawannya. Reka kembali duduk di sampingku. Kulirik wajahnya yang masih terlihat santai meskipun ia tahu bahwa kini ada seorang gadis yang ingin sekali menerkamnya hidup-hidup bagai singa lapar. Selain suka menghina isi dompet seseorang, ternyata Jani memiliki emosi yang gampang meledak. Gadis itu kemudian memasang tubuhnya tepat menghalangi televisi yang sedang kami tonton dengan pose seakan menantang Reka untuk memulai perang. Merasa ditantang, Reka akhirnya bangkit berdiri menghampiri Jani. Aku hanya menatapnya dengan tenang. Aku tahu Reka tidak akan mungkin berbuat macam-macam atau main tangan dengan seorang perempuan. Jadi aku membiarkan saja saudara kembarku itu berhadap-hadapan dengan gadis menjengkelkan seperti Jani. Gadis itu memang perlu diberi sedikit pelajaran agar bisa menjaga mulutnya. Dari awal pertemuan, Jani memang sudah memancarkan aura tidak bersahabat padaku dan Reka. Aku bisa melihat Jani mulai berjaga-jaga kalau-kalau Reka bersikap kasar padanya. Kedua tangannya seolah siap siaga hendak melawan setiap saat. Melihat hal ini, Reka hanya tersenyum geli menatapnya. "Gue balik ke kosan gue ya Jess." Kalimat yang dilontarkan Reka justru ditujukan pada adik kami, Jessica. Aku bisa melihat Reka sengaja melakukannya. Dia berbicara tanpa memalingkan matanya dari Jani, seolah menganggap gadis itu tidak tampak di depan hidungnya. Setelah berkata demikian, Reka berjalan menuju tangga, meninggalkan Jani yang terlihat semakin kesal. Ketika sudah tiba di depan mulut tangga, Reka berbalik menatap Jessica yang terlihat masih bingung mencerna aksinya barusan. "Besok-besok gue bakal mampir kesini sepulang dari kantor. See ya!" Reka melambaikan tangannya kemudian mengerling menggoda pada Jessica yang masih berdiri mematung melihatnya. Begitu Reka menghilang, Jani bergerak menghampiriku. Matanya yang tadi menatap Reka dengan penuh emosi berganti menatapku. "Jadi, apa lo juga bakal mampir ke sini besok-besok?" Aku menaikkan sedikit alis mendengar pertanyaannya. Apa masalahnya jika aku kembali? Lagipula aku tidak akan kemana-mana karena malam ini aku memang masih menginap di rumah ini. Jani bertindak seolah dialah pemilik rumah ini. Lucu sekali. Kekanakan. Sepertinya memang ada yang tidak beres dengan otak gadis ini. "Gue mau mampir atau menginap disini gak ada urusannya sama lo. Memangnya elo yang bakal jadi calon adek gue?" tanyaku dengan nada pedas. Mendengar jawabanku, wajah Jani langsung berubah semakin merah padam. Yang benar saja! Aku hanya membalas apa yang dikatakannya padaku. Bukankah seharusnya aku yang marah? Gadis yang kini menatapku itu semakin membesarkan kedua matanya. "Susah ngomong sama seorang manager. Gue cuma ngomong apa yang seharusnya. Gak mungkin dengan penghasilan lo sebagai manager lo bisa beli apartemen. Gak usah banyak gaya." Hah. Aku cukup dibuat semakin dongkol pada gadis ini. Dia mengira aku berbohong dan banyak bergaya. Padahal aku hanya berkata yang sesungguhnya. Namun aku tidak berniat untuk mempertahankan ucapanku pada seorang gadis gila sepertinya. Aku tidak suka memamerkan apa yang kumiliki hanya demi sebuah ego. "Gue bukan tipe orang yang suka cari masalah duluan. Tapi gue juga bukan tipe orang yang akan selalu diam aja kalau terus-terusan dibuat kesal. Jadi silahkan lo menyingkir sekarang juga dari hadapan gue sebelum tangan gue yang bergerak gantiin mulut gue." Aku masih mencoba untuk menahan diri. Biar bagaimanapun, Jani adalah teman kuliah adikku. Dia adalah seorang tamu. Aku harus bisa menjaga sikapku dihadapan seorang tamu adikku. "Gimana kalau gue tetap gak mau nyingkir? Lo mau nampar gue? Tampar aja!" tantang Jani penuh dengan percaya diri yang tinggi. Sepertinya ia sudah belajar dari Reka yang tadi terlihat tidak ingin main tangan padanya. Mungkin ia lupa bahwa aku dan Reka adalah pribadi yang berbeda meskipun wajah kami sama. "Cuma cowok pengecut yang berani main tangan sama cewek. Lo pikir gue bisa dibodoh-bodohin?" Kalimat Jani selanjutnya membuat aku kontan tertawa. Apa yang baru saja dikatakannya? Pasti dia mengira kalau aku ini laki-laki. Lucu sekali. Tentu saja aku bisa dengan mudah menamparnya karena kami sama-sama perempuan. Aku bahkan tidak peduli jika aku benar-benar laki-laki. Aku akan tetap menamparnya jika bicaranya sudah kelewat batas. Bukankah sekarang zamannya kesetaraan gender? "Rev! Kesini sebentar!" Baru saja aku ingin mengatakan padanya bahwa aku ini perempuan ketika mendadak suara Papa memanggilku dari lantai bawah. Aku langsung menghentikan tawaku dan melirik ke arah tangga. "Iya Pa!" Aku balas berseru. Aku langsung bangkit dan tanpa mempedulikan Jani yang masih ingin berdebat, aku berjalan menuruni tangga dengan sedikit tergesa-gesa. "Papa sama Reka udah mau pulang. Kamu jaga kelakuan selama disini. Besok Reka akan jemput kamu untuk balik ke Bandung," beritahu Papa begitu aku sudah tiba di hadapannya. Aku hanya mengangguk kemudian melirik Reka yang berdiri disisinya. Kembaranku itu hanya tersenyum lalu mengerling padaku. Sampai kapan Reka akan bersikap kekanakan seperti itu? Benar-benar. Reka kemudian memalingkan wajahnya dariku dan bergerak menghampiri Jessica yang tahu-tahu sudah berada di dekat kami. Dijabatnya tangan Jessica kemudian berkata, "gue senang bisa makan malam sama lo Jess. Gue harap saat gue kesini, makan malamnya hanya khusus untuk keluarga kita aja tanpa adanya gangguan dari temen lo." Mendengar perkataan Reka, wajah Jessica terlihat tidak enak. "Sorry soal Jani, Kak. Awalnya aku juga gak pernah undang dia kesini." Reka kembali tersenyum. "Gue senang dengarnya. Itu berarti lo gak berteman dekat dengan cewek itu kan?" Sepertinya pikiranku dan Reka sama kali ini. Kami tidak berharap Jessica benar-benar berteman dengan gadis sakit jiwa seperti Jani. Sifat gadis itu benar-benar menggangguku. Aku melihat Jessica menggeleng menjawab pertanyaan Reka. Aku langsung bersyukur di dalam hati melihat jawabannya. Setidaknya aku tidak perlu merasa takut adikku bergaul dengan gadis psycho dan tidak merasa bersalah karena sudah sedikit kasar pada tamunya. "Udah gue duga. Adek gue gak mungkin punya teman sinting seperti itu." Reka terlihat puas melihat jawaban Jessica. Sama puasnya denganku. "Besok sore gue balik lagi kesini. Buat jemput Rev." "Jemput?" tanya Jessica memastikan. Matanya kemudian melirik padaku. "Apa kalian sudah mau balik ke Bandung?" "Gue sama Revi mau sebarin undangan buat keluarga besar Papa yang di Bandung. Meskipun gak bisa hadir, minimal mereka tahu kalau Papa bakal punya istri. Kita juga mau fitting baju buat hari H. Lo pasti gak mau lihat calon-calon kakak lo penampilannya acak-acakan kan?" Reka mulai memberitahu alasan kepulangan kami pada Jessica. Ekspresi Jessica langsung berubah mengerti. Seakan teringat sesuatu, ia kembali bertanya, "jadi waktu acara nanti kalian pake kemeja, batik, atau.." "Kemeja dibalut jas putih. Sama kayak Papa kok," beritahu Reka cepat. Ia kemudian mendekatkan bibirnya ketelinga Jessica. "Oh iya Jess.." Reka membisikkan sesuatu pada Jessica dengan suara pelan. Aku tidak bisa mendengar jelas apa yang dikatakannya tapi aku bisa menangkap inti dari pembicaraannya. Reka meminta Jessica untuk tampil secantik mungkin di hari pernikahan nanti untuk diperkenalkannya pada kekasihnya, Jill. "Apa pacar Kak Rev juga dateng?" Jessica kini ganti menatapku dengan sorot ingin tahu. Apa maksud ucapannya? Apakah dia ingin aku menimbulkan keributan dengan membawa pasangan lesbianku ke acara sepenting itu? Seluruh keluargaku dan keluarganya pasti akan heboh melihatnya. Aku beruntung saat ini aku sedang tidak berpacaran dengan siapapun. Jika iya, Jessica pasti memaksaku untuk mengenalkannya ke seluruh keluarga besar kami. "Rev jomblo tuh Jess.." beritahu Reka padanya. "Kalau ada temen lo yang belak-belok, bisa tuh lo tawarin ke dia. Asal jangan Jani." Aku spontan mendorong bahu kembaranku itu begitu mendengar candaannya. "Belak belok?" tanya Jessica terlihat bingung. Ia sepertinya tidak begitu mengerti istilah bagi orang-orang yang memiliki kelainan orientasi seksual sepertiku. "Reka! Buruan!" Reka terlihat ingin menjelaskan padanya ketika suara Papa membuatnya tersadar bahwa ia sudah ditunggu sejak tadi. Reka akhirnya mengedipkan sebelah matanya pada Jessica sebelum berjalan mengikuti Papa menuju garasi mobil. Aku, Jessica dan Mama akhirnya mengantarkan kepergian mobil Papa di depan pagar hingga menghilang dari pandangan. Setelah kembali ke lantai atas, Jani yang tadi sempat kesal terlihat masih ingin menumpahkan kekesalannya padaku. Aku akhirnya memutuskan untuk meninggalkan ketiga gadis itu dan masuk ke dalam kamarku. Aku tidak ingin mendengar Jani kembali melancarkan aksi permusuhannya padaku. Bukankah aku sudah berusaha bersikap baik dan menghormati tamu adikku itu? Aku tidak ingin memperpanjang masalah dengan gadis itu dan membuat citra Jessica menjadi jelek dimatanya. Sepertinya Jani mulai merasa kehadirannya di rumah ini tidak diinginkan. Aku bisa melihat sebuah mobil sport buatan Jerman menjemputnya dari balik tirai jendela kamarku. Pantas saja gadis itu menganggap materi adalah segalanya. Lihat saja mobil mentereng berwarna merah itu. Siapapun yang menjemputnya, entah itu kekasih atau keluarganya pasti sudah dipeloroti habis-habisan oleh Jani. Aku membaringkan tubuhku di kasur dan mengecek smartphone yang seharian ini sempat kuabaikan. Aku termasuk tipe manusia yang tidak bisa lepas dari smartphone barang satu detik kecuali jika aku ada kegiatan lain yang tidak bisa kutinggalkan seperti pekerjaan. Aku cukup kaget mendapati diriku tidak menyentuh smartphone kesayanganku ini selama berjam-jam lamanya. Ada beberapa pesan yang masuk di blackberry messenger, line dan w******p. Kebanyakan dari teman-temanku dan iklan tidak penting. Aku sempat menemukan pesan dari mantan pacarku yang mengatakan bahwa ia rindu padaku. Aku tersenyum kecil membaca pesan darinya. Meskipun sudah berpisah satu setengah tahun yang lalu dan sempat lost kontak beberapa bulan lamanya, aku masih menjalin komunikasi dengan Sam dengan baik meskipun tidak seintens saat masih berpacaran dulu. Dia pacar terakhirku sebelum akhirnya aku memutuskan untuk tidak lagi mencari pengganti dirinya. Sejauh ini aku belum menemukan seseorang yang lebih baik dari Sam yang mampu memikat hatiku. Samantha, gadis muda dengan sifat dewasa yang mampu membuatku terpukau itu yang lebih dulu meminta untuk mengakhiri hubungan kami. Alasannya sederhana. Ia tidak ingin melanjutkan hubungan aneh yang tidak memiliki masa depan. Ia ingin menjalin hubungan dengan laki-laki, berpacaran dengan normal lalu menikah. Namun pada akhirnya Sam lah yang kembali menghubungiku dan mengatakan bahwa hanya aku satu-satunya mantan kekasihnya yang paling mengerti dirinya. Dari kalimat-kalimatnya padaku saat itu, aku tahu bahwa Sam masih tidak bisa melupakanku sepenuhnya dan ingin kembali melanjutkan hubungan kami. Namun aku masih sangat sakit hati padanya. Aku tidak ingin kejadian yang sama terulang hingga kedua kali. Kami akhirnya sepakat untuk tetap berteman dekat meskipun sesekali kami masih saling flirting setiap kali bertemu atau mengobrol. Aku sempat saling membalas pesan di w******p dengan Sam sebelum akhirnya jatuh tertidur. *** Suara adzan subuh membangunkanku dari tidur nyenyakku. Setelah mengambil wudhu dan melakukan kewajibanku sebagai makhluk Tuhan, aku berganti pakaian dengan celana pendek selutut dan kaus tipis tanpa lengan. Suasana rumah masih sepi begitu aku menuruni tangga ke lantai bawah. Setelah memutar kunci dan knop pintu rumahku dengan sepelan mungkin, aku tidak ingin membangunkan siapapun, aku mulai berjalan menyusuri halaman kecil di depan teras rumah dan melakukan ritual pagiku. Olahraga. Baru beberapa menit aku melakukan pemanasan, Jessica sudah muncul dari balik pintu rumah. Wajahnya masih terlihat mengantuk, rambutnya sedikit berantakan dan ia masih mengenakan baju tidurnya. So, she's wake up like that. Aku sedikit heran melihatnya kembali bangun sepagi ini. Namun sepertinya Jessica tidak berniat untuk jogging lagi pagi ini. "Lo mau lari lagi pagi ini?" Meskipun sudah tahu jawabannya, aku tetap bertanya padanya. Jessica terlihat terkejut dengan pertanyaanku. Matanya lalu bergerak menelusuri tubuhnya yang masih mengenakan pakaian tidur lalu kembali menatapku dengan sedikit malu. Sepertinya dia tidak sadar bahwa ia belum sempat mengganti pakaiannya dan langsung turun ke teras. Aku tidak tahu apa yang ingin dilakukannya, sepertinya ia hanya ingin menikmati udara pagi yang masih sejuk tanpa polusi. Setelah memberinya senyuman kecil, aku kembali melanjutkan aktivitasku yang sempat terhenti tadi. Jessica duduk di teras sambil menontonku melakukan pemanasan. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya, namun matanya menerawang dan terlihat tidak fokus. Kadang aku melihat matanya asik memandang langit yang berwarna jingga. Wajahnya yang sedang menatap langit itu ingin sekali kuabadikan dalam sebuah potret. Pasti hasilnya akan bagus sekali. Sayang aku sedang tidak membawa kamera DSLR ku. Aku sengaja meninggalkan benda itu di kamarku di Bandung. Jessica masih tidak menyadari ketika aku berjalan menghampirinya. Aku sempat memperhatikan sekilas wajahnya dari samping. Cantik sekali. Jessica akhirnya menoleh kaget begitu aku duduk di sampingnya. "Lo memang biasa bangun sepagi ini?" Aku akhirnya memutuskan untuk mengajaknya berbicara lebih dulu. Aku tidak ingin sikap kaku ku akan membuatnya tidak nyaman setiap kali berada di dekatku. "Mama udah ngebiasain aku dari kecil untuk bangun pagi Kak," jawabnya dengan suara khasnya yang lembut. Matanya kembali menatap langit. Entah apa yang dipikirkannya saat ini. Aku mengangguk sambil berdeham. "Rana belum bangun?" tanyaku berbasa-basi. Aku sedikit bingung harus berbicara apa padanya. Jessica sepertinya tidak menyadari kebingunganku. Matanya masih fokus memandang langit dan sesekali memperhatikan halaman. "Belum Kak. Dia kalau bangun agak siangan dikit." Jessica kini berpaling menatapku. Wajahnya mendadak menyorotkan perasaan bersalah. "Sorry soal Jani kemarin.." "Gak apa-apa. Bukan lo yang salah." Aku cepat memotong ucapannya begitu bisa menebak ke arah mana pembicaraannya. Aku tidak ingin membuat Jessica merasa tidak enak padaku maupun Reka. Aku sudah terbiasa dilecehkan dan dianggap remeh. Sudah menjadi hal biasa bagiku mendapat perlakuan seperti dari Jani semalam. "Aku gak tahu kalau dia bakal ngomong begitu sama Kak Rev dan Kak Rek." Jessica terlihat masih merasa bersalah. Wajahnya tertunduk sejenak. "Iya gak apa-apa. Lagipula bukan lo yang ajak dia buat kerumah. Dari yang gue lihat, lo dan dia juga gak sedekat seperti lo dan Rana." "Aku juga gak tahu kenapa kemarin dia tiba-tiba mau main ke rumah. Aku juga baru kemarin ngobrol sama dia. Sebelumnya cuma sekedar kenal gitu aja." Jessica berbicara sambil memainkan jari-jarinya di lantai. Tangannya bergerak-gerak membuat coretan-coretan tidak jelas di atas keramik yang berwarna coklat gelap. Sepertinya Jessica menyadari bahwa aku sedang memperhatikan aksinya. Tangannya berhenti kemudian menatapku. "Kalian ada kuliah hari ini?" tanyaku sambil menatap matanya lurus-lurus. Jessica memandangi mataku sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Jam 10 nanti Kak." Pandangan matanya barusan membuat hatiku kembali bergemuruh bak petir yang menyambar-nyambar di atas bukit. Berada sedekat ini dengan Jessica membuatku seakan ingin hidup selamanya dengan terus memandanginya. Aku menyukai perasaan ini. Perasaan nyaman, hangat, aman, tenang namun juga penuh gemuruh di dalam d**a dan perutku. Aku mulai sadar bahwa kami sudah berdiam diri cukup lama. Otakku langsung berpikir cepat untuk mencari bahan obrolan lainnya. Meskipun aku sudah cukup merasa nyaman jika saling diam, tapi aku tidak ingin membuat Jessica merasa kehadirannya diabaikan olehku. "Gimana rasanya kuliah dkv?" Akhirnya pertanyaan itulah yang keluar dari mulutku. "Gue dulu kepengen banget bisa kuliah di jurusan itu." "Terus?" Jessica tampak mulai tertarik mendengar pernyataan dariku. "Kenapa gak jadi?" Aku berpaling darinya kemudian menatap langit. Pikiranku langsung teringat saat dimana Papa memintaku untuk melanjutkan kuliahku di jurusan dan universitas yang diinginkannya. Sejak kecil, Papa memang selalu mengatur aku dan Reka soal pendidikan. Ia ingin anak-anaknya pintar dan cerdas melebihi dirinya sehingga bisa menjadi orang sukses. "Biasa, Papa. Dia maunya gue ambil manajemen bisnis." "Kalau Kak Rek ambil manajemen juga?" Aku menggeleng menjawab pertanyaan Jessica barusan. "Reka di jurusan teknik sipil." "Itu maunya Papa juga?" tebak Jessica. Aku mengangguk. Aku tidak ingin membahasnya lebih jauh. Aku akhirnya mengalihkan perbincangan mengenai kuliahnya. "Gue pernah belajar photoshop dengan otodidak. Itu termasuk dkv juga kan?" "Ya." "Skill photoshop gue lumayan. Kalau lo punya tugas yang kira-kira butuhin bantuan gue, lo bisa minta tolong ke gue," kataku padanya. "Gue juga pernah belajar fotografi dan edit-edit video. Minimal aplikasi movie maker gue tahu lah." Jessica sepertinya sedikit kaget mengetahui aku bisa mengolah kedua software tersebut. Kedua bola matanya langsung cerah menatapku. "Kak Rev bisa ngelukis juga? Bikin pop art? Print ad? Ilustrasi?" "Kalau print ad, cover, banner dan semacamnya gue masih bisa. Tapi kalau udah tingkat dewa kaya pop art, ilustrasi, komik, animasi.. Udah sulit." "Ah, I see..," gumamnya sambil menganggukkan kepalanya. Jessica tiba-tiba menegakkan badannya kemudian memperhatikanku yang masih duduk disampingnya. "Kak Rev gak jadi jogging?" tanyanya perlahan. "Ah!" Aku langsung berseru kaget. Aku lupa dengan niatku semula. Aku terlalu asik berbincang dengannya sehingga melupakan segalanya. Pesona Jessica benar-benar sudah tidak terbendung lagi di dalam otakku. Dengan gerakan cepat, aku bangkit berdiri lalu berjalan menuju pagar rumah yang masih tertutup rapat. Namun aku langsung teringat sesuatu. Serta merta, aku berbalik dan memandang Jessica yang ternyata tengah memperhatikanku. Aku mencoba menyusun kalimat sejelas mungkin di pikiranku. "Gue tahu kalau kita sama. Gimana kepribadian lo, cara lo berpikir, sikap dan apa yang lo suka. Gue juga memikirkannya dan menyukainya." Baik, sepertinya bicaraku cukup belepotan sehingga membuat Jessica semakin tidak mengerti. Melihat wajahnya yang mendadak berubah bingung, aku akhirnya langsung berbalik dan bergegas pergi. Sulit sekali mengatakan apa yang ada dipikiranku dan merangkainya menjadi kesatuan kalimat utuh seperti yang diinginkan oleh otakku. Aku tidak terbiasa berkata-kata. Aku lebih suka menunjukkannya atau menuliskannya ke dalam secarik kertas daripada harus mengucapkannya. Itu sulit sekali. Aku hanya ingin memberitahunya bahwa kami memiliki cara pandang dan berpikir yang sama. Seolah dia adalah bayanganku dan aku juga adalah bayangan dari dirinya. Selama beberapa hari bersamanya, aku banyak mencermati sifat dan sikapnya. Sejauh yang kulihat, kami banyak memiliki kesamaan dalam banyak hal. Aku sedang berlari kecil menuju taman komplek ketika melihat beberapa meter di depanku ada seorang balita yang baru saja keluar dari halaman rumahnya dan hendak berjalan menyebrang jalan. Seorang pengendara sepeda yang saat itu tengah melintas dari arah berlawanan cukup terkejut melihat si anak. Ia menekan remnya kuat-kuat. Meskipun sang pengendara sepeda itu bisa menahan laju sepedanya, tetapi sang balita yang terkejut hampir saja terjatuh menabrak roda sepeda jika aku tidak cepat menangkap tubuhnya. Dengan sekali gerakan, kubawa balita laki-laki itu kedalam gendonganku. Sepertinya ia menyadari bahwa bahaya hampir saja mengancamnya. Balita itu langsung menangis kencang ke dalam gendonganku. Seorang ibu muda yang tadi sempat menjerit memanggil si balita langsung berlari menghampiriku. "Ya Allah, Zaffa. Kamu gak apa-apa nak?" Ibu itu meraih balita dari dalam gendonganku kemudian memeriksa tubuhnya dengan seksama. Wajahnya kemudian berpaling menatapku dengan kelegaan yang luar biasa. "Terima kasih Dik. Untung saja tadi ada kamu." "Iya sama-sama Kak." Ibu muda yang tadi terlihat cemas pada anaknya itu kemudian mulai memperhatikan wajahku. "Kamu tinggal di komplek ini? Kok gak pernah lihat ya." "Iya, aku anaknya Bu Merry yang tinggal di blok N, Kak," beritahuku padanya sambil menunjuk kearah blok dimana rumah Jessica berada. "Oh Kakaknya Jessica Arshella?" Ibu muda itu langsung mengangguk-angguk mengerti. "Papa kamu yang hari Minggu nanti mau nikah sama Mamanya Jessica kan? Aku sudah dapat undangannya." "Iya bener Kak." Aku hanya tersenyum kemudian melirik balita yang masih menangis kencang dalam dekapan ibu muda tersebut. "Kalau begitu saya permisi dulu Kak." Ibu muda itu kemudian mengucapkan terima kasih berkali-kali padaku ketika aku berbalik melanjutkan lariku. Aku sempat melihat si pengendara sepeda tadi sama kagetnya dengan sang ibu. Sepertinya si pengendara sepeda kenal dengan ibu muda tersebut. Setelah aku pergi, pengendara sepeda yang seusia Papa itu turun dari sepedanya dan menghampiri sang ibu dan anaknya. Aku tidak begitu memperhatikan apa yang mereka lakukan dari kejauhan. Sepertinya sang pengendara tadi hendak meminta maaf pada sang ibu. Rupanya Jessica cukup dikenal di komplek rumahnya. Tentu saja. Dia seorang pemain film dan model. Manusia mana yang tidak bangga bisa bertetanggaan dengannya. Bisa menjadi kakak tirinya saja sudah membuatku merasa bahwa aku sedang bermimpi. Jika aku memang bermimpi, maka aku tidak ingin segera bangun dari tidur indahku ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN