Malam itu aku mengajak Rana dan Jani ikut makan malam bersama keluarga kecilku. Suasana meja makan yang biasanya hanya di isi oleh aku dan Mama mendadak jadi penuh oleh kehadiran keluarga baruku dan kedua tamuku. Aku bisa melihat senyum Mama berkembang berkali-kali setiap kali melihat Papa dan kedua saudara kembarku. Sepertinya Mama sudah menemukan kembali cahaya hidupnya yang dulu sempat redup karena ditinggal oleh Papa kandungku.
Aku melirik Papa yang kini mulai menikmati makanannya. Dahiku sedikit berkerut begitu memperhatikan piring di depannya. Ada begitu banyak lauk pauk yang disajikan Bude di meja makan, tapi Papa justru lebih memilih ikan bakar dan cumi goreng tepung dibandingkan menu lainnya yang menurutku lebih enak. Sama hal nya dengan piring Papa, piring Rev juga tidak kalah tragis nasibnya. Ia hanya mengambil beberapa cumi goreng tepung dan tahu tempe. Berbeda dengan keduanya, piring Reka justru terisi penuh oleh semua lauk pauk dengan nasi yang menggunung. Ada cap cay, sayur bayam, ikan bakar, gulai nangka, cumi goreng tepung, soto babat dan beberapa lalapan seperti timun dan tomat.
Menyadari keherananku, Mama hanya tersenyum kemudian berkata, "Papa kamu sama Revi gak suka makan sayur Jess."
Mendengar ucapan Mama, Reka menoleh dari piringnya kemudian melihatku dengan wajah lucu. "Kalau Papa masih mendingan. Dia masih makan timun sama tomat. Pindang ikan sama gulai ayam juga masih di embat. Tapi kalau Rev.. Semua jenis ikan kecuali ikan lele sama ikan laut gak di makan. Pokoknya yang namanya daun-daunan dan berkuah itu dia juga gak bakal doyan."
"Rendang masih gue embat kok." bantah Rev membela dirinya.
"Rendang itu bukan sayur!" Rek menjawab tidak mau kalah. "Rendang bukan sayur. Gak berkuah," balas Rek lagi.
"Rendang termasuk sayur."
"Bukan. Keras kepala banget lo di kasih tahu."
Aku melihat Rev masih ingin membantah ketika akhirnya dehaman Papa menghentikan aksi saling adu mulut mereka. Aku baru menyadari bahwa kedua saudara tiriku itu akan membuat suasana menjadi ramai jika bertemu. Ada saja yang mereka ributkan. Sikap Rev yang semula kaku langsung berubah drastis dengan adanya kehadiran Rek. Mereka seolah saling melengkapi satu sama lain.
Begitu selesai makan, aku langsung mengajak Rana dan Jani untuk ke lantai atas. Ada ruang santai di atas yang sering kugunakan bersama Mama berbincang. Aku sengaja membiarkan Mama menikmati waktunya bersama calon keluarga baru kami di bawah. Aku tidak ingin mengganggu usaha Mama untuk mendapatkan hati kedua saudara kembar itu.
Aku masih cukup enggan untuk melayani ucapan demi ucapan Jani yang dilontarkan padaku sejak tiba di rumah. Aku sengaja menjawab seperlunya tanpa menghilangkan rasa sopanku. Kupikir Jani sudah menyadari bahwa aku tidak ingin terlalu mengekspos kehidupan pribadiku padanya. Namun sepertinya cewek itu tidak pantang menyerah. Tidak puas dengan jawabanku, dia beralih bertanya pada Rana. Tentu saja Rana tidak memberitahunya meskipun terkadang mulutnya yang cerewet itu masih suka kelepasan. Aku jadi teringat akan nasehat yang diberikan oleh Vera seusai kuliah tadi. Sampai detik ini, sahabatku itu masih belum menghubungiku. Aku semakin penasaran berita apa yang hendak disampaikannya padaku mengenai Jani. Wajah Vera sangat serius ketika berbicara padaku tadi.
"Jadi, siapa di antara kedua saudara kembar itu yang masih jomblo?" Rana menggeser duduknya mendekatiku. "Kalau ngelihat dari sikapnya sih, kayaknya Reka yang masih available."
"Menurut gue Revi," celetuk Jani tidak sependapat. "Reka lebih fleksibel dan mudah bergaul. Tipe seperti itu biasanya punya banyak teman dan sudah pasti punya pacar."
"Jadi kalau Revi?"
"Revi itu sedikit kaku. Mungkin teman-temannya cuma ada 2 sampai 3 orang aja." Jani kemudian berpaling menatapku. "Apa tebakan aku benar?" tanyanya.
"Gue.. Gak tahu. Gue baru kenal mereka kemarin," jawabku jujur. Aku memang belum bertanya sampai sejauh itu mengenai kehidupan pribadi sepasang saudara kembar yang unik itu. Tapi mendengar analisa Jani, sepertinya cukup masuk akal.
"Jadi menurut Miss Jani, kira-kira pekerjaan apa yang mereka geluti dilihat dari sifat mereka?" Rana mengajukan pertanyaan yang menurutku cukup sulit dijawab.
Jani menautkan kedua alisnya sejenak kemudian menselonjorkan kedua kakinya di atas sofa. "Gampang. Revi mungkin kerja kantoran. Pekerjaan monoton yang menurut gue membosankan. Kalau Reka mungkin lebih banyak turun ke lapangan. Mungkin pekerjaannya di bidang marketing, advertising, atau semacam itu."
"Tebakan lo salah." Tiba-tiba saja sebuah suara menampik analisa Jani yang kupikir semakin masuk akal.
Aku langsung menoleh kaget mendengar suara itu. Sama halnya denganku, Rana dan Jani ikut berpaling melihat siapa yang tiba-tiba mengganggu percakapan mereka. Rek sudah berdiri di belakang kami sambil tersenyum. Di balik punggungnya, Rev memasang ekspresi tidak nyaman karena sudah mengganggu.
Wajah Rana langsung merasa serba salah karena sudah tertangkap basah membicarakan sepasang kembar itu dengan diam-diam. Ia melirik Rek dan Rev bergantian dengan wajah takut-takut. Jani justru sebaliknya. Ekpresinya tetap tenang seperti sebelumnya.
Rek bergerak menghampiri kami kemudian duduk di atas karpet. Rev yang melihat saudara kembarnya sudah duduk akhirnya ikut duduk disamping Rek. Mata Rev melirikku sekilas sebelum akhirnya memandang layar televisi yang sedang menayangkan acara talk show.
"Yang kerja kantoran justru gue," beritahu Rek tanpa diminta. "Gue kerja sebagai engineer di PT Sapta Construction Management."
"PT itu kan sering ngerjain proyek-proyek gede.." komentar Jani dengan ekspresi tenang yang sama. "Pasti dompet lo tebel."
Aku tercekat mendengar ucapan Jani yang bernada santai itu. Bagaimana mungkin dia mengomentari pendapatan seseorang dengan begitu gamblangnya tanpa merasa sungkan. Menurutku itu hal pertama yang harus dihindari saat berkenalan dengan seorang cowok. Mengomentari isi dompetnya!
Bukannya tersinggung atau merasa risih, Rek justru tertawa singkat. "Iya lo bener. Lumayan cukup kalau buat biayain hidup seorang cewek seperti lo." Astaga. Aku sedikit mengkerut mendengar perkataan Rek yang terkesan menyindir itu. Namun dari nada bicaranya yang santai, tidak terlihat bahwa Rek sedang menyerang balik Jani.
Aku melirik Jani yang kini mulai mengerutkan dahinya. Aku berharap tidak akan terjadi pertumpahan sindiran disini. Jani yang menyadari bahwa aku sempat melihatnya sepertinya menyadari kekhawatiranku. Ia kembali bersikap sesantai mungkin.
"Err.. Kalau pekerjaan Revi apa?" Rana yang kurasa juga menyadari situasi yang mulai tidak aman kini mengalihkan fokus pertanyaan pada Rev yang masih sibuk memandangi Nycta Gina dari layar televisi.
"Gue kerja di Indo Inter Management Models," jawab Rev pelan. Matanya masih tidak lepas dari Nycta Gina yang kupikir lama kelamaan semakin terlihat menyebalkan.
"Lo model?" Jani lagi-lagi bertanya dengan nada tenang. Aku berharap ia tidak lagi memancing perang sindiran kali ini. Aku bersumpah tidak akan membawanya lagi kerumah jika hal itu sampai terjadi.
Rev menoleh sekilas menatap Jani. "Bukan," sahutnya lalu kembali menatap layar televisi. "Gue di bagian perencanaan."
"Maksud lo manager?"
"Ya."
"Oh, cuma manager artis toh," komentar Jani membuat dadaku semakin tersulut emosi. "Udah bisa beli apa aja?"
Rev yang merasa disindir kali ini masih tidak mempedulikan pertanyaan Jani. Matanya masih fokus memperhatikan Nycta Gina yang kini sedang menggoda host di acara talk show tersebut. "Apartemen," jawabnya akhirnya.
Mendengar jawaban Rev, Jani justru tertawa mengejek. "Gak mungkin. Gue tahu banget penghasilan seorang manager artis." Cukup sudah. Aku sudah tidak tahan dengan komentar-komentarnya yang menghina kedua kakakku itu.
Aku langsung berdiri di sampingnya sambil melipat kedua tanganku di depan d**a. "Maksud lo apa?"
Jani yang duduk bersandar langsung menatapku dengan bingung. Sepertinya dia tidak menyadari bahwa ucapannya barusan sudah menyakiti hatiku. Matanya mulai menyipit memperhatikanku. "Aku gak bermaksud apa-apa."
"Lo sengaja kan ngomong kaya gitu?" tanyaku masih dengan nada yang sama. Rana yang mengerti akan tabiatku jika sedang kesal langsung bangkit dan berusaha menarikku untuk menjauhi Jani. "Lepasin Ran," tepisku berusaha melepas cengkraman tangan Rana di lenganku.
"Jess, udah. Jangan lo masukin ke hati omongannya." Rana masih berusaha untuk menahanku. Tangannya kembali memegang lenganku.
Aku kembali menepis tangan Rana tanpa membuang tatapanku dari Jani. Aku memang tipe orang yang paling sulit untuk marah. Jika sedang kesal, aku lebih baik diam daripada mengutarakan kekesalanku. Jika pun aku mengeluarkannya, orang-orang disekelilingku pasti tidak akan menanggapinya. Aku tidak tahu apa yang salah. Mungkin aku kurang tegas atau terlalu lembek pada mereka.
Jani bangkit dari duduknya kemudian balas menatapku masih dengan wajah tenangnya. "Aku gak tahu kalau kamu bakal marah dengan ucapanku. Aku gak bermaksud apa-apa. Aku minta maaf."
"Bukan gue yang butuh maaf dari lo. Tapi.."
"Jessica Arshella." Rev yang masih menatap layar televisi mendadak memanggil namaku. "Gak perlu lo perpanjang."
Rek yang duduk disisinya ikut mengangguk sambil memandangiku. Cowok dengan senyum hangat itu kemudian bangkit berdiri dan menepuk pundakku dengan pelan. "Gue ataupun Revi gak masalah dengan apapun komentar dari temen lo. Kita maklum kok mengenai keadaan temen lo yang masih labil." Kukira Rek berusaha untuk meredakan emosiku, di luar dugaan dia justru menambah air ke dalam minyak yang panas.
Perkataan Rek tentu saja membuat Jani ikut tersulut emosinya. Ia menatap Rek dengan tajam. "Labil?" ulangnya tanpa mempedulikan kehadiranku. Pandangannya lurus seakan ingin menelan Rek hidup-hidup.
Rek hanya mengangkat bahu kemudian kembali duduk di samping Rev. Sepertinya kakak tiriku itu tidak ingin memperpanjang masalah dan ingin segera menyudahinya. Namun Jani terlihat masih tidak bisa terima. Cewek itu kemudian berdiri di depan kedua kakak beradik kembar itu sehingga menghalangi pandangan mereka dari layar televisi.
Merasa terganggu, Rek akhirnya bangkit berdiri kemudian berjalan menghampiri Jani. Kini keduanya sudah saling berdiri berhadap-hadapan satu sama lain dalam jarak yang sangat dekat. Aku bisa melihat kedua wajah mereka menyorotkan ekspresi yang saling berbeda. Jani dengan wajah tenang namun tatapan penuh emosinya sedangkan Rek yang masih menunjukkan senyum hangat dengan sorot matanya yang jahil.
"Gue balik ke kosan gue ya Jess." Rek berbicara padaku tanpa memalingkan pandangannya dari Jani. Setelah memberikan Jani senyumnya yang kupikir sedikit mengejek itu, Rek lantas berjalan menuju tangga. Tiba di anak tangga, Rek berbalik kemudian menatapku. "Besok-besok gue bakal mampir kesini sepulang dari kantor. See ya!" Dilambaikannya tangannya padaku sambil mengedipkan sebelah matanya. Ia kemudian menuruni tangga dengan langkah-langkah ringan.
Jani terlihat merasa tidak terima diacuhkan begitu saja oleh salah satu dari si kembar. Dengan mata masih terlihat kesal, cewek itu kini mendekati Rev yang masih duduk santai sedari tadi. "Jadi, apa lo juga bakal mampir kesini besok-besok?"
Aku tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana reaksi Rev. Tapi kakak tiriku itu melontarkan pernyataan yang cukup pedas. "Gue mau mampir atau menginap disini gak ada urusannya sama lo. Memangnya elo yang bakal jadi calon adek gue?"
Diberi jawaban seperti itu, wajah Jani langsung berubah merah padam. Sepertinya ia mulai sadar bahwa pertanyaannya barusan adalah pertanyaan yang tidak sepantasnya ia tanyakan mengingat ia bukanlah siapa-siapa di rumah ini, dirumahku. Aku sedikit puas mendengar nada pedas yang dilontarkan Rev. Maksudku, siapa yang tidak jengkel jika ada seorang kakak tingkat yang tidak begitu kukenal tiba-tiba ingin menginap dirumahku kemudian dengan sengaja mencari masalah dan mengejek kedua saudara tiriku. Sudah sepantasnya diusir bukan? Mungkin hal ini yang dimaksudkan Vera tadi. Bahwa Jani bukanlah tipe tamu yang pantas untuk kubawa kerumahku. Dia berlagak seperti menjadi pemilik rumah ini. Sungguh aneh. Mungkin ada yang salah dengan kejiwaannya.
"Susah ngomong sama seorang manager," desis Jani masih dengan niatnya yang ingin mengejek. "Gue cuma ngomong apa yang seharusnya. Gak mungkin dengan penghasilan lo sebagai manager lo bisa beli apartemen. Gak usah banyak gaya."
"Gue bukan tipe orang yang suka cari masalah duluan. Tapi gue juga bukan tipe orang yang akan selalu diam aja kalau terus-terusan dibuat kesal. Jadi silahkan lo menyingkir sekarang juga dari hadapan gue. Sebelum tangan gue yang bergerak gantiin mulut gue."
"Gimana kalau gue tetap gak mau nyingkir? Lo mau nampar gue? Tampar aja," tantang Jani tanpa merasa takut. "Cuma cowok pengecut yang berani main tangan sama cewek. Lo pikir gue bisa di bodoh-bodohin?"
Mendengar balasan Jani, bukannya marah, Rev justru meledak tertawa. Oke, ini memang bukan saatnya untuk terpesona. But for god sake, aku tidak bisa menggendalikannya. Rev terlihat jauh lebih menarik jika tertawa seperti itu. Bukannya aku tidak pernah melihatnya, aku sudah sering melihat tawa Rek, kembarannya. Tapi meskipun wajah mereka mirip tawa keduanya sungguh berbeda. Rek lebih sering tertawa lepas dengan wajah yang sehangat mungkin. Tapi Rev.. Aku bingung menjelaskannya. Menurutku tawanya punya gaya. Punya kharisma tersendiri.
Baik, sepertinya bukan aku sendiri yang terpesona disini. Kulihat Rana ikut terpana memperhatikan kakak tiriku itu. Aku mendadak menjadi merasa sedikit tidak rela membiarkan Rana menikmati pemandangan indah itu dengan leluasa. Baik, sejak kapan kau menjadi se-protektif ini Jessica Arshella? Aku merutuki diriku sendiri yang merasa terlalu berlebihan.
Rev tiba-tiba menghentikan tawanya ketika suara Papa berseru memanggilnya dari lantai bawah. "Iya Pa!" Rev bangkit berdiri dan tanpa berkata-kata lagi langsung berjalan menuruni tangga dengan tergesa-gesa.
Sepertinya Papa dan Rek ingin berpamitan untuk kembali ke kosan Rek. Meskipun tidak dipanggil, aku menyusul Rev yang sudah lebih dulu ke lantai bawah. Ketika menuruni tangga, aku bisa melihat Papa dan Rek sudah bersiap-siap pamit pada Rev.
Melihat kemunculanku, Rek langsung menghampiriku dan menjabat tanganku dengan senyum khasnya. "Gue senang bisa makan malam sama lo Jess. Gue harap saat gue kesini, makan malamnya hanya khusus untuk keluarga kita aja tanpa adanya gangguan dari temen lo."
Aku tahu meskipun Rek terlihat tidak terlalu mempermasalahkan apa yang diucapkan oleh Jani, kenyamanannya cukup terusik dengan kehadiran kakak tingkatku itu. Mendengar ucapannya yang terkesan sedikit meminta itu, aku menjadi merasa tidak enak padanya. "Sorry soal Jani, Kak. Awalnya aku juga gak pernah undang dia kesini."
Mendengar permintaan maafku, Rek lagi-lagi tersenyum. "Gue senang dengarnya. Itu berarti lo gak berteman dekat dengan cewek itu kan?"
Aku menggeleng cepat.
"Udah gue duga. Adek gue gak mungkin punya teman sinting seperti itu." Rek terkekeh setelah berkata demikian. "Besok sore gue balik lagi kesini. Buat jemput Rev."
"Jemput?" Aku melirik Rev yang sedari tadi memperhatikan kami tanpa berkomentar. "Apa kalian sudah mau balik ke Bandung?"
"Gue sama Revi mau sebarin undangan buat keluarga besar Papa yang di Bandung. Meskipun gak bisa hadir, minimal mereka tahu kalau Papa bakal punya istri. Kita juga mau fitting baju buat hari H. Lo pasti gak mau lihat calon-calon kakak lo penampilannya acak-acakan kan?"
"Jadi waktu acara nanti kalian pake kemeja, batik atau.."
"Kemeja dibalut sama jas putih. Sama seperti Papa kok. Oh iya Jess.." Rek mendekatkan bibirnya di telingaku. "Lo juga siapin dress putih yang cantik ya," kedipnya menggoda. "Pacar gue yang kuliah di Aussie bakal datang hari itu. Jadi gue mau kenalin dia sama adik perempuan gue yang sangat cantik."
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Rek. Dari kalimatnya aku jadi tahu bahwa tebakan Jani tidak sepenuhnya salah. Rek memang sudah memiliki pacar. Aku jadi penasaran cewek seperti apa yang mau jadi pacar kakak ku itu. Aku harap tidak seaneh Rek. "Apa pacar Kak Rev juga dateng?" Aku lalu bertanya pada Rev yang dibalas dengan tatapan aneh darinya.
"Rev jomblo tuh Jess," beritahu Rek padaku. "Kalau ada temen lo yang belak belok, bisa tuh lo tawarin ke dia. Asal jangan Jani." Perkataan Rek langsung di balas Rev dengan dorongan pada bahunya.
"Belak belok?" tanyaku bingung.
Rek masih ingin melanjutkan obrolannya ketika suara Papa mengajaknya untuk segera pergi. Setelah memberiku kedipan menggoda, lagi, Rek melambaikan tangannya kemudian berjalan mengikuti Papa yang sudah lebih dulu menuju mobil.
Tidak lama setelah kepergian Papa dan Rek, Jani akhirnya pamit untuk pulang. Mungkin ia menyadari bahwa kehadirannya membuatku dan Rana resah. Aku dan Rana memang sudah kompak untuk sengaja mendiamkannya. Untungnya cewek itu tahu diri dan segera berpamitan pada Mama. Aku sempat melihat sebuah mobil sport mewah berwarna merah menjemputnya di depan rumahku. Aku jadi semakin curiga jika Jani benar-benar seorang simpanan om-om. Dari apa yang dikatakannya pada Rev dan Rek tidak jauh-jauh dari tema materi. Kulihat Rana sepertinya sependapat dengan pemikiranku ini. Bibirnya sempat berdecak kagum melihat betapa mulusnya Lamborghini Diablo yang menjemput Jani.
"Itu.. Yang jemput bokapnya? Kece amat bawaannya," komentar Rana masih dengan wajah terpesonanya. Matanya masih tidak lepas memandang tempat dimana mobil sport mewah itu tadi terparkir.
Aku mengangkat bahu dengan cuek. "Gue gak tau. Tanya aja sendiri sama orangnya." Aku memang tidak suka mencampuri urusan orang lain. Menurutku itu kegiatan yang sangat membuang-buang waktu dan energi. Aku lebih baik memikirkan hal lain yang lebih bermanfaat daripada harus sibuk membicarakan orang lain.
***
Aku terbangun keesokan harinya dengan tangan Rana yang mengapit lenganku dengan erat. Selain cerewet, Rana memang punya kebiasaan tidur yang aneh. Setelah menyingkirkan tangannya, aku bangkit dari tempat tidur lalu mengintip halaman rumahku dari balik jendela kamar. Aku melihat Rev kembali melakukan ritual paginya. Cowok itu masih melakukan pemanasan dengan melompat-lompat kecil. Sebenarnya aku tidak ingin mengganggunya lagi kali ini tapi entah kenapa kakiku bergerak sendiri keluar dari kamar, menuruni tangga ke arah ruang tamu lalu membuka pintu rumah lebar-lebar. Aku bahkan tidak lagi membasuh muka, hal pertama yang selalu kulakukan jika bangun tidur.
Rev menoleh melihat kemunculanku dari balik pintu. Ia berhenti melompat kemudian menyapaku dengan sedikit heran. "Lo mau jogging lagi pagi ini?" Rev memperhatikan pakaianku kemudian beralih menatap mataku.
Astaga.. Aku lupa jika aku masih mengenakan pakaian tidurku. Rev langsung mengerti begitu melihat ekspresi terkejut di wajahku. Kakakku itu hanya tersenyum lantas melanjutkan kembali pemanasan yang dilakukannya. Karena bingung harus melakukan apa, aku akhirnya duduk bersila di teras sambil memperhatikannya. Sesekali mataku mendongak menatap langit yang masih menyemburatkan warna jingga.
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku melamun ketika Rev tahu-tahu sudah duduk di sampingku. Keringat yang menetes di dahi dan lehernya membuat Rev terlihat semakin seksi. Mungkin ia tidak menyadarinya, tapi bau tubuhnya yang kini bercampur dengan keringat mulai menghampiri hidungku. Untungnya kakakku ini tidak memiliki bau badan yang membuat hidungku sakit. Well, sejujurnya.. Aku mulai menyukai aroma khas tubuhnya.
"Lo memang biasa bangun sepagi ini?" Pertanyaan pertama yang diucapkannya hari ini padaku.
"Mama udah ngebiasain aku dari kecil untuk bangun pagi Kak."
"Heem." Rev mengangguk mendengar jawabanku. Matanya melirikku sekilas kemudian kembali menatap rumput di halaman. "Rana belum bangun?"
Oke, kali ini dia bertanya mengenai Rana. Mungkinkah ini pertanda baik bagi sahabatku itu? Mungkinkah Rev mulai menaruh perhatian pada Rana? Masih terlalu dini untuk berspekulasi. "Belum Kak. Dia kalau bangun agak siangan dikit."
Rev kembali mengangguk.
"Sorry soal Jani kemarin.."
"Gak apa-apa," potongnya cepat. "Bukan lo yang salah."
"Aku gak tau kalau dia bakal ngomong begitu sama Kak Rev dan Kak Rek."
"Iya gak apa-apa. Lagipula bukan lo yang ajak dia buat kerumah. Dari yang gue lihat, lo dan dia juga gak sedekat seperti lo dan Rana." Rev berbicara sambil terus memperhatikan rumput yang bergoyang. Mungkin rumput lebih menarik baginya daripada diriku.
"Aku juga gak tau kenapa kemarin dia tiba-tiba mau main ke rumah. Aku juga baru kemarin ngobrol sama dia. Sebelumnya cuma sekedar kenal gitu aja."
Rev terdiam sejenak mendengar ucapanku. Alisnya yang lebat mulai berkerut setiap kali ia berpikir. "Kalian ada kuliah hari ini?" Matanya yang dipayungi alis tebal itu akhirnya memandangku dengan tatapan teduh. Aku baru menyadari jika kedua matanya sedikit berwarna kecoklatan.
"Jam 10 nanti Kak." Aku ingin balik bertanya padanya mengenai kehidupannya di Bandung ketika lebih dari satu menit lamanya kami saling berdiam diri. Namun tidak ada satupun suara yang keluar dari mulutku.
"Gimana rasanya kuliah dkv?"
"Iya?" tanyaku lagi memastikan. Aku sempat tercenung sesaat sehingga tidak menyadari pertanyaannya barusan.
"Gimana rasanya kuliah dkv?" ulangnya lagi. Kali ini Rev kembali menatapku dengan tatapan teduh yang sama. "Gue dulu kepengen banget bisa kuliah di jurusan itu."
"Terus? Kenapa gak jadi?"
Rev memandangi langit yang kini warna jingganya mulai memudar. Aku bisa mendengar desahan nafasnya yang berat. "Biasa, Papa. Dia maunya gue ambil manajemen bisnis."
Good. Setidaknya aku kini tahu bahwa Rev seorang lulusan manajemen. "Kalau Kak Rek ambil manajemen juga?"
Rev menggeleng. "Reka di jurusan teknik sipil."
"Itu maunya Papa juga?" tebakku.
Rev hanya balas mengangguk. Nafasnya yang tadi ngos-ngosan terdengar mulai teratur. "Gue pernah belajar photoshop dengan otodidak. Itu termasuk dkv juga kan?"
"Ya.."
"Skill photoshop gue lumayan. Kalau lo punya tugas yang kira-kira butuhin bantuan gue, lo bisa minta tolong ke gue. Gue juga pernah belajar fotografi dan edit-edit video. Minimal aplikasi movie maker gue tahu lah."
Aku cukup terkejut mendengar penuturannya. Bukan hanya tertarik pada desain grafis, tapi Rev ternyata juga cukup mendalaminya meskipun tidak secara sepenuhnya. "Kak Rev bisa ngelukis juga? Bikin pop art? Print ad? Ilustrator?"
"Kalau print ad, cover, banner dan semacamnya gue masih bisa. Tapi kalau udah tingkat dewa kaya pop art, ilustrasi, komik, animasi.. Udah sulit."
"Ah.. I see." Setidaknya keahliannya cukup untuk bisa membantuku meringankan tugas-tugas kuliahku yang segudang dan membuat mata sakit. "Kak Rev gak jadi jogging?" Aku tersadar bahwa kini saudara tiriku ikut duduk di teras bersamaku tanpa berniat untuk melanjutkan aktivitas olahraganya yang sempat terhenti.
"Ah!" serunya kaget. Ia sepertinya lupa akan niatnya semula. Dengan kikuk, ia bangkit berdiri kemudian berjalan hendak membuka pagar rumah kami. Namun baru satu langkah berjalan, Rev berbalik menatapku. "Gue tau kalau kita sama. Gimana kepribadian lo, cara lo berpikir, sikap dan apa yang lo suka, gue juga mikirinnya dan menyukainya."
Aku hendak bertanya apa maksud dari perkataannya ketika tiba-tiba saja tubuhnya sudah melesat pergi dan menghilang dari balik pagar. Apa maksudnya? Apa yang sama? Apa dia bilang kalau kepribadianku dan dia sama persis? Tapi sejauh ini aku belum menemukan hal apapun mengenai Rev yang sama denganku. Baik, kecuali mengenai kesukaan kami pada desain grafis. Hanya itu. Ah ya, harus kuakui bahwa sifat pendiamnya juga tak jauh berbeda denganku. Baik, hanya dua. Lalu apa lagi?
Aku masih bertanya-tanya dalam hati ketika seseorang menepuk pundakku dari belakang. Aku kontan kaget dan langsung menoleh. Bibirku langsung memberengut kesal begitu melihat Bude sudah berdiri didepanku sambil tersenyum-senyum melihat keterkejutanku.
"Budeee. Kaget tau.."
"Tadi Bude lihat non Jess ngobrol sama Mas Revi. Mau nyapa dari tadi tapi takut ganggu," jelas Bude masih dengan senyumnya yang sama. Perempuan paruh paya itu membawa sapu dan sebuah sekop ditangannya.
"Bude mau nyapu rumah jam segini?" tanyaku padanya begitu melihat kedua senjata yang setiap hari dipergunakannya itu. "Apa gak kepagian?"
Bude hanya menarik nafas begitu mendengar pertanyaanku. "Bude diajak Ibu untuk pergi, non Jess. Ibu mau minta ditemenin belanja buat keperluan akad nikahnya. Jadi Bude terpaksa bersih-bersihnya dari sekarang. Takut gak sempat lagi non. Emoh Bude kalau pergi tapi ninggalin rumah masih berantakan."
"Memangnya mau belanja apaan sih Bude?" Aku menatap Bude yang kini sudah mulai menyapu teras rumah.
"Ndak tahu non. Bude mah ikut Ibu aja ngajaknya kemana," jawab Bude sambil terus menyapu. "Non Jess tadi ngobrolin apa sama Mas Revi? Asik ya non? Bude saja kalau sudah ngobrol sama Mas Revi sampe lupa kalau lagi masak. Untung Mas Revi suka bantuin Bude di dapur. Jadi kerjaan Bude gak berantakan."
Alisku langsung terangkat begitu mendengar Bude mengatakan Rev membantunya memasak. "Memangnya Kak Rev bisa masak Bude?"
"Walaaah, ya bisa tho.. Wong wedok ndak bisa masak lha aneh namanya."
"Ihhh.. Bude nyindir aku ya? Mentang-mentang aku jarang bantuin Bude di dapur."
Bude tertawa mendengar gerutuanku padanya. Salah satu tangannya yang memegang sapu langsung mencubit pipiku dengan gemas. Baik, ternyata bukan hanya Rana saja yang punya hobi mencubit pipiku. Sepertinya Bude juga ikut-ikutan latah memainkan bagian dari wajahku yang paling menonjol itu. "Ndak lah non. Mana tega Bude nyinyirin non Jess. Kan non Jess sudah Bude anggap seperti anak Bude sendiri."
"Terus tadi itu apa kalau bukan nyindir aku? Huuu Budeee.." Aku pura-pura memasang wajah kesal padanya. "Aku bisa masak koook."
"Bude bukan bilangin non Jess, tapi Mas Revi. Kalau non Jess sih gak usah ditanya. Bude tahu kalau non bisa masak."
"Iih.. Kak Rev kan co.."
"Jessicaaaaa!!" Rana yang baru bangun tidur tahu-tahu sudah menghambur mendekatiku. Tanpa bisa kucegah, kedua tangannya mendarat dengan sukses mencubit pipiku. "Kok elo gak bangunin gue siiiih bakpao!"
Kusingkirkan kedua tangannya dari pipiku kemudian membalasnya dengan sebuah cubitan kecil di lengannya. "Sakit tau..," gerutuku padanya dengan wajah kesal. "Gue tahu elo kalau tidur susah dibangunin. Nyawa lo kan lama ngumpulinnya. Entah kocar kacir kemana."
"Hehehe." Rana cengengesan menanggapi jawabanku. Ia kemudian berpaling menatap Bude kemudian menyapa dengan penuh semangat. "Pagi Budee!!"
"Pagi non Rana. Sudah mau sarapan? Bude belum masak soalnya masih jam segini." Bude balas menyapa Rana tidak kalah semangat.
"Wah nanti aja deh Bude sarapannya. Aku masih mau ngelanjut tidur lagi." Rana kemudian menarik lenganku. "Yuk Jess, kita bobo cantik lagi."
"Iihh.. Gue gak mau tidur lagi ah. Tanggung."
"Tanggung apaan. Kuliah kita kan masih lama." Rana kembali menarik-narik tanganku seperti anak kecil. "Gue masih ngantuk begete niih."
"Kalau elo masih ngantuk begete kenapa gak elo aja yang tidur sendiri." Kutepiskan tangannya dari lenganku kemudian berjalan masuk menuju ruang tamu.
"Gak enak dong, tuan rumah udah bangun masa tamunya masih molor. Ayolaaah Jeeeesss..," rayunya. Rana ikut berjalan mengekoriku seperti seorang anak balita pada orangtuanya.
"Gak mau. Gue mau duduk-duduk cantik sambil nonton tv aja." Aku lalu duduk di atas sofa ruang santai kemudian menyalakan televisi yang tengah menayangkan berita seputar gosip artis.
Rana kemudian ikut duduk disampingku. Dengan cueknya, dia membaringkan tubuhnya ke atas sofa dan meletakkan kepalanya di atas pahaku. "Ganti dong Jess channelnya. Acara musik aja kek."
"Bawel. Katanya mau tidur," omelku padanya. Namun tanganku tetap saja bergerak mengikuti keinginannya untuk memindahkan channel stasiun tv. Masih terlalu pagi untuk mencari stasiun tv mana yang menayangkan acara musik di jam seperti ini. Aku akhirnya menyerah dan memilih berita pagi sebagai bahan tontonan kami. Berita utamanya mengenai begal yang akhir-akhir ini meresahkan masyarakat. Untungnya di daerah sekitar rumahku jarang terjadi pembegalan.
"Jess, itu yang bawain beritanya ganteng juga ya," komentar Rana sambil jarinya menunjuk ke layar televisi.
Kutatap Rana yang masih tiduran di atas pahaku itu dengan wajah mencela. "Presenternya udah om-om begitu lo bilang cakep."
"Alaah, paling usianya masih 30an Jess. Belum om-om banget laah," tepis Rana dengan santainya. Dia lantas kembali menyimak berita yang disampaikan oleh sang presenter dengan wajah serius.
"Jess..," panggilnya tiba-tiba.
"Iya?"
"Gue laper."
God! Mendengar ucapannya yang dikatakan dengan nada amat serius itu, ingin sekali aku melemparinya dengan bantalan sofa. Aku langsung bangkit berdiri sehingga membuat kepala Rana jatuh dengan mulus menabrak sofa. Untungnya sofa ruang santaiku cukup empuk sehingga cewek itu hanya meringis sambil menatapku dengan cengiran tak berdosanya.
"Ya udah, yuk buat sarapan," ajakku padanya. Aku sengaja tidak memanggil Bude yang masih sibuk menyapu rumah. Aku tahu pekerjaan Bude sudah sangat banyak pagi ini dan aku tidak ingin semakin membuatnya kerepotan.
"Jangan bilang roti lagi.."
"Lo maunya sarapan apa?" Aku bertanya sambil berjalan menuju dapur. Aku sempat mengecek isi kulkas dan lemari. Hanya ada persediaan roti di dalam lemari makan.
"Gue mau nasi uduk."
Kupandangi Rana dengan wajah putus asa. "Bikin nasi uduk itu agak ribet. Yang simple aja Ran. Gak ada santan nih."
"Maksud gue, kita beli aja di luar Jess. Di deket taman komplek lo kan ada yang jualan nasi uduk tuh tiap pagi. Ada lontong sayur juga, soto, pecel, ketoprak," sebutnya satu persatu.
Baik, aku menyerah. Saran Rana ada untungnya juga. Setidaknya aku dan Rana tidak perlu repot memasak dan beban pekerjaan Bude akan menjadi sedikit berkurang jika kami membeli sarapan di luar kali ini. "Oke." Aku langsung bergegas menuju tangga ke lantai atas.
"Loh Jess, mau kemana? Kan pintu rumah lo di depan."
Aku memutar tubuhku dan menatapnya dengan wajah kesal. Astaga temanku ini selain cerewet terkadang sedikit lemot juga. "Elo mau beli sarapan dengan pakaian kaya gini?" kulirik piyama bermotif sailormoon yang dikenakannya dengan salah satu alis terangkat.
Rana langsung menepuk dahinya. "Oh iya, gue khilaf. Biasa, kan kata lo tadi nyawa gue masih kocar kacir."
Aku memutar kedua bola mataku mendengar alasannya yang kupikir tidak masuk akal. Setelah itu aku kembali berjalan menaiki tangga di susul oleh Rana yang kini mulai bersenandung kecil menggodaku.
Jessica tuh disini.. Hatinya kelabu..
Jessica tuh disini.. Marah-marah meluluuu..
***