Aku duduk di bangku taman sambil mencoba mengusir lelah ketika melihat Jessica dan temannya, Rana, berjalan menuju sebuah pedagang kaki lima dengan gerobak dorong yang sedang mangkal tak jauh dari tempatku. Melihat dari pakaian yang dikenakan keduanya, jelas mereka tidak berniat untuk jogging. Sepertinya mereka sengaja datang untuk membeli sarapan. Aku sangat yakin tebakanku tepat ketika melihat Jessica berbicara serius pada si pedagang kaki lima. Setelah berbicara pada si pedagang, Jessica lalu duduk di bangku kayu panjang yang disediakan pedagang laki-laki itu dan memperhatikan dengan tekun setiap kali si pedagang bergerak menyiapkan pesanannya. Rana yang duduk disampingnya hanya duduk sambil sesekali mengusap matanya yang masih mengantuk.
Aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak menghampiri keduanya. Jessica dan Rana terlihat terkejut melihat kehadiranku. Bukankah aku yang seharusnya terkejut? Aku mendekati keduanya kemudian duduk berjongkok di hadapan mereka. "Beli buat sarapan?" tanyaku kemudian melirik si pedagang yang masih sibuk membungkus makanan.
"Iya Kak. Bude lagi sibuk, jadi aku sengaja beli sarapan buat kita. Kak Rev suka nasi uduk kan? Aku udah pesen buat orang-orang serumah."
"Suka. Itu salah satu makanan favorit setelah nasi goreng dan sambel," jawabku sambil tersenyum. Jessica terlihat lega mendengar jawabanku. Sepertinya dia sudah menyadari bahwa aku cukup pemilih dalam soal makanan. Ada lebih banyak jenis makanan yang tidak ku suka dibandingkan yang aku suka.
"Ehmm.. Tadi, elo ngapain dari taman Kak?" Rana yang rasa kantuknya kulihat mendadak hilang itu ganti berbicara padaku.
"Gue abis jogging." Aku lalu melirik Jessica yang duduk di sampingnya. "Memangnya lo gak kasih tahu dia?" tanyaku pada Jessica.
Adikku itu hanya menggeleng, membuat Rana salah tingkah dengan pertanyaannya barusan. "Kalau di Bandung, jam segini biasanya ngapain Kak?" tanya Rana lagi.
"Kalau gak jogging ya gue nge-gym. Di rumah ada beberapa alat fitness jadi gue sama Reka gak perlu bolak balik ke fitness center cuma untuk olahraga."
"Keren. Nanti kalau Kak Rev sama Kak Rek pindah disini, semuanya di bawa kan?" Wajah Jessica langsung berseri-berseri. "Aku boleh ikutan pake?"
"Iya sepertinya dibawa. Lo boleh pake. Kan nanti udah jadi milik bersama."
Jessica langsung tersenyum puas mendengar jawabanku. Matanya kemudian melirik si pedagang yang sepertinya hampir selesai menyiapkan pesanan mereka. Jessica lantas bangkit berdiri diikuti oleh Rana. "Sudah dibungkus semua Bang, nasi uduknya?" Didekatinya pedagang yang dipanggilnya Bang itu sambil memperhatikan beberapa bungkus nasi uduk yang sudah berada di dalam kantong plastik.
"Sudah Neng," jawab si Abang.
Jessica kemudian merogoh sakunya dan mengeluarkan selembar 50 ribuan lalu menyerahkannya pada pedagang itu. "Kembaliannya ambil aja Bang." Tangan Jessica bergerak hendak meraih sekantong plastik berisi beberapa bungkus nasi uduk itu ketika akhirnya aku sudah telah lebih dulu berdiri dan meraih kantong itu. Jessica melirikku kaget kemudian mengucapkan terima kasih kepada si pedagang. Ia membiarkan saja ketika aku mulai berjalan mengikutinya dan Rana kembali ke rumah.
Selama di perjalanan pulang, aku hanya diam mendengarkan perbincangan Jessica dan Rana mengenai kuliahnya. Beberapa kali aku mendengar keduanya menyebut nama-nama yang tidak kukenal. Tentu saja aku tidak ingin terlibat dalam percakapan yang tidak kumengerti itu.
Jarak rumah tinggal beberapa meter lagi. Aku sengaja mempercepat jalanku dan mendahului keduanya untuk membuka pintu gerbang rumahnya. Aku mendengar Rana sempat mengucapkan terima kasih padaku ketika berjalan melewati pagar. Setelah menutup kembali gerbang yang kokoh itu, aku menyusul keduanya masuk ke dalam rumah. Aku melihat Bude sedang sibuk mengelap perabotan di ruang tamu ketika kami datang.
"Pagi Bude," sapaku sambil lalu.
Aku kemudian berjalan mengikuti Jessica dan Rana menuju meja makan. Kedua gadis itu tengah menyiapkan beberapa piring dan sendok ketika aku datang. Setelah mendudukkan tubuhku di kursi, tanganku bergerak mengambil salah satu piring dan sendok.
Jessica yang melihat aku sudah bersiap-siap hendak sarapan lantas meletakkan salah satu bungkus nasi uduk ke atas piringku. Aku sempat jengah ketika melihat kedua tangannya yang indah bergerak membukakan bungkusan nasi uduk itu untukku. Setelah menambahkan beberapa kerupuk yang diambilnya dari dalam topless kaca, Jessica duduk di sampingku dan kembali mengambil sebungkus nasi uduk untuk dirinya sendiri.
"Nasi uduknya gak enak Kak?" tanya Jessica begitu melihat aku masih terdiam memperhatikannya.
"Eh? Bukan..," jawabku kikuk. Aku lantas mengambil sendok dan mulai mengisi mulutku dengan nasi di hadapanku. Rasanya tidak buruk dan juga tidak sangat enak. Cukup nikmat untuk kategori nasi uduk kaki lima.
"Abang-abang tadi langganan gue Kak setiap kali nginep disini. Nasi uduk sama lontong sayurnya juara. Mana harganya murah-murah," beritahu Rana sambil mengunyah makanannya. Aku baru menyadari, selain suka banyak bicara, Rana ternyata juga suka makan. Dia sudah menghabiskan setengah dari nasi uduknya dan terlihat masih ingin menambah satu porsi lagi.
"Nambah Ran?" Seolah tahu apa yang kupikirkan, Jessica mendorong sebungkus nasi uduk lainnya ke dekat Rana. Melihat hal ini, Rana justru menyipitkan kedua matanya menatap Jessica. "Kenapa? Bukannya porsi lo selalu double?" tanya Jessica pada temannya yang kini semakin meruncingkan matanya.
"Apa.. Apaan sih Jess. Gue selalu makan satu porsi kok," bantah Rana gugup. Matanya kemudian melirik sebungkus nasi uduk yang kini berada dekat dengan piringnya lalu mendorongnya kembali ke tengah meja.
Aku tersenyum melihat gelagatnya. Sepertinya Rana merasa malu mengakui selera makannya di depan orang asing yang baru dikenalnya seperti diriku. "Gak apa-apa kalau mau nambah. Nasi uduknya masih banyak kok." Aku mendorong kembali bungkus nasi itu kedekatnya. Wajah Rana semakin salah tingkah melihatku melakukannya.
"Makan aja Ran. Kita kan tadi beli banyak." Jessica tersenyum geli menatap Rana. Sepertinya Jessica juga menyadari bahwa temannya itu sedikit malu padaku. "Kak Rev juga gak nambah?" Ia kemudian berpaling menatapku.
Aku menggeleng. "Enggak, gue udahan makannya. Mau mandi. Setelah ini gue mau ketemu temen."
"Kak Rev punya temen di Jakarta? Siapa?" Jessica kembali menatapku setelah menghabiskan nasi di dalam mulutnya.
"Mantan gue. Tapi sekarang jadi temen deket," jawabku datar.
"Pasti cantik," celetuk Rana dengan mulut yang masih penuh. Aku hanya bisa tersenyum simpul melihatnya dengan susah payah menelan makanan di dalam mulutnya.
Setelah menghabiskan suapan terakhirku, aku langsung beranjak dari meja makan. Setelah melemparkan senyum kepada kedua gadis cantik itu, aku berjalan menaiki tangga dan langsung masuk ke dalam kamarku. Aku langsung menyambar smartphone yang sengaja kutinggalkan di kamar. Aku melirik icon baterai di layar yang kini sudah terisi penuh dan langsung mencabut kabel pengisi daya.
Ada beberapa missed calls dari Sam jam 6 pagi tadi. Mungkin mantanku itu ingin menanyakan rencana pertemuan kami hari ini. Tanpa menunggu lebih lama, aku langsung menelpon balik gadis itu.
Telponku langsung diangkat pada deringan pertama. "Rev! Gue nelponin lo dari tadi. Kemana aja?" Suara Sam yang dulu pernah sangat kurindukan terdengar jengkel.
"Lo lupa? Gue kan lari tiap pagi."
"Oh iya," desisnya dari seberang sana. "Jadi kan kita ketemu? Gak bisa siangan dikit?"
"Gak bisa. Gue udah mau balik ke Bandung. Takut kesorean."
"Ya udah, lo langsung ke kantor gue aja kalau gitu." Sam lantas menyebutkan alamat kantornya yang berada di bilangan Jakarta Pusat.
"Gak apa-apa kalau gue dateng ke kantor lo? Bos lo gak bakal marah?"
Sam tertawa. "Enggak. Dia gak akan berani. Bos gue udah lama naksir sama gue Rev," beritahunya enteng. Sam memang seorang wanita yang cukup menarik. Bukan karena wajahnya yang sangat cantik, tapi dia pandai bersolek sehingga wajah khas sundanya semakin terlihat menawan. Aku sempat bingung kenapa dulu aku pernah menyukainya. Yah, meskipun cantik, penampilan Sam sama sekali jauh dari kriteria idamanku. Aku kurang suka dengan gadis yang suka memakai make up tebal. Sifatnya yang penyabar dan dewasa itulah yang hingga kini masih membuatku kagum padanya. Sam adalah seorang gadis pekerja keras yang sangat mencintai keluarganya. Dia tidak segan-segan memberikan sebagian penghasilannya kepada keluarganya yang tinggal di Bandung. Selain bekerja sebagai staff di Bank Indonesia, Sam juga memiliki bisnis karaoke dan bermain di bursa saham. Benar-benar tipikal wanita karir yang sukses di usia 23 tahun.
Setelah selesai berbincang sejenak dengan Sam, aku langsung masuk ke dalam kamar mandi dan membasuh tubuhku dengan air hangat. Rasanya benar-benar menyenangkan. Tubuhku yang semula letih langsung terasa segar. Aku beruntung memiliki d**a yang terbilang rata. Beberapa temanku yang sesama buci, begitulah kami menyebut diri kami, ada yang kesulitan setiap kali ingin menyembunyikan kedua gundukan di d**a mereka. Bagi yang memiliki dompet tebal, ada yang nekat melakukan operasi untuk mengangkat kedua gundukan yang mereka anggap sedikit mengganggu itu. Ada juga yang enggan melakukannya dan menyembunyikannya dengan rapat menggunakan korset atau singlet khusus.
Ketika sudah selesai mandi dan berpakaian, aku langsung turun ke lantai bawah dan melihat Mama sedang bersiap-siap pergi bersama Bude. "Mau kemana Ma?"
"Rev? Mama sama Bude mau belanja ke pasar. Sekalian janjian sama Tante Anna." Mama menoleh kaget padaku. Matanya kemudian memperhatikan penampilanku yang sudah rapi. "Kamu sendiri mau kemana?"
"Mau ketemu temen Ma."
"Temennya laki-laki atau perempuan Mas? Bude titip salam ya." Bude yang berdiri tak jauh dariku dan Mama tersenyum genit.
"Salam kenal apa salam tempel Bude?" candaku padanya seraya tersenyum memperhatikan ekspresinya yang lucu.
"Walah, Mas Revi.. Ya salam kenal dong Mas," jawabnya malu-malu.
"Aku kira salam peace love en geol Bude."
"Salam apa itu Mas?" Bude terlihat bingung.
"Itu salam anak muda zaman sekarang Bude. Kalau Bude mau dapet julukan Bude gaul sekomplek, harus tau salam itu." Aku lalu mempraktekkan salam yang dulu sering kulihat di acara televisi remaja itu.
"Si Bude kok kamu ajarin begitu Rev. Makin jadi tar dia." Mama kemudian tertawa geli melihat Bude mengulang kembali gaya yang kuajarkan padanya.
"Ndak apa-apa Bu. Biar pembantu sebelah makin kagum sama saya." Bude kembali mempraktekkan gaya salamnya sekali lagi. "Sudah bener seperti ini kan Mas Revi?"
Aku mengangguk penuh semangat. "Sudah pas sekali Bude. Tapi wajahnya sama badannya jangan kaku. Santai aja Bude kaya seperti mau masak."
"Wah, yo ora iso tho Mas. Masak ya masak. Salam ya salam. Beda," katanya dengan logat Jawa yang sangat medok.
Aku tertawa kecil mendengar ucapannya. "Ya sudah aku pamit ya Bude. Ma, aku pamit." Aku segera menyalami Mama lalu keluar menuju teras. Aku sempat melihat Abang Bonar yang baru saja datang dan melemparkanku senyumannya. Ketika penjaga rumah itu hendak membukakan pintu pagar untukku, aku dengan cepat menahan langkahnya.
"Biar aku aja yang buka Bang!" Aku bergegas membuka pagar kokoh itu kemudian sedikit terkejut begitu melihat taksi yang kupanggil sudah berada persis di depan gerbang. Kuketuk kaca taksi tersebut. Kaca pintunya terbuka dan menampilkan seraut wajah pria berusia sekitar 50-an dengan kumis putih tipis.
"Pak, sudah lama nunggu disini? Kok gak kasih klakson aja?" tanyaku tidak enak.
"Baru saja kok Mas. Saya baru datang waktu pintu pagarnya Mas buka," beritahunya kemudian membukakan pintu taksinya untukku.
Tanpa menunggu dipersilahkan olehnya, aku langsung duduk di samping kemudi lalu mengenakan kacamata hitamku. Setelah memberitahukan alamat yang ingin kutuju, Pak supir lantas mengemudikan taksinya keluar dari komplek perumahan.
***
Aku baru saja menginjakkan kaki di teras rumah ketika mendengar suara deru mobil Reka memasuki halaman. Kulirik jam dipergelangan tanganku yang masih menunjukkan pukul 2 siang. Aku ingat bahwa kembaranku itu akan datang sore nanti, lalu mengapa dia datang sedini ini?
Melihat aku hanya berdiri bingung menatapnya, Reka hanya senyum-senyum lantas menghampiriku. "Kerjaan gue selesai lebih cepet Rev. Jadi gue langsung kesini," beritahunya tanpa kuminta. Seperti yang sudah-sudah, Reka merangkul bahuku kemudian mengajakku masuk ke dalam rumah.
Kedatanganku dan Reka langsung disambut senyuman hangat oleh Mama dan Tante Anna, adik Mama. Keduanya sedang duduk di lantai dekat dapur, tidak jauh dari meja makan. Di depan keduanya, terdapat banyak sekali bungkusan dari kantong plastik yang berisi berbagai macam bahan makanan. Tidak hanya itu, terdapat beberapa kantong yang berisi pakaian tak jauh dari bahan makanan tersebut.
"Kalian dateng barengan? Maaf Mama lagi sibuk ngecek belanjaan jadi gak bisa nyambut kedatangan kalian."
Aku dan Reka lantas ikut duduk menghadap kantong-kantong plastik itu. "Ini hasil belanjaan Mama seharian tadi?" tanyaku cukup takjub dengan apa yang sudah ia dapat.
"Kenapa? Kamu kaget Rev?" Tante Anna menjawab rasa keherananku dengan senyum simpul. "Ini semua buat acara Minggu nanti."
"Keluarga kita banyak, jadi makanan buat nanti juga harus banyak ya Tante," seloroh Reka kemudian mulai memeriksa satu demi satu kantong plastik didepannya. "Yang masak nanti siapa Tante?"
"Catering Rek. Mama sama Bude gak sanggup kalau harus masak semua ini."
"Kalau bungkusan yang di sebelah sana itu apa Ma?" tunjukku ke arah bungkusan pakaian yang tak jauh dari bungkusan lainnya.
Mama menoleh mengikuti arah telunjukku. "Oh.. Itu baju yang mau Mama sama Papa pake nanti Rev. Baru diambil dari penjahit. Itu ada baju buat Jessica sama Bude juga. Buat Tante Anna sama suaminya juga."
"Warnanya serba putih kan Ma? Aku sama Revi udah beli yang serba putih soalnya. Kan sayang kalau gak kepake." Reka dengan manjanya menyandarkan dagunya ke atas bahu Mama. Sudah mulai leluasa rupanya kembaranku itu bermanja-manja dengan calon Mama tiri kami.
"Iya, pokoknya putih. Sama seperti kulit kamu nih. Putih." Mama lantas mencubit lengan Reka dengan gemas.
"Oh iya, Jessica mana Ma?" tanya kembaranku itu lagi. Kepalanya lalu mendongak menatap ke lantai atas.
"Belum pulang. Kenapa? Kamu udah kangen? Kan kemarin baru ketemu," goda Mama padanya. Digoda seperti itu, Reka hanya senyum-senyum menunjukkan sifat kekanakkannya kembali.
"Mas Revi sama Mas Reka sudah mau pulang ke Bandung?" Bude yang baru saja muncul dari dalam kamar mandi langsung ikut duduk bergerombol bersama kami. "Mau dibuatin minuman dingin gak Mas Revi, Mas Reka? Panas-panas begini cuma minuman buatan Bude yang bisa bikin seger," tawarnya dengan nada promosi layaknya SPG yang sedang menawarkan barang. Bude kemudian menatapku dengan serius. "Oh iya Mas Revi. Tadi Bude sudah praktekin gaya yang Mas Revi ajarin pagi tadi ke pembantu sebelah. Walah, itu si Marni langsung minta diajarin juga," ceritanya dengan semangat 45.
"Bude, tadi nawarin mau bikinin Revi sama Reka minuman. Ceritanya dilanjut nanti aja," tegur Mama begitu dilihatnya Bude masih ingin melanjutkan ceritanya.
"Oh iya. Maaf Bu." Bude lantas berdiri dan langsung membuka kulkas. Aku memperhatikannya mengambil sebotol sirup dan beberapa es batu lalu mulai menyiapkan dua gelas kosong.
"Kalian sudah makan siang?" Tante Anna yang masih sibuk menghitung berapa uang yang dihabiskan untuk membeli semua belanjaan di daftarnya itu menatapku dan Reka bergantian.
"Aku sudah Tante," jawab Reka.
"Aku juga sudah," jawabku. Sebelum pulang, aku memang sempat makan siang berdua dengan Sam di sebuah kafe yang menurut Sam cukup terkenal di kalangan sosialita Ibukota. Makanannya cukup enak dan sesuai dengan seleraku. Setelah mengenalku selama hampir 3 tahun, Sam ternyata sudah bisa mengetahui bagaimana tabiatku mengenai makanan. Dia sengaja mengajakku untuk makan siang di kafe yang menyuguhkan makanan khas Indonesia.
Ingat makan siang dengan Sam, aku juga jadi teringat bagaimana pertemuan kami tadi. Begitu tiba di kantornya, aku di antarkan oleh resepsionis menuju meja kerja Sam. Berbeda dengan karyawan kantoran lainnya yang biasanya dipisahkan dengan sekat-sekat pada setiap meja kerjanya, meja kerja di kantor Sam tidak bersekat dan berjarak cukup jauh dari karyawan lainnya. Kami cukup leluasa berbincang di tengah kesibukan Sam yang mengerjakan tugas-tugas kantornya.
Sam terlihat semakin cantik setelah hampir dua tahun lamanya kami tidak bertemu. Setelah putus dengan mantan pacarnya yang dipacarinya setelah putus denganku, aku memang tidak pernah bertemu lagi dengan Sam. Aku sengaja menghindar darinya. Bukan karena aku membencinya, hanya saja aku tidak ingin dianggap tidak bisa move on dari mantan pacar oleh teman-temanku.
Selama bertemu dengannya, Sam banyak bercerita mengenai keluarga dan pekerjaannya. Juga dirinya yang sebentar lagi akan di wisuda. Keluarga Sam tidak jauh berbeda denganku. Hubungan Ayah dan Ibunya tidak cukup harmonis. Bedanya, Ayahnya yang kuketahui sudah setahun belakangan ini pergi dari rumah masih sering menghubunginya dan kedua saudara perempuannya. Berbeda sekali dengan Ibu ku dan Reka yang sama sekali tidak pernah kami kenal. Sam juga bercerita mengenai mantan pacarnya yang baru saja ia putuskan. Aku cukup maklum mendengar alasannya untuk mengakhiri hubungannya dengan pacar laki-lakinya itu. Mantannya seorang pengangguran yang kemana-mana masih dibiayai oleh Sam. Menurut cerita Sam, ia cukup lelah pada hubungan seperti itu. Itu membuatnya tidak bisa menabung dan semakin jarang memberi nafkah pada keluarganya di Bandung. Sam bukanlah gadis matrealistis seperti Jani. Tapi siapa yang akan sabar memiliki seorang kekasih pengangguran yang selalu meminta uang dan sulit mendapatkan pekerjaan. Sam bercerita bahwa ia menginginkan lelaki mapan yang bisa sama-sama bekerja keras dan menyeimbangi pekerjaannya.
"Mas, ini minumannya." Tahu-tahu Bude sudah meletakkan segelas dingin sirup di depanku.
"Makasih Bude," kataku lalu meneguk minuman itu ke dalam mulutku. Aku melihat Reka melakukan hal yang sama denganku.
Setelah berbincang sejenak dengan Mama, Tante Anna dan Bude, Reka akhirnya mengajakku untuk segera bersiap-siap pulang ke Bandung. Aku sempat ingin menolaknya dan memintanya untuk menunggu sedikit lebih lama. Aku ingin menunggu kedatangan Jessica dan berpamitan padanya. Namun Reka mengatakan bahwa ia tidak ingin tiba di Bandung terlalu sore. Aku terpaksa mengalah dan membereskan pakaianku di kamar.
Mama, Tante Anna dan Bude mengantar kepergianku dan Reka hingga di ambang pintu. Mama bahkan sempat memberi kami kecupan yang membuatku risih menerimanya. Aku tidak terbiasa diperlakukan semanis itu apalagi oleh seorang Ibu. Papa memang terbiasa memberiku kecupan-kecupan kecil di pipi atau dahi, tapi hanya sekilas dan tidak dengan ekpresi penuh cinta dan senyum hangat seperti yang Mama tunjukkan.
***
"Gue barusan nelpon Jessica," beritahu Reka tiba-tiba. Sore itu aku masih sibuk berkutat membereskan jadwal model-model yang kutangani akibat cutiku selama beberapa hari. Belum lagi harus mengurus surat kepindahanku dari Bandung ke Jakarta.
Melihat tidak ada reaksi dariku, Reka lantas merampas kertas-kertas dihadapanku dengan paksa. Aku menarik kembali kertas-kertas itu dari tangannya dengan kesal.
"Jangan ganggu gue. Malam ini semuanya harus selesai. Besok subuh kita udah berangkat ke Jakarta," kataku padanya lalu kembali menekuni pekerjaanku.
"Lo denger yang gue omongin kan? Gue udah nelpon Jessica untuk bantu kita siapin surprise buat Papa dan Mama."
"Iya gue denger. Gue ngikut aja sama rencana lo. Gue kan udah bilang dari kemarin-kemarin kalau gue oke," sahutku tanpa mengalihkan pandanganku dari kertas-kertas yang menggunung.
"Lo yakin gak butuh latihan dulu?" tanya Reka.
"Yakin. Kalau kaya begitu doang sih gue bisa kok." Aku semakin menekuni pekerjaanku dengan wajah seserius mungkin. Malam ini aku harus menyerahkan jadwal-jadwal ini ke kantor dan mengambil surat kepindahanku. Benar-benar hari yang cukup sibuk.
"Ya sudah, good luck deh buat kerjaan lo." Reka menepuk bahuku kemudian pergi meninggalkanku seorang diri di dalam kamar.
Sudah beberapa hari ini semenjak kepulanganku ke Bandung, aku disibukkan dengan segudang pekerjaan yang menantiku. Aku bahkan tidak bisa menemani beberapa model ke Hongkong karena bertepatan dengan hari pernikahan Papa. Reka yang memang jarang pulang kerumah karena pekerjaannya di Jakarta sepertinya cukup jengkel karena tidak bisa memintaku untuk menemaninya liburan selama di Bandung.
Tanpa setahuku, Reka sudah merencanakan hadiah kecil untuk Papa dan Mama. Sejak beberapa hari yang lalu Reka memang sudah memberitahuku mengenai rencananya tersebut dan segera ku iyakan. Rencananya cukup sederhana sehingga aku tidak perlu berpikir dua kali untuk menyetujuinya.
Sudah hampir pukul 9 malam ketika aku selesai mengerjakan pekerjaanku. Setelah meregangkan otot-ototku yang kaku karena seharian duduk dan berkutat dengan kertas-kertas, aku langsung keluar dari kamar dan menuju garasi untuk menyalakan mesin motorku.
Aku sedang berpacu dengan waktu. Aku sengaja memacu motorku dengan kecepatan kencang menuju kantor. Kantor manajemen model tempatku bekerja memang tidak pernah sepi hingga jam 12 malam. Ada beberapa security dan karyawan yang masih lembur hingga pagi. Karena perbedaan waktu antara Indonesia dengan negara-negara klien, membuat kantor manajemen model ini harus selalu buka 24 jam. Kami terkadang menerima telpon internasional di jam-jam tidak wajar antara 01.00 - 04.00 dini hari.
"Hei Rev! Tumben malem-malem mampir kesini." Salah satu anak buahku menyapaku begitu dilihatnya aku berada di ruang kerjaku.
"Eh Jo? Ada kerjaan yang harus gue anterin malam ini. Mulai besok gue kan udah gak di kantor ini lagi," jawabku membalas sapaannya.
"Gue denger dari anak-anak kalau lo pindah ke kantor pusat karena bokap lo nikah lagi?" Jo terlihat masih ingin berbicara padaku. Ia berjalan menuju mejaku lalu duduk dihadapanku. "Jadi bener berita itu? Kalau bokap lo nikah lagi sama nyokapnya Jessica Arshella?"
"Lo denger dari mana?" tanyaku memasang wajah curiga. Setahuku berita ini masih dirahasiakan dan belum go public.
"Dari HRD yang bantu ngurus kepindahan lo," beritahu Jo santai. "Sering-sering kesini lah kalau lo balik ke Bandung. Anak-anak pasti bakal kangen sama lo."
"Pasti," jawabku. Meskipun hubunganku dengan Jo adalah atasan dan bawahan selama di kantor, tapi kami tidak membatasi panggilan kami dengan formal layaknya di kantor-kantor lainnya. Inilah salah satu alasannya aku betah bekerja di kantor ini. Tidak ada batasan yang membedakan antara atasan maupun bawahan. Semuanya sama. Hanya jabatan lah yang menjadi pembedanya. Untuk urusan sehari-hari, kami bahkan berbicara dengan bahasa yang santai dan tidak kaku.
"Gue balik duluan ya Jo. Besok subuh udah harus berangkat." Aku bangkit dari dudukku disusul oleh Jo. Setelah memberiku ucapan perpisahan, Jo kembali menuju ruangannya sementara aku berjalan menuju motorku yang kuparkir sembarang di parkiran. Untungnya para security sudah familiar dengan wajahku sehingga begitu aku tiba di parkiran, mereka tidak menegurku karena ugal-ugalan memarkir. Mereka seolah maklum sebab baru kali ini aku bertindak buru-buru dan meninggalkan motorku begitu saja.
Aku sempat memberikan tip pada salah satu security yang ku kenal sambil tersenyum padanya. "Sampai ketemu lagi ya Pak. Mulai besok saya udah gak kerja disini lagi," beritahu padanya.
"Iya Neng. Bapak pasti kangen sama Neng Revi. Sering-sering mampir kesini ya Neng," jawabnya lalu memasukkan uang yang kuberikan ke balik saku seragamnya. "Hati-hati di jalan Neng. Jaga diri."
Aku mengangguk lantas tersenyum dari balik helm yang kukenakan. Aku tahu aku akan merindukan tempat kerjaku ini. Setelah menyalakan mesin motor, aku langsung menjalankan motorku keluar dari lapangan parkir kantor.
***
Aku terbangun keesokan paginya dengan wajah yang masih mengantuk. Suasana rumahku yang biasa tenang mendadak gaduh karena seluruh keluarga Papa berkumpul. Setelah shalat subuh dan mandi, aku langsung keluar dari kamarku dan mendapati beberapa sepupuku sedang sibuk berdandan untuk acara hari ini.
"Revi, kamu belum siap-siap? Sebentar lagi kita berangkat lho." Mbak Tantri yang sudah mengenakan kaftan serba putihnya menegurku sambil mengenakan jilbab.
"Aku sudah mandi kok Mbak. Tinggal pake baju lagi," sahutku menjawab pertanyaannya. "Reka sudah bangun kan Mbak?" Kembaranku itu termasuk sulit untuk bangun pagi jika tidak ada yang membangunkannya.
"Sudah Mbak bangunin kok tadi. Sekarang dia masih mandi."
Aku mengangguk kemudian berjalan menghampiri keponakanku, Diva, yang sudah beberapa hari tidak kutemui. Balita usia 2 tahun itu tengah berada dipangkuan Bundanya, adik dari Mbak Tantri, Mbak Elsa. Mbak Elsa yang sudah siap terlihat sibuk menyuapi Diva dengan nasi dan sayur-sayuran.
"Kamu udah mandi Rev?" Mbak Elsa langsung menyapa begitu melihatku berjongkok mendekatinya dan mencium puncak kepala Diva.
"Sudah Mbak. Aku ganti baju dulu deh." Aku bangkit kemudian kembali menuju kamarku. Pakaian yang akan kukenakan sudah tergantung rapi di samping tempat tidurku. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk mengenakan setelan tersebut. Setelah menata rambutku agar terlihat rapi dan menyemprotkan parfum seadanya, aku kembali keluar dari kamar.
Reka sudah menungguku di ruang tamu dengan penampilan yang sama. Senyumnya langsung merekah begitu melihat kehadiranku. "Kece banget deh kembaran gue," celetuknya.
"Barang-barang kamu udah diberesin semua Rev? Setelah ini kita gak bakal pulang kesini lagi lho." Papa yang duduk di samping Reka tidak kalah tampan penampilannya. Papa mencukur halus jenggot dan kumisnya. Rambutnya di tata dengan sedikit berbeda namun tetap bergaya. Kacamatanya ia tanggalkan dan diganti dengan lensa kontak berwarna kecoklatan. Secara keseluruhan cukup sempurna.
"Sudah Pa. Semalam udah aku masukin ke dalam bagasi."
Papa mengangguk puas mendengar jawabanku. Ia kemudian bangkit berdiri dan memanggil saudara-saudara perempuannya yang sedang berbincang di ruang tengah untuk segera berangkat.
Iring-iringan mobil kali ini sedikit lebih banyak dari sebelumnya. Ada 10 mobil yang berangkat menuju Jakarta. Semuanya terisi penuh dengan keluarga Papa. Aku tidak akan kaget jika setibanya di rumah Mama nanti, tidak akan ada tempat parkir yang cukup untuk semua mobil-mobil ini. Papa bahkan menyewa sebuah bus besar untuk membawa saudara-saudaranya yang lain dari Lampung, Tangerang dan Bandung.
Iring-iringan kami tiba tepat pukul 10 pagi. Keluarga dari pihak Mama menyambut kami di teras dengan cukup ramah. Aku bisa melihat Tante Anna diantara orang-orang itu. Setelah saling mengucapkan salam dan beramah tamah sejenak, rombongan kami dipersilahkan masuk ke ruang santai yang sudah di sulap menjadi indah. Semuanya serba putih. Rumah Mama memang cukup besar sehingga mampu menampung semua keluarga Papa meskipun harus sedikit berdesak-desakan. Tidak hanya ruang santai, ruang tamu juga sudah disulap sedemikian rupa. Terdapat meja panjang yang berisi makananan yang nantinya siap untuk disantap. Tidak hanya itu, garasi yang mampu menampung hingga empat mobil kecil sekaligus juga sudah terisi oleh kursi-kursi untuk para tamu yang hadir.
Aku sempat memandang berkeliling mencari sosok Jessica di antara semua kerumunan orang-orang yang berada di ruangan itu. Namun bayangannya saja pun aku tak melihat. Aku juga melihat Reka keluar teras menyambut pacarnya yang baru saja datang. Jill. Gadis itu datang dengan mengenakan dress ketat yang menampilkan lekuk tubuhnya dengan sangat sempurna. Ini kali ketiga pertemuanku dengan Jill. Reka membawa pacarnya itu ke hadapan Papa dan mengenalkannya pada beberapa keluarga. Tidak lama kemudian, Reka mengajak Jill untuk menghampiriku.
"Apa kabar Rev?" Jill tersenyum seraya mengulurkan tangannya padaku.
Ku sambut uluran tangannya dengan senyum kecil. "Baik. Lo sendiri gimana? Masih betah kuliah di Aussie?" tanyaku berbasa-basi.
"Masih.. Tahun ini kuliah gue selesai," beritahunya.
"Reka pasti seneng waktu lo kasih tahu dia berita ini," komentarku sambil melirik Reka yang berdiri disisinya.
"Sangat. Lo tahu kan tabiat kembaran lo kalau lagi happy?" Jill mengerlingkan matanya menggoda Reka. Membuat Reka pura-pura memasang wajah ngambeknya yang menurutku cukup menjijikkan. "Oh ya, mana adik kamu yang mau kamu kenalin ke aku?" Jill lantas balik bertanya pada Reka sambil memandang berkeliling.
"Gak tahu. Mungkin dia.. Nah, itu dia baru turun!" Reka yang tadi ikut memandang berkeliling langsung berseru sambil menatap ke arah tangga.
Aku dan Jill langsung mengikuti arah pandangannya. Aku melihat Jessica menuruni tangga dengan mengenakan gaun putih yang sangat cantik. Betisnya yang terlihat dari balik gaunnya setiap kali ia melangkah turun semakin terlihat indah dimataku dengan balutan high heels berwarna senada. Jessica mengenakan hiasan mahkota kecil dari perak yang berkilauan di atas kepalanya. Ujung-ujung rambutnya ia tata bergelombang. Membuatku menahan nafas setiap kali menikmati kecantikannya dari setiap sudut.
Sepertinya bukan hanya aku yang terpesona pada penampilan Jessica. Reka dan Jill terlihat sama terpukaunya. Beberapa tamu undangan dari keluargaku dan keluarga Mama juga memperhatikan kehadirannya dengan wajah terkagum-kagum bercampur bangga. Tidak ada yang bisa mengingkari bahwa Jessica Arshella tampil sangat cantik hari ini. Langkahnya yang anggun dan senyumnya yang lembut membuatnya semakin terlihat mengagumkan dan bersinar.
Papa bahkan menawarkan tangannya untuk mendampingi Jessica menemui para tamu yang kini memperhatikannya. Kulihat wajah Papa cukup bahagia. Akhirnya ia akan memiliki seorang anak perempuan yang benar-benar perempuan seperti yang pernah diucapkan Reka. Tidak sepertiku yang berpenampilan layaknya laki-laki.
Mataku tidak bisa lepas memandangi Jessica yang kini menyalami para tamu yang hadir. Jessica sempat memperhatikan sekeliling sebelum akhirnya pandangan kami bertemu. Cukup lama kami saling memandang hingga akhirnya aku bisa mendengar celetukan Jill yang berdiri disampingku.
"Ngelamun Rev?" tanya Jill sehingga membuatku berpaling menatapnya.
"Eh? Enggak. Cuma lagi merhatiin para tamu," jawabku sambil tersenyum padanya.
"Revi memang suka begitu Beib. Suka ngelamun gak jelas. Seperti punya dunia sendiri," beritahu Reka pada kekasihnya itu.
"Beib, itu bukannya adik kamu?" tanya Jill yang kini menatap sosok Jessica yang berdiri tak jauh dari kami. Jill lalu tersenyum dan melambaikan tangannya pada Jessica sehingga membuat Jessica berjalan mendekati kami.
Nafasku langsung memburu memperhatikan langkah demi langkah Jessica yang semakin mendekat. Ayolah Rev, dia adik tirimu. Tidak seharusnya kau memiliki perasaan terlarang pada adikmu sendiri! Aku merutuki diriku berkali-kali. Aku mencoba sebisa mungkin untuk mengendalikan perasaanku yang sepertinya mulai tidak bisa ku kontrol dengan baik.
Jessica kini sudah berdiri dihadapanku, dihadapan kami bertiga. Dia semakin cantik jika dilihat dari jarak sedekat ini. Aroma tubuhnya yang lembut bahkan membuatku terbius dan tertegun cukup lama. Aku ingin menyapanya lebih dulu namun tidak ada kalimat yang bisa keluar dari mulutku.
Reka akhirnya berinisiatif untuk menyapanya dan mengenalkannya pada Jill. "Sini kenalin.. Dia Jill, pacar gue."
Aku masih terpaku menatap Jessica. Senyumannya, aroma tubuhnya seolah bagai candu yang membuatku ketagihan untuk memandanginya berlama-lama. Aku tidak ingin gadis itu menyadari perasaanku padanya. Aku tidak ingin ia tahu bahwa kakaknya yang b******k ini telah memberikan hati padanya. Jessica Arshella, sepertinya aku harus menjaga jarak dengan adik tiriku ini.
***