Akad

3998 Kata
Aku pulang dari kampus dan mendapati rumah kembali sepi. Kemana orang-orang? Bahkan Abang Bonar yang biasanya selalu siaga membukakan pintu pagar untukku pun tidak terlihat batang hidungnya. Penasaran, akhirnya aku berjalan menuju dapur. Disana aku melihat Bude, Mama, Abang Bonar dan juga Tante Anna sedang membereskan beberapa bahan makanan. Keempatnya terlihat sangat serius dan tidak menyadari kehadiranku. "Lagi ngapain?" Aku akhirnya mendekat dan bertanya pada Tante Anna. Sejak kapan Tante Anna sudah berada dirumahku? Rumah Tante Anna cukup jauh dan butuh waktu lebih dari satu jam untuk kerumahku. Tante Anna menoleh kaget melihat kehadiranku. "Eh Jess, sudah pulang? Tante sama Mama kamu tadi abis belanja bahan makanan buat acara nanti. Kita bakal kedatangan banyak tamu. Belanjanya harus banyak." Sambil berbicara, Tante Anna masih sibuk memilah-milah bahan makanan mentah itu dan mengumpulkannya ke dalam kelompoknya masing-masing. Cabai merah dengan cabai hijau didekatkan jadi satu, ikan dengan ikan, sayur dengan sayur lainnya. "Memangnya gak jadi pake catering Tan?" Aku bertanya sambil memeriksa apa saja yang sudah dibeli Mama dan Tante ku itu. Kulkas kami yang dua pintu bahkan sepertinya tidak cukup untuk menampung semua bahan makanan itu. "Jadi Jess. Tapi bahan makanannya kita yang siapin. Tante gak mau ambil risiko kalau pake bahan makanan dari mereka. Takutnya ada apa-apa." Aku mengangguk mengerti mendengar penjelasan singkat darinya. Sudah banyak kejadian suatu acara berantakan hanya karena makanannya kurang atau basi, bahkan tidak higienis dan menggunakan bahan yang sudah kadaluarsa sehingga menimbulkan sakit perut berjamaah dan lebih parahnya lagi keracunan. "Kalau sudah selesai ganti baju, kamu turun kesini bantuin Mama sama Tante bawa semua ini ke tempat cateringnya ya Jess." Mama yang juga sama sibuknya dengan Tante Anna berbicara padaku sambil menatapku sebentar. Kemudian dia kembali membereskan beberapa kantong cabai dan memeriksa isinya kembali. Aku baru saja pulang kerumah. Kenapa harus aku? Tubuhku masih cukup lelah dan aku ingat bahwa aku punya tugas yang menumpuk yang belum selesai kukerjakan. "Aku sepertinya gak bisa Ma. Kan ada Kak Rev. Kenapa gak minta dianterin dia?" Mama menghentikan kegiatannya kemudian kembali menatapku dengan wajah sedikit terkejut. "Kamu belum tahu? Reka baru saja kesini dan jemput Revi untuk pulang ke Bandung. Mereka sudah pergi gak lama sebelum kamu sampai tadi." "Bukannya pulang ke Bandungnya sore nanti?" Aku bertanya dengan bingung. Aku ingat dengan jelas bahwa Rek sendiri yang memberitahuku semalam. "Non Jess ini gimana tho. Sekarang kan sudah sore non. Sudah hampir jam setengah 4 lho." Bude menjawab pertanyaanku setelah sebelumnya melirik jam dinding di dapur. "Mas Revi tadinya mau nungguin Non Jess pulang dulu. Tapi karena takut kesorean akhirnya mereka pulang duluan. Takut macet katanya Non." "Ohh.." Mengetahui Rev dan Rek sudah pergi ke Bandung tanpa berpamitan padaku cukup membuatku kecewa. Tidak bisakah mereka menungguku sedikit lebih lama? Semua ini karena Vera yang mendadak menahan langkahku ketika hendak berjalan menuju mobil. Cewek itu ingin melanjutkan pembicaraannya mengenai Jani. Aku bahkan sudah tidak peduli lagi informasi apa yang akan Vera beritahukan padaku. Aku sudah mengetahuinya sendiri bahwa Jani itu perempuan aneh bin matre. Pada akhirnya aku terpaksa memaksa Vera untuk melanjutkan ceritanya lain kali saja. Cewek itu meskipun pintar namun kurang peka pada situasi sekitar. Dia tidak menyadari bahwa aku sedang terburu-buru. Alhasil aku akhirnya tidak bisa bertemu si kembar sebelum mereka pulang ke Bandung. Aku naik ke lantai atas dan langsung masuk ke kamarku. Setelah berganti pakaian dengan terburu-buru, aku kembali turun ke bawah menuju dapur. Aku melihat keempat orang yang tengah sibuk itu mulai memindahkan bahan makanan itu ke dalam bagasi mobil. Abang Bonar bahkan berkali-kali bolak balik ke dapur-garasi dan hampir saja terpeleset karena terlalu terburu-buru. Tidak butuh waktu lebih dari 5 menit untuk memasukkan semua bahan makanan itu ke dalam bagasi mobil. Setelah semuanya beres, aku akhirnya duduk di kursi pengemudi dan mulai menghidupkan mesin mobilku. Tante Anna dan Mama ikut masuk ke dalam mobil setelah melihatku menyalakan mesin mobil. "Ma, Jess gak bisa lama-lama lho. Banyak tugas. Kita sedikit ngebut gak apa-apa ya?" Aku melirik Mama dari kaca spion. Mama selalu tidak suka jika aku menyetir dengan kecepatan tinggi. Dia selalu memarahiku karena menurutnya gaya mengemudi seperti itu sangat berbahaya. "Iya, ya sudah cepetan." Setelah mendapat persetujuan dari Mama, aku langsung mengeluarkan mobilku dari dalam garasi. Abang Bonar yang sudah membukakan pintu pagar hanya mengangguk kecil melihat mobil yang kami kendarai keluar. Aku tidak tahu dimana lokasi pemilik catering sehingga Tante Anna yang duduk disampingku lah yang memberi arahan jalan mana yang harus dilewati. Kadang ia memintaku untuk masuk ke jalan tikus, kadang melewati pasar tumpah, kadang juga harus masuk ke gang-gang sempit hingga akhirnya sampai di sebuah rumah sederhana dengan plank putih bertuliskan Madam Sri Catering. Madam Sri adalah seorang wanita paruh baya yang sama sekali tidak ada wajah kebule-bulean. Aku sedikit heran mengapa ia menamakan dirinya Madam Sri. Ketika kami tiba di depan rumahnya tadi, Madam Sri segera menyuruh beberapa karyawannya untuk menggotong bahan makanan yang kami bawa dari dalam bagasi. Madam Sri sempat menyapa Mama dan Tante Anna sekilas sebelum akhirnya mengatur para karyawannya agar meletakkan bahan-bahan makanan itu di dapur. Aku sempat menarik lengan blouse Mama begitu kulihat Mama ingin berbincang dengan wanita paruh baya itu. Aku sedang tidak ingin menunggu Mama berlama-lama mengobrol dengannya. Bukannya aku tidak suka, tapi banyak tugas kuliah yang sudah menantiku dirumah. Seolah mengerti akan isyarat yang kuberikan, Mama buru-buru berpamitan pada Madam Sri lalu mengajak Tante Anna untuk segera pulang. Dalam perjalanan pulang, aku kembali mengemudikan mobilku dengan kecepatan tinggi. Oke, maksudku lebih tinggi. Mama yang duduk di kursi penumpang berkali-kali mengucapkan istighfar setiap kali aku berbelok di tikungan tajam atau mengerem mendadak. Setidaknya reaksi Mama jauh lebih normal daripada Tante Anna yang duduk disampingku. Tanteku yang cantik itu langsung pucat pasi setiap kali mobil kami terlalu dekat dengan mobil lainnya. Aku tidak tahu sudah berapa doa yang Tante Anna panjatkan kepada Sang Pencipta begitu kami tiba dengan selamat sentosa di rumah. Aku memang bukan tipe pengemudi ugal-ugalan yang terbiasa membawa kendaraan dengan kecepatan tinggi. Tapi mengingat tugas kuliahku yang besok harus diserahkan, mau tidak mau aku terpaksa jadi pembalap dadakan. Aku tidak mempedulikan Tante Anna yang turun dari dalam mobil dengan mual-mual. Kakiku langsung bergerak naik ke kamarku dan langsung menyalakan laptop di atas meja. Ada tugas audio visual yang harus kuselesaikan hari ini. Baru setengah jam aku berkutat dengan laptopku, pintu kamarku diketuk dari luar. "Masuk!" seruku tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop. Bunyi suara daun pintu terbuka disusul langkah kaki mendekat membuatku melirik sekilas. Tante Anna. Rupanya dia masih berada di rumahku. Aku langsung menghentikan aktivitasku dan berbalik memandanginya. "Kenapa Tan?" tanyaku dengan raut bingung. Tante Anna tersenyum lantas duduk di tepi ranjangku. Matanya kemudian berkeliling memperhatikan kamarku. Kamar yang merupakan tempat suci bagiku. Tidak sembarang orang yang bisa masuk ke kamarku. Hanya orang-orang terpilih yang bisa menikmati suasana kamarku yang menurutku adalah zona paling nyaman di dalam rumah. Tante Anna adalah salah satu dari beberapa orang yang beruntung dan bisa menikmati zona nyaman ini. Melihat Tante Anna masih diam, aku akhirnya kembali fokus melanjutkan tugas kuliahku. "Aku sambil nugas ya Tan," kataku padanya sambil sibuk menggerakkan tanganku pada kursor. "Gimana rasanya setelah beberapa hari kenal dengan calon keluarga baru kamu?" Tante Anna akhirnya mulai berbicara setelah hanya diam beberapa menit. "Mereka baik. Menyenangkan..," jawabku tanpa berpaling menatapnya. "Cuma itu? Apa mereka buat kamu kesal? Atau ngomong sesuatu yang jelek mengenai pernikahan Mama kamu ini?" tanya Tante Anna lagi. Sepertinya Tante Anna mengira bahwa keluarga baruku nanti akan memperlakukanku dengan buruk. "Sama sekali enggak. Mereka justru perhatian dan sangat peduli." "Kamu yakin?" Nada bicara Tante Anna terdengar khawatir. Aku tahu, sebagai satu-satunya adik Mama, Tante Anna sangat menyayangiku dan sudah menganggapku seperti anaknya sendiri. Terlebih lagi, Tante Anna memang tidak memiliki anak perempuan. Kedua anaknya laki-laki. Jason dan Keanu. "Yakin Tan. Memangnya Tante gak yakin sama mereka?" Aku balik bertanya sementara jari-jariku masih sibuk di atas keyboard. "Tante yakin. Cuma Tante khawatir kamu nanti akan tidak nyaman dengan keluarga baru kamu. Biar bagaimanapun, mereka itu tidak ada hubungan darah dengan kamu Jess." "Aku nyaman-nyaman aja kok Tante. Meskipun gak sedarah, tapi aku yakin mereka bisa jadi keluarga dan sayang sama aku seperti sama keluarganya sendiri. Lagipula, kalau mereka mulai buat aku gak nyaman, aku kan bisa ngadu ke Tante Anna." Aku menoleh kearahnya sebentar sambil melempar senyum kemudian kembali menekuni laptopku. "Bisa aja kamu.. Ya sudah, lanjutin aja tugasnya. Tante juga sudah mau pulang. Kasihan adik-adik kamu kalau Tante belum pulang jam segini." Tante Anna bangkit berdiri dan mendekatiku. Disentuhnya punggungku perlahan. "Kuliah yang bener Jessica. Biar cepet lulus," ucapnya kemudian keluar dari kamarku. Perkataan Tante Anna bagaikan cambuk untukku. Meskipun sederhana, tapi ucapannya membuatku menyadari bahwa masih ada seseorang disana yang mendukungku dengan sepenuh hati. Para penggemarku di luar sana, Mama, Kakek dan Nenekku, dan mungkin dari calon keluargaku nanti. Aku masih sibuk menyelesaikan tugas kuliahku ketika smartphone milikku berbunyi dari atas kasur. Cukup lama smartphone ku itu berbunyi hingga akhirnya dengan malas-malasan aku bangkit dari depan laptopku lalu bergerak mengambil smartphone ku itu. Tertera nama Vera di layar. "Kenapa Ve?" sapaku begitu telponnya kuangkat. "Lo lagi ngapain? Dimana? Lama banget angkat telpon gue." Vera yang biasanya tidak suka mengomel itu langsung mencercaku dengan berbagai pertanyaan. "Dirumah. Gue lagi kerjain tugas," jawabku lalu merogoh earphone dari dalam tas kuliahku. Jika sudah menelpon, biasanya Vera akan berbicara panjang lebar. Berbeda sekali jika bertatap muka langsung, Vera akan lebih banyak diam daripada bicara. Setelah memasang earphone ditelinga dan menyambungkannya dengan smartphone ku, aku kembali duduk di depan laptop. "Pasti tugas audio visual," tebaknya sok tahu. "Iya, lo udah?" "Udah lama gue selesaiin," jawabnya menyombongkan diri. Aku lupa bahwa Vera tipe mahasiswa teladan yang tidak suka menunda-nunda tugas yang diberikan oleh dosen. Berbeda denganku dan Rana. "Terus, kenapa lo hubungin gue?" Aku berbicara sambil melanjutkan pekerjaanku yang sempat terhenti tadi. "Gue lagi sibuk banget." "Ini soal Jani. Dari kemarin gue mau bahas ini sama lo. Tapi lo selalu gak punya waktu." "Tapi gak apa-apa kan kalau gue dengerinnya sambil kerjain tugas?" Aku tidak ingin sahabatku satu itu merasa bahwa aku mengabaikan telpon darinya. "Gimana?" "Iya gak apa-apa," jawabnya dari seberang sana. "Jadi, lo mau bicara apa mengenai Jani? Lo udah denger ceritanya dari Rana waktu cewek itu kerumah gue kan?" tanyaku sambil disibukkan dengan laptop di depanku. "Iya gue tahu dari Rana. Yang mau gue bilang disini adalah.. Tapi lo jangan kaget ya Jess." Vera terdiam sejenak. Aku sengaja tidak menjawabnya dan masih fokus dengan tugasku. Tugasku hampir saja rampung. Aku memang sudah mengerjakannya dari kemarin-kemarin. Hanya saja aku memang belum menyelesaikannya dikarenakan pertemuan keluarga yang diadakan kemarin dan kedatangan Rev dan Rek dirumahku. "Jadi, Jani itu sebenarnya udah lama dikabarin lesbian." Aku masih diam mendengar ucapan Vera. Perhatianku masih tertuju pada tugas yang sedikit lagi hampir selesai. Sesekali aku browsing di google untuk mencari ide dan menambahkannya ke dalam materi tugasku. "Hallo? Jessica? Lo masih disana kan? Lo denger kan?" Vera mulai terdengar jengkel karena tidak mendapatkan tanggapan dariku. "Iya Veraaa. Gue denger." Aku menghela nafas begitu selesai menjawab pertanyaannya. Mataku menatap jam di pojok laptop yang kini menunjukkan pukul 19.43. Astaga! Aku sudah melewatkan jam makan malamku karena terlalu asik mengerjakan tugas. "Coba ulang apa yang gue omongin tadi," pinta Vera yang sepertinya tidak menyadari keterkejutanku barusan. "Soal Jani kan?" tegasku padanya. "Lo bilang kalau Jani itu les.." Kata-kataku langsung terhenti. Aku baru saja menyadari informasi yang tadi kuterima dan mencernanya ke dalam akal sehatku. Serta merta aku langsung bangkit berdiri. "Aa.. Apaa? Lo bilang kalau Jani lesbian?!" Aku berseru kaget. Aku mendengar Vera mendengus disana. "Lo telat kagetnya. Makanya kalau gue ngomong didengerin, dicerna, dipahami terus dimasukin ke otak." "Kok.. Kok lo bisa tahu? Dari mana? Kalau Jani itu lesbian, modar gue pasti udah nyala kalau deket-deket dia." Aku masih tidak bisa percaya akan informasi yang diberitahukan oleh Vera barusan. Setahuku Jani adalah simpanan om-om. "Bukannya.. Bukannya Jani itu selingkuhan om-om berduit?" Vera tertawa datar. "Simpanan om-om apanya. Lo punya buktinya?" "Tapi.. Tiap ke kampus dia selalu.." "Dijemput mobil mewah? Itu mobil bokap sama kakak-kakaknya non. Gue denger dia tinggal sama bokap dan ketiga kakaknya yang semuanya laki-laki. Pekerjaan bokap sama kakak-kakaknya tuh ngurus perusahaan keluarga. Makanya dia jadi punya sifat matre begitu. Dia selalu dimanja sama keluarganya. Semua kemauannya diturutin." Dahiku sedikit berkerut mendengar ucapan Vera. "Kok elo bisa tahu sedetail itu? Jangan-jangan lo juga.." "Lo inget Aldi temen SMA kita dulu gak? Aldi yang waktu kelas XII sempat sebangku sama gue." "Iya gue inget.. Aldi yang mukanya punya jerawat seribu itu kan?" "Sekarang mukanya udah kinclong Jess. Sekate-kate deh lo kalau ngomongin orang." Vera tertawa mendengar komentarku mengenai Aldi. "Jadi, dulu Aldi sempet naksir Jani." "Aldi kok bisa kenal sama Jani? Bukannya kita gak pernah satu sekolah sama Jani?" Aku semakin bingung mendengar penjelasan Vera. Aku ingat dengan jelas bahwa Jani tidak satu sekolah dengan aku, Vera dan Rana. "Jani itu kakak kelas Aldi waktu SMP. Jadi waktu kelas XII, Aldi tuh sering curhat sama gue soal Jani. Makanya gue tahu." "Oooh.." Aku mengangguk-angguk mengerti. "Terus, kok lo bisa tahu kalau Jani yang dimaksud Aldi itu sama dengan Jani kakak tingkat kita?" "Gue pernah ketemu Aldi secara gak sengaja di kantin kampus kita. Waktu itu gue sempet sapa dia dan akhirnya sempat ngobrol-ngobrol lagi sama dia. Aldi bilang kalau dia ke kampus kita buat ketemu sama Jani. Disitu Aldi juga cerita kalau Jani itu lesbian. Pacar ceweknya gonta-ganti dari SMP." "Aneh juga tuh si Aldi. Udah tahu Jani lesbian, kenapa masih diuber-uber." Aku mengedikkan bahuku dengan jijik. "Cewek lain yang normal kan masih banyak." "Namanya juga cinta Jess. Cintaaaa," seloroh Vera. "Cinta sih cinta. Tapi gak segitunya juga kali. Ih, amit-amit deh gue. Gue sih gak bakal mau ya suka sama homo." "Kemakan omongan baru tahu rasa lo!" seru Vera dari seberang sana. "Gue curiga itu si Jani punya maksud tersembunyi sama lo. You know laah.." Bulu kudukku langsung meremang mendengar hipotesa Vera. "Maksud lo.. Dia mau jadiin gue.. Inceran selanjutnya?" "Iya. Makanya gue bilang, lo harus jaga jarak sama dia. Gue kan tahu banget penyakit homophobia lo itu udah stadium mahabharata. Yang ada, ntar lo bukannya mual-mual lagi tapi langsung ayan di tempat kalau deket-deket dia." "Mulai deh lebaaaay.." Vera langsung terkikik geli. "Ya udah ya, gue cuma mau kasih tahu itu aja. Selamat ngerjain tugas audio visual lo. Dah!" Telpon langsung diputus. Berkat Vera, aku hampir saja melupakan tugasku. Aku hendak melanjutkan mengerjakan tugas ketika perutku tiba-tiba saja berbunyi. Aku belum makan malam! Dengan tergesa-gesa, aku berlari ke lantai bawah dan mulai memanggil Bude. "Budee.. Budeee.." *** Sudah beberapa hari ini aku mengurung diri di kamar begitu pulang dari kampus. Tugas-tugasku yang menggunung berteriak memintaku untuk segera menyelesaikannya. Untung saja aku sudah meminta Bude untuk mengingatkanku jam makan. Jika tidak, tubuhku pasti akan semakin mirip mayat hidup. Besok adalah hari penting dimana Mama dan Papa akan melangsungkan akad nikah. Aku tidak ingin di hari sepenting itu aku masih sibuk memikirkan nasib tugas-tugasku. Aku sengaja ingin menyelesaikan semua tugas-tugasku agar pikiranku bisa fokus pada acara besok. Gaun yang akan kukenakan untuk besok sudah tergantung manis di dalam lemari pakaianku. Aku sempat mencobanya kemarin. Sangat pas ditubuhku. Gaun putih itu membuatku terlihat seperti seorang putri raja. Sungguh, aku tidak melebih-lebihkan apalagi mengada-ada. Mama dan Bude bahkan memujiku ketika aku mencobanya. Aku sendiri juga tidak sabar untuk mengenakannya dan menunjukkannya di depan keluargaku dan keluarga Papa. Terutama di hadapan si kembar. Aku penasaran bagaimana komentar mereka melihatku mengenakan gaun cantik itu. Perlu diketahui, selera berpakaianku cukup tinggi. Rana dan Vera bahkan menobatkanku sebagai trendsetter mereka. Aku sedang sibuk mencoret-coret di atas kanvas ketika lagi-lagi smartphone ku berbunyi. Sudah beberapa malam ini Vera tidak henti-hentinya mengangguku. Pembicarannya tidak jauh-jauh dari Jani. Banyak sekali informasi mengenai Jani yang diberitahukannya padaku. Lama kelamaan Vera sepertinya sudah mulai suka bergosip. Setelah membersihkan kedua tanganku dengan tissue, kuraih smartphone yang sengaja masih berada di dalam tas kuliahku. Aku memang tidak menyentuhnya sejak pulang dari kuliah siang tadi. Begitu melihat layar smartphone, aku dibuat terkejut dengan nama yang tertera disana. Bukan dari Vera, melainkan dari nomor yang tidak kukenal. Siapa lagi ini? Aku baru saja ingin mengabaikannya dan meletakkan kembali smartphone ku ketika melihat sebuah pesan singkat masuk dari nomor tersebut. Angkat, ini gue Reka. Pesannya cukup singkat. Ya, namanya juga pesan singkat. Aku sempat bertanya-tanya dalam hati dari mana Rek mendapat nomor telponku ketika smartphone ku itu kembali berdering dan menampilkan nomor yang sama. Serta merta, ku tekan tombol hijau di layar dan langsung mengarahkan smartphone itu ke daun telingaku. "Hallo?" "Hallo, Jess? Ini Reka. Sorry kalau gue ganggu lo. Apa lo lagi sibuk? Ada syuting?" suara Rek yang menurutku sangat 'laki-laki' itu langsung menyapa gendang telingaku. "Enggak. Aku lagi ngerjain tugas Kak," jawabku sesopan mungkin. "Di rumah?" tanyanya. "Iya Kak." Aku mengangguk meskipun aku tahu dia tidak bisa melihatnya. "Kenapa Kak?" "Gue mau minta bantuan lo buat besok. Gue sama Revi udah rencanain sesuatu sebagai hadiah kecil-kecilan buat pernikahan Mama sama Papa." Aku langsung tertarik mendengar ucapan Rek. "Rencana apa Kak? Aku pasti bantu kalau itu buat Mama Papa," jawabku cepat. Cukup lama Rek berbicara di telpon dan menjelaskan padaku rencananya bersama Rev. Meskipun simple, namun aku cukup menyukai idenya. Tidak buruk. Hanya saja, aku sedikit ragu apakah aku mampu melakukannya. "Tapi Kak, aku gak yakin kalau aku bisa.." "Kamu pasti bisa. Aku tahu kamu punya banyak bakat. Dan itu gak sulit buat kamu kan? Gak ada salahnya dicoba Jess. Rencana ini lumayan menarik." Kak Rek mencoba untuk menyemangatiku. "Oke deh. Aku usahain Kak." "Nah gitu dong. Kalau gitu sampai ketemu besok Jess. Inget, dandan yang cantik. Kan mau gue kenalin sama calon kakak ipar." Rek tertawa kecil. "See you soon," tutupnya mengakhiri sambungan telepon. Aku menarik nafas berat begitu meletakkan smartphone ku ke atas kasur. Meskipun Rek terdengar sangat yakin, tapi aku cukup takut jika rencana yang sudah disusunnya ini gagal karena ulahku. Aku tidak ingin mengacaukannya. Sebaiknya aku memang harus segera menyelesaikan tugas kuliahku dan bersiap-siap untuk rencana besok. *** Aku mematut diriku cukup lama di depan cermin. Setelah merasa penampilanku cukup sempurna, aku kemudian turun ke lantai bawah. Disana, sudah banyak tamu undangan yang hampir semuanya dari keluarga Mama, beberapa keluarga dari almarhum Papa kandungku, dan keluarga Papa Andre. Ketika aku menuruni tangga, aku bisa merasakan seluruh tamu undangan menatapku dengan pandangan terpesona. Dipandangi seperti itu tentu saja membuatku sangat malu. Namun karena pekerjaanku sebagai seorang idola muda, aku sudah mulai terbiasa menghadapi pandangan-pandangan seperti ini. Aku hampir saja tiba di anak tangga terakhir ketika sebuah tangan yang cukup besar terulur padaku. Aku mendongak dan mendapati Papa tengah menatapku dengan tersenyum. Lesung pipi diwajahnya membuatnya semakin terlihat tampan. Tanpa ragu, kuraih uluran tangannya dan membiarkannya mendampingiku ke tengah ruangan. Ruang santai yang cukup luas kini sudah disulap menjadi hall kecil dan dihiasi tirai dan mawar-mawar putih. Cantik sekali. Aku membalas tatapan dari para tamu dengan senyuman setiap kali tidak sengaja bertemu pandang dengan mereka. Sebagian besar tamu adalah orang-orang yang sangat kukenal. Sebagian lagi dari keluarga Papa yang beberapa hari lalu mengunjungi rumahku. Kakek dan nenekku dari pihak Mama bahkan datang jauh-jauh dari Manado demi menyaksikan pernikahan yang kedua dari anak mereka. Ketika tengah memperhatikan keluarga yang hadir, mataku menangkap sosok si kembar yang tengah berdiri mengapit seorang perempuan yang amat cantik. Tinggi kami sepertinya tidak jauh berbeda. Rambutnya panjang bergelombang. Kulitnya kuning langsat. Bentuk wajahnya oval dan yang paling unik dari wajah itu adalah hidungnya yang sangat mancung dan mata birunya. Tubuh gadis itu dibalut dress putih ketat yang membuat lekuk tubuhnya terlihat semakin sempurna. Dia benar-benar terlihat seperti sosok perempuan yang sangat anggun dan berkelas. Si kembar yang berada di kedua sisinya tidak kalah mengusik perhatianku. Pakaian yang dikenakan keduanya sama. Kemeja putih dibalut jas dengan warna senada. Keduanya juga mengenakan celana panjang dan sepatu putih. Benar-benar serba putih. Yang membedakan dari keduanya hanyalah gaya rambut mereka. Rek dengan rambut pendek cepaknya yang dibiarkan berantakan dan Rev dengan rambut gondrong dibagian tengahnya yang dibuat sedikit mohawk. Orang pertama yang menyadari tatapanku adalah Rev. Matanya menatapku lurus-lurus sebelum akhirnya kembali berbicara pada si cewek cantik tadi. Sepertinya harapanku untuk membuat si kembar terkesima pada penampilanku pupus sudah. Cewek bule itu sudah merebut perhatian kedua kakak ku dariku. Sepertinya cewek bule itu menyadari bahwa aku memperhatikannya cukup lama. Ia menoleh menatapku kemudian tersenyum seraya melambaikan tangannya. Hah, sok akrab sekali tingkahnya. Mau tidak mau, aku membalas senyumnya dan bergerak menghampiri ketiganya. "Wah wah wah.. Adek gue cantik banget. Gue sampe gak ngenalin," sapa Rek begitu aku berada di antara mereka. "Sini kenalin.. Dia Jill. Pacar gue." Matanya melirik si bule dengan tatapan penuh cinta. Jadi cewek bule ini pacarnya Rek? Aku hampir tidak percaya jika saja si bule ini tidak tersenyum dan mengulurkan tangannya padaku. "Hai, aku Jill. aku sudah dengar mengenai kamu dari Reka dan Revi." Kubalas uluran tangannya dengan senyum yang tidak kalah hangat. "Hai Jill. Aku Jessica." "Benar kata Reka, kamu sangat cantik Jess," puji Jill lalu melepaskan tangannya dari tanganku. Dalam jarak sedekat ini, aku bisa mencium aroma parfum yang dikenakannya. Aku bisa menebak dari aromanya bahwa Jill menggunakan parfum mahal. "Sayangnya Kak Rek gak pernah cerita apapun mengenai..", ucapanku terhenti. "Maaf, gak apa-apa kalau aku panggil dengan sebutan Kak?" Jill mengangguk. "Tentu." Aku masih ingin melanjutkan obrolan ketika Rev tiba-tiba membalikkan tubuhnya menatap ke tengah ruangan. "Akad nikahnya sudah mau mulai," beritahunya. Serta merta semua undangan yang hadir diruangan itu langsung terdiam dan menatap ke satu arah. Di tengah ruangan, Papa dan Mama sudah duduk berdampingan menghadap penghulu dan Kakek. Aku bisa melihat wajah Papa dan Mama cukup tegang meskipun ini bukan pengalaman pertama bagi keduanya. Jill yang kini berdiri disisiku lantas mengajakku untuk berjalan mendekat menyaksikan prosesi yang sakral itu agar lebih jelas. Aku sendiri cukup antusias menyaksikan Mama dan Papa sebentar lagi akan terikat dalam suatu ikatan pernikahan yang sah. Penghulu yang baru saja datang langsung meminta seorang ustadz untuk membaca doa sebelum akhirnya ia bertanya mengenai hal-hal yang berhubungan dengan mas kawin. Setelah meminta Mama dan Papa untuk melafalkan istighfar dan kedua kalimat syahadat, si penghulu kemudian meminta kakek untuk segera memulai prosesi akad nikah. Jantungku berpacu dengan cepat ketika melihat proses ijab qabul di hadapanku ini. Wajah Papa terlihat tenang dan sangat serius ketika mengucapkannya dalam satu hembusan nafas. Setelah para saksi menyatakan ijab qabulnya sah, aku langsung menghembuskan nafas yang luar biasa lega. Plong. Setelah itu, si penghulu memimpin doa lalu meminta Mama dan Papa untuk menandatangani buku nikah. Aku melihat Mama menitikkan air matanya ketika proses ijab qabul telah berlangsung. Setelah mengabadikannya dalam sebuah foto, Mama dan Papa bergantian memeluk Kakek dan Nenek. Aku mendengar nenek membisikkan sesuatu di telinga Mama dan membuat Mama semakin berkaca-kaca. Aku dan kedua saudara tiriku bahkan tidak luput dari pelukan mereka. Mama memelukku dengan sangat erat dan kembali mengucapkan rasa terima kasihnya padaku karena sudah mengizinkannya untuk menikah kembali. Aku terharu mendengarnya. Hampir saja aku ikut menangis jika Rek tidak segera menyikut lenganku dan membuat wajahnya terlihat aneh. Rev yang biasanya selalu menjaga jarak denganku bahkan kini meremas erat kedua bahuku dari belakang seolah ingin mengalirkan kekuatan tidak kasat mata ke dalam tubuhku. Aku mengerti. Bukan hanya aku yang terharu sekaligus bahagia disini. Semua yang hadir di ruangan ini mengekspresikan perasaan mereka dengan cara yang berbeda. Aku melirik Rek yang kini menggengam erat tangan Jill seolah tidak ingin melepaskannya. Mata Rek memandang lurus memperhatikan kedua orangtua kami yang kini masih dihadiahi pelukan dan kecupan dari seluruh sanak saudara. Penghulu yang tadi membantu proses ijab qabul kemudian berpamitan untuk ke tempat lain. Setelah mengucapkan terima kasih padanya, Papa dan Mama lantas kembali menemui undangan yang hadir dan masih ingin memberikan keduanya ucapan selamat. Perlahan-lahan, emosiku yang tadi seperti lagu-lagu melankolis berubah stabil. Rek yang masih berdiri disisiku menyikut lenganku lalu tersenyum begitu aku balas menatapnya dengan bingung. "Ini saatnya ngelaksanain rencana kita kemarin," bisik Rek dengan suara pelan. Jill yang berada disisinya hanya tersenyum. Sepertinya cewek itu tahu apa rencana kami. Pasti Rek sudah membocorkannya pada pacarnya itu. Aku masih belum siap untuk melaksanakannya. Rev yang sepertinya menyadari ketidaksiapanku lantas semakin mempererat genggamannya dikedua bahuku. "Lo pasti bisa," bisik Rev. "Haaah." Aku menghela nafas singkat. "Ya, kita pasti bisa," gumamku mantap. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN