Sejak melihat Rev di meja makan pagi ini, aku sudah mendapat firasat bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Meskipun aku tidak bisa melihatnya, tapi ekspresi dingin Rev yang sempat tertangkap oleh sudut mataku sudah jelas mengisyaratkan bahwa sedang terjadi pergolakan batin di dalam pikirannya. Begitu melihat kemunculanku, Rev langsung pergi menjauh. Seolah dirinya adalah sumber virus yang setiap saat dapat menjangkiti tubuhku. Sesungguhnya ada banyak pertanyaan yang ingin kuajukan padanya. Ada banyak cerita yang ingin kubagi dengannya. Aku bahkan rindu untuk mengobrol santai dengannya di pagi buta sambil duduk di teras. Tapi tentu saja aku tidak dapat melakukannya dengan kondisiku yang seperti ini. Padahal beberapa hari sebelum kunjungan kerjanya ke Osaka, aku secara diam-diam sudah berl

