Cowok yang duduk di depanku ini, yang sudah lama kulupakan, kini tengah sibuk mengaduk cangkir kopinya dengan santai. Sesekali matanya memperhatikan setiap sudut kafe yang bernuansa serba coklat dengan ornamen-ornamen kayu di setiap sudutnya. Sesekali jarinya diketuk-ketukkan di atas lututnya mengikuti irama musik yang mengalun. Sesungguhnya aku tidak ingin bertemu kembali dengannya. Namun cowok ini dengan angkuhnya muncul di kampus dan memaksaku untuk berbicara sebentar. Sepertinya pertemuan singkat kemarin di toko buku tidak membuatnya cukup puas. "Kenapa kamu ngajak aku kesini?" Aku memicingkan mata menatapnya. Sikap arogannya sungguh membuatku jengkel. Dia tidak pernah berubah sejak terakhir kali kami bertemu. "Kamu semakin cantik." Hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya. Rambut

