9. Sparring

1261 Kata
Shane terlihat sedang bersiap dengan kaos dan celana pendek khusus untuk basket. Dia akan melakukan latihan bersama dengan tim-nya. Karena belum ada seragam tim, Shane harus menggunakan pakaian lain saat ini. Shane juga melakukan pemanasan dengan menggerakkan bagian tubuhnya agar tidak terjadi kram. Setelah itu, Shane bersama empat teman lainnya mulai memasuki lapangan. Suasana di lapangan sangat ramai dengan kehadiran dari anak cheers dan juga murid lainnya. Mereka sengaja datang untuk memberikan dukungan pada Shane. Sudah ada beberapa spanduk dan banner dengan nama Shane di sana. Bahkan ketua tim basket saat ini kalah pamor dengan Shane. "Tumben rame," gumam seorang anak tim basket. "Lu kagak liat ada pangeran baru di sekolah?" jawab seorang temannya. "Yang itu? Anak bahasa?" "Iya." "Namanya Shane, anak konglomerat Jakarta. Kalo ada panggilan BK, yang dateng bukan ortu tapi pengacara," jelas temannya. "Udah macam kasus berat aja." "Makannya itu. Kan ngeri kalo ada masalah sama dia. Jangan-jangan ... kita entar langsung masuk bui kalo urusan sama anak itu," ujar murid yang juga ada di tim basket. "Kalian ini lakik apa bukan sih? Ghibahin orang mulu! Sana lari lapangan dua puluh kali!" ujar seorang cewek yang tidak lain adalah manager di tim basket itu. Latihan dimulai, dan Shane sedang mencoba merebut bola dari lawannya. Karena pertandingan yang sesungguhnya masih beberapa hari lagi, mereka melakukannya dengan membagi dua tim dan melakukan sparring untuk melihat kemampuan dari masing-masing anggota. "Shane ... aaa ... ganteng sapa gue dong!" teriak beberapa fans cewek yang mengidolakan Shane. "Shane ... jadi pacar gue dong!" teriak cewek lainnya. Meski apa yang mereka katakan percuma, tetap saja suara-suara gaduh itu mengganggu telinga beberapa tim cadangan yang duduk menatap pertandingan itu. "Heh! Bisa diem kagak sih!" bentak seorang cowok dari kelas sebelas. "Ih ... bilang aja lu ngiri! Makannya, punya muka jangan pas-pasan, biar ada yang panggil nama lu kalo pas tanding gini!" sindir cewek dari bangku pnonton. Kesal dengan ucapan cewek itu, mereka akhirnya tidak mempedulikan lagi perkataan para cewek yang sangat memuja Shane. Babak pertama selesai dengan baik, tim yang di pimpin oleh Shane memenangkan pertandingan dengan bagus. Dan ketua tim memilih Shane untuk menjadi kapten saat pertandingan. "Good job, Shane" "Thanks." "Nih minum," ujar seorang teman. "Beberapa kali gue lihat lu bagus banget oper bolanya, dan selalu pas sama posisi temen tim," puji cowok itu. "Iya, kalo nggak gitu, tim nggak akan menang." "Bener." Dari bangku penonton, ada banyak cewek yang menawarkan minum untuk Shane. Sayang, tidak satupun dari mereka yang diterima oleh cowok dingin itu. Tidak lama setelah itu, Shane melihat cewek yang sudah membuatnya kesal hari ini duduk disalah satu bangku penonton. Emosi Shane hadir lagi, tapi sayang ... belum sempat Shane menegur, pertandingan dimulai lagi. Shane kembali berusaha untuk membawa timnya dengan baik. Seperti sebelumnya, ia melakukan operan yang bagus, dan saat terakhir melakukan slam dunk, para cewek yang duduk di bangku penonton berdiri dan berteriak histeris. "Keren! Shane gue! Aaa ... Shane lirik gue dong!" Seperti itulah keramaian pertandingan basket yang ada di lapangan hari ini. Dan setelah selesai, Shane tidak lagi melihat cewek itu di sana. Shane duduk dan mendengarkan arahan pelatih, sembari mengusap keringat dengan handuk kecil yang melingkar di lehernya. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore hari. Shane berjalan menuju ke area parkir sekolah untuk sampai di mobil miliknya. Saat Shane sedang membuka bagasi, ada seorang cewek yang datang dan memberikan sebuah bingkisan untuk Shane. "Apaan?" tanya Shane. "Buat lu, itu bikinan gue sendiri." "Iya, isinya apaan?" "Sushi, sama onigiri." "Oke, makasih. Nggak dikasih racun kan?" tanya Shane. "Enggak kok, kalo bisa malah gue kasih sihir biar lu bisa suka sama gue," ujarnya. "Pede ya? Oke, makasih." Shane menutup bagasi mobilnya dan meletakkan makanan itu di kursi kosong yang ada di sampingnya. Shane duduk dan menghidupkan mesin mobil. Dia membuka bingkisan yang diterima tadi "Berhubung gue laper, dan ternyata isinya kesukaan gue. Ya udah ... sikat aja deh," gumam Shane sembari membuka bingkisan itu. Sushi yang ia lihat berbentuk hati dengan isian daging ayam, dan sayuran. Sedangkan onigiri yang ada di bungkusan lainnya, berisi ikan salmon, dengan jamur kancing. Shane mulai memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya, lalu mengunyah dengan perlahan. "Not bad ... mayan isi perut." Setelah itu, Shane mengemudikan mobilnya dengan perlahan melewati gerbang sekolah. Dengan onigiri yang ada di tangan kirinya. Mobil Shane sampai di basement apartemen, dan dia berjalan menuju lift yang menghubungkan tempat itu dengan apartemen milik orang tuanya. Ting Suara dari benda persegi dengan dinding berwarna silver, menandakan jika Shane sudah sampai di lantai yang dituju. Cowok itu berjalan keluar dari sana dan menuju pintu masuk. "Shane pulang," ujar cowok dengan pakaian yang masih basah karena keringat. "Cane, kamu bau! Buruan mandi, terus makan malam!" ujar Vivi yang menyambut anaknya. "Dedek kemana?" "Tadi dijemput Oma." "Ya ... Shane sendirian dong?" "Oma lagi pengen ajak Dedek ke arisan temennya. Kamu buruan mandi terus anterin Mama." "Kemana?" "Ke Mall." "Ya udah, bentar." "Oya, Papa lagi di London. Pulang seminggu lagi," terang Vivi. "Lama amat, bilangin ... Shane mau dibawain noni belanda dong!" PLETAK "Aduh!" keluh Shane. "Gimana cewek di sekolah? Belum ada yang naksir kamu nih?" tanya Vivi mengalihkan perbincangan. "Shane mandi dulu." Shane pergi begitu saja dari hadapan ibunya. Dia memang tidak terlalu suka jika Vivi membahas mengenai urusan hati. Shane Meletakkan barangnya dan mulai masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Shane membasahi tubuhnya di bawah shower. Terasa perih pada bagian tangannya, dan lagi-lagi luka itu mengeluarkan darah karena Shane sempat menggoreskan tangannya di dinding. "Howek!" Lagi ... Shane memuntahkan makanan yang tadi masuk ke dalam perutnya. Hari ini, sudah banyak sekali makanan yang ia buang dari mulut karena urusan luka kecil itu. Tubuh Shane terasa lemas, dan ia segera menyelesaikan kegiatannya di dalam sana. Shane mulai mengeringkan tubuhnya dengan handuk lalu keluar dan mengambil pakaian di dalam walk in closet. Saat berkaca, Shane melihat wajahnya yang pucat. Tidak ingin membuat Vivi khawatir, Shane menutup luka itu dengan mengenakan pakaian lengan panjang, dan menggunakan lip balm agar tidak terlihat pucat. Shane segera menemui Vivi di ruang makan, dan ia menelan semua makanan yang saat ini ada di hadapannya. Sementara Vivi terlihat mengetahui apa yang sedang dirasakan Shane. "Cane, kamu baik-baik saja?" tanya Vivi. "Baik, Ma. Kenapa?" "Enggak, apa kamu capek habis sparring tadi?" "Iya, dikit. Tapi Shane masih bisa kok anterin Mama." "Ya udah, pake mobil Mama aja ya?" "Iya." Mereka menyelesaikan kegiatan makan itu dengan segera. Setelahnya, ke dua pasangan ibu dan anak itu berjalan menuju ke basement untuk segera menuju Mall. "Cane, Mama ang pegang kemudi. Kamu duduk aja di sana." Shane pun menurut saja dengan ucapan Vivi dan memilih duduk di kursi samping. Sama seperti sang ayah, Ibunya pun mengemudikan mobil dengan cepat dan sangat mahir di jalanan yang terpantau ramai. Bahkan terkadang Shane berteriak karena Vivi hampir menabrak pengendara lain. "Ma, awas! Itu nak orang!" seru Shane. "Iya tau, siapa bilang itu anak hewan?" "Ma, lampu merah! berhenti Mama!" "Kamu cerewet kayak Papa! Diem dong!" omel Vivi pada akhirnya. Hingga akhirnya mereka sampai di mall, Shane mengelus dadanya dan bersyukur karena masih diberikan hidup dan napas yang panjang. Mereka berjalan bersama memasuki Mall dan menuju ke store milik Vivi. "Mbak, tumben sama si ganteng," sapa karyawan Vivi. "Aku tahu kalian kangen anak aku, makannya aku bawain buat kalian jadiin baha," jawab Vivi dengan tersenyum. "Bawa anak buat dikenalin, no. Bawa anak buat jadi bahan bully, yes," ujar Shane sembari memutar ke dua bola matanya. "Hahaha, Abang ganteng ... duduk sini," sapa seorang karyawan. "Tante ... inget umur ya, kalo mau punya berondong, dompet kudu tebel," ujar Shane sembari menaikkan satu alisnya. "Shane emang titisan Mamanya, hahaha."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN