8. Back to Jakarta

1388 Kata
The Platinum Fashion Mall menjadi tujuan Vivi untuk berbelanja. Bersama anak dan suaminya, Vivi memanfaatkan liburan kali ini untuk berbelanja di sana. Bahkan, seperti biasa … Vivi akan membuka jasa titip barang dari Thailand untuk teman-temannya yang tidak bisa melakukan perjalanan ke luar negeri, atau sedang malas. Ada juga pembeli dari kalangan luar yang mengikuti sosial media Vivi selama berada di Thailand. “Ma, mau beli apa?” tanya Shane yang sudah terlihat lelah mengikuti langkah kaki sang ibu. “Ini, kaos yang lagi rame.” “Hmm, Ma. Papa sama Dedek kemana?” tanya Shane. “Lagi beli makanan di sana.” “Beli apaan?” “Khanom krok,” ujar Vivi dengan logat khas orang Thailand. “Apaan tuh?” “Mana Mama tau? Mama Cuma baca bannernya tadi,” ujar Vivi kembali mengambil pakaian yang diinginkannya. Shane memang lebih suka mengikuti sang ibu jika sedang berbelanja. Seperti saat ini, Shane akan dijadikan model utama pakaian yang akan ia beli untuk dijual lagi di Indonesia. “Cane, lihat ini, bagus gak?” tanya Vivi. “Lumayan.” “Oke, beli.” “Astaga, Ma. Ini udah banyak, Shane nggak bisa bawa lagi!” ujar Shane mengeluh. “Ya udah, balik hotel terus ke sini lagi.” “Buset, ogah! Balik Jakarta aja deh.” “Ish, jomblo itu jangan buru-buru balik rumah, kan ngenes nanti kalo keliatan di rumah mulu,” sindir Vivi. “Apaan sih,Ma.” “Cane anak Mama belum ada pacar, padahal udah SMA, kapan mau kenalin cewek ke Mama? Jangan dengerin Papa! Papa dulu pacarnya banyak tau!” “Nggak mau! Nanti uang Shane jadi gaib.” “Aish … menyenangkan hati seseorang itu baik loh, Cane.” “Ya udah, Shane senengin hati Mama aja.” “Itu lain gehel! Mama udah seneng, yang lainnya sono!” “Ya udah, Aly sama Ashley aja.” “Kamu belum pernah Mama slepet yak!” “Yaelah, Ma. Iya-iya … nanti kalo nemu cewek yang nggak doyan belanja kayak Mama, nanti Shane ajakin pacaran deh.” “Lu kata cewek begitu ada?” “Ada, nanti ada pada saatnya.” Pletak! Shane hanya bisa meringis menerima pukulan dari sang ibu. Dan mereka menyelesaikan kegiatan belanja itu dengan segera. Tidak lama kemudian, Theo datang bersama ke dua anak kembarnya. Theo membawa bungkusan makanan dan menyodorkannya pada Vivi juga Shane. “Ini tadi namanya apa?” tanya Shane. “Khanom krok!” jawab Theo. “Kue cubit ini mah!” sahut Vivi kesal. “Hahaha … astaga! Receh amat Emak aing,” ujar Shane. Setelah mereka puas dengan acara liburan di sana.  Akhirnya tiba di mana mereka harus kembali ke Jakarta. Pekerjaan Theo dan Vivi sudah menunggu, begitu juga anak-anak mereka yang harus mengerjakan pekerjaan sekolah. Pesawat milik Theo penuh dengan barang belanjaan istrinya, dan mereka terpaksa menurunkan barang-barang itu secara bergantian agar tidak menarik perhatian. Mereka kembali ke apartemen, dan beristirahat untuk kembali beraktivitas esok. *** Pagi ini … Shane sudah siap untuk pergi ke sekolah. Ia mengenakan pakaian abu-abu putih dan tas punggung yang berisi buku pelajaran. Ada tas lain yang di bawa Shane, berisi pakaian ganti dan sepatu olah raga. Hari ini aka nada latihan basket untuk Shane karena akan diadakan tanding dengan tim dari SMA lainnya. Shane turun dari lantai dua kamarnya, dan menuju ke meja makan. Sebelumnya, ia meletakkan tas miliknya di ruang tamu agar lebih mudah dan tidak menghalangi jalan. “Mau minggat?” tanya Vivi. “Ada latihan basket, Ma.” “Ooo … kirain.” “Mama mau Shane tidur di rumah Om Oris?” “Berani tidur sana, jatah apartemen buat kamu mama hangusin!” ancam Vivi. “Tuh kan. Baru juga bilang gitu.” Setelah menghabiskan makanannya. Shane berpamitan pada Vivi untuk pergi ke sekolah. Hari ini, ke dua adiknya berangkat bersama Theo karena aka nada pertemuan di dekat sekolah si kembar. Sedangkan Shane menggunakan mobilnya sendiri yang berwarna kuning dengan merek Lamborghini. Shane mengemudikan mobil itu dengan sangat cepat, dan keahlian itu ia dapatkan karena sering melihat sang ayah mengebut di kala waktu yang mendesak. Tanpa ia sadari, mobil itu sudah memasuki area parkiran sekolah. Shane turun dari sana dan tanpa sengaja di tabrak oleh seorang cewek. Shane terjatuh dengan pakaian yang kotor, dan luka pada pergelangan tangannya. “Buset dah! Kagak punya mata ya!” omel Shane. “Sorry, gue buru-buru.” Cewek itu kembali melanjutkan langkah kakinya. Dan Shane mengingat betul wajah cewek yang sudah kurang ajar menabrak dirinya tanpa rasa bersalah. Shane kembali berjalan menuju ke loker sekolah, ia meletakkan tas dan barang lainnya di sana. Lalu melanjutkan langkah kakinya ke kelas. “Oi, Shane! Kenapa tuh tangan lu?” tanya Ben yang baru saja datang. “Jatoh.” “Pagi-pagi udah main acrobat.” “Ada cewek sialan nabrak gue! mana kagak minta maaf lagi!” gerutu Shane. “Eh … siapa yang berani tabrak pangeran?” “Apaan sih! masuk kelas kuy!” Sampai di kelas, Shane duduk dan mencoba melihat luka yang ada di tangannya. Ada bercak darah di sana, dan kepalanya terasa pusing. Perutnya juga mulai mual ,Shane kembali menjauhkan tangan itu dari hadapannya. Wajah Shane seketika terlihat pucat, ia menundukkan kepalanya dan tidak lagi melihat ke arah luka itu. “Lu kenapa?” tanya Ben. “Nggak papa.” “Muka lo pucet anjim, beneran deh.” “Diem lo! Gue baik-baik aja!” bantah Shane. Ben kembali terdiam, dia tidak lagi berkata apa-apa setelah mendapatkan tatapan tajam dari Shane. Sampai akhirnya ada seorang teman yang melihat luka di tangan Shane. “Shane, itu darah nggak lo bersihin?” tanya seorang teman. “Diem lo!” ujar Shane dengan tegas. Semua murid di sana merasa aneh dengan sikap Shane. Sampai akhrinya Shane tidak bisa tahan lagi, ia pun berlari dan menabrak seorang cewek di depan kelas. “Pakai mata kalo jalan!” amuk Shane yang melanjutkan langkahnya. Sampai di kamar mandi, Shane membasuh tangannya dengan air dan ia juga memuntahkan kembali makanan yang pagi ini masuk ke dalam perutnya. Shane terlihat kesal dengan dirinya sendiri. “Yo, Shane? Lu ada di dalem?” panggil Ben. “Hm.” “Gue di suruh jemput lo ama sensei,” ujar Ben. “Bentar.” Shane membersihkan area mulutnya dan membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar. Setelah selesai, Shane keluar dari kamar mandi, dan kembali ke kelas bersama Ben. Sampai di kelas, Shane melihat ada seorang cewek yang mengakibatkan dirinya terjatuh pagi ini. Shane manatapnya tajam sembari berjalan ke arah tempat duduknya. Pelajaran hari itu pun dilalui Shane dengan sangat baik, ia bisa mengikuti pelajaran yang diterangkan oleh guru bahasa Jepang, hingga tugas kelompok untuk membuat beberapa kerajinan khas dari Negara itu membuatnya bersemangat kembali. “Shane, rehat ke kantin kuy! Ada makanan kesukaan lu.” “Ha?” “Astaga … gue juga lupa namanya.” “Gehel! Lu mau ngomong apaan sih!” “Nggak jadi deh, lu lihat sendiri nanti di kantin.” Akhirnya, saat jam istirahat datang. Mereka berjalan bersama menuju ke kantin. Dan di sana, Shane melihat cewek yang ia cari saat selesai dengan tugas bahasa Jepang. “Bentar.” Shane berjalan ke arah cewek itu dan berdiri di depannya. “Astaga! Pangeran sekolah ngapain deketin anak baru?” gumam seorang cewek. “Weh, ada apa ini? Shane lagi kepentok?” sahut teman lainnya. Cewek itu menatap Shane dari ujung kaki hingga kepala. Lalu ia berdiri dan menatap Shane dengan santai. “Lu halangin jalan gue!” ujar cewek itu. “Minta maaf sama gue sekarang juga!” “Ngapain gue harus minta maaf? Emang lu saha!” “Lu udah bikin gue bad mood hari ini, lu nabrak gue dua kali, dan lu … bikin tangan gue lecet!” omel Shane. “Cengeng banget sih lu jadi cowok! Luka lecet gitu doang udah kek anak kecil jatih aja!” sahut cewek itu. Shane terlihat kesal, ia menarik kerah pakaian cewek itu. Dan berbisik tepat di telinganya. “Minta maaf, atau lu bakal tau akibatnya!” bisik Shane. “Lu ngomong? Atau lagi mupeng?” tanya cewek yang kini terlihat melepaskan tangan Shane. Cewek itu berjalan menjauhi Shane dan pergi dari kantin. Sedangkan Shane sendiri terlihat emosi dan akan kembali mengikuti cewek itu, sayangnya Kaito datang dan menarik Shane untuk duduk di bangku seperti biasa. “Udah biarin! Duduk! Kita makan!” ujar Kaito.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN