7. Liburan

1206 Kata
Weekend adalah hari untuk keluarga. Biasanya ... Shane dan keluarga besar akan pergi berlibur ke suatu tempat. Seperti minggu ini, Shane sedang bersiap membawa beberapa perlengkapannya seperti kamera, pakaian, dompet, dan parfum. Ya ... seorang keturunan keluarga Jaya selalu mengutamakan aroma tubuh mereka, dan Shane salah satu penikmat parfum. Shane memiliki banyak sekali koleksi parfum dari berbagai merek, dan dengan aroma yang berbeda. Biasanya Shane sangat suka dengan merek One Million - Paco Rabbani. Tidak hanya itu, Shane juga sangat suka dengan merek Jo Malone - English and Pear. Harga tidak pernah menjadi masalah untuk remaja satu ini, karena dia memiliki dua orang tua yang selalu memenuhi kebutuhannya. "Cane, udah belum?" tanya Vivi dari pintu kamar. "Bentar, Ma. Nyariin topi." "Buru!" Shane meraih satu topi koleksinya. Lalu, ia berjalan ke luar kamar dan berkumpul di ruang tamu bersama ke dua orang tua dan juga adik kembarnya. Shane sangat menyayangi ke dua adiknya, terkadang ia sangat suka jahil dengan mengacak rambut ke duanya. "Mama! Abang nakal!" seru Alyssa. "Cane, jangan ganggu Aly!" "Mama! Kakak cupit pipi aku!" adu Ashley. "Cane! Uang jajan hilang nih!" ancam Vivi pada akhirnya. Shane pun menghentikan aksinya untuk menjahili kedua anak kembar itu. "Jadi ... mau kemana kita?" tanya Shane. "Bangkok," jawab Theo. "Hore! Kita ke Thailand!" seru Ashley. "Tumben, pasti Mama nih yang pengen belanja," gumam Shane. "Udah siap semua kan? Kita ke bandara sekarang!" ujar Theo sembari menggendong Alyssa. Sedangkan Ashley bersama Shane. Dan Vivi berjalan mengekor di belakang mereka. Sampai di Bandara. Mereka menuju ke gate khusus karena menggunakan pesawat pribadi untuk pergi ke negara tetangga. Di dalam pesawat, Shane terlihat mengenakan earphone dan menutup ke dua matanya. Sedangkan ke dua anak kembar yang duduk di samping Shane, sedang asik bermain game menggunakan gadget masing-masing. "Bang, bangun ish! Tidur terus ish!" ujar Alyssa yang berusaha membangunkan sang kakak. "Hmm? Apaan?" "Benerin hero aku, ini gimana?" tanyanya lagi. Shane membuka mata dan melihat permainan milik adiknya itu. Shane terlihat merubah dan menentukan senjata karakter yang sedang digunakan sang adik dalam game tersebut. "Udah," ujar Shane. "Makasih,Bang." Hingga akhirnya pesawat mendarat dan sampai di Thailand. Sebuah negara yang memiliki surga fashion murah dan berbagai macam alat kecantikan. "Cane, jagain Dedek dulu. Mama mau ke toilet bentar," pamit Vivi sembari memberikan barang-barang miliknya ke Theo. "Duduk di Starbak dulu,Pa. Shane pengen beli kopi di sana," ujar Shane sembari menggandeng ke dua adiknya. Theo hanya mengangguk dan berjalan mengikuti langkah anaknya. Mereka duduk bersama di salah satu nomor meja yang tersedia di sana. "Bang, Aly kalah lagi," rengek sang adik saat game-nya mengalami kekalahan. "Haish, kamu nih. Jangan main itu kalo nggak bisa!" omel Shane. "Kan Dedek masih belajar,Bang!" "Sini Papa ajarin," ujar Theo. "Emang Papa bisa?" tanya Ashley. "Papa jago tau, Abang dulu yang ajarin juga Papa," jelas Theo dengan mengedipkan mata pada Shane. "Beneran?" tanya Alyssa tidak percaya. "Iya," jawab Shane singkat. Tidak lama setelah percakapan itu, Vivi akhirnya kembali dan mengajak mereka untuk segera ke hotel. "Mama kenapa?" tanya Shane. "Lagi nganu." "Ha? Nganu apaan, Ma?" tanya Shane memperjelas. Pletak! "Urusan cewek! Udah jangan banyak tanya!" sahut Theo. "Nggak Mama, nggak Papa ... suka banget sih jitak pala Shane!" gerutu remaja itu. Akhirnya, mereka pun menuju hotel yang berada di dekat pusat perbelanjaan. "Ini pasti Mama yang pilih hotel," gumam Shane di dalam kamarnya. Shane meletakkan barang-barang miliknya di dekat ranjang, lalu ia merebahkan diri di sana karena lelah. Tok Tok Tok "Bang, tidur kah?" tanya Alyssa. "Ada apa?" "Aly mau tidur sama Abang." "Kenapa nggak sama Ashley?" "Nggak mau!" rengek Alyssa. "Ya udah, sini!" Alyssa pun berjalan mendekat sembari membawa barangnya. Ia naik ke atas ranjang dan ikut merebahkan diri di sana bersama Shane. "Ashley nggak main game?" tanya Shane. "Enggak, game dia masak-masak gitu. Sama cacing." "Hahahaha, astaga ... itu mah mainannya Mama semua." "Nah makannya, Aly nggak mau nanti di suruh download game yang sama." "Ya udah nanti mabar sama Abang." Asik!" Mereka bermain bersama dan juga menjadi satu tim di dalam game itu. Hingga Vivi memanggil ke duanya untuk segera pergi ke luar. "Mau ke mana,Ma?" tanya Shane. "Makan, Mama laper." "Buset dah, makan mulu, Mama!" "Cerewet, Mama kalo nggak makan kasihan tau!" "Yang kasihan dompetnya,Mama. Mama sekali makan bisa satu warung habis." "Ngomong gitu lagi, potong nih!" "Haish, ancaman mautnya ... ngeri dah!" "Udah siap semua?" tanya Theo. "Udah dari tadi,Yang!" Mereka ke luar bersama untuk makan di restoran yang biasa dikunjungi jika ke negara itu. Shane yang selalu menjaga ke dua adiknya, kini terlihat hanya bersama salah satu dari ke duanya. Sementara satunya lagi sedang bermanja-manja dengan sang ayah. "Pa, Aly nggak mau tidur sama Ashley," adu anak itu. "Kenapa?" "Aly nggak mau mainan sama aku." "Hmm. Emang mainan kamu apa?" "Cacing." "Nanti mainnya sama Mama kalo itu, Mama jago!" ujar Theo. "Okish!" Di dalam restoran, mereka makan dengan tenang. Menu yang sudah dipesan adalah menu pilihan Vivi. "Ma, habis ini kemana?" tanya Shane. "Kamera kamu bawa?" "Bawa." "Kita hunting foto! Fotoin Mama yang cakep!" "Wew ... Oke lah." "Yang, inget umur. Kadang suka lupa nih!" omel Theo. "Menolak tua! Anak boleh banyak, tapi muka masih kayak anak SMA!" sahut Vivi sembari menjulurkan lidah. "Ma, minggu depan ada acara sekolah. Pertandingan basket pertama Shane, mau dateng enggak?" tanya Shane. "Dateng!" jawab ke dua orang tua Shane bersama. Shane tersenyum, dia sangat mengenal ke dua orang tuanya. Setiap kegiatan positif di sekolah, mereka akan menjadi pemandu sorak utama untuk Shane. Dukungan mereka adalah semangat yang paling utama untuk remaja itu. "Yang, nanti beli buat isi di toko ya?" tanya Vivi. "Hmm." "Mama, Aly mau beli perlengkapan game buat di kamar!" rengek satu anaknya. "Ashley juga mau! Tambahin boneka sama mainan lain!" rengek anak lainnya. "Sekolah gimana?" tanya Vivi. "Aly ikut kompetisi di Singapura lusa, ada olimpiade matematika." "Ashley ada olimpiade di Vietnam, kan Ashley ikut gym dua minggu lagi!" "Oke." "Yeay!" seru ke duanya bersamaan. Vivi selalu mengajarkan, di setiap ada permintaan, harus ada prestasi yang dicapai. Dan itu berhasil ia terapkan pada ke tiga anaknya. Mereka selesai dengan kegiatan makan, dan sekarang Vivi ingin melakukan pemotretan di beberapa spot pasar dan pusat perbelanjaan. "Cane, foto di sini aja bagus!" Vivi pun berpose, dan Shane mengambil foto sang ibu. Sedangkan Theo dan dua anak lainnya menikmati jajanan di dekat area itu. Setelah puas mengambil foto, Shane berpamitan untuk pergi seorang diri. Dia ingin berkunjung ke beberapa tempat yang menurutnya sangat jarang mereka kunjungi. "Kalo bisa sama-sama, ngapain sendiri? Kamu janjian sama cewek di sini?" tanya Vivi. "Jones,Ma!" "Duh cacian ... salah sendiri nggak mau cari pacar," sindir Vivi. "Males, entar duit Shane habis ma mereka." "Cari yang gimana emang?" "Yang kalem. Jangan yang kayak Mama. Cukup Mama aja yang Shane punya, dan macam ini." "Mama kan emang unik, kamu cari yang kayak Mama ya nggak akan ketemu," ujar Vivi membanggakan diri. "Pa,nemu Mama di mana?" tanya Shane pada Theo. "Di lorong kelas," jawab Theo asal. Pletak! Sebuah pukulan mendarat di kepala Theo. Vivi terlihat kesal dan menarik tangan suaminya untuk membeli jajanan yang ada di sekitar tempat itu. "Mama mau makan lagi?" tanya Shane. "Mama mau jajan,Cane!" "Iya sama aja,itu makanan masuk mulut turun ke perut, Mama!" "Ya gimana? Gimana? Nggak boleh?" "Boleh,Yang. Mau beli apaan?" sahut Theo yang tidak tahan jika Vivi sedang kesal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN