Haidar tak menyangka jika Cellyn benar – benar masih gadis, diapun memperlakukan Cellyn dengan lembut agar tidak terlalu sakit. Setelah melewati malam yang panjang keduanya mengerang agak keras sebab mencapai puncak kenikmatan secara bersama, bahkan kuku Cellyn sampai mencakar lengan Haidar sebab mencengkeram terlalu erat saking nikmatnya. Kemudian dalam sekejab Cellyn sudah tertidur pulas, dengan senyuman hangat Haidar merapikan rambut yang menutupi wajah gadis tersebut lalu mencium keningnya berkali – kali. ‘’Cellyn, aku akan bertanggung jawab. Kita akan menyebar undangan beneran,’’ bisik Haidar lembut. Haidar pun tak lama kemudian juga ikut tertidur pulas. Tubuhnya rilex sekali setelah sekian lama berpuasa. Pagi harinya Cellyn terbangun terlebih dahulu, gadis itu ter

