29. Menunggu Hari Esok

1864 Kata

"Bagaimana keadaanmu dengan Nessi?" Damian duduk di sebelah Felix, keduanya tengah berada di sebuah gazebo. Felix nampak membaca sebuah buku, silimir angin sore emang paling ampuh menenangkan jiwa dan raga. Yang tadinya kalut bisa menjadi redam, takut menjadi tenang, cemas menjadi aman. Tidak ada yang mampu berlindung dari ujian, janji hidup pada dasarnya emang sesulit itu. Tinggal bagaimana cara kita menghadapi dan memecahkannya. Kekuatan masing-masing diri berbeda, sesuai kadar kemampuan. Felix menandai halaman yang dia baca, kemudian menyudahi bacaannya hari ini. "Baik-baik saja. Tumben Tuan bertanya demikian. Ada masalah apa?" Felix menaikkan bahu, tersenyum pada Damian yang tengah mencuri tatap padanya. Felix tahu, Damian pasti sudah mendengar kabar keadaan Senja. Masih tidak baik, s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN