Chapter 7 - Bali I'm Coming

2462 Kata
Hari yang ditunggu-tunggu oleh Gerald akhrinya tiba. Gerald sudah mengajukan cuti, baik ke rumah sakit tempat Ia bekerja ataupun kampus tempat Ia mengajar. Gerald seantusias itu untuk menghabiskan waktu dengan Alexa tanpa harus takut Alexa di dekati dengan laki-laki lainnya. Gerlad membantu supir keluarganya Pak Udin untuk memasukkan barang-barang yang akan mereka bawa. Tante Ira masih sibuk mengemasi berbagai cemilan untuk diperjalanan. Alexa belum lama sampai dengan menggunakan ojek online. Alexa sudah siap untuk travelling, sehingga untuk pakaian perjalanan, Alexa memilih menggunakan hoodie oversize dan celana bahan yang nyaman. Buru-buru Alexa memasukkan bawaannya ke dalam mobil. Gerald membantu menaruh tas ransel Alexa. "Cie.. udah semangat buat jadi nemo di laut nih,"canda Gerald sambil memasukkan tas ransel Alexa. "Bukan nemo kali, tapi duyung. Ariel, princess disney", ucap Alexa asal dengan penuh senyum. Setelah itu Alexa bergegas ke dapur untuk membantu Tante Ira berkemas. Tidak sampai 15 menit semua sudah berkumpul di perkarangan rumah.Tiba-tiba Om Setyono membuka pembicaraan. "Guys, gimana kalau Papah sama kamu aja Gerald yang nyetir?"tanya Om Setyono. "Jadi Pak Udin bisa jaga rumah aja dia, tapi Mbok Iyem tetap ikut, biar lebih rame sama bisa bantu-bantu mamah". "Hm.. boleh tuh pah lebih seru, jadi nanti posisi duduknya, kalau papah yang lagi nyetir, Gerald sama Alexa di bangku kedua. Nah Mbok Iyem tetep di posisi bangku ketiga. Nanti sebaliknya, kalau Gerald yang lagi nyetir, kita yang duduk di bangku kedua pah", ucap Tante Ira seakan mengerti akan kode yang diberikan. Sebetulnya, Om Setyono sengaja ide seperti itu, agar Gerald dan Alexa bisa duduk berdekatan. karena kalau ada Pak Udin, mau tidak mau, yang duduk di bangku ke dua adalah Tante Ira dan Alexa, sedangkan Gerald malah duduk dengan Mbok Iyem. "Yaudah gitu aja yaah semua, nah untuk perjalaan dari sini sampai ke pelabuhan, Gerald dulu ya nak yang nyetir", lanjut Om Setyono. Alexa hanya bisa menyimak percakapan tersebut. Alexa sebenarnya ingin bantu untuk gantian menyetir, yaa memang mobil yang digunakan matic, cuma mobilnya terlalu tinggi bagi Alexa yang memiliki tubuh kecil hanya 150 cm. Mereka pun mulai bergegas masuk, tidak lupa Tante Ira mengingatkan untuk membaca doa dan mulai memberikan air mineral botol ke semua personil yang berada di mobil. "Yuk, bismillah yuk, jalan", tuturnya. Sejak diperjalanan, Alexa bertugas untuk memilih siaran radio. Om Setyono terlihat sibuk memberikan arahan ke Gerald. Tante Ira sibuk untuk mengabadikan momen tersebut dan tidak lupa videocall dengan Sahabatnya, yang tidak bukan adalah Mamah Alexa. "Ana, ini anak elu gue culik dulu ya shay ke Bali. Mamahnya gamau nyusul apa? Itu ajak si Dila sekalian biar ga kerja mulu itu anak cakep", ucap Tante Ira girang. "Yaudah titip-titip ya anak gue, jangan sampe di culik bule di sana ya, secara anak gue belum pernah ngapa-ngapain takut di bawa bule pulang lagi ke kampung halamannya", canda Mamah Alexa. Alexa yang mendengar percakapan dua sahabat itu hanya bisa terkekeh. Gerald yang mengetahui Alexa ternyata sepolos itu, semakin menjadi-jadi ingin menjadikan Alexa miliknya. Teringat kejadian ciuman sebelumnya. "Pantas saja Alexa hanya berdiri mematung ketika Ia cium. Lalu kenapa Ia bisa membalas ciumannya dengan sama hebatnya?" batin Gerald. Alexa memperhatikan Gerald sekilas untuk mengetahui reaksi laki-laki tersebut. "Pasti dia bakal ngejek gue karena tau gue gangerti apa-apa soal percintaan"batin Alexa. Perjalanan begitu menyenangkan. Sekali-sekali mereka mampir ke supermarket yang dilewati. Entah hanya untuk membeli tambahan cemilan ataupun numpang ke toilet. Tidak terasa, mereka sudah sampai ke pelabuhan tempat penyebrangan kapal feri. "Yuk, semua turun dari mobil yu, kita lihat-lihat ke dalam sama lihat pemandangan laut. Alexa, pasti belum pernah kan nak naik kapal gini?" tanya Om Setyono. Alexa dengan cepat mengangguk. Ini adalah pengalaman pertamanya naik kapal untuk menyebrang dari satu pulau ke pulau lain. Penyebrangan dari pelabuhan Banyuwangi ke Bali tidak membutuhkan waktu lama. hanya 45 menit. Mereka pun mulai keliling kapal. Hari itu, tidak terlalu ramai penumpang, sehingga mereka bisa lebih leluasa. Ketika sedang ingin masuk ke ruangan tunggu kapal, tiba-tiba Alexa kehilangan keseimbangan. Gerald yang berada di belakangnya dengans sigap memegang tubuh Alexa, membenarkan posisinya. Terasa sekujur tubuh Alexa tegang. Bukan hanya Alexa yang merasa tegang, Gerald pun merasakan hal yang sama namun Ia berusaha tenang. Pikiran Gerald sudah tidak fokus ingin mengelus tubuh Alexa dan menggenggam tangan kecilnya tersebut. "Hati-hati", ucap Gerald pelan. Alexa hanya mengangguk. Di dalam ruang tunggu kapal, mereka saling bercanda. Mbok Iyem yang memang ramai, menambah keseruan dan keceriaan perjalanan tersebut. **** Perjalanan kapal mereka terhenti di Pelabuhan Gilimanuk. Kali ini Om Setyono yang menyetir. Terlihat Gerald cukup lelah dan mengantuk. Tidak lama setelah Gerald tertidur, Alexa pun sudah tidak bersuara ikut terlelap. Tante Ira yang menoleh ke belakang merasa sangat senang ketika melihat Alexa tertidur bersandar ke Gerald. Gerlad yang tanpa Ia sadari telah merengkuh Alexa ke dalam peluknya. Om Setyono masih terlihat santai sesekali bersenandung. Setelah beberapa menit tertidur Gerald terbangun, tertegun melihat sosok wanita yang Ia suka berada tepat di pelukannya. Alexa. Gerald terus memperhatikan wajah Alexa dengan kehangatan. Bagaimana bisa pertemuan singkat dirinya dengan Alexa bisa membuatnya merasakan perasaan ini lagi yang telah lama mati. Gerald seraya membetulkan rambut yang menutupi pipi Alexa. Tanpa disadari, gerakan kecil Gerald membangunkan tidur pulas Alexa. "Huaaam", Alexa menguap dan kaget melihat Gerald yang sedang memperhatikannya. "Maafin aku, aku ga sengaja tadi tidur tiba-tiba gini. Kamu mau bangunin aku ya? Maaf lengan kamu sakit ya?" ucap Alexa merasa tidak enak. "Gapapa", senyum Gerald. "Eh udah pada bangun, aduh gemes banget ngeliat pada bobo kayak tadi deh. Sampai-sampai tadi tante foto terus kirim ke Mamah kamu Alexa," ucap Tante Ira polos meledek. "Hah? Yah tante, pasti nanti mamah mikir yang enggak-enggak deh.."renggek Alexa. "Loh nggak sayang, kan kamu nanti jadi menantu tante, gapapalah kalau gitu doang mah,"ucapnya sambil tertawa geli. "Udah dong mah jangan di spill gitu ah, nanti kabur loh anaknya,"ujar Om Setyono. "Hah, apa-apaan si. Maksudnya apa coba gamudeng deh. Siapa si yang jadi menantu? Oh, Kak Dila kali ya", batin Alexa polos. Gerald yang mendengar hanya tersenyum santai. Setelah melakukan perjalanan kurang lebih selama 1 jam, mereka pun sampai ke villa yang telah disewa Gerald sebelumnya. "Wah bagus banget Rald villanya. Ada kolom renangnya juga. Aku mau renangg ah.. Ayo Mbok Iyem kita renang." Alexa bersemangat. "Eh nanti dulu, kita duduk dulu istirahat rapih-rapih barang. Masih jam 2 juga loh nak, masih panasss. Mending tidur siang dulu, sorean baru deh kita renang. Tante kan juga mau ikutan", ucap Tante Ira memberikan saran. Alexa setuju mengangguk semangat. Gerald hanya geleng-geleng kepala melihat kelucuan tersebut. Kamar di villa tersebut cukup banyak, ada 5 kamar dengan kamar mandi 3 di masing-masing kamar utama. Ada balkon dan ada swimming poolnya juga. Kamar Alexa dan Gerald samping-sampingan. Dimana ada connecting door yang menghubungkan kamar mereka. Sepertinya Tante Ira memang sengaja menaruh kamar mereka berdekatan dengan lokasi kamar berada di lantai 2. Kamar Tante Ira dan Om Setyono sendiri berada di kamar utama, di lantai 1. Sedangkan Mbok Iyem kamarnya berada di lantai 2 juga namun dengan posisi yang berjarak dengan Alexa maupun Gerald. Setelah merapihkan baju, Alexa mulai mencoba outfit yang Ia bawa agar dapat mencocokan dengan rencana tempat wisata yang akan mereka kunjungi. Ketika Alexa mencoba pakaian pantai yang cukup minim, Gerald tanpa mengetuk pintu langsung masuk ke kamar Alexa, melalui connecting room. Terlihat kaki Alexa yang mulus dan ramping hanya di balut dengan rok mini. Untuk baju sendiri Alexa hanya menggunakan Sport Bra bikini yang memperlihatkan bagian-bagian di tubuhnya. Sangat sempurna. Alexa melihat Gerald memperhatikannya tanpa berkedip. Alexa bergegas mengambil handuk yang berada di kamar mandi. "Ih, Gerald, kalau mau masuk kamar orang itu ketuk pintu dulu jangan langsung main tancep gas masuk aja!" ucap Alexa dengan nada kesal. Bagaimana tidak, lagi-lagi orang itu yang mengetahui semua tentang dirinya. Yang mengambil ciuman pertamanya dan sekarang yang melihat tubuhnya. Gerald sudah tidak bisa menahan apa yang Ia rasakan. Gerald pun berjalan menghampiri pintu kamar Alexa, lalu menguncinya. Dari saat Gerald masuk ke kamarnya, Ia memang sudah mengunci pintu tersebut. Awalnya Gerald hanya ingin mengetes connecting room tersebut apakah terkunci atau tidak, namun nyatanya tidak terkunci. Dan Ia melihat pemandangan indah tersebut. Dengan langkah cepat Gerald menghampiri Alexa dan mulai menciumnya. Alexa yang kaget berusaha mendorong Gerald dengan kuat. Alexa tidak ingin mengulangi kebodohan yang sebelumnya. Namun semakin merasakan penolakan yang dilakukan Alexa membuat Gerald semakin bersemangat. Gerald semakin memaksakan ciumannya, melumat bibir pink Alexa. Tanpa disadari, Alexa mulai merespon ciuman tersebut. Ciuman paksaan berubah menjadi ciuman terbalaskan. Penuh hasrat dan gairah. Gerald mulai mencium leher Alexa, lalu beralih ke pundak dan kembali ke bibir. Alexa belum pernah merasakn ini sebelumnya. Alexa mendesah, membuat Gerald semakin bersemangat. Sampai akhirnya terdengar suara ketukan pintu di kamar Alexa. Tok..Tok..Tok.. "Neng Alexa.. Yuk neng kita makan dulu. Tadi Ibu udah manggil." ucap Mbok Iyem. Gerald melepaskan ciumannya dan mulai tersadar. Alexa bersusah payah mengembalikan oksigen di tubuhnya. "i..iya Mbok, sebentar nanti Alexa turun," ucap Alexa sedikit terbata. Alexa yang kali ini tidak ingin diperlakukan seperti gelas yang habis di pakai, mulai melangkahkan kakinya, mengambil baju rumah yang akan Ia kenakan kembali dan berjalan ke kamar mandi. Alexa berusaha tenang saat mengganti pakaiannya. Jantungnya masih berdetak dengan kencangnya. "Pasti Gerald sudah kembali ke kamarnya", batin Alexa. Krek.. Di luar dugaanya, Gerald masih menunggunya. Ia duduk di pinggir tempat tidur Alexa. Wajahnya seperti sedang memikirkan kata-kata. Apa yang akan Ia ucapkan, pikir Alexa. Pasti Ia akan berusaha menyangkal atau memberikan alasan yang nantinya hanya membuat Alexa kesal atau sakit hati. "Xa..soal tadi... makasih, udah ngerespon", ucap Gerald malu-malu seraya beranjak menuju kamarnya. Alexa tertegun. "Hah? dia bilang makasih? Aneh banget". Setelah sampai di ruang makan terlihat semua orang telah berkumpul, kecuali Gerald. "Sini sayangnya tante duduk samping tante. Gerald tadi dipanggilin susah banget deh buat turun. Lagi tidur mungkin dia", ucap Tante Ira. "Eh sayang, itu di leher kamu kenapa merah?" tanyanya. Alexa beranjak dari kursinya menuju kaca yang menempel dekat dengan lemari. s**t. Tanda merah di lehernya ternyata adalah bekas ciuman yang diberikan Gerald tadi. Seketika muka Alexa memerah, berusaha tenang. "Oh, ini nyamuk tante, Alexa nanti kasih minyak telon deh tante", Alexa beralasan. Setelah selesai makan bersama, Alexa kembali ke kamarnya. Berusaha mencuri kunci connecting room tersebut. "duh, kuncinya pasti berada sisi kamar Gerald", batin Alexa. Tidak ingin memulai perangnya sendiri, Alexa buru-buru mengambil baju renangnya dan menuju ke kamar ganti yang berada di area kolom renang. Tante Ira terlihat sudah siap sambil duduk meminum jus jeruk yang telah Mbok Iyem persiapkan. Mbok Iyem juga sudah terlihat menggunakan celana panjang olahraga dan kaos lengan panjang miliknya. Sudah siap untuk ikut berenang. Tidak lama, Om Setyono beranjak dari kursinya dan berpamitan untuk ke kamar, karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Buur... Alexa dengan semangat masuk ke kolom renang. Setelah itu disusul oleh Tante Ira dan Mbok Iyem. Sekitar kurang lebih 10 menit setelah mereka berenang, sosok Gerald muncul dengan bertelanjang d**a hanya menggunakan celana boxernya.Tanpa aba-aba Gerald berlari dan terjun ke dalam kolom renang dengan penuh tawa. Semua orang kesal dan mulai mencipratkan air ke arah Gerald. *** "Keluar yu, cari cemilan", ucap Gerald sambil melangkah masuk melalui connecting door. Alexa yang sedang telfonan dengan Aldiansyah merasa malas. "Kamu aja aku malas, aku mau di kamar aja. "Lagi ngobrol sama siapa?" ketus Gerald. "Sama temen", balas Alexa seadanya. "Temen siapa? Emang ga punya nama itu temennya?" tanya Gerald kembali dengan nada posessif. "Aldiansyah", ucap Alexa singkat. Panas mendengar nama laki-laki lain disebut oleh Alexa. Gerald buru-buru menarik handphone Alexa dan mengklik tombol mematikan telfon. "Hah? Apa-apaan si kamu? Seenaknya banget jadi orang!" maki Alexa. Tidak perduli dengan kemaran Alexa, Gerald malah sudah menarik lengan Alexa. "Jangan pernah ngobrol sama laki-laki manapun tanpa persetujuan dari aku." ketus Gerald dengan nada mengancam. "Loh, emangnya kamu siapa ngatur-ngatur aku boleh ngomong sama siapa? Mamah aja gak pernah repot kok!" teriak Alexa semakin kesal. Gerald yang geram dengan bantahan Alexa, semakin terpancing untuk memberi Alexa pelajaran. Ia seharusnya sudah sadar dengan kejadian sebelumnya, bahwa Ia milik Gerald. Tapi sepertinya Alexa tidak mengerti arti ciuman sebelumnya itu. Dengan cepat Gerald sudah berada di atas Alexa. Menciumnya dengan paksa. Alexa tentunya melakukan perlawanan. Namun Gerald bersikeras memaksakan agar dapat melumat bibir Alexa. Setelah Alexa mulai tenang tanpa perlawanan, Gerald melepaskan ciumannya. Wajah mereka betul-betul dekat. Gerald menatap Alexa dengan tatapan yang mulai lembut. "Kamu itu punya aku Xa, kamu gaboleh sama laki-laki lain selain aku. Kita udah di jodohin, kamu bakal nikahnya sama aku", ucap Gerald. Seperti ada sambaran petir di hati Alexa. Apakah betul Ia telah dijodohkan dengan Gerald? Alexa belum mau menikah. Apalagi jika menikah dengan orang yang tidak mencintainya, ataupun orang yang Ia cintai. "Aku belum mau menikah, aku masih mau kuliah. Kamu jangan ngada-ngada ya", Alexa berusaha memastikan omongan Gerald sebelumnya. "Ya kita nikahnya nanti lah, empat tahun lagi, habis kamu lulus kuliah. Aku siap kok nunggu empat tahun lagi. Kamu kira aku juga mau nikah sama kamu, aku mah nikah sama siapa aja, banyak cewek yang cantik-cantik, kenapa harus sama cewek manja kayak kamu." Gerald geram dengan penolakan Alexa, sehingga Ia memilih mengatakan kata-kata penolakannya juga. "Ya terus kalau masih banyak cewek-cewek lain yang cantik, ngapain kamu barusan cium-cium aku kayak orang gila?" tanya Alexa. "Iseng," tutur Gerald cuek. What?! Iseng? Dia pikir bibir gue cuma pajangan yang kalau dia iseng bisa main cium, batin Alexa. Kesal dengan respon Gerald Alexa menendang kaki Gerald. "Duh, sakit", ucapnya. "Bodoamat, sana minggir bangun", kesal Alexa. "Iya bangun, tapi temenin gue cari makanan di luar, kalau ga ya udah biarin aja gue tidur disini. Gue yakin, mamah gak akan apa-apa", pancing Gerald agar Alexa mau pergi dengannya. "ihh.. yaudah deh, minggir aku ambil jaket dulu",kesal Alexa. Beranjak mengambil hoodienya dan mengikut langkah Gerald keluar. *** Malam hari di Kota Bali masih sangat ramai. Banyak bar-bar yang masih buka hingga menjelang pagi. Terlihat banyak warga asing saling bercengkrama dengan warga lokal. "Kita mau cari makan dimana si Rald?" tanya Alexa. "Kita mau beli burger terus makan di pinggir pantai", ucapnya santai. "Emang gak masuk angin apa Rald?". "Enggak, ada bahu gue yang bisa jadi benteng lo buat ngehalau angin, hehehe" timpal Gerald sambil bercanda. Mereka pun memesan 2 cheese burger big dengan extra cheese. Tidak jauh dari tempat burger tersebut, terhampar pasir yang luar dengan deburan ombak. Gerald berjalan sambil menuntun Alexa agar mengikutinya. Gerald sengaja menuntun Alexa karena Ia sadar betul, mata laki-laki yang Ia lewati pada memandangnya sosok wanita di sampingnya tersebut. Setelah sampai, Alexa yang mulai duduk duluan. Diikuti Gerald. Malam itu, cuaca sangat cerah, sehingga langit yang gelap tampak indah dengan taburan bintang-bintang. "Wah keren banget ya Rald, pasti bakal romantis banget kalau bisa kayak gini sama orang yang kita sayang", ucap Alexa. "Iya, indah banget", ucap Gerald sambil menatap sosok yang indah menurutnya. Alexa sadar bahwa Gerald memperhatikannya, segera Alexa membuka cheese berger yang sudah mereka beli dan memakannya. Malam itu, percakapan keduanya terasa hangat. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Mereka pun bergegas untuk pulang ke villa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN