22

1531 Kata
Keeokan harinya sepulang kantor, Billie dan Hanna kembali bertemu. Restoran itu mendadak seperti terdengar senyap. Hanna hanya focus kepada Billie. Dia tahu Billie becanda. Namun kali ini, becandanya sudah kelewatan. Mengapa dia harus memberikan kalung kepada Hanna, benar- benar tidak mungkin. Hanna tertawa mengejek, didepan Billie. Suasana restoran kembali ramai. Hanna sudah bisa menguasai emosinya. “ha.. ha.. ha.. Billie, kamu pikir aku anak remaja yang akan percaya pada kebohongan seperti ini? Jangan mimpi Arth… Aku wanita dewasa yang sudah banyak mengalami lika liku percintaan dan persahabatan dengan teman lelaki. Jadi sudah simpan kelakarmu untuk wanita bodoh lainnya.” Hanna menyerocos tanpa memberi Arthr kesempatan. Billie tersenyum mendengar protes Hanna. Obrolan mereka terpotong oleh pelayan yang datang embawa pesanan mereka. Setelah meletakkan makanan di tempat masing- masing mereka dan menuang wine ke gelas Hanna dan Billie, pelayan tersebut pergi meninggalkan meja itu. “Hanna… aku serius… aku membelikanmu kalung itu.” Jawab Billie dengan muka serius “Aku ke toilet dulu” jawab Hanna tak acuh. Hanna berjalan kearah toilet dengan wajah dingin. Dia sangat emosi dengan becandaan Billie yang menurutnya tidak lucu. “Sialan!!! Maksud dia apa sih? Kenapa dia mau memberikan kalung yang mahal begitu untukku? Dia kira aku bisa dibeli dengan perhiasan mahalnya? Billie sialan!!!!” Hanna marah-marah didepan kaca. Untungnya toilet itu sedang tidak ada orang. Jadi tidak ada yang bisa mendengar Hanna memaki-maki Billie. Setelah puas memaki- maki, akhirnya dengan memasang wajah polos lagi Hanna keluar dari toilet dan berjalan menuju mejanya bersama Billie. “Maaf aku lama, toiletnya antri” Kata Hanna “Its okay Hanna” Jawab Billie sambil tersenyum “Aku belum menyentuh makanannku, aku menunggumu agar kita bisa makan bersama” Billie melanjutkan lagi “kenapa kau tidak makan saja. Kau pasti lapar sudah siang belum makan, tadi kita terlalu lama di took perhiasan>” Ucap Hanna “Heii… by the way karena kamu membahas tentang toko perhiasan, aku baru ingat.. Hanna jujur lah kepadaku, apakah kamu seorang detektif? Kamu pintar sekali dan cepat tanggap. Aku yakin kamu bukan orang biasa.” Tanya Billie Tawa Hanna pecah, dia terbahak- bahak sejadi- jadinya. Harus diakui oleh Hanna, Billie memang orang yang sangat pintar. Dia bisa membaca situasi dengan cermat. Billie heran melihat Hanna tertawa. Dia merasa tidak ada yang lucu. Kenapa Hanna bisa tertawa selepas itu. Setelah bisa menguasai dirinya, dan berhenti tertawa, Hanna mengambil winenya dan meminum semua isinya. “Billie, kamu enar-benar lucu. Bagaimana wanita sepetiku bisa menjadi detektif” ucap Hanna berbohong. “Aku hanyalah wanita dengan pendidikan sebagai sekretaris. Tidak mungkin aku bisa punya jalan menjadi detektif” Hanna berbohong. Sebenarnya Hanna meraasa bersalah dengan kebohongannya. Dia tidak mau membohongi Billie. Tapi dia belum bisa jujur kepada Billie. Maakan aku Arth, nanti ada saatnya aku akan berkata jujur kepadamu Arth… Batin Hanna “Ohh begitu, baiklah, aku kira kamu adalah detektif, ta[I mengambil pekerjaan sampingan sebagai sekretaris. Ayo kita lanjut makan” jawab Billie cuek Mereka melanjukan makan sambil membahas obrolan-obrolan ringan mengenai makanan yang ada dihadapan mereka. Makanannya sangat lezat, Billie mencicipi Lobster yang dipesan Hanna. Dan Hanna pun mencicipi makanan pesanan Billie. “Apakah kamu bisa masak Hanna?” Tanya Billie “Yeah.. aku bisa masak sedikit, tidak banyak menu yang aku bisa, tapi semua menu yang bisa aku masak bisa membuat aku hidup sampai setua ini” Jawab Hanna bergurau “Suatu saat kamu harus mencoba memasakkan sesuatu untukku.” Billie berkata “Pasti. Aku akan memasakkanmu sesuatu nanti. Janji Hanna Bagaimana dengan kamu Arth? Kamu bisa masak kah?” lanjut Hanna lagi “Of Course.. aku koki terbaik di London…” Jawab Billie berkelakar “Really?” Tanya Hanna takjub “Yes… ketika memutuskan tinggal sendiri, aku ikut kelas memasak pada chef Kerajaan Inggris. Dia adalah chef terbaik di London yang selalu memasak hanya untuk Ratu Elizabeth dan Prince Phillips. Kamu tau? Susah sekali mendapatkan waktu untuk mengikuti kelas memasaknya. Tapi dia akhirnya memberikan Private lesson kepadaku.” Terang Billie “Ohh Lucky you Arth…” Ucap Hanna “Aku akan memasakkanmu sesuatu nanti. Kamu akan kuundang ke apartemenku dan aku akan memasakkan masakan paling istimewa untukmu. “ Billie berkata “Ah Billie, terimakasih, tapi tidak usah repot- repot. Kamu sudah sangat sibuk, jangan buang- buang waktumu untuk memasak makanan untukku” Jawab Hanna “No Hanna, aku senang bisa memberikanmu sesuatu yang istimewa…” Jawab Billie lagi. “Aku merasa tersanjung” Hanna tersipu “Aku tidak pernah mengundang orang kerumah ku. Tapi aku akan mengundangmu nanti suatu saat” tutur Billie. Hanna tersanjung mendengar ucapan manis Billie. Hal- hal yang seperti ini lah yang kerap membuat Hanna merasa diperlakukan istimewa oleh Billie. sikapnya yang manis, omongannya yang hangat, kerap membuat Hanna tersipu. “Aku tunggu undanganmu Arth” Jawab Hanna singkat Pelayan datang lagi dengan membawa pesanan dessert mereka. Billie memesan panacotta, dan Hanna memsan banana split, setelah meletakkan kedua menu tersebut, pelayan itu memberika sebotol wine kiriman dari salah tamu lain untuk Hanna. “Maaf nona, tuan dimeja itu mengirimkan ini untukmu” Jawab pelayan tersebut sambil menunjuk meja yang dimaksud. “Oh really? Send my Thanks to him” jawab Hanna sopan. Setelah pelayan itu menuangkan wine tersebut kedalam gelas Hanna, Hanna mengangkat gels tersebut kea rah meja orng yang memberikan sebagai tanda terimakasihnya. Billie dongkol meihat lak- laki tersebut, dia menatap tajam kearah laki- laki itu. Merasa dipelototi oleh Billie, lelaki tersebut membuang muka dan menatap kea rah lain. Billie yang geram karena merasa tidak di hargai oleh orang itu, segera mengambil kotak kalung yang tadi dibelinya. “Hanna sudah kamu tidak boleh menolak lagi pemberianku” Billie berkata tegas “Kamu lihatkan, orang itu tidak menghargaiku dengan memberikan wine itu kepadamu. Apakah aku datangi saja dia? Lebih baik aku pukul saja dia sekalian.” Billie berkata sambil berdiri hendak menghampiri lelaki tersebut. “Hei… Arth… Calm down… Calm down… aku yakin dia tidak bermaksud apa2.. dia hanya menghargaiku saja” Hanna memegang tangan Billie untuk mencegahnya berjalan kearah lelaki itu “Tidak Hanna, aku akan menghajarnya. Apakah dia tidak tahu etika, kenapa dia harus memberikan wine kepada wanita yang sedang bersama pria lain” Billie masih berapi- api “No.. No.. No Billie, hei.. sudahlah, biarkanlah dia.. tidak enak dilihat orang disini. Sudahlah jangan membuat gaduh” Hanna kembali menenangkan Athur. Tapi Billie tidak bisa ditenangkan, dia tetap berjalan ke meja itu, “Billie Stop,, aku akan menerima kalung darimu okay? Stop Please…” Hanna memohon Jika Billie membuat keributan disitu, maka mereka pasti akan berakhir dikantor polisi. Jika mereka ke kantor polisi, maka identitas Hanna akan terbongkar. Makanya lebih baik Hanna menerima saja kalung itu. Billie berhenti mendengar ucapan Hanna, dengan reflek, Billie memeluk Hanna karena perasaan gembiranya. Hanna yang terkejut tapi masih bisa berfikir, membiarkan Billie memeluknya untuk menenangkan Billie agar dia melupakan masalah dengan pria tadi. “Benarkah? Kamu benar- benar akan menerima kalung itu?” Tanya Billie tidak percaya. “Iya Arth… lagi pula kalung itu sangat mahal. Rugi kalau kamu buang ke sungai” Jawab Hanna bergurau “Kenapa kamu sebahagia ini?” Tanya Hanna lagi? “Tidak apa- apa.. aku tadi hanya kecewa. Aku sudah mengatur hari ini untukmu, aku bahkan menyewa sekretaris pengganti untuk ibuku, aku benar-benar mempersiapkan hari ini untukmu, tapi kamu tidak mau menerima pemberianku. Apakah kamu bisa merasakan kekecewaanku?” Billie menjawab pertanyaan Hanna dengan lugas “Ohhh aku mengerti sekarang.. baiklah Billie.. aku paham” ucap Hanna Billie membuka kedua kotak perhiasan itu, dan memperlihatkan kepada Hanna kedua kalung tersebut. “Yang mana yang akan kau pilih Hanna?” Tanya Billie “Hmmm… aku bingung. Aku menyukai keduanya… aku tidak bisa memilihnya Arth” Jawab Hanna “Kamu harus memilih the prettiest necklace you’ve ever seen…” Billie berkata lagi “Bagaimana kalau kamu saja yang memilihkannya untukku Arth?” Hanna bertanya “Seriously?” Mata Billie membesar karena kegirangan “Yes aku yakin pilihanmu pasti bagus dan terbaik diantara kedua kalung itu.” Ucap Hanna lagi “Hmmm baiklah kalau kamu mempercayakannya padaku” Jawab Billie Billie melihat dengan seksama keatas kalung itu, dia melihat dengan cukup lama dan detail. Kemudian dia memilih satu.. Hanna menutup matanya agar dia tidak bisa melihat kalung yang mana yang akan dipilih Billie. dengan Haiti- hati Billie melepaskan kalung itu dari ikatan bahan beludru dasar boxnya. Kemudian dia bberjalan perlahan menghampiri Hanna. Hanna yang mendengar Billie ytelah mengeluarkan kalungnya membuka matanya. “Hei… penilaian belum usai… tetap pejamkan matamu Hanna” Sela Billie “Ohh baiklah… aku kira kamu sudah memilihnya Arth…” Jawab Hanna Sesampainya di hedapan Hanna, Billie berjalan ke belakang Hanna dan membuka pengait kalung tersebut. Kemudia Billie memasangkan kalung tersebut di leher Hanna. Kalung itu terlihat sangat cocok berada dileher Hanna. Seolah-olah memang kalung itu itu diciptakan untuk leher Hanna. Hanna terkejut ketika Billie memakaikan kalung tersebut ke lehernya. Sentuhan jemari Billie yang tidak sengaja di kulit Hanna menimbulkan desir- desir di jantungnya. Hanna membuka matanya “Ahhh… aku memang sudah jatuh cinta pada kalung ini sejak pertama kali aku melihatnya.” Hanna berkata sambil memegang kalung klasik pilihan terakhirnya di toko perhiasan tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN