Aku dan Jennifer berbincang cukup lama menghabiskan waktu. Kqmi memang sudah lama tidak bertemu sehingga perbincangan panjang itu terasa singkat.
Keesokqn harinya aku berangkat bekerja pagi-pagi sekali. Untungnya lokasi Triton berada tidak jauh dari apartemenku. Hanya dalam lima belas menit, aku sudah tiba di sana. Suasana di dalam gedung tampak ramai. Para karyawan terlihat sibuk mengerjakan tugas masing-masing. Sama sekali tidak terlihat seorang pun yang berleha-leha. Pantas jika Triton menjadi salah satu perusahaan terbesar di Amerika Serikat.
"Ruang Rapat Direksi," gumamku, membaca pesan Emily May.
Aku menghampiri perempuan yang duduk di salah satu meja di dekatku. "Permisi, di manakah Ruang Rapat Direksi?"
Perempuan itu mendongak. Ia menatapku selama beberapa saat. Pandangannya menyelisikku dari atas ke bawah. Perempuan itu berwajah oval. Ia memiliki mata oriental, hidung mancung, dan bibir yang tipis. Rambutnya yang berombak digelung ke atas. Meskipun dibalut blazer dan kemeja, bra-nya tercetak jelas.
"Anda bisa sampaikan keperluan Anda pada Sekretaris Direksi di sana." Ia menunjuk perempuan di ujung ruangan.
"Terima kasih," ucapku, kemudian berlalu.
Rupanya kehadiranku cukup menyita perhatian karyawan di sana. Mereka melirik dan berbisik-bisik ketika aku melewati mereka. Tak lama kemudian, aku pun sampai di depan Sekretaris Direksi.
"Permisi. Saya Dwyane Rich," ujarku memperkenalkan identitas baruku.
"Tunggu sebentar." Perempuan itu tersenyum ramah, lalu melihat buku selama beberapa saat.
Diam-diam aku memperhatikan belahan dadanya yang sedikit tersingkap dari balik kemeja. Perempuan tersebut tidak hanya seksi. Wajahnya pun sangat cantik. Mata lebar dengan bulu mata lentik; hidung pipih dan sedikit mancung; bibir merah merekah yang melekuk sempurna. Aku yakin semua laki-laki pasti terpana melihatnya.
"Jadi Anda Manajer Baru di sini. Sajangnim sudah menunggu Anda di dalam ruangan. Mari saya antar."
Aku berjalan mengikutinya sampai tiba di depan sebuah ruangan besar. Setelah meminta izin, aku dipersilakan masuk ke dalam. Di dalam ruangan, tampak tiga orang sedang duduk di sana. Dua di antara adalah laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun, satu orang lainnya seorang perempuan berusia tiga puluhan tahun. Mereka semua menatapku tajam dan menyelisik.
"Inikah orang yang kamu rekomendasikan, Calum Anderson?" Laki-laki gemuk yang duduk di tengah bertanya pada laki-laki kurus di kanannya.
"Benar, Sir."
"Aku ragu melihat penampilannya. Ingat dia akan berada di divisiku Calum," timpal perempuan itu.
Calum Anderson tersenyum sinis. "Jadi kamu meragukanku?"
"Hah! Semua orang tahu kalau kamu tidak becus bekerja!"
Kata-kata itu membuat wajah Calum merah padam. Serta-merta ia berdiri dan mengentak meja.
"Deby, kamu keterla—"
"Jaga sikapmu, Calum," sergah laki-laki di tengah dengan suara dingin.
"Ma-maaf, Sir."
Laki-laki yang menjabat sebagai Direktur Utama itu pun mengangguk, lalu mengalihkan pandangannya padaku.
"Kita akan mengujinya," ucap pemimpin itu.
Menguji? Aku sama sekali tidak tahu bidang Triton! Berbagai dugaan dan pertanyaan pun menyeruak. Emily May tidak pernah menjelaskan masalah ujian ini. Lalu siapakah Calum Anderson? Mengapa ia yang merekomendasikanku? Seketika itu dadaku berdegup kencang. Semuanya berantakan! Jika mereka mengetahui identitasku yang palsu, sudah pasti mereka akan memanggil polisi untuk menangkapku.
Tiga pasang mata menatapku tajam, seolah-olah aku seorang terpidana yang bersiap menerima hukuman. Tangan dan kakiku dingin; keringat berkucuran membasahi seluruh tubuh. Berkali-kali aku mengubah posisi duduk dengan gelisah.
Tiba-tiba Deby angkat bicara, "Aku setuju, Sajangnim. Tapi menurutku dia harus kita uji selama dua minggu. Kalau hasilnya buruk, jangan harap bisa bertahan di Triton. Bagaimana, Sir?"
"Cih! Berani-beraninya kamu tidak menghormati Sir Harold!"
"Cukup, Calum." Harold Morgan menengahi. "Aku setuju dengan Deby."
"Sir, tapi itu tidak adil bagi—"
"Cukup! Akulah yang memutuskan!" Harold menatap tajam hingga membuat Calum menunduk.
Pandangan Harold kembali beralih padaku. "Dua minggu. Itulah waktu ujianmu, Dwayne."
"Baik, Sir," jawabku gugup sekaligus lega.
"Dwayne, meskipun kamu berasal dari perusahaan pesaing, jangan pernah menganggap remeh Triton. Perusahaan ini selalu berada di posisi puncak di seluruh Korea Selatan selama sepuluh tahun terakhir. Tentu ada alasannya kenapa Triton seperti itu. Dan jangan pernah meremehkan divisi yang kupimpin." Deby berdiri lantas membungkuk pada Harold. "Saya harus bertemu klien, Sajangnim."
Harold mengangguk, memberi izin. Sebelum pergi, Deby melirikku. Aku dapat melihatnya tersenyum sinis sebelum berlalu ke luar ruangan. Namun, suara Harold kembali terdengar.
"Aku akhiri rapat sampai di sini. Tidak ada 'ucapan selamat datang', sebelum kamu lulus dari ujian, Dwayne."
"Baik."
Setelah itu, kedua petinggi Triton tersebut pergi meninggalkanku yang mematung di tempat. Berbagai kegelisahan yang tadi sempat surut, kini kembali menyeruak. Seumur-umur aku belum pernah bekerja seperti posisi yang kududuki sekarang. Apalagi ketiga Direksi mengawasi pekerjaanku. Sedikit saja melakukan kesalahan, sudah dapat dibayangkan risiko yang akan kuhadapi. Namun, berdiam di sini sama sekali tak menyelesaikan persoalan. Aku bangkit dan berjalan ke luar dari ruangan.
Setibanya di luar, Sekretaris Direksi sudah menyambutku. "Manajer Dwayne, saya diminta mengantar Anda ke ruangan."
Aku mengangguk, kemudian mengikutinya dari belakang. Ruanganku berada tidak jauh dari Ruang Rapat Direksi. Beberapa menit kemudian aku sudah berada di dalam ruangan.
Ruangan itu tampak megah, berbagai ornamen eropa klasik menghiasi ruangan yang didominasi warna hitam dan krem. Di dekat meja kerjaku terdapat meja dan sofa untuk menerima tamu.
"Silakan, Manajer. Kalau begitu saya izin kembali ke meja saya."
Belum sempat ia berbalik, aku buru-buru menahannya dan membuatnya tersentak.
"Maaf, bukan maksudku mengejutkanmu. Selama bekerja di sini mungkin nantinya kita akan bekerjasama. Sepertinya aneh kalau aku belum mengetahui namamu."
Senyumnya teruntai. "Gwen dengan marga Ashton."
"Ah, Gwen Ashton."
Gwen mengangguk. "Kalau begitu saya mohon diri, Manajer." Ia pun berlalu ke luar ruangan.
Aku duduk di meja kerja. Aku mengambil tumpukan kertas di atas meja. Satu demi satu kutelisiki isi kertas-kertas tersebut. Namun, tak satu pun yang dapat kupahami. Seorang Manajer yang dibajak, tetapi sama sekali tak layak untuk dibajak. Kalau seperti ini hanya menunggu waktu sampai penyamaranku terbongkar. Itu artinya nyawaku akan melayang hanya dalam dua minggu ke depan.
Tidak. Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi. Aku segera mengambil telepon dan meminta semua anak buahku berkumpul di dalam ruangan. Beberapa menit kemudian, enam orang karyawan sudah tiba di dalam ruangan. Mereka terdiri dari 2 orang laki-laki dan 4 orang perempuan.
"Perkenalkan aku Dwayne. Atasan kalian yang baru di sini. Meskipun aku merupakan atasan kalian, jangan terlalu khawatir denganku. Bahkan anggaplah aku teman kalian jika berada di luar kantor," ucapku memperkenalkan diri.
Berbicara memang keahlianku dari dulu. Hanya saja jika menghadapi situasi seperti di dalam Ruang Rapat Direksi, tentu saja aku menjadi gugup. Namun, siapa pun akan merasakan hal yang sama kalau menghadapi suasana seperti tadi, 'kan?!
Satu demi satu mereka memperkenalkan diri. Namun, di antara mereka ada satu orang yang menunjukkan ketidaksukaannya padaku. Dia adalah Megan, perempuan yang memberitahuku meja Sekretaris Direksi. Sepanjang pertemuan itu, ia sama sekali tidak tersenyum dan berbicara seperlunya. Sebagai atasan, aku tak bisa membiarkan suasana dalam divisiku menjadi tidak nyaman. Ketika pertemuan itu selesai, aku menahannya.
"Meg, tunggu. Ada yang ingin kubicarakan."
Megan melirikku seraya tersenyum sinis. "Ketahuilah, Dwayne. Kalau tidak ada kamu di sini, akulah yang seharusnya menjadi Manajer. Jadi, kupastikan kamu tidak akan bertahan lama di Triton."
Bersambung