19

1038 Kata
Ketika tiba, Billie melihat Sara terjatuh, dan menolongnya. Ia merasa lega tidak terjadi sesuatu padanya. Kemudian mereka pun kembali berlalu. Setibanya di tempat sepi mereka beristirahat. "Bisa ceritakan apa yang terjadi?" tanya Sara. Billie menerawang, dan mulai menuturkan kisahnya.... *** Saat itu aku berada di suatu tempat bersama seorang perempuan. Dialah Emily May. Aku membaca dokumen-dokumen yang diberikan Emily May. Dokumen itu menjelaskan kalau aku akan mendapatkan identitas baru sebagai Manager Keuangan yang dibajak dari perusahaan pesaing. Tugas pertama yang harus dijalankan adalah berusaha mendapatkan kepercayaan Direktur Utama agar dipromosikan menjadi Direktur Keuangan. Dengan begitu, akses keuangan perusahaan terbuka dan dapat dicuri. Sudah jelas kalau pekerjaan itu sangat berat, tetapi imbalannya pun luar biasa. Uang jutaan dollar menanti jika berhasil menuntaskan tugas tersebut. Sebaliknya, kalau gagal akan mendapat sanksi keras. Namun, tidak diterangkan secara detail sanksi yang akan dijatuhkan. Aku mengembalikan kertas-kertas itu ke dalam map, kemudian menatap Emily May. "Apa sanksi yang akan diberikan kalau gagal?" Sudut bibir Emily May terpantik, lalu menempelkan telunjuknya di pelipisku. "Bang!" Jantungku seakan melorot. Bayangan akibat kegagalan pun menyeruak. Siapa yang ingin mati? Siapa orang di dunia ini yang tak sayang nyawa? Tidak seorang pun! Nilai jutaan dollar tak sebanding dengan nyawa yang dipertaruhkan. Sekalipun seluruh uang di dunia dikumpulkan, tidak akan bisa membeli satu nyawa. Aku beranjak dan berjalan ke pintu, tetapi tiba-tiba terdengar suara besi terpantik. "Kamu sudah terlalu banyak tahu." Emily May menodongkan pistol ke arahku. "Hei! Aku belum menandatangani apa pun!" Emily May menyeringai. "Tanda tangan itu hanya formalitas. Sejak kamu membaca dokumen, hidupmu sudah terikat perjanjian." "Tapi ka—" Emily May mengokang pistolnya. "Aku beri waktu lima detik. Satu ... dua ... tiga ...." Seluruh tubuhku bergetar hebat. Pikiranku kalut dan tak bisa berpikir jernih. Hanya dalam hitungan detik nyawaku bisa melayang. "Empat ...." "Baik! Baik! Akan kutandatangani! seruku, panik. "Pilihan cerdas." Ia mengambil berkas lain dari dalam tas lalu melemparkannya ke atas meja. "Lakukan." Malam itu akhirnya aku menandatangani Kontrak Hidup-Mati, tanpa mengetahui siapa Emily May sebenarnya; apa tujuannya; dan bagaimana ia bisa mengatur posisiku di dalam Triton. Satu hal yang pasti, Emily May merupakan orang dalam yang memiliki posisi penting. *** Keesokan harinya Emily May memberi fasilitas apartemen dan mobil mewah. Semua itu diberikan agar aku dipandang layak sebagai orang yang berkompeten untuk ditarik ke dalam Triton dan tidak menimbulkan kecurigaan orang lain. Sekarang aku dan Mike sedang memindahkan barang-barang ke apartemen baru. Aku tidak menceritakan kejadian kemarin pada Mike lantaran terdapat poin di dalam kontrak yang melarangnya. "Apa kamu tidak curiga kenapa dia memberikan semua fasilitas ini?" Mike meletakkan kardus di lantai. "Kurasa karena aku berhasil melalui tes yang diberikan kemarin," jawabku, gugup. Mike mengangkat sebelah alis. "Tes?" "Iya. Banyak sekali tes yang harus aku kerjakan kemarin." Mike tertegun seraya menatapku. "Yah, dari dulu kamu memang pintar. Tapi tetap saja aneh. Bidang yang kamu kuasai tidak sesuai dengan Triton." "Hanya tes umum, Sean." Mike menghela napas. "Ah, sudahlah. Yang jelas aku senang kamu mendapatkan pekerjaan itu." Mike memang sahabat terbaik. Meskipun pekerjaan itu ditawarkan padanya terlebih dahulu, ia tidak menyesal. Kami memang sudah bersahabat sejak lama. Aku, Mike dan Jennifer Young selalu bersama-sama. Namun, akhirnya kami harus berpisah dengan Jennifer Young yang melanjutkan kuliah di Perancis. Sejak itu kami tidak pernah mendengar kabar Jennifer Young. Kami tidak tahu yang terjadi, tetapi aku dan Mikeselalu berharap suatu saat akan bertemu dengannya lagi. Mikemerentangkan kedua tangannya ke samping, kemudian mengedarkan pandangan. "Kurasa sudah semua." "Yap. Biarkan aku yang merapikannya sendiri, Sean." Mikemelihat jam tangannya. "Siang ini aku janjian makan siang dengan Erika." Aku tersenyum. "Kalau begitu jangan biarkan pacarmu menunggu, Kawan." Mike tertawa kecil. "Tentu tidak. Aku laki-laki setia dan bukan playboy seperti kamu." "Ah, kamu ..., sudah sana!" Aku mendorongnya ke pintu keluar. Setibanya di pintu, Mike tersenyum lebar. "Oke, kabari aku kalau kamu perlu bantuan." Tanpa menunggu jawaban, ia berlalu meninggalkanku. Aku tersenyum melihatnya dari jauh. Ketika hendak masuk ke dalam unit, tiba-tiba ponselku berbunyi. "Emily May...," gumamku membaca nama pengirim pesan. Aku pun segera membuka pesannya. Emily: Bagaimana hari pertamamu di apartemen itu? Billie: Bagus. Emily: Masih ada fasilitas lainnya. Billie: Maksudnya? Emily: Aku baru mengirimkan uang ke rekeningmu. Pakailah untuk membeli baju baru. Jangan sampai besok kamu datang ke Tritondengan pakaian seperti kemarin. Nanti tidak akan ada orang yang percaya denganmu. Billie: Terima kasih. Emily: Tidak perlu. Aku melakukannya bukan untukmu. Kamu tahu itu, 'kan?!" Billie: Aku paham. Emily: Bagus. Pastikan semua berjalan sesuai rencana. Jangan hubungi aku, sebelum aku menghubungimu lebih dulu. Itulah pesan terakhirnya. Pekerjaan ini memang penuh risiko, tetapi semua sudah terjadi. Lebih baik sekarang aku menikmatinya. Besok aku harus bekerja sesuai rencana. Demi nyawaku dan juga mencari gadis itu. Aku mengambil sweater lalu keluar dari dalam unit. Namun, baru saja berjalan beberapa langkah, terdengar suara seseorang yang memanggil. "Billie?" Aku berhenti dan menoleh ke belakang. Kulihat seorang perempuan berdiri di depan unit yang ada di seberang unitku. Ia sudah sangat kukenal. Ya. Ia adalah .... "Jennifer Young ...." Aku membeku menatapnya. Perempuan yang selama ini tak ada kabar; sahabat yang selama ini menghilang, sekarang berada tepat di depanku. Ia Jennifer Young yang sama, tetapi penampilannya tak lagi sama. Perempuan yang berpenampilan tomboy, kini berubah fenimim. Rambutnya yang dulu hitam dan pendek, sekarang kecokelatan dan terurai sepunggung. Kini ia makin cantik dengan make-up natural. Matanya yang lebar; hidungnya yang mungil dan sedikit mancung; serta bibirnya yang tipis, sekarang tampak lebih memesona. Namun, dari semuanya, yang paling berbeda adalah pakaian yang ia kenakan. Jennifer Young yang dulu selalu mengenakan kaus lusuh dan celana jeans sobek, berganti Jennifer Young yang dibalut mini dress ketat dan mempertontonkan lekuk dadanya yang proporsional, pinggang ramping, dan kaki yang jenjang. Inilah Jennifer Young yang sekarang; Jennifer Young yang berhasil membuatku terkesima dengan kecantikannya. "Billie." Aku terhenyak. "Jennifer Young ...." Senyumnya teruntai seraya menghampiri. "Bagaimana kalau kita berbincang-bincang di luar. Rasanya sudah lama sekali, 'kan?!" Aku mengangguk dan tersenyum canggung, masih tak percaya dengan pertemuan ini. Jennifer Young pun tertawa kecil. "Kenapa? Terkejut melihatku? Tenang aku bukan hantu ..., dan masih tetap sama seperti Jennifer Young yang dulu." "Tapi sejak kapan kamu kembali ke Seoul?" "Nanti kuceritakan." Jennifer Young menggandeng tanganku. "Ayo." Sebetulnya bukan kali ini saja kami bergandengan, tetapi baru sekarang jantungku berdegup kencang. Namun, Jennifer Young sama sekali tidak terlihat canggung. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN