Kedatangan kelompok Wells tidak diduga-duga. Tony tidak dapat mengumpulkan seluruh anggotanya tepat waktu. Akhirnya kelompok Carleon mengepung mereka di luar pagar. Meskipun dalam keadaan terjepit, Tony pantang menyerah. Dia dan Josh berdiri paling depan di depan pagar. Di seberang mereka, berdiri ratusan orang yang membawa senjata. Di antara mereka, seorang laki-laki berambut perak berdiri kukuh. Dialah pimpinan kelompok itu, Ethan Wells.
Ethan Wells tersenyum pongah. "Kamu tentu tahu maksud kedatanganku, Tony?"
Tony balas tersenyum. "Apalagi kalau bukan mau berbuat onar?!"
Mendengar itu Ethan tergelak. "Siapa yang lebih dulu berbuat onar?"
Ethan melayangkan pandangan pada Billie yang berdiri di belakang Tony. Tatapan Ethan membuat geram Billie. Darah mudanya mendidih.
"Kalian lebih dulu menghalang-halangi bisnis kami!" teriak Billie, marah.
"Ada bukti?" tanya Ethan, seraya mendengkus.
"Ka—"
Tony mengangkat tangan, mengisyaratkan agar Billie diam. "Semua sudah terjadi. Kejadian tadi merugikanmu, tetapi jangan dianggap kami tidak memiliki bukti atas tuduhan anakku. Kita sama-sama rugi. Kurasa semuanya setimpal. Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Fran."
"Cih!" Ethan meludah. "Setimpal? Aku anggap setimpal kalau kamu serahkan anakmu!"
"Jangan harap selama aku masih hi—aargh!"
Tiba-tiba peluru melesat dan menghunjam bahu Tony dari belakang Ethan Wells. Serangan itu memantik pertikaian dua belah pihak. Keduanya saling menembak dan menikam dengan senjata tajam. Di tengah kerusuhan itu, Josh buru-buru memapah Tony menjauh. Billie dan Sara mengekor mereka dari belakang sampai tiba di dalam rumah utama.
"Cepat, bawa aku ke ruang rahasia," tukas Tony, sambil menahan sakit.
Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba terdengar pintu rumah terbuka dan membentur dinding dengan keras. Dia adalah musuh bebuyutan Tony, bersama beberapa anak buahnya.
"Kalian pikir aku tidak melihat kalian?" Fracesco Wells menyeringai. "Aku hanya meminta anakmu, tapi kamu memilih menyerahkan nyawamu sendiri dan juga anakmu. Bodoh."
Tony meludah sambil menatap tajam pada Ethan. "Tidak akan kubiarkan."
Ethan tergelak mendengar itu. "Well, akan kuakhiri dinasti-mu sebentar lagi."
Melihat situasi itu, diam-diam Josh menarik pistol dari balik pakaian, tetapi Billie mendahului dan berdiri di hadapan Ethan.
"Bawalah aku dan perlakukan sesukamu! Tapi biarkan ayahku!"
Ethan tertawa keras, lalu mengarahkan pistol pada Billie. "Percuma. Batas waktu penawaranku sudah lewat."
Sedetik kemudian, Ethan menarik pelatuk dan melesatkan peluru. Namun, belum sempat peluru menghunjam Billie, Tony mendorongnya sehingga peluru itu menembus d**a kiri Tony, tepat di bagian jantung.
"Ayaaah!" Billie menjerit.
Josh pun segera bereaksi, tetapi anak buah Tony lebih cepat menembakkan peluru tepat di tangan Josh yang memegang pistol, sampai membuat pistolnya terjatuh.
"Ah, tikus milikmu ini juga minta mati," ujar Ethan, dingin.
Dengan napas kembang-kempis, Tony berusaha bicara, "Billie, pergilah bersama Sara."
"Tapi A—"
"Kalau kamu tewas, tidak ada yang akan membalaskan dendamku!" bentak Tony, sekuat tenaga.
"Ayah...."
"Cepat pergi!"
Meskipun berat, Billie berbalik lalu berlari sambil menarik tangan Sara. Dia menangis sambil terus berlari sekencang mungkin. Perasaan bersalahanya bergelayut. Kalau bukan karena ulahnya, kejadian tidak akan terjadi. Namun, penyesalan tidak akan mengembalikan waktu. Kini yang terisa adalah harapan. Harapan yang mustahil terjadi....
"Tidak akan kubiarkan anakmu pergi begitu saja." Ethan memberi isyarat ada anak buahnya untuk mengejar Billie.
Akan tetapi, Josh telah mengambil pistol dan menembak mereka hingga tersungkur. Perbuatannya memancing kemarahan Ethan yang segera melepaskan tembakan beberapa kali dan menghunjamnya. Sekarang keadaan Josh tak lebih baik daripada Tony. Hanya masalah waktu nyawa keduanya melayang.
Sementara itu Billie yang sedang berlari di lorong rahasia, mendengar suara tembakan yang menyayat hatinya. Sebagai anak, dia tahu itulah tembakan yang menghabisi nyawa ayahnya.
Tangan Billie mencengkeram pergelangan tangan Sara saat tengah berusaha meredam kemarahannya. Seluruh tubuhnya bergetar.
"Billie...," ucap Sara, lirih, memandang Billie yang berurai air mata.
"Ethan, tunggulah pembalasaku kelak. Akan kuhancurkan seluruh bisnismu; kuhabisi nyawamu dan kulempar mayatmu ke dalam kubangan sampah!"
*
Billie dan Sara berhasil terlepas dari maut. Setidaknya untuk saat ini. Kini mereka berada di pinggir kota. Suatu tempat yang sepi. Hanya ada bangunan-bangunan tua yang sudah tidak terpakai dan rusak parah. Sambil duduk bersandar di dalam sebuah bangunan, Billie menengadah seraya terpejam. Bayang-bayang kematian ayahnya terus menghantui pikiran.
Sementara itu, Sara hanya bisa diam dan tak sanggup berkata-kata. Meskipun bukan ayahnya, kematian Tony turut melukai perasaannya.
Siapa pun tidak akan pernah menyangka, Dinasti Fletcher hancur hanya dalam waktu kurang dari satu hari. Setidaknya itu yang dipikirkan orang awam. Namun, sesungguhnya kehancuran Fletcher telah terjadi perlahan-lahan sejak Ethan menanamkan pengaruhnya di negeri tersebut. Kalau bukan karena pengaruhnya yang besar, tidak mungkin kejadian itu lolos begitu saja dari pihak-pihak berwenang.
Masalah sedalam itu belum dipahami Billie yang masih hijau. Namun, kejadian tadi menjadi pelajaran berharga baginya. Kejadian itu yang akan menjadi pijakan baginya untuk tumbuh kukuh. Sayang, perjalanan itu masih jauh. Banyak aral yang harus dilalui. Salah satunya, sebentar lagi tiba....
Saat keduanya masih diam di dalam bangunan itu, sayup-sayup terdengar perbincangan dua orang, memasuki bangunan itu.
"Tidak mungkin, dua anak itu ada di dalam bangunan ini."
"Mungkin saja, Bodoh! Justru tempat seperti ini tepat untuk bersembunyi. Sudahlah, jangan terus menerus mengeluh. Kamu mau Sir Wells memberi hukuman?"
"Ya, ya, ya..., kamu benar. Sebaiknya kita berpencar untuk mencari di setiap sudut bangunan ini."
Mendengar itu, Billie dan Sara bersembunyi di balik tembok. Jantung mereka berdebar kencang. Setiap langkah yang terdengar mendekat, membuat ketakutan merayap makin cepat.
"Billie, kita harus segera pergi. Atau mereka akan menemukan kita," bisik Sara.
"Bagaimana caranya?"
"Itu...." Sara melemparkan pandangan ke arah satu-satunya jendela di ruangan itu.
"Tidak mungkin kita melintasi ruangan ke sana. Terlalu berisiko," tukas Billie.
"Coba kamu pikir, lebih berisiko tetap di sini, atau keluar dari jendela?"
Billie mencerna pikirannya sejenak, lalu menghela napas. "Kamu benar."
Billie menyelisik sekitar, memastikan keadaan aman. "Ayo."
Keduanya berlari menuju jendela di seberang mereka. Suara langkah mereka menarik perhatian dua anggota Wells.
"Itu mereka! Kejar!"
Beruntung, Billie dan Sara berhasil keluar dari jendela, lantas berlari sekuat tenaga menyusuri jalanan. Namun, setelah cukup jauh menempuh jalanan, berangsur-angsur tenaga Sara melemah. Dia tertinggal jauh di belakang Billie yang tidak menyadarinya.
"Sara, sepertinya mereka tidak berhasil mengejar ki—" Billie tersentak, ketika menyadari Sara tidak ada di dekatnya. "Jo...."
Tiba-tiba terdengar jeritan dari balik bangunan yang ada di ujung jalan. Tidak salah lagi, itulah suara Sara.
"Oh, Tuhan..., itu suara Sara..., jangan-jangan dia telah...." Tanpa pikir panjang, Billie berlari menuju asal suara itu.
Bersambung