Rupanya ada yang menyewa mercenary agar dapat bergerak bebas. Namun, mercenary bernama SanWitch tersebut, memiliki dua motif ....
Selang beberapa menit kemudian SaneWitch telah tiba di tujuan, tepatnya di sebuah gudang yang dijaga ketat pria-pria bersenjata api. Kehadiran mereka tak pelak menjadi perhatian para penjaga.
"Ayo," tukas Witch, berjalan sembari menenteng tas besar.
Keduanya melintasi jalanan dari tempat parkir menuju gerbang depan. Para penjaga yang sejak tadi mengamati, segera mengokang senapan dan bersiap menyambut mereka. Kendati para penjaga berperawakan kekar dan memegang senjata, tak sedikit pun menciutkan nyali SaneWitch. Tidak ada "takut" dalam kamus pasangan kekasih tersebut, karena setiap hari selalu berada di perbatasan hidup dan mati.
Ketika sudah berada di depan gerbang, lima orang penjaga menodongkan senjata.
"Sebutkan keperluan kalian!"
Sane tersenyum tipis. "Kami mau bertemu Don Carleone."
"Kami tidak diberitahu kalau Don Carleone akan kedatangan tamu malam ini." Penjaga tersebut mengarahkan moncong senapan ke kepala Sane. "Enyah atau kepalamu berluba—"
"Biarkan mereka masuk!" Pria berbadan gelap keluar dari dalam gudang, dan menghampiri mereka. "Periksa saja lalu biarkan mereka masuk."
Para penjaga menurut. Mereka menggeledah barang-barang bawaan SaneWitch. Beberapa barang disita, di antaranya: pisau, pistol, dan beberapa benda lainnya.
"Apa ini?" tanya penjaga mengeluarkan kotak yang terbungkus plastik dari dalam tas yang dibawa Witch.
"Ah, untuk apa kamu membawa rokok, Honey?" Sane melirik Witch.
"Oops, sorry ...."
Penjaga mengambil kotak kecil dari kotak besar lantas membukanya. "You are f**king addicted," gumamnya, mengeluarkan satu slop rokok.
"Well, we smoke 'till die." Witch tertawa kecil.
Penjaga menggeleng kemudian kembali memeriksa tas. Serbuk-serbuk putih yang terbungkus plastik memenuhi tas. Meski terbungkus, aromanya yang khas masih tercium.
"Pesanan Don Carleone," terang Sane.
Penjaga mengangguk seraya mengulurkan tas. "Tinggalkan barang-barang yang lain, dan bawa saja tas ini."
"Ayo." Pria berbadan gelap mengajak SaneWitch masuk.
Di dalam gudang, terdapat boks-boks besi yang tertumpuk rapi, serta dua puluhan orang yang memegang senjata laras panjang. Di seberang pintu masuk, duduk pria pirang bersetelan jas serba putih. Senyumnya mengembang ketika melihat kehadiran mereka.
"Well done!" ujar pria tersebut, bertepuk tangan.
"Don Carleone, ini," ucap Sane sambil meletakkan tas di meja. "Aku ingin melihat Greenback kami."
Carleone memerintahkan anak buahnya untuk mengambil tas lalu membukanya. Melihat tumpukan uang memenuhi tas tersebut, Sane pun tersenyum.
Pria yang dipanggil "Don Carleone" menjentikkan jarinya kemudian dua orang membuka dan memeriksa serbuk putih.
Usai memeriksa, mereka mengangguk pada Don Carleone. "Benar, ini C1, Don."
"Well, kami sudah menyelesaikan tugas. Mana Greenback kami?" tanya Witch.
Don Carleone menyeringai. "Greenback tidak dibutuhkan di neraka."
Puluhan anak buah Don Carleone menodongkan pistol. Namun, SaneWitch tidak bodoh ....
"Aku tahu, karena itu kalian tidak membutuhkannya di neraka."
Terjadi ledakan kecil di luar ruangan yang mengejutkan Don Carleone dan anak buahnya. Sane memang telah memasang peledak di dalam bungkus-bungkus rokok. Meski ledakan kecil, perhatian Don Carleone dan anak buahnya berhasil teralihkan. Saat itulah Sane dan Witch memukul lalu merebut senjata dua penjaga, lalu memberondong para anggota Don Carleone.
Peluru-peluru tajam menewaskan beberapa orang, tetapi sebagian yang lain balas menembak. Sane dan Witch berguling ke balik boks besi kemudian kembali memuntahkan timah panas. Satu per satu lawan-lawan berhasil dihabisi. Setidaknya begitulah yang mereka pikir ....
"Kurasa sudah semua, Wi—"
Tiba-tiba sebuah peluru melesat dan menggores pundak Sane. Refleks, ia pun segera membalas. Senapannya memberondong ke arah si penembak dan menewaskannya di tempat.
"s**t!" umpat Sane memegangi pundak sembari menghampiri mayat si penembak. "Carleone ...," gumam Sane, melirik mayat si penembak.
"Kamu tidak apa-apa, Babe?"
"Nah, I'm fine."
"That's my big boy." Witch mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Kita apakan tempat ini?"
Sane menggerayangi salah satu mayat, dan mengambil korek dari kantungnya. "Ambil Greenback kita, Witch," tukas Sane sambil menyulut api.
"Yup."
Mereka berjalan ke luar dari bangunan yang terbakar dari dalam. Misi mereka telah usai, tetapi ada bahaya lain yang mengintai. Di sanalah sumber masalah utama SaneWitch. Di tempat klien utama yang sejatinya ingin menghabisi mereka: Kepolisian Miami.
***
Di kantor Kepolisian Miami, seorang pria berambut perak baru saja menutup sambungan telepon. Senyumnya terkembang seraya menoleh pada pria berwajah oriental yang duduk di sofa.
"Apakah yang menghubungi barusan mercenary yang Anda ceritakan, Komisaris John Wickham?" tanya pria oriental.
Komisaris John Wickham mengangguk. "SaneWitch memang tidak pernah gagal, Mr. Liu Chen Zhu."
Senyum pria bernama Liu Chen Zhu terpantik. "Bagus. Carleone sudah tidak mengganggu bisnis keluargaku. Tapi mercenary Anda terlalu banyak tahu masalah ini." Liu Chen Zhu mengangkat sebelah alis.
"Jangan khawatir. Besok malam aku berjanji memberi upah mereka di Golden Gate. Di sanalah akhir dari SaneWitch."
"Pastikan mereka tidak menjadi kerikil keluargaku." Liu Chen Zhu beranjak, lantas berjalan menuju pintu. "Anda akan tahu akibatnya kalau mengecewakanku, Komisaris." Liu Chen Zhu pun keluar dari ruangan.
Komisaris John Wickham termenung. Ia tahu Liu Chen Zhu tidak sekadar mengancam. Nasib nahas pasti menghampiri jika gagal menuntaskan misi Keluarga Chen Zu yang merupakan pemilik kartel terbesar di dunia.
"Selalu ada risiko jika berurusan dengan anggota dari tiga belas keluarga Sigil of Baphomet. Tapi berkat mereka aku meraih jabatan ini," gumamnya seraya menghela napas.
***
Keesokan malam di Golden Gate. Muscle Car hitam melaju tenang sebelum berhenti di bawahnya. Dua orang yang berada di dalam mobil menyelisik sekitar. Suasana di sana masih lengang dan tak ada tanda-tanda keberadaan orang lain.
"Kenapa Komisaris John Wickham belum datang?" tanya Witch sembari menyelipkan pistol di celananya.
"Wait ...." Sane menekan tombol pada layar ponsel, tak lama kemudian terdengar suara. "Yeah, aku sudah sampai, Komisaris ... kami tunggu, dan jangan coba-coba ingkar atau rasakan sendiri akibatnya." Usai menutup sambungan, Sane menoleh pada Witch. "Sebentar lagi dia sampai."
"Bukan sebentar lagi." Witch melemparkan pandangan pada mobil biru yang baru saja datang.
"Bagus. Ingat, jangan berdiri di tempat terbuka at—"
"Jangan khawatir. Aku sudah memikirkan kemungkinan mereka mengirim penembak jitu. Sudah sering kali kita dikhianati klien, kan?!" Witch berkata seraya turun dari mobil.
Mereka menghampiri John yang sudah di depan mobil. John tersenyum. "Kerja bagus SaneWitch."
"Kami tidak suka basa-basi." Sane menodongkan pistol ke kepala John.
"Apa-apaan ini?" Seketika itu wajah John merah padam.
Sudut bibir Witch pun terangkat. "Hanya untuk berjaga-jaga, kalau ternyata kamu menjebak kami, kekasihku tidak akan segan menarik pelatuk."
"Buka." Sane melemparkan pandangan pada koper hitam di atas kap mobil John.
John pun membuka koper yang penuh berisi uang. Senyum Sane dan Witch terkembang. Namun, baru saja mau mengambil tas, Sane melihat cahaya merah di pelipis John.
"AWAS!" Sane menerjang John.
BANG!
Tembakan penembak jitu meleset. Belum habis keterkejutan mereka, tembakan-tembakan lain menyusul.
BANG! BANG!
"Witch! Cepaaat!" Sane berlari masuk ke mobil sambil menarik John.
"Got it!" Witch mengambil koper dan menyusul ke mobil.
Muscle Car hitam melaju cepat ke jalanan. Tak lama kemudian belasan kendaraan lain mengejar mereka. Sane mendorong tuas gigi, dan menginjak pedal dalam-dalam, tetapi kendaraan lain terus membayangi.
"Akan kutangani!" Witch membuka jendela lantas mengarahkan senapan ke belakang.
Witch memberondong mobil-mobil di belakang, hingga membuat salah satunya kehilangan kendali dan menabrak mobil di sebelahnya. Kedua kendaraan tersebut melintang dan menghalangi belasan kendaraan lain.
"Done."
Di dalam perjalanan, keheningan menyelimuti suasana di dalam Muscle Car yang sedang melaju di jalan luar kota. Sane melirik John yang masih tampak syok.
"Apakah kamu bisa mengira-ngira siapa yang mengkhianatimu?" tanya Sane.
Wajah John pucat. Ia diam, mencerna pikiran sesaat. "Liu Chen Zu," jawabnya lirih, nyaris tak terdengar.
"Liu Chen Zu?"
John menghela napas. "Liu Chen Zu adalah kepala keluarga Chen Zu. Mereka pemilik kartel terbesar di dunia. Kekuasaan mereka sangat mengerikan dan tak ada yang berani mengusik, kecuali Carleone."
Mendengar penuturan John, Witch berpikir sesaat. "Bukan suatu kebetulan kamu menyuruh kami menghabisi Carleone, kan?!"
"Setelah berhasil menghabisi Carleone, ia ingin membungkam kami dan juga kamu karena dianggap terlalu banyak tahu rahasianya," timpal Sane.